Jian memaku tatapan pada Vian. Ia bahkan belum berani menatap Ahn Hyunki yang mendadak tiba di hadapannya secara mendadak. Sementara Vian yang merasa lebih muda dari Hyunki membungkukkan tubuhnya seraya menjabat dengan hormat.
"Ya jadi beginilah, seperti yang kau tahu kalau Jian memang agak, eum—" Vian seolah berpikir dan mencari jawabannya di langit-langit kafetaria. "Bagaimana cara menjelaskannya, ya? Jian memang sedikit—aw!" Vian mendadak terduduk karena kakinya diinjak oleh sang adik.
Merapikan rambut dengan gugup dan mendongak menatap Hyunki yang memandangnya dengan tatapan sulit. "Kamu bilang kencannya akhir pekan ini, kenapa sekarang tiba-tiba di sini?"
Vian menutup mulutnya dan menatap Jian seolah adiknya baru saja mengatakan hal yang palimg kusial. "Astaga Adikku Sayang, kamu sudah bisa berbicara gamblang, ya?"
Memejamkan mata dan menunduk tak habis pikir dengan kelakuan Vian. Serius, kalau saja tidak sedang menjaga image, Jian bisa memukuli Vian sampai babak belur tak peduli didatangi pengacara atau ayahnya sekali pun. Jadi dengan pasrah, Jian kembali mendongak menatap Hyunki yang masih berdiri tanpa minat duduk di hadapannya.
"Aku sedang agak terburu-buru sebenarnya, tetapi melihat Jian dan Vian di kafetaria, aku ingin menyapa sebentar," Hyunki benar-benar tak pernah bereaksi terlalu berlebihan. Lelaki itu seperti tak memiliki cinta. Oh, tidak, atau katakan saja Hyunki dengan cara ia mencintainya.
Jian mendadak merengut jengah. "Aku kira kamu di sini karena—"
"Kalau kamu sedang tidak banyak kerjaan, aku masih punya waktu luang setelah menemui Tuan Kim. Mungkin lima belas menit untuk berbincang dengan kamu sebentar, tak masalah?"
Jian terpana dengan kelembutan kata-katanya. Sementara kurang lebih ia bisa menerka apa yang tengah dipikirkan abangnya ini saat kakinya jahil menendangi tungkai Jian.
"Jian tidak banyak pekerjaan akhir-akhir ini, kalau hyung tak keberatan, bawa saja Jian jika waktu lima belas menitnya kurang," kata Vian begitu semangat. Lagi-lagi Jian mendecak dan kini terang-terangan menatap abangnya nyalang.
"Kamu sepertinya agak sibuk, jadi tak masalah untuk waktu lima belas menitnya. Lagi pula aku juga harus menyiapkan sesuatu karena ada acara mendadak untuk nanti malam."
"Hei Jian, Adikku Sayang, memangnya kamu tidak berniat menantarkan calon suami ke ruangan calon mertuanya?" Vian terkekeh di sela perkataannya, lantas mendekati Jian dan berbicara lirih seolah berbisik, "Lima belas menitnya pasti dikalu dua atau bahkan empat. Well, kapan lagi mendapat kesempatan kencan dengan mudah, kan?"
Pipi Jian memerah, menginjak kaki Vian sekuat tenaga sampai lelaki itu menjauhkan badan dan menunduk seraya meringis kesakitan. "Ini lah alasannya kenapa aku lebih suka kamu tidak pakai sepatu heels," rintih Vian.
Jian berdiri dengan gugup berhadapan denga Hyunki. "Ayo, biar aku antar."
Hyunki mendadak menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Tetapi, Jian… aku tahu—"
"Meski kamu tahu di mana ruangan Ayah. Tolong jangan menolak." Jian segera menarik lengan Hyunki menjauh dari sana. Meninggalkan Vian yang mengangkat kakinya ke atas meja guna melihat separah apa luka di kaki bekas heels Jian. Jian bahkan sempat mendengar Vian meminta bantuan pada seseorag untuk memapahnya berdiri. "Sunbaebim, Hyung, Dongsaeng, Ahjushi, Ahjuma, Eomma, Appa, Haraboji, Halmeoni, Noona, Oppa, Chagiyaa! siapa pun yang mendengarkan bisa tolong bantu abang Vian berjalan menuju mobil?" katanya menyebuti semua orang.
Jian yang tersadar segera melepas tangannya dari lengan Hyunki. "Maaf," ujarnya. "Aku lebih baik ikut denganmu dari pada harus menangani Vian."
Hyunki tersenyum, membenamkan tangannya ke saku celana saat jemari Jia saling bertaut ragu ketika berjalan. "Kalian lucu."
"Ah, sebenarnya Vian bertingkah menyebalkan seperti tadi jika sedang mendapat masalah dengan pacarnya. Vian biasanya lebih bijak dan menyenangkan, benar-benar seperti seorang kakak."
Ingin sekali meloloskan satu tawa yang mengganjal di kerongkongan. "Apa Vian mendapatkan nomor telepon salah satu anak magang dan ketahuan oleh pacarnya?"
Jian terenyak. Menatao Hyunki yang masih setenang air kolam. "Bagaimana kamu tahu?"
"Hanya menebak saja, kebetulan benar. Tetap tidak terjadi masalah besar, kan?"
"Pacarnya sebenarnya lebih dewasa dari pada Vian. Mungkin karena usia Kak Iren tiga tahun lebih tua dari Vian." Jian mendadak menarik labiumnya dan menatap Hyunki ramah. "Vian padahal pernah mengaku menyukai gadis dengan rambut pendek dan poni yang lucu. Dia juga ingin menikah dengan gadis yang usianya lima tahun lebih muda dari dia. Mungkin itu sebabnya dia masih gemar mengganggu anak magang. Tetapi sekarag dia malah terjebak mencintai Kak Iren."
"Kamu rupanya tipe yang gemar bercerita, ya? Kalau aku melemparkan satu kata, kamu bisa meresponsnya beribu kata."
Ah, benar, kenapa dia bercerita mengenai bagaimana keluarganya, ya? Jian mencebik sewaktu masuk ke dalam lift. Berdua saja dengan Hyunki. Membuatnya agak gugup, makanya ia menciptakan jarak satu meter.
"Jian."
"Ya?" sahutnya gugup.
"Banyak sekali lelaki seperti Vian, bahkan mungkin kamu juga demikian. Kita kerap menyaring siapa saja, yang bagaimana, yang akan kita kencani." Hyunki menatap gadis di sampingnya yang tengah menatap lurus karena merasa gugup. "Kita maunya yang seperti ini, kita mau yang seperti itu. Itu namanya ekspektasi, ya? Realita terkadang lebih mengejutkan. Tiba-tiba saja mendapat yang bertolak belakang, Tuhan telah menyaringnya lebih baik lagi."
Jian mendadak menatap Hyunki. Benar sekali. Ia kerap begitu. Bahkan Woobin juga demikian. Lantas dengan rasa kuriositas yang mendadak tinggi, mereka kini beradu tatap penuh arti. "Apa kamu juga demikian?"
Butuh beberapa saat untuk menyahut."Entah, aku tidak terlalu sering berekspektasi dan mengatur lingkunganku harus seperti apa. Yang jelas, ketika aku benar-benar menginginkannya, aku akan berusaha mendapatkannya." Hyunki melangkah lebih dekat, mengikis jarak. "Aku mendadak menginginkan kamu, sebesar perjuanganku yang sedang kamu saksikan ini."
Note:
Sunbaenim: senior
Hyung: sebutan dari adik laki-laki untuk kakak laki-laki.
Dongsaeng: Adik
Ahjushi: Paman
Ahjumma: Bibi
Eomma: Ibu
Appa: Ayah
Haraboeji: Kakek
Halmeoni: Nenek
Noona: sebutan dari adik laki-laku untuk kakak perempuan
Oppa: sebutan dari adik perempuan untuk kakak laki-laki
Chagiya: Sayang