Claretta duduk di sebuah kamar yang diberikan Ayu padanya. Ruang kamar itu terlihat seperti kamar pada umumnya. Ada tempat tidur, meja rias, dan sebuah almari tersedia di dalam kamar itu. Dalam sendirinya itu, Claretta mencoba mengingat siapa dirinya. Ia mencoba memfokuskan pikirannya untuk mengingat masa lalunya. Setidaknya ia ingin mengingat siapa namanya dan kenapa dirinya bisa mati.
"Astaga! Ayu, kamu mengejutkan aku!" pekik Claretta terkejut karena tiba-tiba wajah Ayu tepat berada di hadapannya.
"Salah sendiri kamu melamun. Apa yang kamu pikirkan, Maya?" tanya Ayu yang penasaran.
"Aku hanya mencoba mengingat siapa diriku," jawab Claretta terlihat sedih.
"Santai saja. Lambat laun kamu pasti akan mengingatnya. Mungkin karena efek kamu baru saja mati jadi ingatanmu masih tertinggal di dunia manusia."
"Apa bisa seperti itu?" tanya Claretta tak percaya.
"Bisa saja, tidak ada yang tidak bisa bukan? Sudahlah, tak usah dipikirkan. Nikmati saja kehidupan barumu."
"Baiklah."
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sejenak? Siapa tahu kamu bisa merasa lebih senang?" tawar Ayu.
"Ah, terima kasih. Tentu saja aku mau."
"Tapi, kamu gak bisa melayang. Berjalanlah hingga perbatasan, aku akan menunggumu di sana."
"Kenapa kamu gak menemaniku berjalan?" tanya Claretta dengan wajah cemberut.
"Maaf, aku sudah biasa melayang. Jadi kakiku akan kaku kalau berjalan."
"Alah, kamu pasti mengada-ada," gerutu Claretta.
Tak urung, Ayu menuruti permintaan Claretta. Ia melayang rendah di samping gadis itu. Sepanjang jalan Ayu menceritakan pengalaman hidupnya selama ribuan tahun di dunia arwah.
"Apa di dunia arwah juga ada menikah seperti di dunia manusia?" tanya Claretta.
"Ada."
"Lalu, kenapa kamu tidak menikah dan memiliki keluarga? Bukankah akan lebih menyenangkan hidup bersama dengan keluargamu?"
"Terlalu rumit untuk dijelaskan."
"Ah, pasti kamu pernah ditolak ya? Kamu gak bisa move on dari kekasihmu dulu?" tebak Claretta dengan wajah yang menyebabkan.
"Ck! Tidak seperti itu!"
"Ah, bilang saja kalau kamu gagal move on! Ternyata hantu seprtimu bisa merasa galau juga ya."
Ayu sangat kesal dengan ledekan-ledekan yang dilontarkan Claretta padanya. Ia ingin sekali mengatakan tidak, tapi, mulut Claretta tak berhenti menertawakannya.
"Diamlah, Maya! Atau aku akan membalasmu!" ancam Ayu yang kesal. Namun, Claretta masih saja meneruskan aksinya.
"Aduh! Sakit!" pekik Claretta kesakitan saat dirinya terpental beberapa langkah.
"Ayu! Kau sungguh jahat. Badanku sakit semua!" rengek Claretta.
"Sakit? Kamu merasakan sakit?" tanya Ayu heran.
"Ya! Ini sakit sekali."
"Apa sekarang para arwah bisa merasakan sakit?" guman Ayu heran.
*****
"Ngomong-ngomong, giamana keadaan cewek yang waktu itu kamu tolong?" tanya Aldo penasaran.
"Gak tahu, setelah menolongnya, ya sudah, aku gak pernah menemui dia lagi," jawab Aderald sambil menyesap batang nikotin di sela jarinya.
"Oh begitu," guman Aldo.
"Kenapa memangnya?" Aderald menatap heran pada sahabatnya.
"Hanya penasaran saja."
Kedua pria dewasa itu saling terdiam. Menikmati sebatang rokoknya ditemani alunan musik yang diputar di kafe tempat mereka menghabiskan malam.
Tiba-tiba Aldo mengusap belakang lehernya. Ia merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Ada apa?" tanya Aderald.
"Ada sesuatu yang lewat," guman Aldo.
"Ck! Di tempat seramai ini mana ada? Ngaco!" ejek Aderald yang tak mempercayai hal-hal semacam itu.
Nyatanya, yang dirasakan Aldo memanglah ada. Baru saja di belakangnya lewat makhluk halus yang tak banyak orang melihatnya.
"Ayu, Apa mereka juga bagian dari kita?" tanya Claretta saat melihat wanita cantik memakai gaun lusuh lewat di belakang pengunjung kafe.
"Iya, mereka juga sama saja seperti kita. Setahuku, dia bernama Clara. Dia pemilik tempat ini."
"Pemilik? Bukannya pemilik kafe ini adalah manusia?" tanya Claretta tak mengerti.
"Begini, apa kamu mengerti istilah penunggu? Mungkin seperti itu manusia menyebutnya."
"Oh, seperti itu. Lalu, kamu penunggu tempat apa? Apa kompleks arwah tempatmu tinggal itu juga tempat semacam ini?"
"Ya ... bisa dibilang begitu."
Claretta mencoba memahami apa yang dikatakan Ayu. Ia menganggukkan kepalanya dan merekam setiap apa yang dijelaskan oleh sosok arwah yang mau menjadi temannya.
"May, lihatlah laki-laki itu.!" pekik Ayu menunjuk-nunjuk seorang pelanggan.
"Ck! Jangan frontal seperti itu, nanti mereka melihat kita!" larang Claretta.
"Kau ini! Mana mungkin mereka melihat kita. Kita ini arwah! Ingatlah itu," sungut Ayu kesal.
"Ah, maaf, aku lupa. Maafkan aku, hehehe." Claretta menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Ah, ya ampun! Dia tampan sekali," ucap Ayu dengan pandangan penuh cinta pada pria berkacamata yang duduknya tak jauh dari mereka.
"Jangan menyukai manusia, ingat, Ay, kita arwah," ucap Claretta yang membuat Ayu merasa tertampar kenyataan.
Claretta diam melihat dua pria yang sedang serius mengobrol itu. Pandangannya tak sengaja bertemu dengan pandangan Aderald. Ia merasa seolah laki-laki itu tengah menatapnya.
Namun, ia mencoba menepis perasaan itu. Tidak mungkin kalau pria itu bisa melihatnya. Claretta pun memalingkan wajahnya memutus tatapan mata mereka.
"De! kamu ngelamun? Woy! Awas kesambet!" Aldo melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya sahabatnya.
"Ck! Apa sih!"
"Kamu lihat apa sih?" Aldo ikut menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang Aderald. Namun, ia hanya melihat tempat duduk kosong yang tak jauh dari tempat mereka.
"Gak ada apa-apa, kirain ada cewek cantik duduk di sana," kata Aldo sedikit kecewa.
"Aku cuma merasa ada orang di sana," guman Aderald.
"Minum dulu kopinya. Kayaknya kamu ngantuk deh."
"Astaga? Astaga! Maya! Dia noleh ke sini! Dia lihat aku, Maya!" pekik Ayu kegirangan saat Aldo menolehkan kepala melihat ke tempat duduk mereka.
"Dia siapa, Ay?" tanya Claretta.
Claretta merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasakan kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit setelah bertatapan dengan Aderald. Namun, dalam hatinya, ia menyangkal mengenai pandangan itu. Tidak mungkin manusia itu bisa melihatnya. Secara mereka berbeda dunia, dan kalaupun pria tadi bisa melihat dirinya, sudah pasti dia akan ketakutan.
"Maya! Kamu kenapa sih, May? Kamu gak dengerin aku ngomong ya!"
Ayu merasa diabaikan. Sedari tadi bia berbicara ternyata Claretta sama sekali tidak mendengarkan.
"Maaf, Ay, aku terlalu fokus dengan pikiranku sendiri. Kamu ngomong apa tadi?" tanya Claretta merasa tak enak.
"Sudahlah, lupakan. Toh pria itu sudah pergi." Terdengar nada merajuk dari kalimat yang diucapkan oleh Ayu.
Claretta kembali menolehkan pandangannya ke tempat tadi dua pria duduk. Ternyata benar apa yang dikatakan Ayu. Mereka telah pergi.
"Apa kamu ingin mencarinya?" tanya Claretta.
"Enggak. Aku malas denganmu. Dari tadi aku memanggilmu untuk mengajakmu mengikuti pria itu. Tapi kamu menghancurkan harapanku."
"Maafkan aku, Ayu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Bagaimana kalau besok kita kemari lagi? Siapa tahu mereka datang lagi ke sini. Kamu mau kan?" bujuk Claretta yang merasa tak enak pada teman barunya itu.
"Baiklah, kalau begitu kita juga pergi saja dari sini. Sudah tidak ada lagi pria itu."
***