Hujan sudah turun sejak subuh, memukul atap rumah dengan ritme tak beraturan, seperti denting jarum jam yang dipercepat. Udara pagi membawa aroma tanah basah dan dingin yang menusuk tulang. Dari ranjangnya, Zayn — atau Sam, begitu ia dipanggil oleh teman-temannya — terbangun dengan napas tersengal. Matanya langsung terarah pada jam dinding yang tergantung di seberang.
07:20.
Angka itu lagi.
Sama seperti kemarin. Sama seperti sehari sebelumnya. Sama seperti ratusan pagi yang sudah ia jalani dengan waktu yang membeku di angka itu sebelum dunia bergerak. Sam tak tahu lagi harus menyebut ini sebagai apa. Mimpi buruk? Kutukan? Atau semacam penjara waktu yang tak terlihat?
Dia menatap langit-langit kamar beberapa detik, mencoba mengatur napas. d**a terasa berat, seperti ada tangan tak kasat mata yang menekan dari dalam. Ia sudah hapal, sebentar lagi akan terdengar bunyi cangkir kaca di dapur. Dan benar saja—
Kling!
Suara khas itu terdengar dari ruangan sebelah.
Sam duduk di tepi ranjang, kedua telapak kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Ia berjalan pelan menuju dapur. Setiap langkah seperti mengulang jejak di lorong kenangan yang sama, hari yang sama.
Aroma kopi hitam menyeruak begitu ia melewati ambang pintu. Di sana, seperti biasa, Alya berdiri di dekat kompor. Rambut hitamnya tergerai berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang masih sembap oleh kantuk. Kaos putih tipis yang ia kenakan menyerap cahaya pagi dari jendela, menciptakan siluet lembut yang selalu memukul hati Sam entah ke berapa kalinya.
“Pagi,” suara Alya terdengar ringan, nyaris ceria, seolah dunia tidak sedang mempermainkan mereka.
Sam hanya mengangguk kecil. Ia menarik kursi dan duduk, mengamati Alya yang sedang menuang kopi ke cangkir. Pandangan matanya berat, bukan karena kantuk, tapi karena beban yang ia simpan sendiri: beban mengetahui bahwa tak peduli seberapa keras ia berusaha, hari ini akan berakhir sama seperti kemarin — dengan Alya tergeletak tanpa nyawa sebelum matahari terbenam.
Ia sudah mencoba segalanya.
Menyuruh Alya tinggal di rumah seharian. Mengajaknya pergi jauh. Menguncinya di ruang bawah tanah. Bahkan pernah mencoba “membodoh-bodohi” takdir dengan menghilang dari sisinya, berharap kematian tidak akan menemukannya. Tapi entah bagaimana, selalu ada cara. Kadang Alya tertabrak mobil. Kadang ia terjatuh dari jembatan. Pernah juga Sam menemukannya membeku di tengah hujan tanpa satu pun luka, seolah kehidupan hanya diambil begitu saja.
Setiap kali Alya mati, dunia memutar ulang harinya. Sam terbangun lagi di ranjang, jam menunjukkan pukul 07:20, dan aroma kopi memenuhi udara.
Kepalanya terasa berat memikirkan semua upaya sia-sia itu.
“Kamu kelihatan pucat, Sam,” kata Alya sambil meletakkan cangkir di hadapannya. “Nggak tidur lagi semalam?”
Sam menatapnya. Begitu banyak kata ingin ia ucapkan, tapi semua terasa percuma. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa ia sudah menjalani pagi ini ratusan kali, dan setiap versinya berakhir dengan kematian Alya?
Ia menghela napas. “Tidur kok, cuma… mimpi aneh.”
Alya tersenyum tipis. “Kalau aku, malah nggak mimpi sama sekali. Kayak kosong.”
Sam ingin mengatakan bahwa ‘kosong’ itu adalah jeda singkat sebelum dunia memutar ulang. Tapi ia menahan lidahnya. Memberi tahu Alya di masa lalu tak pernah mengubah apa pun, hanya membuatnya cemas tanpa alasan.
Ia memandangi jari-jari Alya yang melingkari cangkirnya sendiri. Hal kecil seperti ini — tangan hangatnya, senyum lelahnya, tatapan matanya yang kadang terlalu polos — adalah hal-hal yang selalu berhasil memecahkan hati Sam, karena ia tahu semua itu hanya sementara.
“Alya…” Sam membuka suara, tapi terhenti. Kata-kata macet di tenggorokan.
“Hm?” Alya menatapnya, kepala sedikit miring.
Ia ingin berkata: Jangan keluar rumah hari ini. Jangan dekat jendela. Jangan pergi ke halte. Jangan ke mana-mana. Tapi Sam tahu, bahkan jika Alya menuruti semua itu, dunia akan menemukan celah untuk merenggutnya.
Di luar, suara hujan semakin deras. Jalanan terlihat seperti sungai kecil dari kaca jendela. Sam memandangi tirai air itu, merasa waktu bergerak terlalu cepat sekaligus terlalu lambat.
“Sam?” panggil Alya lagi, kali ini dengan nada khawatir.
Sam menggeleng, tersenyum hambar. “Nggak apa-apa. Aku cuma… senang liat kamu.”
Alya mengerjap, lalu tertawa kecil. “Kamu aneh.”
Ia mengangkat cangkir, menyeruput sedikit, lalu menatap keluar jendela. “Kayaknya hujan bakal seharian.”
Sam mengikuti arah pandang Alya. Di balik kaca yang berembun, ia melihat sosok samar-samar berdiri di seberang jalan. Tubuhnya tegak, kepalanya sedikit miring, seolah mengamati rumah mereka.
Jantung Sam berdegup kencang. Sosok itu… asing, tapi entah kenapa terasa familiar.
Hujan semakin deras, menelan sosok itu dalam kabut air. Saat Sam berkedip, sosok itu sudah menghilang.