Di dalam kamarnya yang temaram, Aderald masih memikirkan wanita yang sempat ia lihat tadi di kafe. Ia yakin sekali kalau ia melihatnya. Namun, sepersekian detik setelah dirinya berkedip, wanita itu sudah menghilang.
"Dia cantik, dan seperti familiar," gumannya pelan.
"Tapi siapa? Sebelumnya aku sama sekali tak pernah melihatnya, tapi, kenapa aku merasa dia sangat dekat denganku?"
Sebelumnya Aderald tak pernah merasa seperti ini. Baru kali ini ia melihat wanita seolah seperti hantu yang terus menghantui pikirannya. Apa mungkin inilah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
Lamunan itu buyar tatkala bunyi ponselnya yang tak kunjung berhenti. Ia merogoh malas saku celana bahannya untuk mengambil benda pipih itu.
"Siapa sih telepon malam-malam gini? Ck! Sialan!" gerutu Aderald merasa terganggu.
Aderald mengumpat kesal saat melihat telepon dari orang tuanya. Aderald sengaja membiarkan panggilan itu hingga berakhir menjadi panggilan tak terjawab. Tak berapa lama kemudian ada sebuah pesan masuk dari nomor yang baru saja menghubunginya dan menanyakan keberadaan dirinya.
Di sini Aderald merasa ia diperlakukan seperti anak kecil. Ia sudah dewasa, bahkan usianya sudah sangat matang untuk menikah. Namun, kedua orang tuanya selalu memperlakukan dirinya seperti anak kecil. Ia memilih mengabaikan pesan itu dan meletakkan ponselnya di atas meja. Belum sampai tangannya berpindah, benda pipih itu kembali berbunyi.
"Hah! Maunya apa sih mereka itu?" geramnya marah.
Namun, begitu melihat orang yang meneleponnya adalah Aldo, meski malas Aderald tetap mengangkatnya.
"Apa?" tanya Aderald terdengar ketus.
"...."
"Jangan beri tahu mereka aku ada di sini, atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Aderald pada Aldo.
Sepertinya sang sahabat baru saja mendapat telepon dari orang tuanya. Maka dari itu Aldo menghubunginya.
Malam ini. Aderald ingin sendiri. Maka dari itu ia bersembunyi di salah satu apartemen pribadinya yang ada di pinggir kota. Ia malas pulang ke rumah karena ibunya terus saja memaksanya agar mau berkenalan dengan anak dari teman arisan mamanya.
"Memang apa salahnya umur segini belum nikah? Nikah itu bukan tergantung sama umur kan?"
Aderald menggerutu sendirian di dalam kamarnya. Rasa kesalnya pada kedua orang tuanya kembali bercokol dalam hati. Sudah bosan rasanya mendengar ocehan kedua orang tuanya tentang pernikahan. Sementara dirinya sendiri masih belum menemukan pendampin yang cocok.
***
Pagi itu Claretta menghabiskan pagi harinya untuk berjalan-jalan di dunia manusia. Ia berjalan di sepanjang trotoar tak tentu arah. Terus melangkah hingga ia merasa lelah. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari tempat duduk di sekitarnya.
Ia menemukan sebuah kursi di dekat pos satpam sebuah gedung perkantoran. Tanpa berpikir panjang Claretta pun berjalan ke arah pos satpam itu.
"Capek banget, mana katanya Ayu aku gak bakal merasa lelah? Ini kaki rasanya mau patah," guman Claretta sambil menyelonjorkan kakinya.
Ia juga mengipas-ngipaskan telapak tangannya ke wajahnya. Ia merasa sekujur tubuhnya penuh keringat. Tapi, nyatanya ia sama sekali tak berkeringat.
Sambil beristirahat, Claretta memperhatikan lalu lalang orang-orang yang lewat di depannya.
"Apa aku dulu juga bekerja seperti mereka ya? Pakai pakaian kantor seperti itu ... naik mobil ... ketemu banyak orang ... seperti apa ya rasanya? Kenapa aku sama sekali tak mengingat apapun?"
Di situ Claretta merasa sedih. Ia gentayangan seperti ini tanpa mengingat apapun. Apa iya hantu juga mengalami amnesia seperti manusia?
***
Di ruang ICU salah satu rumah sakit besar di kota Malang, seorang wanita paruh baya dibuat ketakutan dan panik. Ia memanggil-manggil perawat dan dokter agar segera memeriksa keadaan anaknya.
"Cepat Dokter, tolong anak saya? Kenapa dia tiba-tiba tubuhnya basah dengan keringat seperti ini!"
Wanita itu menangis ketakutan melihat keadaan anak semata wayangnya itu.
"Kenapa dengan anak saya Dokter? Apa dia akan sadar?"
"Tenang ya, Bu, mungkin dia sedang berjuang untuk kembali. Kita doakan semoga anak ibu bisa segera sadar dari komanya," jawab dokter yang menangani putrinya.
"Apa dia baik-baik saja dokter? Kenapa dia berkeringat seperti itu?"
"Bisa jadi, putri ibu sedang bermimpi buruk dalam komanya. Dan tubuhnya merespon apa yang ada dalam mimpinya itu."
Dokter itu pamit permisi setelah melakukan pemeriksaan. Meninggalkan Arina sendirian di dalam ruang ICU.
"Clarie, cepatlah sadar, Sayang, jangan tinggalkan Mama. Mama janji sama kamu, Mama gak akan menuntut kamu macam-macam. Sekarang yang Mama inginkan cuma kamu kembali bisa berkumpul dengan Mama dan papa, Sayang."
Arina menggenggam tangan anaknya yang terkulai lemah. Ia mengusap-usap tangan itu yang terasa dingin. Bunyi mesin deteksi detak jantung menjadi teman dalam kesedihan yang dirasakan Arina.
*****
Claretta kembali melanjutkan langkah kakinya. Gadis itu penasaran dengan suasana di dalam gedung kantor yang menjulang tinggi.
Saat hendak masuk, Claretta melihat seorang pria yang sepertinya bertemu dengannya semalam.
"Ah, aku ikutin dia aja deh. Dari pada kesasar di tempat segede gini pasti nanti susah keluarannya," guman Claretta.
Ia pun segera menyusul pria itu yang berdiri di depan lift.
"Wow, lantai tujuh? Tinggi juga gedung ini," guman Claretta kagum.
Pria yang diikuti Claretta tak lain adalah Aldo, sahabat baik sekaligus sekretaris dan orang kepercayaan Aderald, pemilik perusahaan ini.
Tiba-tiba ia merasa suasana di sekitarnya jadi tak nyaman. Sesekali ia menoleh ke samping tepat menghadap ke arah Claretta berdiri. Ia merasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya dan sedang memperhatikan dirinya.
Namun, saat ia menolehkan kepalanya, tak ada seorang pun di sekitarnya. Mendadak ia merasa lift begitu lama terbuka.
"Sialaan! Masa iya siang-siang begini ada setan!" umpat Aldo kesal.
"Apa dia bisa lihat aku ya?" tanya Claretta penasaran mendengar umpatan Aldo.
Begitu lift terbuka, Aldo segera masuk ke dalam kotak besi berjalan itu. Tak mau ketinggalan, secepat kilat Claretta ikut masuk ke dalam lift.
Benda kotak itu membawa mereka berdua sampai lantai tujuh. Tempat tertinggi di gedung itu.
Claretta merasa takjub melihat jendela kaca yang memperhatikan pemandangan gunung-gunung yang mengelilingi kota Surabaya. Di lantai tujuh itu, seluruh dindingnya terbuat dari kaca, sehingga pemandangan luar terpampang jelas dan indah.
Saat melihat Aldo masuk ke sebuah ruangan, Claretta buru-buru ikut masuk mengukutinya.
"Keren banget! Pasti betah kerja di sini. Tiap hari melihat pemandangan seindah ini. Ah, seandainya aku memiliki kesempatan hidup kedua, aku akan berusaha keras untuk dapat bekerja di tempat ini."
"Ehm!"deheman keras itu membuyarkan khayalan Claretta.
Tepat di samping gadis itu berdiri, ada juga Aderald yang juga sedang memandang langit cerah hadapan mereka.
"Apa kamu bisa melihat aku?" tanya Claretta.
Pasalnya, ia sangat yakin kalau pria itu bisa melihatnya. Dan saat mengenali wajah Aderald, sejenak gadis itu terpaku.
"Hei, apa kamu bisa melihatku?" tanya Claretta lagi.
Namun, pria itu hanya diam. Menandakan jika ia tak terlihat olehnya.
"Sudahlah, Bro, ikuti saja kemauan mamamu. Stres juga aku setiapa hari diteror sama Tante Sintia." Aldo berjalan mendekati Aderald.
"Kamu tak tahu seperti apa wanita itu. Dia seperti wanita yang haus akan belaian. Meski disuguhi dia dalam keadaan tanpa busana pun aku tak akan mau!"
"Sialan! Omonganmu gitu banget. Jangan menilai seseorang hanya dari cover nya saja. Kau saja belum pernah kenalan dengannya."
"Untuk apa kenal dengan wanita seperti itu? Aku tak akan sudi!"
Mendengar perdebatan dua pria itu membuat Claretta sedikit malu. Pasalnya, kalimat yang terlontar dari mulut Aderald begitu frontal dan tabu.
Dan juga, semakin lama berada di situ membuat kepala Claretta merasa sakit. Ia pun perlahan berjalan menuju sofa sambil memegangi kepalanya.
"Ini kenapa sakit banget sih?" Ia memijit-pijit bagian kepalanya yang terasa sakit.
"Ya Tuhan! Apa jadi hantu juga bisa sakit kepala begini?" rengeknya menahan rasa sakit.
Tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya, Claretta membaringkan dirinya di atas sofa panjang yang ia duduki. Ia berharap setelah ini rasa sakit yang ia rasakan akan menghilang.
"De! Kamu lihat apa?" Aldo memukul bahu Aderald cukup keras hingga pria itu terkejut.
"Kayak ada orang," ucap Aderald lirih.
"Gak ada! Jangan ngada-ngada. Kita cuma berdua di ruanganmu!"
Aldo jadi merasa takut lagi. Bukan apa-apa, tapi, kalau berhubungan dengan makhluk tak kasat mata, rasa takutnya bisa bertambah berkali-kali lipat.
Aderald pun kembali ke meja kerjanya. Dari pada membahas hal-hal yang membuatnya malas. Lebih baik dirinya membereskan pekerjaannya hari ini.
"Balik aja ke ruanganmu. Jangan bahas apapun kalau mama mencariku!" peringat Aderald pada sahabat sekaligus sekretaris kepercayaannya itu.
"Ya, ya, ya, terserah! Aku hanya mengingatkan, jangan sampai kamu menyesal telah membuat orang tuamu kecewa," kata Aldo sebelum pergi.
Aderald sama sekali tak menanggapi. Ia pura-pura fokus dengan lembaran-lembaran kertas yang sedang ia pelajari.
***