Kedua orang tua Claretta memandang sedih tubuh sang anak yang semakin hari semakin kurus. Entah sudah berapa lama tubuh itu terbaring lemah di atas bangsal rumah sakit dengan berbagai alat penunjang kehidupan yang terpasang di hampir seluruh tubuhnya.
Perban-perban yang membalut luka-luka di kepala, tangan, dan kakinya sudah dilepas oleh dokter. Kata dokter, butuh keajaiban untuk Claretta sembuh. Dokter meminta untuk anggota keluarga selalu berdoa pada Tuhan untuk kesembuhan gadis malang itu.
"Ma, bagaimana kalau kita minta dokter untuk merawat Clarie di rumah saja? sudah hampir tiga bulan setelah kecelakaan itu, dia tak kunjung bangun."
"Apa Papa menyerah untuk kesembuhan anak kita, Pa?" tangis mama Claretta pecah begitu mendengar permintaan suaminya.
"Bukan seperti itu, Ma. Kalau dia dirawat di rumah sakit, beserta alat-alat itu, akan lebih mudah kita menjaganya. Papa sanggup membayar suster dan dokter yang bisa setiap hari datang ke rumah untuk memeriksa keadaannya," jawab papa Claretta.
"Ini sudah memasuki bulan ke empat, Pa, tapi Mama lihat sendiri kan, bagaimana keadaan dia?"
"Iya, Mama tahu. Tapi, apa nantinya tidak akan berbahaya dengan keadaan tubuh Clarie, Pa?"
"Makanya kita konsultasikan semua dengan dokter. Nanti kalau dokter datang memeriksa kita coba bertanya ya, Ma."
Hendro dan Arina sepakat untuk itu. Mereka duduk di depan ruang ICU dalam diam. Jam besuk untuk masuk ke dalam ruang rawat Claretta sudah habis.
"Arina. Hendro." Dua orang yang dipanggil namanya itu bersamaan mendongak.
"Junio, Sintia."
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Junio.
"Kami baik, terima kasih sudah datang berkunjung," jawab Arina.
"Bagaimana dengan putrimu? Apa sudah apa perkembangan?" tanya Sintia.
Kedua mata Arina kembali berkaca-kaca mendengar pertanyaan itu. Ia memandang pada dinding kaca yang membatasi ruang rawat Claretta dengan ruang tunggu. Sintia mengikuti arah pandang Arina ke sana. Wanita itu ikut melihat seorang gadis yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur dengan berbagai selang penunjang kehidupan.
"Semoga dia lekas sadar," ucap Sintia sambil merangkul bahu Arina.
"Aku juga ingin dia lekas sadar. Aku seperti kehilangan setengah hidupku melihat Clarie seperti ini, Sin."
"Meski ini berat untuk kamu, kamu harus kuat untuk kesembuhan Clarie."
“Makasih banyak, Sin. Doakan putriku lekas sadar. Aku sangat merundukannya.”
Sintia memeluk erat wanita rapuh itu. Kedua wanita itu berteman sejak para suami mereka menjadi rekan bisnis. Karena seringnya acara-acara sosial yang mereka ikuti bersama menjadikan mereka akrab dan berteman baik. Sejak Claretta dirawat, Junio dan Sintia lah yang sering menjenguk ke rumah sakit.
Kedua pasangan itu mengobrol sebentar seputar Claretta dan yang lainnya. Sintia juga sempat bercerita tentang anak bujangnya yang masih tak mau menikah padahal usianya sudah tak muda lagi.
“Kalau anak kamu sudah sadar nanti, aku ingin sekali mengenalkan Adreald dengan Claretta,” ucap Sintia mengungkapkan keinginannya.
“Jika Clarie mau, aku tak akan melarangnya, karena setahuku dia sudah memiliki kekasih. Tapi, sudah beberapa minggu ini aku tak pernah melihat kekasihnya datang menjenguk dia. Mungkin dia sudah lelah menunggu anakku sadar,” balas Arina.
“Jangan khawatir, ada Aderald yang setia menyayangi putrimu nanti.”
“Ma, jangan bicara seperti itu. Kasihan Arina dan Hendro, kenapa sih kamu ini tak tahu tempat kalau mengambil topik,” tegur Junio yang tak suka dengan bahasan istrinya.
Sintia merasa tersinggung dengan teguran itu. Ia memandang sinis pada sang suami. Menunjukkan ketidak sukaannya atas teguran itu. Wanita itu pun berdiri dari duduknya mengabaikan Junio.
“Rin, aku pamit dulu ya, aku akan ajak putraku menjenguk Clarie, mungkin saja kedatangan anakku ke sini bisa menyadarkan Clarie. Kita tak boleh putus berusaha bukan?” kata Sintia yang terdengar tak masuk akal bagi Hendro dan Junio. Akan tetapi kedua pria itu hanya diam tak berkomentar.
***
Aderald tiba-tiba teringat sosok gadis yang sempat ia lihat waktu itu. Kenapa ia merasa sangat familiar dengan wajah gadis itu? Tapi, sampai sekarang, ia tak mengingat sama sekali siapa gadis itu. Hanya saja ia merasa gadis itu mengusik ketentraman hatinya.
“De! kamu kenapa sih? Dari tadi aku perhatikan gak konsen sama apa yang aku jelaskan!” tegur Aldo.
“Apa, Do?”
“Astaga! Apa kamu bilang? Aku ngomong dari tadi gak ada yang masuk sedikitpun ke pikiranmu itu?" tanya Aldo tak percaya. Pria berkacamata itu membanting proposal yang ada di tangannya ke atas meja.
“Baca saja sendiri, aku lelah menjelaskannya padamu.”
“Sorry, lo tahu sendiri kan kemarin emak gue bikin rusuh di kantor.”
“Makanya buru nikah! Biar mama kamu berhenti mengganggu hidupmu.”
“Kamu pikir menikah akan menyelesaikan masalah begitu? Nanti setelah aku menikah, pasti akan dikejar-kejar dengan masalah anak, mama pasti minta cucu lah, gak semudah itu untuk menikah.”
Aldo diam saja. Dirinya sendiri juga belum menikah sampai sekarang, jadi, tak ada gunanya ia memberikan nasihat pada Aderald. Karena ia sendiri tak tahu harus memberikan nasihat yang bagaimana.
“Oh iha, aku kemarin lihat cewek cantik banget, mukanya familiar gitu, tapi aku gak tahu dia siapa,” kata Aderald tiba-tiba teringat gadis itu lagi.
“Siapa? Teman kamu jaman sekolah dulu kali,” jawab Aldo malas menanggapi.
“Entah, aku sama sekali tak mengingatnya.”
“Jangan terlalu dipikirkan, buang-buang waktu dan tenaga saja. Pikirkan saja masa depan perusahaan ini dan permintaan mama kamu untuk segera menikah.”
“Sialan!” umpat Aderald kesal pada sekretaris sekaligus sahabatnya itu.
***
Tiba-tiba terlintas di pikrian Aderald untuk mendatangi kafe itu lagi. Ia berharap bisa bertemu dengan gadis itu lagi, kali ini ia mengajak Aldo ikut bersamanya. Ia hanya ingin datang sendirian sekalian menenangkan pikriannya yang terus saja penuh dengan desakan sang mama untuk segera menikah.
Aldo yang sedari tadi diam mulai merasakan hawa dingin di belakang lehernya. Gelagat itu tertangkap netra Aderald yang duduk di hadapannya.
“Apa lagi? Ini siang, Do, dan kita sedang berdua, kebiasaan,” gerutu Aderald kesal dengan tingkah sahabatnya itu. Kalau sudah Aldo mengusap leher punggungnya, pasti pria itu merasakan ada makhluk lain yang ada di sekitar mereka.
Memang benar, di sana ada makhluk lain tak kasat mata yang sedang memperhatikan dua pria itu. Ayu melayang mendekat dan duduk di hadapa Aldo demi bisa melihat dengan jelas wajah manusia yang ia sukai itu. Claretta yang melihatnya merasa aneh, ternyata makhluk tak kasat mata seperti dirinya dan Ayu bisa memiliki perasaan untuk seorang manusia.
Perhatian Maya teralihkan pada Aderald. Ia kembali merasa kepalanya mulai berdenyut sakit.
“Ada apa dengan pria itu sih? Kenapa kepalaku sakit tiap melihat pria itu?” keluh Claretta sambil memegangi kepalanya yang semakin sakit.
Saat Claretta memejamkan mata, ia merasakan ada kelebatan-kelebatan aneh yang samar. Buru-buru ia membuka mata dan mengedip-ngedipkan kelopak matanya untuk mengusir bayangan aneh itu. Entah bayangan apa, Claretta tak bisa melihatnya dengan jelas. Kepalanya semakin sakit dan akhrinya ia pun memituskan untuk keluar dari ruangan itu.
Aldo terlonjak terkejut saat melihat pintu tiba-tiba tertutup. Wajah pria itu menegang dan sangat yakin ada makhluk lain di dalam ruangan tempat kerja Aderald.
“De, kafe ini pasti ada penunggunya, itu pintu tiba-tiba kebuka dan ketutup sendiri, anjir!”
“Aelah, ngapa takut sih, bodo amat lah, yang penting kita gak ganggu mereka dan mereka juga gak ganggu kita,” balas Aderald cuek.
Ayu merasa kecewa saat melihat Aldo sangat ketakutan melihat pintu yang ditutup Claretta barusan. Pikiran untuk menampakkan diri di hadapan Aldo seketika sirna dari pikiran Ayu.
“Seandainya kamu tahu jika ada hantu yang menyukaimu bagaimana, pria tampan?” tanya Ayu dengan nada sedih.
Sosok hantu Ayu itu pun akhirnya menghilang dari tempatnya. Sosok itu muncul lagi di samping Claretta yang duduk bersandar di sudut kafe
“Kenapa kamu di sini?” tanya hantu Ayu.
“Tak apa, aku merasa tak nyaman di tempat itu,” kilah Claretta.
“Kamu berkeringat, May?” sosok hantu Ayu mengerutkan keningnya saat melihat kening dan pelipis Claretta ada buliran-buliran keringat.
“Iya, sepertinya pendingin ruangan di kafe ini mati,” cetus Claretta yang membuat hantu Ayu menatap Claretta dengan pandangan menyeramkan.
“Ay, kenapa kamu melihatku seperti itu? Aku takut,” ucap Claretta jujur.
***