Ya, memang benar, Aderalad adalah orang yang menolong Claretta dalam kecelakaan waktu itu. Akan tetapi, sampai sekarang Aderald tidak pernah tahu wajah orang yang ia tolong.
"Jadi, gadis yang saya tolong waktu itu masih belum sadar dari koma?" tanya Aderald.
"Iya. Dia masih belum sadar, sudah dua bulan lebih berlalu. Kami merasa semuanya sia-sia, kasihan dia," ucap Arina memandang nanar ke ruangan di mana Claretta terbaring lemah seperti tanpa nyawa.
Aderald ikut memandang ke arah ruang ICU itu. Dari kejauhan dan jkaca yang agak buram, ia melihat seorang gadis terbaring lemah dengan bantuan berbagai kabel penunjang kehidupan terpasang di d**a, mulut dan hidungnya, serta selang infus yang juga terpasang di kedua tangannya.
"Semoga dia lekas sembuh, Tante, Om," ucap Aderald tulus dari hatinya.
Hampir setengah hari mereka berada di rumah sakit menemani keluarga Hendro dan Arina. Menjelang jam besuk usai, barulah ketiganya pamit untuk kembali ke Surabaya. Aderald masih harus ke kantor untuk memeriksa berkas, Adlo menghubunginya secara mendadak dan memberitahu ada sedikit problem dengan kantor.
Aderald memutuskan kembali ke Surabaya lebih dulu, untungnya ia membawa kendaraan sendiri, sehingga tak perlu repot-repot menunggui kedua orang tuanya yang mungkin ingin pergi berlibur selagi berada di Malang.
*****
Problem yang dimaksud Aldo adalah kedatangan kekasih Aderald yang membuat rusuh di perusahaan. Gadis manja dan menyebalkan itu selalu saja membuat Aldo naik darah. Pria itu tak habis pikir, bagaimana bisa selera wanita Aderlad semacam wanita ini.
"Gak mau tahu, aku mau Aderald sekarang!" ucap wanita itu bersedekap di hadapan Aldo.
"Dia sedang ke luar kota dengan orang tuanya. Kenapa kamu tidak menghubunginya langsung?" balas Aldo kesal.
"Kalau dia menjawab telepon atau pesan yang aku kirim, mana mungkin aku repot-repot ke sini? Dasar!" jawab Sisca sama sinisnya dengan Aldo.
Dua orang itu tak pernah bisa akur tiap kali bertemu. Selalu saja ada pertengkaran di antara keduanya.
"Sepertinya wanita itu adalah kekasih pria yang sering kau perhatikan," kata sosok hantu Ayu.
"Kalau aku hidup, wanita seperti itu akan aku buat marah setiap hari. Dia tipe-tipe wanita yang mudah marah dan mengandalkan kekuasaan. Aku paling suka mengganggu orang seperti itu," jawab sosok arwah Maya.
"Kenapa tidak kau kerjai saja sekarang?" usul sosok hantu Ayu.
Sososk arwah Maya tersenyum misterius, senyum itu disambut oleh sosok hantu Ayu. Sepertinya kedua sosok itu memiliki pemikiran yang sama. Tiba-tiba Ayu terabang melayang ke arayh Sisca. Ia sengaja berdiri di belakang wanita itu dan meniup leher bagian belakangnya.
Tubuh Sisca menegag saat merasakan sesuatu berhembus di belakangnya. Ia menolehkan wajanya dengan cepat. Namun, tak menemukan apa pun di belakangnya.
"Kenapa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Aldo heran.
"Apa di sini ada hantunya?" tanya Sisca tiba-tiba.
"Ah, mungkin penungggu ruangan ini marah padamu, sejak tadi kau sangat berisik," jawab Aldo sekenanya. Pria itu tahu kalau memang dalam ruangan itu ada sosok penunggunya.
Sososk arwah Maya ikut berdiri dan mengusili SIsica. Sosok itu sengaja menembus tubuh Sisca, yang terjadi adalah tubuh sosok Maya terpental sama dengan tubuh Sisca.
"Ada apa denganmu?" tegur Aldo mulai menegang.
"A-aku merasa ada yang menabrakk," jawab Sisca ketakutan. Wajahnya memucat karena takut.
Tak pernah sebelumnya ia mengalami hal semacam ini. Ini juga bukan pertama kalinya ia mendatangi kantor Aderald. Sebelum-sebelumnya ia juga tak pernah mengalami hal aneh begini.
"mungkin penunggu di sini marah padamu," kata Aldo menggunakan kesempatan itu untuk menakut-nakuti kekasih bosnya.
"Jangan berkata aneh-aneh!" teriak Sisca.
Sosok hantu Ayu merasa ak suka Sisca meneriaki Aldo, pria yang ia sukai. Sosok iu pun kembali mengganggu Sisca. Aldo melihat kejadian itu sebenarnya juga merasa takut. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, tas tangan yang diletakkan oleh Sisca di atas meja tiba-tiba terjatuh.
"Aaaaa! Di ruangan ini ada setannya!" teriak Sisica sambil lari terburu-buru keluar ruangan.
Sosok hantu Ayu dan sosok arwah Maya tersenyum senang telah berhasil memberi sedikit pelajran kepada wanita manja dan menyebalkan itu.
"Tolong, siapapun dirimu, jangan gangggu aku!" ucap Aldo yang juga ketakutan. Akan tetapi, ia tak sampai keluar ruangan seperti Sisca.
"Dia ketakutan karena ulahmu," bisik sosok Maya pada sosok Ayu.
"Bagaimana aku menunjukkan diriku kalau dia takut dengan keberadaan aku?" tanya sossk Ayu dengan nada sedih.
Pintu ruangan terbuka lagi, kali ini Aderald yang masuk ke dalam ruangan Aldo. Wajah pria itu terlihat lelah.
"Kenapa?" tanya Aldo melihat wajah teman sekaligus bosnya itu tak seperti biasanya.
"Tak apa, apa dia sudah lama di sini? aku baru saja berpapasan di bawah tadi," tanya pria itu.
"Sangat lama, ada sosok yang mengganggunya, makanya dia lari keluar."
"Maksudmu hantu? Tak biasanya ada hantu yang mengganggu di kantor kita. Apa kamu mengada-ada?" Aderald merasa aneh dengan hal itu. Karena selama ia bekerja di gedung ini tak ada satupun orang atau hantu yang saling mengganggu.
"Aku sendiri tak tahu. Aku melihat dengan mataku, tas yang dia letakkan di atas meja tiba-tiba terjatuh. Setelah itu dia langsung keluar."
Aderald tak begitu mempedulikan cerita itu, Ia meminta Aldo mempersiapkan berkas-berkas yang harus ia cek dan tanda tangani. Ia ingin segera pulang hari ini. Setelah bertemu dengan wanita yang pernah ia tolong itu, pikirannya mulai tak beres sepertinya.
Di sisa jam kerja itu, Aderalad menyelesaikan pekerjaannya secepat ia bisa. Meski begitu, ia tetap bekerja profesional. Ia memfokuskan diri dengan berkas-berkas dan kertas yang sudah bertumpuk di atas meja. Sesekali ia menghubungi Aldo yang berada di ruangannya untuk meminta pendapat atau meminta penjelasan tentang beberaa hal yang tak ia pahami.
Tanpa diketahui Aderlad, tak jauh dari tempatnya duduk sekarangm ada sosok arwah Maya yang sedang memperhatikan keseriusan pria itu. Sosok Maya merasa ada sesuatu dalam diri pria itu yang terhubung dengan dirinya. Tiap kali berdekata seperti ini, Maya merasa ada satu persatu memori tentang dirinya muncul di dalam otaknya. Meski konsekuensinya ia harus menahan rasa sakit tiap kilasan itu datang.
"Ada hubungan apa kita sebenarnya? Kenapa aku selalu merasa ada sesuaru di antara kita? Siapa sebenarnya aku? Siapa kamu?" tanya Maya meski Aderald tak mendengarnya/.
"Seandainya kamu bisa melihat diriku, lalu kamu bisa membantuku menemukan siapa sebenarnya aku, aku berjanji akan selalu mengingat jasa baikmu. Dan kalau kenyataannya aku masih hidup, aku ingin bertemu denganmu dengan keadaan aku sebagai seorang manusia," ucap sosok Maya mengungkapkan keinginannya.
"Aku juga berharap begitu," ucap sosok Ayu yang entah sejak kapan sudah berada di samping Maya.
"Apa harapanmu?" tanya sosok Maya.
"Kamu menemukan jati dirimu," jawab sosok itu dengan senyumnya yang tulus.
"Terima kasih, Ayu."
"Kamu tahu? Aku selalu berharap kamu menemukan jati dirimu. Aku merasa kamu adalah arwah yang tersesat di sini. Segeralah kembali," ucap sosok Ayu dengan menerawang jauh.
"Kalau memang seperti itu, bagaimana caraku untuk kembali? Bahkan sampai sekarang aku masih belum mengingat siapa namaku."
"Jangan bersedih. Semua butuh proses dan perjuangan," kata sosok Ayu membesarkan hati teman hantunya.
bersambung ...