Sekuntum Janji Bab 3.
Kebencian Terpendam
Rashila terus berlari kecil menuju mobil yang sudah menunggunya di depan gerbang. Setelah ia masuk ke dalam mobilnya, ia segera mengganti pakaiannya dan penampilannya.
"Tuan di Rumah Sakit non, beliau memina Agar Nom Shila segera menemuinya."
Ucap Pak Sopir yang sudah melajukan kendaraanya dengan cepat. Rashila merapikan penampilannya, ia tidak ingin melihat sang Ayah dengan penampilan cupunya.
"Mama di mana?"
Tanyanya lagi, lalu Pak sopir menghela nafasnya panjang dan melirik majikannya melalui spion. Ia membetulkan letak duduknya dan mengatur nafasnya.
"Nyonya tidak bisa dihubungi Non, saya sudah coba menghubunginya, tapi nomer ponselnya tidak aktif."
Balasnya dengan suara lirih, Rashila menghentikan kegiatannya. Lalu menatap sang sopir dan menghela nafasnya. Ia menendang kuat jok yang di duduki sopir tersebut.
"Jangan berbohong kamu! Cepat cari Mama dan suruh menemui Papa di rumah sakit. Atau kalian berdua akan aku bunuh, kalau sampai terjadi apa-apa sama Papaku!"
Teriaknya menatap sopir tersebut, lalu sang sopir menghentikan laju mobilnya dan menepi. Ia menatap putri majikannya itu dengan lekat.
"Apa yang kamu katakan gadis kecil, kamu berani menggertak Hah!"
Teriaknya, lalu Rashila menatapnya tajam. Pria itu menyeringai, tatapannya begitu bengis seakan ingin menerkam Rashila bulat-bulat.
"Apa! Jangan kamu pikir aku tidak tahu kelakuan kalian berdua ya! Dasar pengkhianat! Katakan sama Mama, kalau masih ingin menjadi Nyonya Suhendar, jangan berani macam-macam. Atau aku yang akan menghancurkannya sendiri."
Cetus Rashila, ia dengan cepat meriah tasnya dan membuka pintu mobil dan berlari dengan cepat. Ia mencegat taksi yang lewat dan segera memasukinya. Ia meminta untuk diantarkan ke Rumah Sakit terbesar yang ada di kotanya.
Lima belas menit perjalanan Rashila sampai di sana, dengan sedikit berlari ia mencari keberadaan sang Ayah. Ia segera membuka pintu setelah mendapatkan ruangan dimana Ayahnya di rawat. Ia menghambur ke pelukan sang ayah dan tergugu di dalam dekapan pria bertubuh jangkung dengan wajah yang masih terlihat sangat muda dan tampan itu.
"Papa, kenapa? Apa yang terjadi?"
Tanyanya dengan terisak, ia mengusap lembut jari jemari Ayahnya. Pria itu tersenyum, lalu mengusap lembut pipi Rashila yang sudah basah air mata.
"Tidak apa-apa sayang, Papa hanya kelelahan saja. Mana Mama kamu, apa dia masih sangat sibuk dengan kegiatannya?"
Ucap Ayahnya, Rashila menghela nafasnya. Lalu mengusap wajahnya dengan lembut dan tersenyum.
"Mungkin sebentar lagi Mama datang, Pak jono pasti sedang menjemput Mama."
Jawabnya mengurai rasa sesak jika harus mengingat apa yang ia lihat kala itu.
Satu tahun yang lalu, saat Rashila masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. Dia hendak mengambil peralatan Make up sang Ibu. Ia ingin sekali tampil feminim dan cantik seperti Ibunya. Untuk itu, ia belajar sendiri setiap kali sang Ibu tak ada di rumah. Ia memasuki kamar Ibunya diam-diam dan merias wajahnya sendiri.
Namun saat ia sedang asik berhias, terdengar suara sang Ibu berbincang dan derap langkahnya mendekati kamar itu. Ia segera bersembunyi di dalam lemari pakaian sang Ibu. Ketika sang Ibu masuk ia kaget, kala melihat Ibunya dengan manja dan mesranya bergelayut di tangan sopir pribadinya. Pak Jono, iya, seorang Duda beranak dua yang memang masih berpenampilan sangat terlihat menawan. Tubuh atletis, kumis tipis dan jambang tipis membuat penampilan Pak Jono masih terlihat menawan.
Rashila menutup mulutnya kuat menggunakan jari jemarinya ketika melihat tingkat absurd sang Ibu yang langsung mencium bibir sopir pribadinya. Dan Pria itu menyambutnya dengan meremas bagian belakang yang menonjol di bagian tubuh Ibunya.
"Nyonya sangat buas."
Ucap Pak Jono, lalu dengan sigap tangan Andira, Ibu Rashila membuka kancing seragam Sopirnya. Lalu dengan cepat ia membuka pakaiannya sendiri. Mata Rashila kian membulat di buatnya. Air Mata tak terbendung kala yang ia tonton adalah hal yang sangat menjijikkan baginya.
Hal yang ia sendiri belum tahu dan belum ingin tahu di masa pertumbuhannya. Ia tak percaya dengan perbuatan Ibunya sendiri. Seorang Nyonya Suhendar, bisa melakukan hal memalukan seperti itu.
Rashila melihat semua yang Ibunya lakukan, kebiasan yang tak pantas ia lakukan bersama Pria yang bukan suaminya. Di saat Papa Rashila sedang menyelesaikan pekerjaannya di luar negeri dalam waktu yang lumayan lama. Dan Ibunya memakai waktu tersebut untuk hal yang tak patut dilakukan.
Sesak di d**a Rashila begitu menjejal dalam rongga dadanya. Sungguh ia menyesal telah masuk ke kamar Ibunya diam-diam. Dan kini ia melihat hal yang tak pantas ia lihat. Perutnya terasa sangat mual melihat dari celah pintu lemari pakaian itu.
Semua perbuatan menjijikkan yang dilakukan sang Ibu bersama sopir Pribadinya.
"Papa!" Seru Andira berlari mendekati suaminya. Lalu memeluk tubuh pria itu dan mencium pipinya. Dengan wajah paniknya ia mengusap seluruh tubuh suaminya dan memasang wajah yang sangat sedih. Rashila menghela nafas dan menatap Ibunya sinis.
"Mama, akhirnya kamu datang. Aku pikir kamu sangat sibuk hingga tak punya waktu menjengukku."
Ucap Tuan Suhendar, ia menggerakkan tubuhnya untuk duduk. Lalu dengan tersenyum Andiri membantu suaminya agar duduk dengan bersandar. Rashila mengusap wajahnya melihat sikap manis Ibunya terhadap Ayahnya.
"Aku langsung kemari sayang, begitu ajudan kamu menghubungi Jono tadi."
Balasnya mengusap lembut pipi suaminya. Tuan Suhendar tersenyum dan meriah jari jemari istrinya. Lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut. Rashila risih melihatnya, ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu.
Entah apa yang membuatnya semakin benci dengan Ibunya ketika harus berhadapan dengannya. Yang pasti bayangan pergumulan Andira bersama Jono membuatnya sangat muak dan selalu ingin muntah.
"Shila, mau kemana Nak?"
Tanya Suhendar melihat Rashila membuka pintu. Gadis itu menghentikan langkahnya dan menatap sang Ayah. Ia tersenyum menatap balas Ayahnya.
"Cari minuman segar Pa, sebentar kok. Shila segera kembali."
Balasnya.
Tuan Suhendar menghela nafasnya, lalu tersenyum. Ia mengayunkan tangannya dan meminta putrinya mendekatinya. Rashila menghela nafasnya dan dengan langkah berat ia menyeret kakinya mendekati sang Ayah.
"Anak Papa, kesayangan Papa. Itu di kulkas ada kok, coba deh lihat."
Ucapnya, dan membuat Rashila menghela nafasnya lagi. Ia menepuk keningnya sendiri, karena membuat alasan yang tidak masuk akal bagi Ayahnya. Lalu ia tersenyum getir menatap Ayahnya.
"Shila mau apa? Bilang sama Mama, biar Mama telpon Pak Jono untuk membelikannya."
Tawar Andira, Rashila menatap sinis Ibunya. Lalu membuang muka dan berdecak kesal.
"Tidak ada, aku bisa membelinya sendiri."
Balasnya sinis. Andiri mendekati putrinya, lalu merangkul pundaknya. Namun Rashila menepisnya dengan kuat, dan berlalu dari samping Ibunya. Andira mengerutkan dahinya, dan Suhendar menghela nafasnya panjang.
"Shila, tidak baik bersikap begitu dengan Mama kamu Nak."
Ucap Suhendar, lalu Pria itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Rashila mendekati Ayahnya dan menggenggam jemarinya dengan lembut. Ia mengusap ke pipinya dan mencium hangat tangan itu.
"Papa, janji kan, kalau Rashila bisa jadi juara Umum, Shila akan ikut Papa ke luar Negeri?"
Ucapnya manja, lalu tangan kekar itu mengusap lembut kepala putrinya. Lalu mengangguk dan tersenyum. Rashila tersenyum dengan mata yang berbinar. Ia melirik Ibunya dengan tatapan sinisnya.
"Kalau kamu sudah lulus, kita akan pindah ke Jerman bersama-sama, Mama juga. Papa tidak bisa hidup tanpa Mama."
Ucapnya meriah jari jemari istrinya dan menariknya, lalu mengecupnya lembut. Rashila kembali menghela nafasnya panjang. Lalu mengerucutkan bibirnya dan berdecak kesal. Dan terlihat wajah Diandra pun tak suka dengan ucapan suaminya.
"Sayang, kalau aku juga ikut kamu ke Jerman. Terus yang mengurus bisnis kita di sini siapa dong?"
Balas Diandra, dan mendapatkan respon senyuman dari Suhendar. Rashila menatap wajah sang Ayah begitu lekat. Ia ingin tahu jawaban Ayahnya untuk Ibunya. Kebencian yang sudah mengakar daging di tubuh Rashila terhadap Ibunya. Membuatnya sangat ingin jauh darinya.
Tapi beberapa kali ia meminta sebuah apartemen untuk ia tinggali, selalu Ayahnya tolak. Karena alasan Rashila masih belum bisa menjaga diri. Umurnya yang masih sangat kecil bagi Ayahnya.
Rashila menggenggam erat tangan Ayahnya. Ia berharap membiarkan Ibunya tinggal di Indonesia, dan Ayahnya meninggalkan Ibunya. Ia menginginkan kedua orang tuanya berpisah, karena ia membenci pengkhianatan yang Ibunya lakukan.
❤️ B E R S A M B U N G ❤️