Setelah beres kerja Senja pergi ke rumah Paman Ivan untuk mengambil sepeda motor miliknya.
Tok.. tok.. tok...
" Paman " Panggil Senja di balik pintu
" Siapa sih berisi banget " Keluh Tante Sarah di dalam rumah
Ceklek...
" Oh kamu, ngapain kamu kesini? " Tanya Tante Sarah
" Aku ke sini mau mengambil motorku, tapi ko aku gak lihat ada motorku di depan, apa sama paman di masukan kedalam rumah? " Tanya Senja heran
Tante Sarah hanya memutarkan kedua bola matanya dengan tangan yang ia lipat di d**a.
" Motor butut mu itu sudah di jual, kamu sendiri kan yang nyuruh kami untuk pindah dari rumah ini " Kata Tante Sarah dengan nada yang judes
" Apa di jual? " Kaget Senja " Kenapa kalian malah menjualnya, apa kalian tidak bisa pindah dari sini tanpa harus menjual barang milikku " Keluh Senja yang benar-benar kesal.
Paman dan Tante nya ini benar-benar sudah keterlaluan, setelah menjual dirinya kepada pria beristri dan sekarang mereka menjual motor kesayangannya.
" Alah paling itu motor laku tak seberapa, gak usah sombong kamu, tanpa kami kamu tidak akan menjadi seorang dokter dan tanpa kami kamu tidak akan hidup enak dengan pria kaya itu "
Air mata Senja benar-benar sudah tidak terbendung lagi " Kalian benar-benar keterlaluan "
Para tetangga yang mendengar perdebatan antara ponakan dan Tante nya itu hanya bisa menjadi penonton tanpa ingin memisahkan.
" Baik, karena kalian sudah menjual Motor milikku maka kalian harus segera keluar dari rumah kedua orang tuaku " Kata Senja tegas
" Dasar ponakan kurang ajar, gak ada balas budinya kepada kami. tanpa kami kamu tidak akan seperti saat ini " Tante Sarah sengaja meninggikan suaranya agar para tetangga tau jika senja adalah wanita yang tidak tau diri.
Senja menghapus air matanya " Bala Budi yang seperti apa yang kalian mau hm.. Aku bisa menjadi seorang Dokter karena hasil prestasiku, bahkan uang beasiswa aku pun kalian ambil untuk bermain judi. jadi aku harus balas Budi yang mana? " Tanya Senja yang sudah kepalang malu " Kalian selalu mengungkit soal balas Budi tapi aku juga tidak tau apa yang kalian maksud balas Budi. "
" Sekarang hidupku hancur karena kalian telah menjual diriku dan sekarang apa lagi? "
Tetangga senja yang sudah tidak bisa diam saja ia langsung menghampiri senja lalu mengelus punggung Senja
" Senja sudah malu sama tetangga " Kata Ibu itu
Senja melirik kearah tetangga yang sedang menonton dirinya lalu ia tersenyum getir " Maafkan Senja Bu, karena sudah membuat keributan Disni " Kata senja
" Iyah tidak Apa-apa Nak " Jawab ibu itu
" Kalo gitu, Senja pamit bu " Senja memilih meninggalkan pekarangan rumah karena ia tidak ingin semakin malu lagi.
Para tetangga menatap iba kepada Senja, lalu mereka langsung mencibir Tante Senja yang masih angkuhnya di depan pintu.
" Tante biadab "
" Iyah betul bisa-bisanya menjauh ponakannya sendiri "
" Kalo aku jadi senja sudah aku usir mereka di rumah itu, karena mereka tidak ada hak disana "
Para tetangga cukup tau bagaimana kehidupan Senja bahkan mereka juga tau jika paman dan tantenya itu suka main judi.
Dulu mending orang tua Senja adalah orang berada di perumahan itu bahkan mereka meninggalkan 15 pintu kontrakan dan sebidang tanah namun sekarang semua itu telah di jual oleh paman dan bibinya tanpa sepengetahuan Senja karena saat itu senja masih kecil jadi belum tau akan hal itu Senja hanya tau jika rumah yang mereka tempati itu adalah rumah kedua orang tuanya.
Senja masuk kedalam rumah dengan berjalan Gontai untung dirinya tadi mendapatkan pesan dari Tomi jika Tuan Bisma akan pulang telat karena ada jamuan makan malam.
Senja menaruh tas dengan sembarang arah, ia benar-benar merasa kecewa kepada paman dan bibinya itu.
" Kalian begitu tega kepadaku Paman, Tante. Aku punya salah apa kepada kalian sehingga kalian berbuat tega seperti ini hiks.. "
Sekuat-kuatnya Hati wanita pasti ada saat Diaman hati itu rapuh, yang seharusnya keluarga itu menjadi tempat pulang dan bersandar tapi ini malah sebaliknya.
Karena lelah menangis Senja pun memejamkan matanya.
~ RUMAH UTAMA
Tuan Bisma baru sampai di rumah utama ia juga mendapat laporan dari anak buah Tomi soal pertengkaran antara senja dan tantenya itu.
" Kau uruslah mereka, Aku tidak ingin jika mereka akan menjadi duri dari ini semua " Kata Tuan Bisma " Kau tau apa maksudku "
" Baik Tuan " Jawab Tomi patuh
" Apa yang sedang kakak rencanakan? " Tanya Alea sang adik
" Tidak ada. mana keponakan ku? " Tanya Tuan Bisma
Lea duduk di samping sang kakak " Baby Gempi sedang tidur, tadi habis rewel karena badannya agak hangat " Jawab Lea yang merasa lelah mengurus baby yang baru berusia tiga bulan itu
Tuan Bisma mengelus kepala Sang adik dengan lembut " Itulah repotnya jadi seorang ibu, kamu harus banyak bersabar lagi " Kata Tuan Bisma yang langsung di anggukan oleh Lea
" Oh iya kak, Nanti pas ke Bali aku ingin bawa baby Gempi boleh? "
" Kamu konsultasi dulu kepada dokternya, kakak tidak ingin terjadi sesuatu kepada ponakan kakak "
" Baik Boss " Jawab Lea senang karena akhirnya dirinya bisa jalan-jalan
" Kakak mau kemar dulu. lelah " Kata Tuan Bisma yang langsung pergi ke dalam kamar miliknya dan juga Ara
Kamar itu terasa sepi bahkan seperti tidak ada penghuni " Aku tiba-tiba merindukan istriku " Gumam Tuan Bisma yang langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di bawah guyuran air shower Tuan Bisma merasa hampa bahkan hatinya merasa kosong padahal saat ini dirinya telah memiliki dua istri.
Pernikahannya dengan Ara yang baru berjalan Tiga bulan yang seharusnya mereka masih seperti pengantin baru tapi ini malah sebaliknya, Ara akan datang memuaskan Tuan Bisma setelah itu Ara akan pergi setelah mendapatkan uang dari Tuan Bisma, entah pernikahan apa yang sedang di jalani oleh Tuan Bisama dan juga Arabella.
Ara malah terlihat bukan seperti istri Tuan Bisma malah seperti wanita pemuas untuk Tuan Bisma.
Setelah beres Tuan Bisma langsung melihat kearah tempat tidur, jika sedang di rumah Senja. Senja akan menyiapkan pakaian ganti untuk dirinya.
" Apa yang sedang aku pikirkan. " Gumam Tuan Bisma yang langsung masuk ke ruang ganti.