Sekuntum Janji Bab 4.
Kepalsuan
Andira duduk di samping suaminya dan melingkarkan tangannya ke pinggang Suhendar. Lalu dengan lembut pria itu mendaratkan satu kecupan di kening istrinya. Andira tersenyum, namun dengan cepat mengusap keningnya dengan berpura-pura membetulkan letak rambutnya.
"Kamu tidak perlu memikirkan usaha kita di sini, biarkan Andre yang akan mengurusnya nanti. Kamu fokus saja dengan Rashila, urus semua kebutuhannya. Jangan sampai ia terabaikan, oke."
Ucapnya mengusap pipi istrinya lalu memberikan satu kecupan manis di sana. Andira tersenyum, lalu melepaskan tangannya dari tubuh suaminya dan beranjak menjauh dari ranjang suaminya. Lalu ia duduk si sofa di mana Rashila sedang duduk di sana.
Gadis itu beranjak pergi ketika melihat Ibunya mendekatinya. Lalu ia duduk di dekat Ayahnya dan menggenggam tangan Ayahnya kuat. Ia melirik Ibunya dengan wajah yang sinis dan penuh kebencian. Andira kembali menghela nafasnya panjang dan memutar bola matanya.
"Kamu lihat sendiri bukan Pa, anakmu itu tidak mau sama sekali aku dekati. Entah apa yang membuatnya terlihat begitu jijik denganku."
Ucap Andira kesal, ia menyibakkan rambut ikal yang panjangnya sebahu dan berwarna kecoklatan. Ia menghela nafas dan memalingkan wajahnya dari tatapan suaminya. Suhendar menghela nafas, lalu menatap putri satu-satunya yang begitu ia sayangi.
"Kurang apa aku mengurusnya, pulang pergi sekolah diantar jemput, satu asisten khusus, satu sopir pribadi, materi tak pernah kurang, apa lagi."
Bela Andira, wanita itu menatap Rashila yang kini menatapnya tajam.
"Semua kebutuhan, keinginannya selalu tercukupi. Apa yang ia mau tak pernah terabaikan. Tapi coba lihat, bagaimana putri kesayanganmu itu berperilaku padaku. Bahkan menatapku saja seakan ingin menelanku hidup-hidup. Setelah kelas 3 SMP, iya sejak saat itu sikapnya begitu berubah kepadaku. Putrimu itu sangat menyebalkan hingga sekarang Pa."
Cecarnya lagi, Suhendar lekat menatap wajah Rashila yang fokus menatap Ibunya yang sedang mengungkapkan isi hatinya kepada Ayahnya. Rashila mencengkram kuat sprei yang tersentuh tangannya. Ia menyipitkan matanya mendengar semua penuturan Andira, Ibunya.
"Apa perlu aku katakan se…"
Kalimat Rashila terhenti ketika suara ketukan di pintu terdengar begitu kuat. Mereka bertiga menoleh dan menatap ke arah pintu. Rashila menghela nafasnya, lalu mengusap wajahnya kasar.
"Masuk."
Seru Tuan Suhendar, lalu terdengar suara daun lawang berderit. Masuklah sosok yang membuat Rashila menggenggamkan kuat kepalan tangannya kembali.
"Tuan, maaf, Nyonya sudah harus kembali ke kantor. Baru saja sekretarisnya menelpon, kalau lima belas menit lagi akan ada meeting penting di kantor."
Ucapnya dengan kepala tertunduk dan tangan menyatu di depan perutnya. Tuan Suhendar mengerutkan keningnya menatap istrinya. Lalu kembali menatap sopir pribadi istrinya itu lekat.
"Iya, pergilah, Istriku akan segera menyusul nanti."
Balas Tuan Suhendar, Jono segera mundur dan keluar dari ruangan itu. Rashila menatap dengan lekat Ibu dengan sopirnya itu. Sopir itu melirik ke arah Ibunya dan begitupun dengan Ibunya pun melakukan hal yang sama. Ia mencium gelagat yang tidak baik diantara mereka berdua.
"Papa percaya dengan laki-laki tadi? Bahkan aku sangat tidak mempercayainya sedikit pun Pa. Kenapa tidak Papa ganti saja sopir buat Mama, yang lebih tua saja. Yang lebih berpengalaman Pa, biar aman."
Sela Rashila yang ditanggapi tatapan tajam dari Ibunya. Tuan Suhendar tertawa mendengar penuturan putrinya. Ia mengusap kasar puncak kepalanya. Lalu menatap lekat istrinya yang ternyata menatap tajam Rashila.
"Papa itu hanya memberikan pekerjaan kepada Jono, karena dia harus menghidupi dua anaknya tanpa istri. Kasihan dia Shila, kalau Papa kasih uang cuma-cuma. Takutnya dia tersinggung, makanya Papa minta dia jadi sopir pribadi Mama."
Jelas Tuan Suhendar menatap lekat istrinya, yang kini tersenyum menatap suaminya. Sementara Rashila berdecak kesal melihat itu.
"Tapi Pa, sopir itu… ish, ah entahlah. Saranku cari sopir lain."
Cetusnya kesal, lalu ia beranjak pergi dari ruangan itu. Lalu Andira mendekati suaminya, Suhendar tersenyum melihat istrinya. Ia meraih tangan istrinya dan mengecupnya lembut.
"Pergilah, lalu segera pulang dan beristirahat di rumah. Jangan capek-capek ya, aku menyangimu."
Ucap Tuan Suhendar, dan di balas sebuah senyuman dan anggukan oleh Andira. Lalu wanita itu segera melangkahkan kakinya dengan cepat setelah meraih tasnya di atas sofa. Ia membuka pintu dan menoleh ke kanan dan kekiri. Setelah melihat keberadaan Jono, ia segera menghampirinya dan mereka berdua pergi begitu saja.
Rashila mengikuti mereka secara diam-diam. Hingga mereka masuk ke mobil, dan ia melihat Mamanya masuk di depan duduk di samping sopirnya. Rashila membelalakkan matanya bulat-bulat.
"Astaga! Semakin berani rupanya mereka. Dasar pengkhianat, lihat saja kalian. Akan aku buat kalian menyesal sudah menyakiti Papa."
Gumamnya lirih dengan tangan yang mengepal kuat. Ingin sekali ia mengikuti kemana mereka pergi. Namun kebersamaannya dengan Ayahnya sudah sangat ia rindukan. Akhirnya ia memilih untuk kembali ke ruangan Ayahnya. Namun sebelum ia melangkahkan kakinya, ia menoleh sekali lagi ke arah mobil Mamanya.
Ia mengernyitkan dahinya melihat mobil itu belum berlalu dari parkiran. Dan itu membuatnya penasaran di kepalanya datang. Dengan perlahan ia mendekati mobil Ibunya. Lalu memperhatikan mobil itu, namun kaca hitam yang menutupi mobil itu tak membuatnya mampu menembus isi di dalam mobil itu. Rasa penasaran yang begitu kuat membuatnya nekat mendekatinya lebih dekat. Dan menempelkan wajahnya ke kaca jendela dimana ia melihat Ibunya masuk tadi.
Matanya semakin membulat melihat dua orang itu sedang saling memagut bibir, dan tangan pria itu sudah bersembunyi di balik rok wanita itu yang kakinya terbuka dengan lebar dan kain yang terangkat membuat bagian paha mulusnya terlihat semuanya. Mata yang terpejam membuat mereka tak menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Geram datang dalam hati Rashila, rasa kaget yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak membuatnya hanya mampu melihat tanpa reaksi lainnya. Hingga seorang security datang menghampirinya dan menepuk bahunya.
"Dek, lagi ngapain."
Sapanya, dan membuat Rashila tersentak kaget dan menyenggol bodi mobil dengan sedikit kuat. Membuyarkan dua insan yang sedang b******u di dalam mobil tersebut pun kaget dan menghentikan kegiatan mereka berdua.
Andira terkejut melihat Rashila yang berdiri di luar mobilnya dan sedang berbincang dengan Satpam. Ia menatap Jono penuh tanya, lalu ia membetulkan letak pakaiannya dengan cepat dan mengusap wajahnya yang basah. Dan ia membuka pintu mobilnya dan keluar.
Ia menatap putrinya, lalu meraih tangannya. Namun Rashila menepisnya, dan menghadiahi satu tamparan kuat di pipi Ibunya. Andira terkejut dengan sikap anaknya, wajahnya memerah. Bukan hanya sakit yang ia rasakan, tapi juga malu karena di depannya masih berdiri seorang satpam laki-laki yang memperhatikan mereka.
"Shila, apa-apaan kamu, kenapa tampar Mama!"
Teriaknya masih memegangi pipi kirinya yang terasa panas dan memerah. Rashila dengan matanya yang sudah berair dan d**a yang naik turun juga bahu berguncang menatap Ibunya tajam.
"Memalukan! Shila menyesal punya Ibu kayak Mama! Mama jahat!"
Teriaknya kencang, lalu ia berlari menjauh dari hadapan sang Ibu. Andira memicingkan matanya, lalu meremas tangannya sendiri. Dan membuang nafasnya kasar, lalu membuka pintu mobil dan duduk bersandar dengan mata terpejam kuat.
"Hah, sepertinya Rashila sudah melihat kita tadi. Astaga! Apa yang akan terjadi jika dia mengatakan semuanya ke Papanya."
Gumamnya, lalu dengan lembut Jono mengusap paha wanita itu dan membuat roknya agar naik dan membuat pahanya terlihat. Andira hanya tediam, otaknya bekerja sangat keras. Kemungkinan terburuk sedang ia pikirkan jika sampai suaminya mengetahui perbuatan bejatnya.
"Anak manjamu itu sudah mengetahui semuanya tentang kita. Itu alasannya dia begitu sadis denganmu. Karena kamu membuatnya cemburu."
Cetus Jono, yang tangannya sudah menyusup di dalam rok Andira. Wanita itu membuka matanya cepat dan menatap tajam pria di depannya yang satu tangannya lagi menyusup di bagian dadanya dan memainkan benda kenyal yang tersembunyi didalamnya.
Andira menepis tangan itu dan menyingkirkan dari tubuhnya. Jono membulatkan matanya, lalu menggerakkan kembali tangannya ke tempat semula.
"Sudah basah sekali sayang, nanggung. Sedikit lagi kan, sini biar aku buat kamu melayang dulu."
Ucapnya menyusupkan kembali tangannya diantara paha wanita itu. Andira terdiam dan memikirkan ucapan Jono.
"Apa maksud kamu Rashila cemburu."
Ucapnya dengan mata terpejam menikmati jari nakal Jono yang memainkan bagian sensitifnya. Tubuhnya kini sudah menegang karenanya. Pria itu tersenyum menyeringai, melihat wanita itu menikmati semua yang ia lakukan.
"Putrimu itu mencintaiku, dan aku menolaknya. Aku katakan kalau aku lebih mencintai kamu dan memilih kamu daripada dia. Karena itu ia begitu membencimu."
Ucapnya berbohong. Andira membulatkan matanya, lalu mulai membetulkan pakaiannya dan menghela nafasnya panjang.
"Kamu serius Rashila menyukaimu, aku tidak percaya."
Jawab Andira.
Jono menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan kendaraan roda empat itu perlahan hingga keluar parkiran rumah sakit. Lalu menuju rumah besar milik Andira.
"Terserah kamu percaya atau tidak, lalu apa yang kamu pikirkan. Kenapa ia tiba-tiba membencimu coba. Kalau bukan karena dia menyukaiku."
Ucap Jono lagi. Senyumnya kian menyeringai dan sesekali mengusap lembut kepala yang merupakan majikannya itu. Andira menatap lurus tanpa arah. Pikirannya menerobos angan yang tak mampu ia tembus.
"Ah tidak mungkin, pasti ada alasan lain. Dia itu masih bocah ingusan. Dan belum mengerti apa itu cinta. Jangan membuatku semakin bingung kamu."
Ujar Andira.
Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar. Dan Jono semakin tersenyum melihat wanita itu gelisah.
"Kalau sampai aku diceraikan Mas Hendar, habis kita."
Imbuhnya lagi.
Jono dengan tenang menepikan mobilnya dan menghentikannya. Lalu menatap Andira dengan lekat dan meraih dagu wanita itu lalu menuntun wajah itu agar menatapnya.
"Kerja cerdas, mulailah menyimpan untuk kita. Agar jika itu terjadi, kita bisa menikah dan memiliki tabungan yang cukup untuk hidup kita nantinya."
Ucapnya dengan senyuman piciknya. Andira mengernyitkan dahinya, lalu ujung bibirnya mulai berubah menjadi lengkungan yang membuat wajahnya menjadi sangat cantik. Ia langsung mengulum bibir pria itu dengan cepat. Lalu kembali ke posisinya dan menatap lurus ke depan.
"Betul kamu, aku punya tabungan yang setiap bulan auto terisi penuh dari suami bodohku itu. Besok aku akan pindahkan ke rekening kamu saja, dan simpan baik-baik ya. Buat tabungan kita nanti, oke."
Jawabnya dengan menjentikkan jarinya. Jono semakin menyeringai, lalu ia kembali ke kemudinya dan melajukan kendaraan itu perlahan.
❤️ B E R S A M B U N G ❤️