“Sayang, aku mau kita liburan,” rengek Sisca.
“Aku sedang sangat sibuk. Kalau kamu ingin pergi liburan, pergi saja ajak teman-temanmu,” tolak Aderald.
“Tapi aku maunya sama kamu. Kapan sih kamu gak sibuk? Udah lama loh kita gak quality time bareng.”
“Kerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya. Nanti lah kita agendakan. Untuk sekarang, tolong mengertilah, Sayang,” bujuk Aderald sambil mengusap pucuk kepala kekasihnya.
Saat ini mereka sedang makan malam di salah satu kafe hits di kota Surabaya. Tak sungkan-sungkan Aderald menunjukkan kemesraannya pada Sisca. Padahal banyak pasang mata menatap mereka. Akan tetapi, memang di sana bukan hal yang aneh lagi bermesraan di tempat umum. Seakan hal itu adalah hal yang biasa dan wajar.
Bagi dunia manusia, saat itu adalah malam hari, tapi, di tempat arwah Claretta tinggal, tak ada siang dan malam, semua sama, abu-abu. Jika dia datang ke dunia manusia, barulah ia tahu perubahan waktu siang dan malam.
Saat ini, arwah Claretta sedang berada di taman yang tempo hari ia datangi dan bertemu dengan arwah anak kecil. Ia ingin menemui sosok itu lagi dan menanyakan lebih banyak tentang kehidupannya di dunia manusia. Sayangnya sosok yang ia cari tak ada di taman itu.
“Ke mana perginya anak itu? Apa dia sudah kembali pada tubuhnya?” guman Claretta bertanya-tanya. Ia duduk di kursi taman yang kemarin sempat ia duduki bersama sosok itu.
Pandangan Claretta mencri-cari ke penjuru taman, berharap ia menemukan sosok arwah Chika. Yang ia temukan justru sosok hantu lain yang sangat menyeramkan dan membuatnya ketakutan setengah mati.
“Astaga! Makhluk apa itu?” ucap Viona memegang daadanya. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar sangat kencang.
Tunggu, kalau ia bisa merasakan detak jantungnya, bukankah itu artinya Claretta masih hidup? Sosok Arwah itu seakan menemukan angin segar tentang kehidupannya. Ia sangat yakin kalau dirinya masih hidup. Ia memiliki detak jantung. Namun, ia bahunya merosot saat merasakan detak jantung itu hilang.
“Kenapa aku tak merasakan lagi?” tanya Claretta saat kembali memegang bagian dadaanya, tapi tak merasakan apapun.
Dengan langkah gontai, sosok arwah Claretta itu pun kembali berjalan menyusuri jalan tanpa arah tujuan. Harapannya kembali hilang untuk menemukan jati dirinya. Sampai kapan ia terus terjebak di dalam dunia arwah seperti ini? Claretta ingin kembali ke dunia asalnya jika memang ia masih hidup. Setidaknya, jika ia mengingat masa lalunya sebelum mati, mungkin, ia tak akan sekecewa seperti ini.
Ia terduduk di tepian trotoar. Kakinya terasa lelah berjalan jauh tak tentu arah. Jalanan sudah sepi dan hampir tak ada kendaraan yang lewat.Penerangan lampu jalan tak begitu terang, membuat sosoknya nyaris tak terlihat. Ah, memang kan dirinya tak terlihat oleh manusia. Jadi, mana mungkin ada yang melihatnya duduk di bawah pohon dekat lampu jalan?
Namun, tiba-tiba, ada satu kendaraan yang berhenti tepat di hadapannya. Lebih tepatnya di seberang jalan ia duduk. Claretta memperhatikan orang yang keluar dari mobil itu. Ia mengenali orang itu, orang yang selalu ia datangi hampir setiap hari. Ya, orang itu Aderald.
Tiba-tiba Claretta merasa takut. Apa itu artinya Aderald bisa melihatnya? Pria itu berjalan menyeberangi jalan dan menuju ke arahnya. Ia sampai menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan, barang kali ada orang di sekitarnya yang hendak ditemui oleh pria itu.
“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aderald berjongkok di hadapan sosok Claretta.
“Aku? Kau melihatku?” tanya Claretta tak percaya.
“Tentu saja aku melihatmu. Apa yang kau lakukan di sini? Di sini bahaya, pasti ada orang jahat yang akan menculikmu,” kata Aderald lagi.
“Tunggu, apa benar kamu bisa melihat aku?” tanya Claretta masih tak percaya. Mungkinkah ia sedang bermimpi?
“Aku melihatmu,” jawab Aderald yakin dan mantap.
Claretta sangat terkejut. Karena keterkejutannya itu ia semakin terlihat bodoh di hadapan pria itu.
“Ayo, kuantarkan kamu pulang, di mana rumahmu?” tanya Aderald berbaik hati. Dasar pria itu memang baik hati. Dulu saat Claretta kecelakaan ia juga menolongnya bukan?
“Aku ....”
Claretta bingung sekarang. Apa ia jujur saja pada Aderald kalau dirinya bukanlah manusia?
“Ada apa? Apa kamu kabur dari rumah dan sekarang terlantar di sini?”
“Tidak, tapi ... aku ...”
Claretta ragu-ragu untuk mengucapkannya. Bagaimana jika nanti setelah Aderald tahu lalu pria itu takut dan meninggalkannya?
“Katakan saja. Aku akan membantumu. Aku tak akan membiarkan seorang wanita terlantar sendirian di luar begini,” ucap pria itu.
Netra Claretta terlihat melihat ke segala arah. Kegugupannya terbaca oleh Aderald yang sudah sangat fasih dalam membaca mimik wajah orang.
“Kamu seperti ragu dan takut, ada apa? Apa ada orang yang sedang mengancam kamu?” Aderald mencari ke segala arah, mencari seseorang yang mungkin sedang mengawasi Claretta dari jauh.
“Oh, tunggu, aku harus tahu siapa namamu?”
“Aku ... Maya, mereka biasa memanggilku, Maya,” ucap Claretta ragu-ragu.
“Oke, Maya, jadi, kenapa kamu di sini? Ayo, kuantar pulang. Ini sudah sangat malam.”
Aderald sudah mulai lelah berjongkok di hadapan sosok Claretta. Ia mengulurkan tangannya, mungkin saja sosok yang memperkenalkan diri sebagai Maya itu mau menyabut bantuannya.
Akhirnya, Claretta menerima uluran tangan itu. Ia bisa merasakan tangannya bersentuhan dengan tangan Aderald yang hangat. Ia merasa ini seperti mimpi. Ia bisa bersentuhan dengan manuisa.
“Astaga, tanganmu sangat dingin. Sudah berapa lama kamu berada di luar?”
“Entah,” jawab Claretta hanya mengedikkan bahunya.
Aderald membawa Claretta menuju mobilnya. Ia memperlakukan sosok itu sama halnya ia memperlakukan manusia.
“Jadi, di mana rumahmu?” tanya Aderald.
“Bisakah kita bicara sebentar, aku ingin jujur padamu sebelum kamu menolongku,” kata Claretta sedikit ragu.
“Sebenarnya ... aku ... aku ... aku bukan manusia,” ucap Claretta.
“Apa maksdmu?” Aderald tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Claretta.
Akhirnya Claretta menceritakan mulai awal dirinya ada di dunia arwah hingga berada di sini. Ia juga menceritakan jika sering diam-diam datang ke perusahaan Aderald. Ia juga menceritakan jika tiap kali berada di sekitar pria itu, Claretta merasa ada sesuatu yang aneh dan membuat kepalanya sakit.
Tentu Aderald tak serta merta percaya dengan apa yang diceritakan oleh Claretta. Penampilan sosok itu juga sangat tidak mendukung jika memang ia adalah seorang hantu.
“Jadi, bisakah kamu menolongku? Bukankah kamu sendiri yang menawarkan bantuan padaku? Aku ingin mencari tahu siapa diriku sebenarnya.”
“Ini gila, gak bisa dipercaya.” Aderald menggelengkan kepalanya tak percaya.
Berkali-kali ia memandang Claretta yang duduk di sampingnya. Gadis secantik itu apa benar bukan manusia? Sangat sulit dipercaya.
“Kalau kamu masih gak percaya bisa kita buktikan. Temanmu Aldo, dia tidak akan bisa melihatku. Hanya kamu yang bisa melihatku, dan sekarang aku yakin, kamu memang jalanku untuk menemukan siapa diriku sebenarnya.”
“Apa-apaan kau ini?”
Ketika Aderald meminta Claretta untuk keluar dari mobilnya, tentu sosok itu tak mau. Pria itu sendiri yang menawarkan bantuan padanya. Lalu, setelah sosok Claretta mau dan menceritakan semuanya, pria itu berubah pikiran.
"Aku tidak akan ke mana-mana. AKu akan selalu di sekitarmu sampai kamu mau membantuku," kata Claretta mantap.
Bersambung ....