Belum ada sepuluh menit pintu ruang kerja Aderald tertutup, sekarang pintu itu terbuka lagi. Ia pikir yang datang adalah Aldo, maka ia pun tetap fokus dengan pekerjaannya.
"Bagus! Sudah lupa sama orang tua rupanya sekarang ya! Gak ada Mama kamu gak mungkin lahir di dunia ini!"
Aderald hanya menghela napas lelah. Ia sudah memprediksi sebelumnya kalau mamanya pasti akan mendatangi dirinya ke kantor.
"Ma, tolong, ini kantor! Jangan bawa-bawa masalah rumah ke kantor," pinta Aderald mencoba selembut mungkin.
"Mama gak peduli!"
"Ma, please! Malu sama karyawan aku."
"Mama akan berhenti kalau kamu mau pulang!"
"Ck! Oke, fine! Nanti aku pulang. Sekarang biarkan aku bekerja dengan tenang."
Aderald sebenarnya sudah sangat muak dengan sikap Mamanya. Namun, ia hanya bisa menghindar dan terus menghindar dari pada melihat mamanya semakin marah padanya.
"Mama akan terus mendatangi kamu kemari kalau kamu ingkar janji."
"Aku janji, aku pulang, tapi, tolong Mama jangan seperti ini."
Demi kenyamanan karyawannya, Aderald terpaksa mau menuruti kemauan mamanya. Setelah meyakinkan wanita yang telah melahirkannya hampir tiga puluh tahun silam itu, ia mengantarkan sang mama hingga di depan ruangannya.
"Mama tunggu di rumah."
"Iya."
Di dalam ruangan itu, Claretta mendengar semua perdebatan ibu dan anak itu. Walau kepalanya sakit, ia masih bisa memahami duduk perkara pertengkaran mereka.
"Apa aku termasuk juga menguping ya? Tapi ... mereka kan gak tahu kalau ada aku di sini, ah bodo amat deh."
Claretta kembali memejamkan mata lagi di atas sofa itu. Ia berharap tidur berapa menit saja bisa meredakan rasa sakit di kepalanya yang kembali menyerang.
***
Ayu mulai khawatir hingga menjelang siang Claretta masih belum kembali. Sialnya ia tak dapat merasakan keberadaan gadis itu di mana. Padahal ia sejak tadi sudah berusaha menerawang dan merasakan keberadaan gadis kecil itu. Namun, sama sekali tak ada hasilnya.
Yang Ayu takutkan, Claretta tersesat dan tak dapat kembali ke dunia arwah. Karena baru beberapa hari ia berada di tempat asing ini.
Ah, kenapa Ayu sibuk dengan Claretta sih? Padahal sebelumnya ia tak pernah peduli dengan siapapun yang ada di sekitarnya.
Tapi, memang dari awal ia bertemu dengan Claretta, seperti ada sesuatu yang menarik dalam diri hantu gadis itu.
Sementara sosok yang dikhawatirkan Ayu sedang berjalan seorang diri di tepi trotoar. Langkah kecilnya membawa Claretta menuju ke pintu gerbang yang membatasi dunia manusia dengan dunia arwah.
"Hei, kau!"
"Astaga! Siapa itu?" Claretta mengedarkan pandangannya di mencari sumber suara.
"Aku! Di sini! Lihatlah ke atas!"
Claretta pun mengikuti arahan suara itu. Di atas sebuah pohon, ia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger.
"A-apa kau yang berbicara padaku?" tanya Claretta ragu-ragu pada si burung.
"Ya, tentu saja. Memangnya kau melihat siapa lagi selain aku di sini?"
"Kau bisa bicara?" Pertanyaan bodoh itu lolos begitu saja dari mulut Claretta.
"Ya. Aku hanya ingin memberi tahumu. Kalau nenek kunti Ayu mencari-cari mu dari tadi."
"Nenek kunti Ayu?" guman Claretta masih mencerna siapa yang dimaksud burung itu.
"Oh, astaga! Apa Ayu mencariku?"
Claretta sungguh lupa pada sosok arwah yang telah memberinya banyak pertolongan itu. Tadi, ia juga tak memberi tahu hantu itu dirinya pergi ke mana. Ia pun segera bergegas untuk pulang ke rumah yang ia tinggali dengan Ayu dan mengucapkan terimakasih pada burung yang telah memberi tahunya itu.
"Hei, kamu! Dari mana saja kau ini?" pekik Ayu melengking begitu melihat Claretta berjalan mendekat.
"Astaga! Suaramu menyakiti telingaku," ketus Claretta sambil mengelus-elus kedua telinganya.
"Huh, dasar! Kau tidak tahu saja aku khawatir kau menghilang. Aku tak bisa mencarimu di mana pun. Aku tak bisa mencium baumu."
"Aku minta maaf, tadi niatku hanya untuk berjalan-jalan sebentar di dunia manusia. Lalu aku bertemu dengan pria yang kau sukai itu. Dan ya ... aku tanpa sadar mengikutinya."
Mendengar kata pria yang disukainya, mimik wajah Ayu berubah cerah. Wajah garangnya menghilang seketika.
"Kamu bertemu dengannya di mana? Ceritakan padaku, Maya, kamu melihatnya di mana?"
"Di sebuah kantor. Aku mengikutinya masuk ke sebuah kantor besar. Kau tahu? Pemandangan dari atas kantor itu sangat indah."
"Besok kamu harus mengajakku ke tempat itu!" Ayu menggoyangkan bahu Claretta begitu kencang.
"Iya-iya, di sana sekarang sudah malam. Aku heran kenapa di sini masih siang?"
"Ah, sudahlah, mau di sana siang atau malam aku tak peduli. Aku hanya ingin tahu pria itu."
Claretta memutar kedua bola matanya. Ia tak habis pikir ternyata hantu bisa jatuh cinta. Kalau di dunia manusia mungkin Ayu tergolong sebagai hantu yang agresif.
"Hei! Kenapa kau menggelengkan kepalamu seperti itu? Kau sedang mengejakku?"
"Tidak. Hanya leherku terasa kaku. Dari tadi kau melayang-layang di atasku," elak Claretta.
"Kau ini aneh sekali. Mana mungkin kau merasakan sakit? Dan apa itu sakit leher? Dasar hantu aneh," ejek Ayu.
Claretta mengerutkan dahinya bingung. Apa kalau sudah menjadi hantu tak bisa merasakan sakit begitu? Tapi, kenyataannya ia memang merasakan sakit di lehernya tiap kali mendongak melihat Ayu melayang-layang terlalu lama.
"Apa kau bukan hantu?" tanya Ayu akhirnya. Ia mensejajarkan tingginya dengan Claretta sekarang.
"Kalau aku bukan hantu, lalu aku apa?"
"Mana ku tahu." Ayu mengedikkan bahunya.
"Ish, dasar, kau ini. Ya sudah aku mau tidur. Rasanya tubuhku sungguh lelah berjalan sejauh itu seharian ini."
Claretta pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamarnya. Panggilan dari Ayu sama sekali tak ia hiaraukan.
"May! Maya!"
Claretta sengaja menutup pintu kamarnya. Ia ingin beristirahat hari ini. Sungguh hari yang panjang dan melelahkan untuknya.
***
Malam itu, akhirnya dengan sangat terpaksa Aderald pulang ke rumah kedua orang tuanya. Sindirian dari sang mama menyambut kedatangannya. Berusaha tidak terpengaruh dengan kata-kata pedas mamanya, Aderald langsung berjalan menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.
"Aderald! Mama sedang bicara padamu!" teriak Sintia, mama kadnung Aderald.
"Sudahlah, mungkin dia lelah," tegur pria yang bersama Sintia.
"Gak bisa gitu, Pa. Mama gak pernah mengajarkan dia tak sopan pada orang tua."
"Iya, Papa tahu. Sudah, biarkan dia beristirahat dulu. Masih ada hari esok untuk membahas hal yang ingin Mama bicarakan padanya."
Di dalam kamarnya, wajah Aderald terlihat sangat suntuk. Selalu mamanya bersikap seperti itu padanya. Ditambah lagi paksaan wanita yang telah melahirkannya itu yang menuntut dirinya untuk segera menikah, membuat Aderald merasa enggan untuk menginjakkan kaki di rumahnya sendiri.
Namun, di sisi lain, Aderald juga tak ingin menyakiti hati kedua orang tuanya. Ia juga ingin membahagian mereka berdua. Tapi, untuk menikah, rasanya ia masih belum siap. Baginya, menikah bukan hanya sekedar sah lalu ia dan istrinya sudah sah menjadi sepasang suami istri. Lebih dari itu, ia ingin menikah dengan wanita yang benar-benar ia cintai dan mencintainya. Dan sampai sekarang, ia masih belum menemukan wanita yang dapat meluluhkan hatinya.
Tiba-tiba saja, ia teringat dengan wanita yang beberapa kali ia temui. Tapi, Aderald tak yakin jika yang ia lihat adalah manusia. Karena ia merasa wanita yang ia temui sangat misterius. Wanita yang dilihatnya tiba-tiba menghilang dalam kedipan mata. Bahkan siang tadi, ia merasa wanita itu ada di dalam kantornya. Sepertinya ia sudah benar-benar gila karena tekanan yang didapatnya dari sang mama.
"Dia manusia apa hantu? Aku merasa sangat familiar dengannya. Tapi, kenapa dia menghilang begitu saja?" guman Aderald sambil melihat langit-langit kamarnya.
"Tapi, tak mungkin juga dia bisa masuk ke dalam ruanganku. Ah, sepertinya aku hanya berhalusinasi."
Ketukan di depan pintu kamarnya mengalihkan lamunan Aderlad. Pria itu yakin kalau yang mengganggunya kini adalah mamanya. Maka, ia sengaja tak membukakan pintu itu.
"De, ini Papa," ucap suara itu dari balik pintu kamar.
"Hah, mau apa lagi mereka?" dengusnya malas.
Aderald membuka lebar-lebar pintu kamarnya. Sang papa berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Aderlad yang sudah enggan.
"Makanlah dulu, Papa yakin kamu belum makan malam. Maafkan mamamu. Papa tahu tadi siang dia ke kantormu."
"Hem."
"Papa tahu, kamu masih belum ingin menikah, papa tak masalah dengan hal itu. Tapi, kamu adalah anak satu-satunya yang mama dan Papa miliki. Kalau bukan kamu yang kami harapkan, lalu siapa lagi?"
"Aku tahu, Pa! Aku tahu. Pasti aku akan menikah. Tapi, tolong, biarkan aku menentukan wanita yang akan kunikahi nantinya."
"Akan Papa usahakan untuk meyakinkan mamamu."
"Tolong, Pa. jujur Aku tertekan dengan sikap mama. Kerjaan aku jadi tak karu-karuan! Apalagi kalau sampai mama datang ke kantor. Aku malu dengan karyawanku, Pa."
"Papa paham."
Sebalum meninggalkan anak semata wayangnya itu, Junio, papa Aderald menepuk bahu sang anak.
***
semoga suka ya ... maafkan imajinasiku yang tak karu-karuan ini. aku menulis cerita fantasi ini hanya berdasar dengan apa yang ingin kutulis.