Claretta diam seorang diri di dalam kamar yang ditempatinya. Ia masih memikirkan sebenarnya siapa dirinya. Ia merasa berbeda dengan arwah-arwah yang ada di sekitarnya. Terkadang ia juga merasa takut pada sosok-sosok yang ia jumpai.
Seringkali ia bertanya pada hantu-hantu yang ia temui, tapi, ia tak pernah merasakan atau melakukan apa yang hantu-hantu itu lakukan. Lalu sebenarnya siapa dia sekarang?
Sesekali Claretta menghembuskan napas panjang. Sampai saat ini ia masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
"Aderald, kenapa setiap kali aku ada di sekitar kamu selalu merasakan sakit? Ayu bilang tak ada hantu yang bisa merasakan sakit kepala, kecuali Jin jahat yang dibacakan ayat suci pengusir jin. Lalu kenapa aku merasa sakit? Apa aku termasuk golongan jin dan pria bernama Aderald itu memiliki ayat suci? Astaga! Pemikiran macam apa itu?"
Claretta memukul-mukul kepalanya dengan genggaman tangan. Bisa-bisanya ia berpikir seperti itu. Pikiran yang sangat konyol.
Sosok Claretta itu pun akhirnya memilih menyegarkan pikiran dengan berjalan-jalan di dunia manusia. Sudah cukup lama dirinya tinggal dengan sosok Ayu, ia telah terbiasa pergi sendiri tanpa hantu itu. Entah dirinya segera kembali ke rumah sosok hantu Ayu ataupun tidak, si pemilik rumah tak pernah lagi mencarinya seperti dulu.
Arwah Claretta berjalan menyusuri jalan sepanjang trotoar. Sekilas penampilannya seperti manusia remaja yang sedang berjalan seorang diri. Ketika ada batu kerikil yang menghalangi jalannya, ia akan menendang batu itu menyingkir. Ia tak menyadari jika apa yang dilakukannya itu membuat takut orang-orang sekitar.
"Ayu bilang hantu tak memiliki rasa lelah, lalu kenapa aku merasa sangat lelah setelah berjalan sejauh ini?" gerutu arwah Claretta kesal.
Ia pun mencari tempat duduk untuk beristirahat. Kakinya terasa pegal selali. Entah berapa jauh ia hari ini berjalan tanpa memiliki tujuan. Ia menemukan sebuah bangku taman yang diduduki seorang gadis kecil. Ia duduk tanpa permisi karena berpikir gadis kecil itu adalah manusia.
"Hai, kakak." Sosok arwah Claretta terkejut mendengar sapaan itu.
"Kamu bisa melihat aku?" tanya Claretta memastikan. Ia memandang intens pada gadis kecil di sampingnya.
"Ehem. Aku melihatmu, Kakak," jawab gadis kecil itu sambil menganggukkan kepalanya.
"Kamu ... hantu?"
"Ya."
"Oh astaga! Aku kira kamu seorang manusia. Wajahmu tak pucat seperti hantu lainnya."
"Wajah kakak juga tak pucat," balas sosoh hantu kecil itu.
Sosok arwah Claretta tersenyum mendengarnya. "Pantas saja tak ada orang yang takut melihat aku," guman Claretta.
"Apa kalau begitu kita bukan hantu?" tanya arwah Claretta dengan polosnya.
"Aku belum meninggal, kata orang-orang aku sedang koma, dan aku terjebak di dunia arwah. Aku melihat tubuhku terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit," ucap sosok gadis kecil itu.
"Koma? apa itu artinya kamu masih hidup?"
Sosok arwah kecil itu mengangguk mengiyakan. Ia menceritakan kondisi tubuhnya di dalam rumah sakit serta penyebab dirinya mengalami koma. kedua arwah itu saling bercerita tentang awal mereka sampai di dunia arwah.
"Lalu apa kamu setelah menjadi arwah bisa melakukan seperti para hantu di sini?" tanya sosok Claretta penasaran. Ia merasa sepertinya dirinya memiliki kasus yang sama dengan sosok arwah gadis kecil itu. Hanya saja bedanya ia tidak mengingat apa pun ketika sampai di dunia arwah.
"Aku tidak bisa melakukan seperti yang mereka lakukan. Tak ada pula yang mengajakku mengobrol selain kakak."
"Oh ya? Siapa namamu gadis kecil? Mungkin kita bisa berteman? Kamu bisa memanggilku Maya."
"Chika."
"Oke, Chika, kita berteman mulai hari ini ya. Jangan bersedih karena tidak memiliki teman, Kita sekarang adalah teman."
Sosok arwah Chika tersenyum senang. Akhirnya ia menemukan hantu yang mau mendekatinya dan berteman dengannya. Sejak kedatangannya di dunia arwah, ia hanya didatangi untuk dibully dan ditakut-takuti.
"Terima kasih, Kak," ucap sosok Chika sambil memeluk sosok Claretta.
***
"Do."
"Hm."
"Cewek itu kenapa gak pernah muncul lagi ya? Aku berkali-kali mengunjungi kafe itu, tapi, tak pernah lagi bertemu dengannya. Sampai terkadang aku merasa berhalusinasi dia ada di depan aku."
"Udah mulai gila? Gara-gara ditinggal Helena nikah jadi berkurang kewarasan mu?" ejek Aldo.
"Sialaan!"
"Lagian kamu aneh. Mana mungkin orang datang ke kafe setiap hari?"
"Iya juga sih. Terus aku kudu nyari dia di mana?"
"Percaya takdir aja. Kalau dia memang jodohmu, kalian akan bertemu lagi."
"Kalau aku ketemu dengan dia lagi, aku janji akan langsung menyatakan perasaanku padanya."
"Oo, ancene wong edan. Dikiro awakmu gendeng mbe arek wedok iku," umpat Aldo dengan bahasa Jawa yang intinya mengatai Aderald tidak waras dengan pemikirannya itu.
"Emang apa salahnya?" tanya Aderald tak mau kalah.
"Gak ada yang salah. Udah, awakmu memang paling bener," jawab Aldo malas.l berdebat.
Aldo mulai bosan mendengar omongan Aderald yang melantur ke mana-mana. Sejak ditinggal menikah oleh kekasihnya, pria itu terkadang bersikap aneh, menurut Aldo. Apa lagi semenjak sahabatnya itu mengatakan bertemu seorang gadis cantik di kafe malam itu. Hampir setiap hari Aderald menyempatkan mampir ke kafe hanya untuk berharap supaya bertemu dengan gadis itu lagi.
Karena sudah malas menanggapi Aderald, Aldo pun keluar ruangan pria itu dan kembali ke ruangannya sendiri. Daripada menanggapi ocehan yang sama sekali tidak berfaedah, Lebih baik ia mengerjakan pekerjaannya yang tak pernah ada habisnya.
"Hahhh, apa perlu aku mengenalkannya pada wanita lain supaya dia kembali waras?" guman Aldo sambil menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir dengan sikap sahabat karibnya itu.
Di dalam ruangannya, Aderald kembali melanjutkan pekerjaannya setelah Aldo keluar ruangan. Ia kembali memfokuskan diri dengan laptop di meja kerjanya.
Tak terasa jam telah menunjukkan jam pulang kantor. Aderald pun mengakhiri pekerjaannya. Orang tuanya berpesan untuk segera pulang karena ada acara keluarga.
Aderald adalah anak yang penurut. Ia tak pernah sekalipun membantah atau menolak permintaan dan perintah dari kedua orang tuanya. Kesuksesan yang ia peroleh saat ini pun tak lepas dari campur tangan sang papa.
"De, setelah makan malam nanti kamu mau ke mana?" tanya Sintia pada anak bujangnya.
"Gak ke mana-mana, Ma. Mama sama papa jadi pergi?"
"Iya. Rencananya Mama sama papa mau jenguk anaknya om Hendro yang sakit."
"Om Hendro?"
"Teman papa kamu. Mungkin kamu sudah lupa sama orangnya. Dulu terakhir ketemu kamu masih SD kayaknya. Setelah itu kita pindah ke luar Jawa. Beberapa tahun ini kami baru bisa menghubunginya lagi."
Oh, pantas saja Aderald merasa tak kenal dengan Hendro itu. Ia pun mengangguk mengerti dengan penjelasan sambil ibu.
"Kalau kamu mau, yuk, ikut jenguk anaknya om Hendro. Kasihan dia, De. Agaknya mengalami kecelakaan dan sampai sekarang masih dalam keadaan koma."
"Apa kalau malam begini boleh masuk rumah sakit, Ma? Bukannya jam berkunjung itu siang sampai sore?" tanya Aderald.
"Biasanya jam besuk sampai jam berapa sih?"
"Setahu Ade sih sampai jam tujuh malam. Tergantung di mana rumah sakitnya."
"Ah, kenapa papa mu tidak memberi tahu mama. Tahu gitu kan Mama ajak kamu jenguk dia siang tadi," gerutu Sintia kesal.
"Mungkin papa lupa, Ma. Gimana kalau weekend aja kita jenguknya? Kerjaan Ade di kantor lagi padet banget, Ma."
"Ya sudah kalau gitu. Kamu bersih-bersih dulu gih, nanti kita bicarakan lagi sama papa kamu juga," putus Sintia.
"Ade ke kamar dulu kalau gitu."
***
"De, hari ini kita jenguk anaknya temen Mama sama papa, kamu jadi ikut kan?" tanya Sintia setelah mereka sarapan.
"Iya, Ma, Ade sudah menghubungi Aldo supaya menghandle kerjaan selama Ade belum sampai di kantor.
"Baguslah kalau begitu. Siapa tahu. Setelah kamu jenguk dia nanti anaknya Arina dan Hendro segera sadar," ucap Sintia.
"Apa hubungannya denganku, Ma?"
"Ya kan kita boleh saja berharap bukan? Kasihan kedua orang tuanya. Sudah berbulan-bulan anak gadis mereka dalam keadaan koma."
Aderald sedikit tak mengerti dengan jalan pikiran mamanya. Mana mungkin setelah dirinya menjenguk lalu anak dari temannya itu sadar dari koma? Itu sangat tidak mungkin.
"Sudah, Ayo kita segera berangkat. Papa juga harus segera ke kantor," ajak Junio.
Ketiga orang itu pun berangkat ke rumah sakit tempat anak Arina dan Hendro dirawat. Mereka menggunakan dua mobil yang berbeda. Karena nanti tujuan mereka akan berbeda setelah dari rumah sakit.
Aderald pikir rumah sakit tempat dirawatnya anak teman mama papanya itu di dekat rumah mereka. Ternyata ia salah. Kesalahannya sendiri juga tidak bertanya ke rumah sakit mana mereka hendak pergi. Sekarang mereka sedang menuju jalur tol yang artinya mereka akan keluar kota hanya untuk menjenguk orang sakit. Sepanjang jalan Aderald menggerutu kesal. Kalau begini bisa memakan waktu seharian. Sudah terlanjur berangkat, putar balik pun membutuhkan waktu yang sama lamanya.
Setelah menempuh waktu lebih dari dua jam, akhirnya mereka tiba di RS Saiful Anwar Malang, salah satu rumah sakit terbesar yang dimiliki kota Malang. Raka segera menghampiri kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari mobil.
"Kenapa Mama gak bilang sih kalah kita ke luar kota?" gerutu Aderald kesal.
"Sebenarnya semalam mama mengajak kamu berangkat malam karena ini. Tapi, kamu berspekulasi sendiri, ya sudah, Mama diam saja. Mama pikir kamu juga masih lelah setelah bekerja seharian," jawab Sintia.
"Ayo masuk, percuma saja kalian berdebat di sini. Hendro sudah menunggu kedatangan kita. Kamu sudah menyiapkan buah tangan untuk mereka?" tanya Junio.
"Sudah, Pa, ayo."
Ketiga orang itu akhirnya memasuki gedung rumah sakit yang megah itu. Suasana cukup ramai banyak orang juga sedang mengunjungi keluarga mereka yang sedang dirawat di rumah sakit itu.
Aderald mengikuti saja langkah kedua orang tuanya menuju lift. Junio menekan tombol angka lima di mana ruang ICU tempat anak Hendro dirawat.
"Sintia, Junio, terima kasih sudah datang lagi. Kalian memang yang terbaik," sambut Arina sambil memeluk Sintia.
"Iya, tak apa, bagaimana keadaan putrimu?" tanya Sintia menanyakan keadaan Claretta.
"Masih sama seperti saat kamu datang waktu itu. Tidak ada perubahan," jawab Arina sedih
"Oh iya, Rin, ini anakku, kebetulan dia sedang senggang, jadi, dia ikut kemari," ucap Sintia memperkenalkan anak bujangnya.
"Kamu ... pria yang menolong putriku waktu itu bukan?" tanya Arina ketika melihat wajah Aderald.
Sejak tadi, Aderald juga merasa familiar dengan wajah wanita itu. Sintia pun menolehkan kepala melihat ke arah anaknya. Begitupun Junio yang juga mengalihkan pandangannya dari ponsel ke anaknya.
"Apa benar?" tanya Sintia tak percaya.
****