Anak Pulau Kambing itu membaik di hari kedua. Panasnya turun, ia minta makan, dan ketika ayahnya membawanya pulang dengan perahu pagi, lelaki itu menjabat tangan Laras berulang kali sampai bidan harus menariknya pergi. Kemenangan kecil pertama. Laras merasakannya menyusup hangat di dadanya, dan ia membenci betapa ia membutuhkan rasa itu.
Kemenangan kedua tidak datang semudah itu.
Ia baru selesai memeriksa antrean pagi—batuk, gatal-gatal, tekanan darah tinggi seorang nelayan tua—ketika pintu puskesmas dibanting terbuka. Tiga orang menggotong perempuan muda di atas kain sarung yang dibentangkan sebagai tandu darurat. Perempuan itu pucat pasi, bibirnya kebiruan, perutnya membuncit besar—hamil tua—dan di antara kedua kakinya, sarung itu basah merah pekat. Darah menetes ke lantai, meninggalkan jejak dari ambang pintu.
"Bu Surti!" teriak Laras, tapi bidan itu sudah ada di sampingnya, wajahnya mengeras.
"Naik ke ranjang. Pelan. Kepala lebih rendah." Bu Surti memerintah para penggotong dengan ketegasan yang membuat mereka langsung patuh. Tangannya sudah meraba perut perempuan itu sementara Laras mencari nadi—cepat, lemah, nyaris tak teraba. Tekanan darah anjlok. Perempuan ini kehabisan darah di depan matanya.
"Riwayatnya?" tanya Laras, jemarinya bergerak cepat memasang infus, membuka aliran cairan selebar-lebarnya untuk menahan tekanan darah yang terjun bebas.
Seorang perempuan tua di antara penggotong—nenek si pasien, tampaknya—menjawab dengan suara bergetar dalam bahasa daerah. Bu Surti menerjemahkan sambil tangannya terus bekerja. "Namanya Rosna. Hamil pertama, sembilan bulan lebih. Mules sejak kemarin pagi. Mereka panggil—" bidan itu berhenti sejenak, rahangnya mengetat, "—mereka bawa ke Wak Daeng dulu. Dukun beranak. Baru tadi pagi darahnya keluar banyak, mereka panik, baru bawa ke sini."
Kemarin pagi. Laras merasakan amarah panas naik ke tenggorokannya. Lebih dari dua puluh jam. Perempuan ini sudah dibiarkan berdarah dan kepayahan selama lebih dari dua puluh jam sementara seseorang yang tidak pernah membuka buku kedokteran mengurusnya. Ia ingin meledak, ingin berteriak pada orang-orang itu—tapi tangannya sudah lebih dulu memutuskan untuk bekerja, dan ia menelan amarahnya bulat-bulat karena perempuan di ranjang ini tidak punya waktu untuk amarahnya.
"Bu Surti, periksa dalam. Saya butuh tahu kondisinya."
Bidan itu sudah mengenakan sarung tangan. Pemeriksaan berlangsung cepat, dan ketika ia menarik tangannya, wajahnya muram. "Pembukaan lengkap. Tapi kepala bayi belum turun. Dan ini—" ia menunjuk darah yang masih merembes, "—ini bukan darah persalinan biasa, Dok. Terlalu banyak. Saya curiga ari-arinya menutupi jalan lahir. Plasenta previa."
Laras menutup mata sekejap. Plasenta previa dengan perdarahan. Di kota, ini berarti operasi caesar darurat, bank darah disiapkan, kamar operasi dibuka dalam hitungan menit. Di sini—ia menatap sekeliling ruangan yang remang, tabung oksigen yang separuh, lemari obat yang menyedihkan—di sini ia tidak punya satu pun dari itu.
"Berapa golongan darah dia?" tanyanya.
"Tidak tahu. Tidak pernah diperiksa."
"Ada stok darah di pulau?"
Bu Surti hanya menatapnya. Itu jawaban yang cukup.
Laras berpikir cepat, lebih cepat dari yang pernah ia lakukan di ruang operasi mana pun. Tekanan darah perempuan ini turun, perdarahan tidak berhenti, bayi masih di dalam. Merujuk berarti enam jam di laut—Rosna tidak akan bertahan satu jam. Menahan berarti menyaksikannya mati di sini. Yang tersisa hanyalah celah sempit: jika kepala bayi bisa diturunkan, jika perdarahan ini bisa dijinakkan sementara, jika ia bisa menstabilkan cukup lama untuk—untuk apa? Tidak ada untuk apa. Tidak ada bantuan yang akan datang.
"Oksigen. Naikkan cairannya. Bu, siapkan oksitosin tapi tahan dulu sampai saya lihat—"
Pintu terbuka lagi. Kali ini masuk seorang lelaki tua bertubuh kurus, berkulit keriput legam, mengenakan peci lusuh dan membawa bungkusan kain di tangannya. Ia berjalan langsung ke ranjang, dan orang-orang di ruangan itu otomatis memberinya jalan dengan rasa hormat yang kentara. Bahkan nenek si pasien membungkuk sedikit.
"Wak Daeng," desis Bu Surti pelan pada Laras. "Tetua. Orang sini percaya sekali sama dia."
Lelaki tua itu menatap Rosna, lalu menatap Laras dengan mata yang keruh tapi tajam. "Anak ini darah dingin sudah masuk badannya," katanya dalam bahasa Indonesia berlogat kental. "Harus diasapi. Dibacakan. Bukan ditusuk-tusuk pakai jarum besi."
Di sinilah, Laras tahu, ia bisa kehilangan segalanya. Jika ia melawan lelaki ini dengan kasar, keluarga akan menariknya, membawanya pulang, dan Rosna akan mati di rumah. Jika ia menyerah, Rosna juga akan mati. Ia harus melewati celah yang lebih sempit dari celah medis mana pun: celah kepercayaan.
Ia menarik napas. Menelan, sekali lagi, amarah yang membakar. "Wak," katanya, dan ia memaksa suaranya tenang, hormat, bukan suara dokter kota yang merasa lebih pintar. "Saya tidak melarang Wak membaca. Bacalah. Doakan dia. Tapi tubuhnya kehabisan darah sekarang, dan kalau darahnya habis, tidak ada doa yang sempat. Biarkan saya isi dulu badannya lewat selang ini—" ia menunjuk infus, "—supaya dia kuat menerima bacaan Wak. Kita kerja sama. Wak jaga jiwanya, saya jaga badannya."
Ruangan hening. Wak Daeng menatapnya lama, mata keruh itu menyelidiki, mencari kebohongan atau penghinaan. Laras menahan tatapan itu, tidak menunduk. Di luar, ombak memukul karang.
Akhirnya lelaki tua itu mengangguk sangat pelan, lalu duduk di sisi kepala Rosna, membuka bungkusan kainnya, dan mulai membaca dengan suara rendah bergumam. Tangan keriputnya menggenggam tangan perempuan muda yang pucat itu.
Laras tidak menunggu lebih lama. "Bu Surti, sekarang."
Keduanya bekerja sebagai satu tubuh. Perdarahan plasenta previa total, ia menduga; satu-satunya peluang adalah mempercepat lahirnya bayi agar rahim bisa berkontraksi menutup pembuluh yang terbuka. Kepala bayi mulai turun dengan dorongan dan kontraksi. Bu Surti memimpin persalinan dengan tangan yang sudah ribuan kali melakukannya, sementara Laras menjaga tekanan darah, mengatur cairan, mengukur tiap tetes yang masuk melawan tiap tetes yang keluar.
Bayi itu lahir biru dan lemas. Laras menyambarnya, mengeringkan, merangsang—dan untuk beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup, tidak ada tangis. Lalu, batuk kecil. Lalu jeritan tipis yang perlahan menguat. Bayi perempuan, hidup.
Tapi Rosna masih berdarah. Plasenta belum lepas sempurna, dan rahim yang lelah tidak mau mengeras. Laras menyuntikkan oksitosin, memijat rahim itu dari luar dengan kedua tangannya, keras, sampai keringat membasahi punggungnya, sampai akhirnya—perlahan—gumpalan otot itu mengeras di bawah telapaknya dan aliran darah melambat menjadi rembesan.
Saat ia mengangkat tangannya yang berlumur darah, ia melihat Wak Daeng masih duduk di sana, masih menggenggam tangan Rosna, matanya kini menatap Laras dengan sesuatu yang bukan lagi permusuhan. Bukan pula penyerahan. Sesuatu yang lebih rumit—pengakuan, mungkin, dari satu orang tua yang seumur hidupnya berusaha menolong, kepada seorang muda yang baru saja belajar bahwa di pulau ini, menolong tidak pernah bisa dilakukan sendirian.