Sosok di seberang jalan itu masih membekas di kepala Sam, bahkan setelah ia menghilang. Ada sesuatu di tatapan diamnya, meski Sam hanya sempat melihat sekilas. Tatapan yang… menunggu.
Dia meremas cangkirnya terlalu keras sampai hangatnya terasa menusuk kulit.
Alya masih menatap keluar jendela, matanya kosong seperti sedang melamun. “Sam, kamu lihat nggak? Kayak ada orang di sana barusan.”
Sam pura-pura menyesap kopi. “Nggak, mungkin cuma perasaan kamu.”
Ia tidak ingin Alya tahu. Semakin banyak Alya menyadari ada yang salah, semakin cepat kematian menjemputnya — setidaknya, begitu yang Sam perhatikan dari ratusan pengulangan sebelumnya. Ada pola yang samar, tapi belum jelas.
Tiba-tiba, suara dering ponsel Alya memotong suara hujan. Ia mengambilnya dari meja, tersenyum singkat, lalu menjawab. “Halo, Mbak Rani?”
Sam tahu siapa itu. Mbak Rani, rekan kerja Alya yang selalu menelpon di pagi hari yang basah seperti ini, meminta bantuan Alya untuk menggantikan shift di toko buku. Dan Sam tahu persis — di sebagian besar versi hari ini, kalau Alya pergi bekerja, ia tak pernah kembali.
“Aku nggak bisa—” Alya terhenti, menatap Sam sejenak, lalu berkata pelan di telepon, “Oke, aku datang.”
Sam langsung menegakkan tubuhnya. “Kamu mau ke toko?”
Alya menaruh ponselnya di meja. “Mbak Rani butuh banget. Katanya sepi karyawan hari ini.”
“Ly… jangan.”
Nada Sam terdengar lebih memohon daripada memerintah. Alya terdiam, menatapnya penuh tanya. “Kenapa?”
Karena di dua puluh versi hari ini yang pernah Sam jalani, Alya meninggal di perjalanan ke toko. Karena bahkan jika ia sampai selamat, kematian akan menemukan cara lain — tersengat listrik dari lampu rusak, atau terpeleset di tangga gudang. Tapi bagaimana ia bisa menjelaskan itu tanpa terdengar gila?
“Cuma… perasaanku nggak enak.”
Alya tersenyum kecil, menyentuh punggung tangan Sam. “Aku baik-baik aja, Sam. Lagian cuma sebentar. Sore aku udah pulang.”
Kata-kata itu, dalam setiap pengulangan, selalu menjadi semacam janji yang hampa.
Sam berdiri. “Kalau kamu harus pergi… aku ikut.”
Alya menghela napas, tapi tak membantah. “Ya udah, kalau itu bikin kamu tenang.”
---
Di luar, hujan belum menunjukkan tanda-tanda reda. Sam mengenakan jaket tebal, sementara Alya menenteng payung biru pucat yang selalu ia bawa. Mereka berjalan menuju halte di ujung jalan. Setiap langkah, Sam mengamati sekeliling, mencari sosok misterius yang tadi berdiri di seberang jalan.
Saat mereka sampai di halte, Sam melihat jam tangannya. 08:02. Dalam beberapa versi, inilah menit-menit terakhir sebelum sebuah mobil melaju terlalu cepat di tikungan.
Ia berdiri di sisi luar halte, tubuhnya sedikit memayungi Alya dari jalanan. Hatinya berdegup kencang setiap kali mendengar suara mesin dari kejauhan.
Dan benar saja — suara itu datang. Deru mobil mendekat dengan kecepatan tak wajar. Sam langsung memegang lengan Alya, menariknya ke belakang. Mobil itu melintas begitu cepat, menimbulkan semburan air hujan.
Alya kaget, tapi masih bisa tertawa. “Sam, kamu serius banget. Aku nggak bakal kemana-mana kok.”
Sam tidak membalas. Di dalam kepalanya, ia merasa berhasil mematahkan satu kemungkinan kematian hari ini. Tapi ia tahu… itu bukan akhir. Dunia akan mencari celah lain.
---
Bus tiba. Mereka naik, dan Sam memilih duduk di kursi dekat jendela, dengan Alya di sebelahnya. Ia terus menatap setiap orang di dalam bus — pria dengan jas basah, ibu-ibu membawa belanjaan, remaja yang sibuk dengan ponselnya.
Namun matanya tertumbuk pada satu penumpang di belakang. Lelaki itu duduk diam, mengenakan hoodie abu-abu. Wajahnya tertutup bayangan, tapi Sam merasa… tatapan itu sama seperti sosok di seberang jalan tadi.
Hanya saja, kali ini tatapan itu tertuju pada Alya.
---
Ketika bus berhenti di dekat toko buku, Sam memegang tangan Alya lebih erat. “Jangan jauh-jauh dari aku.”
Alya mengangguk sambil tersenyum, menganggap Sam hanya terlalu protektif.
Mereka melangkah masuk ke toko. Aroma buku basah bercampur kopi dari kafe kecil di pojok ruangan. Segalanya terlihat normal… terlalu normal.
Sam mengedarkan pandangan, mencari tanda-tanda bahaya. Dan di sudut ruangan, di antara rak-rak tinggi, ia melihatnya lagi — lelaki ber-hoodie abu-abu itu, berdiri diam, memegang sebuah buku tapi tidak pernah membalik halamannya.
Tatapan mereka bertemu. Lelaki itu tersenyum tipis, lalu menghilang di balik rak, seolah menembus udara.
---
Bulu kuduk Sam meremang.
Ini bukan sekadar orang asing. Ini sesuatu yang lain.
Bab 1 Bagian B
Dan ia tahu, jika ingin memutus lingkaran ini, ia harus menghadapinya.
Tapi di saat yang sama, suara teriakan Alya terdengar dari arah gudang belakang.
Sam berlari, darahnya membeku.
Hari ini, ia bersumpah akan mengubah takdir. Tapi untuk pertama kalinya, ia takut bahwa hari ini justru akan menjadi yang paling buruk dari semuanya.