Aderald dibuat pusing oleh kedatangan sosok Claretta yang sering kali muncul secara tiba-tiba. Entah itu di kantor atau di rumah Claretta sering kali muncul tiba-tiba.Kemunculan itu kadang juga membuat Aderald terlihat seperti orang aneh yang tiba-tiba berbicara sendiri. Apalgi jika di depan umum, banyak orang yang melihat dan menganggapnya aneh.
"Pergilah, aku tak mau membantumu" usir Aderald kesal.
"Gak mau. Aku akan perAderald dibuat pusing oleh kedatangan sosok Claretta yang sering kali muncul secara tiba-tiba. Entah itu di kantor atau di rumah Claretta sering kali muncul tiba-tiba.Kemunculan itu kadang juga membuat Aderald terlihat seperti orang aneh yang tiba-tiba berbicara sendiri. Apalgi jika di depan umum, banyak orang yang melihat dan menganggapnya aneh.
"Pergilah, aku tak mau membantumu" usir Aderald kesal.
"Gak mau. Aku akan perAderald dibuat pusing oleh kedatangan sosok Claretta yang sering kali muncul secara tiba-tiba. Entah itu di kantor atau di rumah Claretta sering kali muncul tiba-tiba.Kemunculan itu kadang juga membuat Aderald terlihat seperti orang aneh yang tiba-tiba berbicara sendiri. Apalgi jika di depan umum, banyak orang yang melihat dan menganggapnya aneh.
"Pergilah, aku tak mau membantumu" usir Aderald kesal.
"Gak mau. Aku akan pergi sampai kamu mau membantuku."
"Bukannya kamu bilang kamu pusing saat dekat denganku? Lalu kenapa kamu selalu berada di sekitarku?" gerutu Aderald kesal.
"Memang, Hampir setiap aku dekat denganmu, kepalaku sakit, dan saat itu jug aku sering melihat kelebatan-kelebatan aneh."
"Itu tandanya kamu harus pergi jauh dariku."
"Tidak! Kamu lah satu-satunya orang yang bisa menolongku. Aku akan terus menghantuimu sampai kamu berubah pikiran,"
"Pergilah!" kata Aderald kesal.
"Sayang, kamu menyuruhku pergi?"
Aderald menoleh ke arah sumber suara. Di depan pintu ruangannya, sang kekasih sedang berdiri di sana dengan pandangan yang sulit diartikan. Sepertinya wanita itu salah paham dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan untuk sosok Claretta.
"Sayang, sejak kapan kamu di situ?" Pria itu pun berjalan mendekati sang kekasih yang masih memasang wajah terkejutnya.
"Kamu ngusir aku? Kenapa?" tanya Sisca dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan, Sayang, kamu salah paham. Aku sama sekali tak tahu kalau kamu berada di sini."
Aderald segera memeluk kekasihnya. Buntutnya akan semakin panjang jika wanita itu sudah menangis dan membuat drama. Namun, meski begitu, Aderald masih betah menjalin hubungan dengan wanita manja dan banyak drama.
Claretta melihat pemandangan itu merasa kesal. Ia merasa sedang menonton sinetron menye-menye yang banyak mengandung kelebaian. Tiba-tiba Claretta memiliki ide untuk mengganggu kemesraan mereka berdua. Ia mendekat pada Aderald dan menempel pada pria itu. Pria itu bisa menyentuh dan disentuh oleh Claretta.
Kedua mata Aderald melotot tajam saat merasakan tangan dingin Claretta berada di leher belakangnya.
"Kamu marah sama aku? Kenapa sekarang kamu melotot?" Sisca semakin kesal dengan tingkah Aderald yang aneh dan menyebalkan hari ini.
"E-enggak, aku gak marah. Anu ... itu, ada ... ada serangga yang bergerak di punggung aku, iya ada serangga di punggung aku," ucap Aderald asal.
Sementara Claretta tertawa senang bisa mengerjai pria itu dan membuatnya salah paham dengan kekasihnya.
"Aku akan terus mengganggu kamu dan pacarmu itu sampai kamu bersedia membantuku," bisik sosok Claretta tepat di telinga Aderald.
*****
Di rumah sakit tempat tubuh Claretta dirawat, kedua orang tuanya sedang berdiskusi dengan dokter. Mereka berencana untuk membawa anak mereka pulang ke rumah dan merawatnya sendiri di rumah. Sudah enam bulan berlalu, tapi, tak ada perubahan sama sekali pada anak gadis mereka. Tanda-tanda akan sadar pun sama sekali tak ada.
Jujur, keduanya sudah merasa putus asa untuk kesembuhan sang anak. Selain itu, mereka juga mulai merasa tak sanggup untuk membayar tagihan rumah sakit tiap bulannya yang mencapai puluhan juta rupiah setiap bulannya.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Arina meminta jawaban pada dokter yang merawat anak mereka.
"Bisa saja pasien di rawat di rumah, tapi, setidaknya ada satu perawat yang membantu merawat di rumah, dan juga tetap ada jadwal kunjungan dokter secara berkala," jawab dokter itu.
"Tak apa dokter, setidaknya, biaya perawatannya tak sebesar jika dirawat di rumah sakit," jawab Hendro.
Dokter itu memahami maksud dari dua orang di depannya ini. Memang, waku enam bulan tidaklah singkat, sudah ratusan juta yang mereka berdua keluarkan sejak pertama kali anak mereka dirawat. Namun, sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda Claretta sadar dari komanya.
"Mungkin saja, kalau dia dirawat di rumah akan bertambah baik, Dokter, bukankah rumah adalah tempat yang setiap hari dia datangi," tambah Arina.
"Betul, Bu. Saya sendiri juga berharap kesembuhan anak Bapak dan Ibu. Saya sebagai orang yang merawatnya juga ingin kesembuhan untuknya."
"Terima kasih dokter."
"Jadi, apa saja yang harus kami siapkan untuk proses perpindahan perawatan ke rumah, Dokter?" tanya Hendro.
Dokter itu pun menjelaskan berbagai prosedur yang harus mereka berdua lakukan sebelum akhirnya Claretta bisa dirawat di rumah. Setelah mendapat penjelasan panjang lebar, Hendro dan Arina mulai melakukan setiap langkah yang harus mereka lalui. Butuh waktu berhari-hari untuk mengurusnya, dan itu menyita waktu dan tenaga.
"Semoga dia bisa segera sadar setelah kita bawa pulang ya, Ma," ucap Hendro pada istrinya sat mereka berdua sedang melihat Claretta dari balik kaca yang membatasi ruang rawat dan ruang tunggu.
"Semoga, Pa, Mama sudah sangat merindukan dia. Separuh hidup Mama seakan ikut berhenti melihat keadaan dia yang tak junjung ada perubahan."
Hendro memeluk erat bahu istrinya, saling menguatkan satu sama lain, demi anak mereka yang juga sedang berjuang di sana untuk kembali sadar dan bisa segera bertemu dan berkumpul dengan mereka lagi.
*****
Setelah mengurus berbagai prosedur untuk kepulangan Claretta, akhirnya hari ini, anak gadis Arina dan Hendro bisa dibawa pulang. Dengan mobil ambulance milik rumah sakit, serta satu perawat yang ditugaskan untuk merawat Claretta di rumah berada di dalam ambulance yang berjalan menuju kediaman Hendro. Tak lupa juga beberapa alat bantu ikut dibawa ke rumah Hendro.
Sampai di rumah, petugas rumah sakit dan perawat itu membawa bangsal Claretta ke dalam kamar yang sudah disediakan. Mereka menata semua peralatan medis yang harus dipakai Claretta untuk menopang hidup gadis itu. Dari luar kamar, Arina yang menyaksikannya tak mampu menahan genangan air mata yang nyaris tumpah. Tubuh anak gadisnya yang dulu berisi dan sehat, kini terlihat sangat kurus dan pucat.
"Kapan kamu sadar, Sayang?" guman Arina sambil mengusap air matanya yang terus membasahi pipinya.
"Sayang, jangan menangis, dia pasti sembuh, kita hanya bisa berdoa dan berpasrah pada Tuhan untuk kesembuhannya."
"Iya, Pa, aku tahu, tapi, hati ibu mana yang tega melihat anaknya dalam keadaan seperti ini. Kalaupun bisa memilih, aku rela menggantikan Claretta terbaring di sana, Pa."
Hendro memeluk erat istrinya yang sedang rapuh itu hingga tangisnya bisa sedikit mereda.
BESAMBUNG .....