Syahquita duduk diam setelah nama itu diucapkan. Di kepalanya, roda-roda berputar dengan cepat, menyusun kembali semua yang sudah terjadi dalam enam bulan terakhir di bawah cahaya yang baru. Jamuan perdamaian. Sisir yang hilang. Martha yang ditanam di dapur. Semuanya sudah diatur sejak hari-hari pertama damai—oleh seorang pria yang tidak pernah menerima damai itu.
Ia teringat meja perundingan itu. Berhari-hari di ruangan yang penuh asap dan kata-kata, dengan perwakilan dari semua pihak yang lelah berperang. Ia ingat bagaimana perdamaian itu akhirnya terjahit—bukan oleh para jenderal yang saling mengalahkan di medan perang, melainkan oleh orang-orang seperti dirinya yang menulis, menawar, dan menjahit kata demi kata sampai semua pihak bisa menandatanganinya. Di ujung proses itu ada satu nama yang menolak menandatangani. Satu nama yang menghilang sebelum tintanya kering.
“Balthazar,” ulang Syahquita. “Aku tidak pernah bertemu dengannya secara langsung. Aku hanya melihatnya sekali, dari kejauhan, di meja perundingan. Dia tidak menatapku sama sekali waktu itu.”
“Dia tidak perlu menatapmu untuk membencimu,” ucap Albert dengan suara rendah. “Kau meruntuhkan dunianya dengan kata-kata di atas kertas perjanjian. Orang seperti dia tidak pernah memaafkan hal seperti itu.”
Morrigan menyesap tehnya untuk pertama kalinya. “Sekarang kalian tahu siapa dia. Tapi nama tidak akan menghentikan kontrak. Yang akan menghentikannya adalah ini: benda pengikat.” Ia menatap mereka bergantian. “Sisir itu bukan hanya benda pribadi—sisir itu diserahkan kepada ordo sebagai pengikat sumpah darah. Selama sisir itu ada dan utuh di tangan ordo, kontrak ini hidup. Hancurkan sisir itu, dan kontraknya mati. Ordo akan bubar lagi, dan Balthazar harus memulai dari nol—dengan ordo yang tidak akan mau bekerja dengannya dua kali.”
Syahquita merasakan harapan yang berbahaya mulai tumbuh di dadanya. Satu benda. Satu sisir. Setelah berminggu-minggu melawan sesuatu yang tidak terlihat, tiba-tiba perang ini punya bentuk yang bisa dipegang: sebuah sisir kayu dengan ukiran bunga di gagangnya, yang dulu ia terima sebagai hadiah dari ibunya di hari pernikahannya.
“Sisir itu bukan sisir sembarangan,” ucapnya pelan. “Itu hadiah dari ibuku. Ada nama ibuku terukir di gagangnya.”
“Kalau begitu kau punya alasan tambahan untuk mendapatkannya kembali,” jawab Morrigan. “Dan aku punya alasan tambahan untuk membantumu: selama sisir itu ada di lemari besi ordo, ada bagian dari namaku yang terikat padanya juga. Aku tidak suka meninggalkan bagian diriku di lemari orang lain.”
“Di mana sisir itu?” tanya Albert langsung.
“Di markas ordo. Di kota pelabuhan utara, di gedung yang dijaga sihir. Aku tahu di mana persisnya—aku yang membawanya ke sana.” Morrigan mengeluarkan selembar kertas dari jubahnya: denah yang digambar tangan, dengan tanda-tanda kecil di sudut-sudutnya. “Denah gedung itu. Tempat penyimpanan kontrak ada di sini—” jarinya menunjuk satu titik, “—ruangan bawah tanah, di lemari besi dengan kunci sihir. Aku bisa membuka kuncinya. Aku yang membuatnya.”
Syahquita memperhatikan denah itu, lalu menatap Morrigan dengan mata menyipit. “Kau sudah merencanakan pembelotan ini sejak lama. Sejak sebelum kami menghubungimu. Kau sudah menyiapkan denah ini.”
Morrigan tidak membantah. “Aku sudah melihat cukup banyak kontrak untuk tahu mana yang akan berakhir buruk. Kontrak terhadap wanita hamil yang tidak pernah melukai siapa pun—kontrak seperti itu membawa kutukan bagi semua yang menyentuhnya. Aku tidak berniat ikut tenggelam bersama Balthazar.” Ia berdiri, dan gerakannya menandakan bahwa pertemuan ini hampir selesai. “Dokumen suaka itu sudah sah. Malam ini aku sudah berada di bawah perlindungan kalian. Besok aku akan memberikan kalian sisanya: nama-nama agen ordo yang bergerak di wilayah kalian, jadwal mereka, dan cara mereka berkomunikasi.”
“Termasuk mata-mata di dapur kami,” ucap Syahquita.
Morrigan menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai senyum di sudut bibirnya. “Martha. Ya. Dia bukan pekerja profesional—dia hanya gadis desa yang dibayar dan ditakut-takuti. Jangan terlalu keras padanya saat kalian menangkapnya.”
“Kami tidak menangkap orang dengan keras,” jawab Albert. “Kami menangkapnya dengan benar.”
“Kalau begitu dengarkan satu nasihat terakhir sebelum aku pergi,” ucap Morrigan, berdiri dari kursinya. “Martha bukan satu-satunya telinga yang ditanam di wilayah kalian. Dia hanya yang paling dekat. Ordo selalu menanam lebih dari satu—karena mereka tahu satu pasti akan tertangkap. Kalau kalian sudah menemukan Martha, mulailah bertanya-tanya: siapa yang ditanam untuk menggantikannya kalau dia tertangkap?”
Pertanyaan itu jatuh ke meja seperti batu. Syahquita dan Albert saling berpandangan. Mata-mata kedua. Tentu saja. Ordo yang seprofesional itu tidak akan menaruh semua harapannya pada satu juru masak bantu.
Pertemuan itu selesai dengan jabat tangan yang canggung—Morrigan jelas bukan orang yang terbiasa berjabat tangan—dan penyihir itu pergi lewat pintu belakang kedai, ke arah kereta tanpa lambang milik Robert yang akan membawanya ke wilayah perbatasan lewat jalan yang berbeda.
Sebelum pergi, Morrigan berhenti sejenak di ambang pintu belakang dan menoleh kepada Syahquita. “Satu hal, Tuan Putri. Kau tadi bertanya kenapa aku mau membelot, lewat daftar pertanyaanmu yang tidak sempat kau baca.” Ia menatap Syahquita dengan mata yang terlalu tenang itu. “Aku membelot karena aku sudah tua, dan aku sudah menulis terlalu banyak nama di kulit kontrak. Nama-nama orang jahat, nama-nama orang biasa. Tapi namamu adalah nama pertama yang kutulis dengan tangan yang menyesal. Aku tidak mau mati dengan penyesalan itu di tanganku.”
Lalu ia pergi, dan pintu belakang kedai itu menutup dengan suara kayu yang pelan.
Syahquita dan Albert tetap duduk di meja sudut itu beberapa saat setelahnya, membiarkan ramainya kedai menutupi keheningan mereka.
“Balthazar,” ucap Syahquita akhirnya. “Kita punya nama. Kita punya denah. Kita punya cara untuk mematahkan kontraknya.”
“Dan kita punya musuh yang enam bulan lebih dulu bergerak,” tambah Albert. “Dia sudah melihat wajah kita, kebiasaan kita, kelemahan kita. Dan dia tidak akan tinggal diam saat tahu Morrigan membelot—karena dia pasti akan tahu. Ordo itu pasti sudah menyiapkan hukuman untuk pembelot.”
“Maka kita bergerak sebelum dia tahu,” jawab Syahquita, berdiri. “Pulang. Malam ini kita merancang penyerbuan ke utara.”
Mereka keluar dari kedai persimpangan ke cahaya siang yang tiba-tiba terasa lebih terang dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak jejak misterius itu ditemukan, mereka tidak lagi berperang melawan bayangan. Bayangan itu sudah punya nama.
Di dalam kereta, dalam perjalanan pulang, Syahquita menyandarkan kepalanya ke bahu Albert dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia merasakan kantuk yang bersih—kantuk orang yang lelah karena bekerja, bukan karena takut. Daftar pertanyaannya sudah penuh dengan jawaban. Nama, isi kontrak, tenggat, dan yang paling penting: cara mematahkannya.
“Kita akan menang,” ucapnya pelan, setengah mengantuk.
“Kita akan menang,” ulang Albert, melingkarkan lengannya di bahu istrinya, dan kereta itu membawa mereka pulang melewati perbukitan yang bermandikan cahaya sore.