Morrigan tidak langsung melanjutkan. Ia menunggu sampai pelayan kedai lewat dan pergi, sampai suara roda kereta di luar menutupi percakapan, sampai ia yakin tidak ada telinga yang mendengar. Penyihir kontrak darah tidak bertahan lama dengan menjadi ceroboh, dan Morrigan sudah sangat lama bertahan.
Syahquita menggunakan jeda itu untuk memperhatikan tangan penyihir itu. Tangan yang menulis namanya di kulit kontrak. Tangan itu kurus, dengan kuku-kuku pendek yang bersih, dan satu cincin tua dari besi hitam di jari tengahnya. Tidak ada yang istimewa dari tangan itu—dan justru itu yang membuatnya menakutkan. Kejahatan paling besar kadang dilakukan oleh tangan-tangan yang paling biasa.
Di meja sebelah, Keenan duduk dengan punggung menghadap mereka, tapi seluruh tubuhnya mendengarkan. Di luar, Dawin berdiri di samping kereta dengan sikap orang yang sedang menunggu dengan bosan—padahal matanya menghitung setiap orang yang masuk dan keluar kedai. Dan di atap bangunan seberang, salah satu orang Robert berbaring diam seperti bagian dari genteng itu sendiri.
“Aku akan menceritakan semuanya,” ucapnya akhirnya, “tapi aku ingin kalian pahami dulu bagaimana kontrak ini dibuat, supaya kalian pahami apa yang kalian hadapi.”
Albert mencondongkan tubuhnya. “Katakan.”
“Kontrak terhadap Tuan Putri dibuat enam bulan lalu, beberapa hari setelah jamuan perdamaian. Majikannya datang kepada Ordo Sayap Malam membawa sisir itu—dengan rambutnya yang masih tersangkut—dan emas yang cukup untuk mengaktifkan kembali ordo yang sudah bubar.” Morrigan memutar cangkir tehnya pelan-pelan. “Aku yang menjadi perantaranya. Aku yang menuliskan namanya di kulit kontrak. Dan aku yang melihat wajah majikannya saat sumpah darah diikat.”
“Kau melihat wajahnya,” ucap Syahquita, dadanya menegang. “Kau tahu siapa dia.”
“Aku tahu siapa dia,” jawab Morrigan. “Dan sebelum aku mengucapkan namanya, aku ingin suakaku. Bukan janji—dokumen. Ditandatangani, dicap, dan disaksikan. Malam ini juga.”
Albert mengeluarkan dari saku dalamnya sebuah amplop tebal dan meletakkannya di meja. “Sudah kami siapkan. Suaka dan perlindungan di wilayah perbatasan, berlaku seumur hidupmu, tidak bisa ditarik kecuali kau mengkhianati kami lebih dulu. Ditandatangani olehku, dengan segel kastil.”
“Kalian membawanya langsung ke pertemuan pertama,” komentar Morrigan, alisnya terangkat sedikit. “Percaya diri, atau nekat.”
“Dipersiapkan dengan baik,” koreksi Syahquita. “Kami tidak datang ke pertemuan tanpa membawa apa yang dijanjikan. Itu cara kami bekerja.”
Morrigan membuka amplop itu, membaca dokumen di dalamnya dengan teliti—sangat teliti, sampai ke baris-baris kecil—lalu menatap mereka berdua dengan sesuatu yang menyerupai penghargaan. “Kalian datang dengan lebih siap dari kebanyakan orang.” Ia mengambil pena dari saku jubahnya, menandatangani dokumen itu di bawah tanda tangan Albert, lalu mendorongnya kembali ke seberang meja. “Kalau begitu, dengarkan baik-baik.”
Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Kontrak ini isinya bukan kematian. Isinya penyerahan: Tuan Putri Syahquita, hidup-hidup, dibawa ke tempat yang ditentukan majikan, dalam keadaan utuh. Tidak boleh ada luka yang permanen. Tidak boleh ada sihir yang dipakai pada dirinya. Majikannya sangat spesifik tentang itu—dia tidak ingin kau rusak, Tuan Putri. Dia ingin kau diserahkan seperti barang yang dibelinya.”
Syahquita merasakan mual yang bukan dari kehamilannya. Diambil hidup-hidup, utuh, tanpa luka. Bukan untuk dibunuh—untuk dimiliki. Gambaran itu lebih buruk dari kematian dalam banyak hal. Tangannya bergerak ke perutnya tanpa sadar, dan ia melihat mata Morrigan mengikuti gerakan itu—mengkonfirmasi apa yang sudah mereka semua tahu, tanpa satu kata pun perlu diucapkan.
“Dan nama majikannya,” ucap Albert, suaranya terdengar seperti batu yang digerinda. “Katakan namanya.”
Morrigan menatap mereka berdua. Lalu ia berkata, “Namanya Balthazar. Lord Balthazar dari wilayah timur.”
Albert membeku. Itu bukan kiasan—wajahnya benar-benar berhenti bergerak, dan warnanya berubah sedikit, dan Syahquita yang sudah bertahun-tahun mengenalnya tahu bahwa nama itu bukan nama asing bagi suaminya.
Di meja sebelah, Keenan yang mendengar nama itu juga membeku dengan cangkirnya melayang di udara. Nama itu jelas bukan nama asing bagi para pangeran perbatasan. Nama itu adalah nama yang dulu menghuni mimpi-mimpi buruk mereka di masa perang.
“Kau mengenalnya,” ucap Syahquita pelan.
“Dia komandan pasukan gabungan di perang terakhir,” jawab Albert, dan setiap kata terdengar seperti dikeluarkan dengan paksa. “Dari pihak musuh. Perang itu berakhir dengan perdamaian yang kubantu susun—perdamaian yang membuatnya kehilangan semua wilayah rampasannya, semua pengaruhnya, semua mimpi-mimpinya. Dia menolak menandatangani gencatan. Dia menghilang sebelum perayaan perdamaian.” Ia menatap Morrigan. “Dan kau mengatakan dia kembali, dengan ordo penyihir upahan, untuk mengambil istriku.”
“Bukan hanya kembali,” ucap Morrigan. “Dia tidak pernah pergi, Tuan Albert. Orang seperti dia tidak pergi. Mereka hanya bersembunyi dan menyimpan dendamnya seperti orang menyimpan anggur—semakin lama disimpan, semakin kuat rasanya.” Ia menyesap tehnya. “Dia sudah mengawasi kastil kalian sejak hari pertama perdamaian. Dan dia memilih majikan-musuh dengan sangat hati-hati: tidak satu pun dari kami di ordo yang pernah berhadapan langsung denganmu di perang. Dia tidak mau ada wajah yang kau kenali.”
Albert menyerap informasi itu dalam diam. Wajah-wajah baru di pasar, gerobak-gerobak asing di jalan, pembeli berjubah di kedai—selama berbulan-bulan, hal-hal itu hanyalah bagian dari latar kehidupan perbatasan. Sekarang semuanya tersusun ulang menjadi sesuatu yang lain: mata-mata yang tak terhitung jumlahnya, ditanam di mana-mana, sejak hari pertama.
“Bukan hanya untuk mengambilnya,” ucap Morrigan pelan. “Dia menyebut Tuan Putri dengan sebutan yang spesifik saat menandatangani kontrak. Dia menyebutnya—‘arsitek dari kejatuhan-ku.’ Baginya, perempuan ini bukan rampasan. Perempuan ini adalah pembalasan. Perdamaian itu dijahit oleh tangan Tuan Putri, dan Balthazar berniat mengambil arsiteknya sebagai miliknya—supaya dunia tahu bahwa damai yang kalian bangun tidak bisa melindungi bahkan pembangunnya sendiri.”
Syahquita merasakan kata-kata itu menetap di dadanya seperti batu. Arsitek dari kejatuhan. Ia ingat menulis draf perjanjian itu sampai jarinya sakit, malam demi malam, dengan keyakinan bahwa setiap kalimat yang ia tulis akan menyelamatkan ribuan nyawa. Dan ternyata di ujung lain dari kertas itu, ada satu orang yang membaca setiap kalimatnya sebagai penghinaan pribadi.
“Ada satu hal lagi yang harus kalian tahu,” lanjut Morrigan, dan suaranya turun menjadi lebih pelan lagi. “Kontrak ini punya tenggat. Balthazar menetapkannya sendiri saat penandatanganan: kontrak harus selesai sebelum anak itu lahir. Dia ingin Tuan Putri diserahkan sebelum bayinya ada di dunia ini. Dia tidak mau ada satu hari pun di mana Tuan Putri merayakan kelahiran anak itu sebagai wanita bebas.”
Albert mengepalkan tangannya di atas meja sampai buku-buku jarinya memutih. “Berapa lama tenggatnya?”
“Lima bulan dari sekarang, kira-kira,” jawab Morrigan. “Tapi ordo tidak akan menunggu sampai akhir. Mereka akan bergerak jauh lebih awal—kontrak yang diselesaikan lebih cepat dibayar lebih besar.”