Sekuntum Janji Bab 2.
Sisi Lain Rashila
Arlan membuka matanya, dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mengerjapkan matanya, saat menyadari ia ada di ruang kesehatan sekolah. Lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Kenapa denganku, kok ada di sini? Apa gadis itu menghajarku, sampai aku tidak sadarkan diri. Ah keterlaluan kalau sampai begitu, siapa sebetulnya dia. Aku akan korek siapa dia nanti, dan akan aku bikin jatuh cinta dia denganku. Atau aku ya yang sudah jatuh cinta sama dia. Aih, tidak tidak tidak, aku tidak boleh jatuh cinta. Biarkan para gadis yang mengejar-ngejarku. Hahaha."
Gumamnya lirih, dan gerakan terakhirnya mengangkat kerah bajunya dengan gaya coolnya dan senyum menyeringai dari bibirnya. Tiba-tiba ada yang masuk tanpa mengetuk pintu, dan membuatnya membelalakkan matanya.
"Sudah sadar kamu, syukurlah."
Ucap Rashila dengan wajah datar, Ia membuka pintu, menatap Arlan, menyapanya dan kemudian menutup kembali pintu tersebut dan meninggalkan Arlan dalam kebingungan. Pemuda itu berdecak kesal lalu memutar bola matanya dan menghela nafasnya geram.
"Apalah, nggak jelas, dadar cupu."
Serunya, memandang pintu yang sudah tertutup. Tapi tiba-tiba terbuka kembali dengan cepat. Terlihat kembali wajah Rashila dan menatapnya dengan satu alisnya yang naik dengan tatapan sinisnya.
"Iya, aku cupu. Jadi jangan lagi mendekatiku, paham."
Ucapnya, lalu dengan kencang ia menutup pintu itu kembali. Yang menimbulkan suara dentuman keras dan membuat seorang Arlan sampai terkejut melihat dan mendengarnya. Ia menghela nafas dan membelalakkan matanya penuh heran.
"Ada ya gadis seperti itu, astaga!"
Ucapnya lagi, dan terdengar suara pintu yang ditendang dari luar. Dan hentakkan kaki kuat, lalu derap langkah yang suaranya kian menjauh. Arlan menghela nafas, lalu merebahkan kembali tubuhnya ke atas matras. Ia memejamkan matanya, lalu mengusap kasar wajahnya.
"Hah, sial! Kenapa jadi makin penasaran sih sama tuh cewek. Huh, awas kamu Rashila, aku harus mendapatkan kamu."
Umpatnya mengacak kasar rambutnya, lalu terdengar sebuah ketukan dari pintu. Dan muncullah sosok wanita yang teman-temannya menyebutnya sebagai kekasihnya. Gadis bertubuh seksi dengan rambut panjang sebahu itu berlari mendekati Arlan dan langsung memeluknya erat.
"Sayang, kamu kenapa? Kok bisa sampai masuk ruangan ini? Kamu baik-baik saja bukan?"
Ucapnya dengan wajah yang memerah dan tangannya menggerayangi tubuh Arlan. Dengan segera Arlan menepis tangan gadis yang di d**a kirinya tertempel name tag bertuliskan Yolanda Arsita. Gadis itu mengerutkan dahinya, dan kembali mendekatinya.
"Kenapa? Kamu sudah tidak mau aku sentuh lagi?"
Ucapnya, lalu mendekatkan jari-jarinya menyentuh wajah pemuda itu. Arlan berdecak dan menepis kembali tangan Yolanda. Gadis itu berdecak kesal, lalu menyilangkan tangannya menatap Arlan yang memalingkan wajahnya dari tatapan gadis itu.
"Kita putus."
Ucap Arlan dengan entengnya, dan mendapatkan respon mata terbelalak dari Yolanda. Lalu tangannya terangkat dan melayang. Mendarat tepat di pipi kiri Arlan. Pemuda itu membulatkan matanya memegangi pipinya. Lalu menoleh cepat menatap gadis itu tajam.
"Oke, jangan pernah menyesal sudah mutusin aku ya, ingat itu."
Balasnya, lalu ia beranjak meninggalkan Arlan yang masih menahan pedas di pipi kirinya akibat tamparan sang kekasih yang baru saja ia putuskan. Ia menghela nafasnya panjang, lalu turun dari ranjang. Tapi tiba-tiba Yolanda kembali lagi dan mendekati Arlan. Lalu merogoh kantong celana pemuda itu dan mengambil dompetnya.
Lalu mengeluarkan isi dompet itu dan mengambil sebuah kartu debit dari sana. Setelah itu, ia melemparkan dompet itu sembarang dan menatap Arlan sinis. Lalu gadis itu beranjak pergi dari hadapan Arlan yang masih dengan wajah terkejutnya.
"Dasar! Awas kamu!"
Teriaknya, lalu ia mencari keberadaan dompetnya dan memunguti semua barang yang Yolanda jatuhkan ke lantai berserakan. Tiba-tiba pintu kembali terbuka, Arlan mengepalkan tangannya dan menunjuk ke wajah yang baru saja masuk. Namun wajahnya menjadi kikuk dan serba salah ketika yang ia lihat adalah seorang guru yang memasuki ruangan itu.
"Ap… eh, hehe, maaf Pak."
Ucapnya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Guru tersebut menghela nafasnya lalu menatapnya lekat.
"Sudah baikan kamu? Kalau begitu, kembali ke kelas."
Perintahnya, dan Arlan menundukkan kepalanya lalu gegas keluar dari ruangan tersebut. Ia memegangi kepalanya yang masih sedikit terasa sakit. Dan saat melewati kaca jendela, ia kaget saat melihat wajahnya yang di keningnya terlihat benjolan. Ia menyentuhnya dengan mata terbelalak dan mulut yang menganga.
"Hah, apa ini? Astaga! Apa yang terjadi sih, sampai benjol begini. Auw! Sakit pula."
Ucapnya memencet benjolan tersebut dan berteriak kesakitan. Ia terus mengusap-usap benjolan tersebut, hingga ada suara yang mengagetkannya dan membuatnya terlonjak.
"Makanya kalau lari itu lihat-lihat, jadi pilar segede raksasa tidak tertabrak!"
Seru suara itu. Arlan menoleh dan mencari sumber suara yang ia dengar. Dan mengerjapkan matanya saat ia tahu itu adalah gadis berkacamata tebal yang sedang ingin ia dekati. Ia berdecak kesal, lalu bersungut dan menatapnya tajam.
"Ini kan gara-gara kamu!"
Balasnya, namun gadis yang membawa satu tumpuk buku itu tak memepedulikannya dan terus melangkah meninggalkannya. Arlan terlihat kesal, dan tiba-tiba ada satu tepukan keras di bahunya.
"Ngapain lagi kamu! Sudah dibilang masuk kelas!"
Ucap Pak Komar yang tangannya sudah mendarat di telinganya dan siap menjewernya. Arlan segera berlari dari hadapan sang guru Matematika itu. Guru itu menghela nafasnya panjang lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"Selamat siang semuanya."
Sapa Pak Komar, dan mendapatkan respon jawaban yang serentak dari semua murid-muridnya. Terlihat Arlan yang masih terus mengusap-usap benjolan di kepalanya. Ia beralih ke Rashila, lalu memanggilnya.
"Rashila, tolong bagikan bukunya ya."
Titahnya, dan dengan cepat Rashila melakukan perintah sang guru. Meski semua teman-temannya tak menyukainya. Namun sebagian besar guru di sekolahnya sangat respect dan baik dengan Rashila. Tak sedikit yang menerima buku pemberian tangan Rashila mendapatkan lirikan sinis atau rebutan kasar dari teman-temannya.
Namun gadis berkacamata tebal itu bersikap biasa saja dan tak pernah merespon atau mempermasalahkannya. Ia membiarkan begitu saja perlakuan semua temannya. Selama itu tidak keterlaluan dan tidak merugikannya atau mengusiknya.
Jika berlebihan, seperti yang Arlandika alami. Dia akan melawannya dan membuatnya ketakutan. Karena tak ada yang tahu juga, gadis cupu yang mereka anggap itu adalah karateka yang sudah tak diragukan keahliannya.
Seorang Rashila yang sudah sejak dia duduk dibangku sekolah dasar kelas 6 sudah mengikuti Karate. Dan kini dia sudah memiliki sabuk hitam, meski umurnya masih sangat muda. Namun kemampuannya yang memang tak diragukan lagi, dia sudah mendapatkan panggilan Shodan di rumpun pelatihannya.
Itu pula yang membuatnya tumbuh menjadi sosok yang sederhana dan biasa saja. Dia tidak akan memperlihatkan keasliannya jika bukan dalam keadaan mendesak dan sangat urgent.
"Terima kasih."
Ucap Arlan dengan mengedipkan satu matanya dan memonyongkan bibirnya tanda mencium jarak jauh. Namun Rashila tak menghiraukannya, ia terus melanjutkan tugasnya membagikan buku-buka yang ia pegang. Namun tiba-tiba ada satu kaki yang hendak mencelakainya dengan sengaja, dan Rashila tak menyadarinya.
Ia melangkah begitu saja dan menyandung kaki tersebut dan membuatnya tersungkur. Beruntung kepala tak membentur tembok, karena gadis yang memalangkan kakinya dengan sengaja duduk di bagian belakang di depannya. Tangannya berhasil bertumpu di tembok, sehingga tak membuatnya sampai terjatuh.
Gadis yang memalangkan kakinya tertawa terbahak, dan mendapatkan lemparan sebuah buku dari sang guru dan membuatnya terdiam. Lalu ia tertunduk dan terdiam. Pak Komar mendekati Rashila yang masih berdiri di belakang kelas.
"Kamu tidak apa-apa Rashila?"
Tanyanya, lalu gadis itu mengangguk, dan memberikan sisa buku yang ia pegang kepada gurunya. Pak Komar berbalik arah dan mendekati meja Hanin, lalu memukulkan buku yang ia pegang ke atas meja.
"Kamu boleh keluar, kalau tidak suka mengikuti pelajaran saya."
Gertaknya, gadis itu tetap terdiam dengan wajah tertunduk. Sementara Rashila sudah duduk di bangkunya dan terdiam. Lalu Pak Komar kembali ke mejanya, baru saja ia hendak duduk, namun terdengar suara ketukan pintu. Ia menoleh dan menatap ke arah pintu.
"Masuk."
Serunya, terdengar bunyi knop pintu yang berputar dan decitan daun lawang yang terbuka. Lalu muncullah seorang pria bertubuh besar tinggi dengan pakaian serba hitam mendekati Pak Komar. Rashila terperanjat melihat Pria itu. Ia segera mengemasi barangnya dan menunggu titah yang akan ia dengar.
Benar saja, setelah berbincang dengan suara yang sangat lirih dan pelan, Pak Komar menatap Rashila dengan mata yang memerah dan mimik yang entah apa maknanya.
"Rashila, kamu boleh pulang sekarang."
Ucapnya, dan gadis itu gegas meraih tasnya lalu menggendongnya dan berjalan dengan cepat keluar dari kelasnya. Pria berjas hitam itu mengikuti Rashila setelah berterima kasih kepada Pak Komar. Rashila berjalan begitu cepat setelah menyerahkan tasnya kepada pria tersebut.
"Apa yang terjadi."
Tanyanya dengan langkah yang sedikit berlari, dan pria tersebut pun melakukan hal yang sama dengan Rashila.
❤️ B E R S A M B U N G ❤️