Ia mengusap keringat diwajahnya, kemudian berganti pakaian lalu bergegas menuju tempat tidurnya. Dengan jantungnya yang berdegup kencang dan hembusan nafasnya yang berkejar-kejar tak beraturan. Arunika kemudian mencoba menenangkan dirinya sebelum Bibi Maira datang dan menyadari bahwa ia tidak benar-benar tidur sedari tadi. Ia mengatur nafasnya perlahan hingga akhirnya detak jantung dan hembusan nafasnya kembali beraturan. Beberapa saat kemudian terdengar langkah Bibi Maira dari balik pintu sedang datang mendekat. Bibi Maira tiba tepat didepan pintu kamar dan membukanya, "Selamat pagi nona, sudah waktunya untuk bangun dan bersiap-siap sarapan. Semuanya telah tersedia di meja makan". Bibi Maira berjalan menuju jendela dan membuka tirainya, ia berjalan menuju lemari pakaian dan menyiapkan pakaian untuk Arunika, ia telah menyiapkan sebuah gaun lavender dan kemudian bergegas keluar dari ruangan itu dan berkata "Bersiaplah segera nona, kamu memiliki waktu 15 menit untuk bersiap-siap. Lakukan dengan cepat". Arunika pun menjawab "Baik, Bibi Maira, aku akan segera bersiap dan turun". Bibi Maira pun meninggalkan ruangan dan pergi.
Begitulah Bibi Maira, tidak banyak bicara dan hanya mengatakan hal penting saja. Memberitahu Arunika harus begini atau begitu, ia benci keterlambatan apalagi tidak menghargai waktu. Ada terlalu banyak larangan dirumah itu dan ia tidak menerima pelanggaran. Bibi Maira terkesan kejam dan menakutkan, dingin dan datar bahkan ia pun hampir tak pernah tersenyum. Begitu pula dengan Paman Louis, mereka tak jauh berbeda sama dinginnya. Entah apa yang salah dengan pasangan ini, yang bahkan melarang adanya keributan dirumah tersebut. Setiap pegawai yang tidak bersikap dengan baik dan melanggar aturan sekecil apapun maka ia akan langsung diusir dari rumah itu. Tidak ada satu pun orang dirumah itu yang boleh bergosip atau membicarakan apapun yang terjadi dirumah itu. Semuanya hanya diperbolehkan bekerja tanpa berkata apapun atau menanyakan apapun. Bahkan jika ada pegawai yang dipecat maka tak boleh ada seorang pun yang boleh berkomentar tentang itu atau ia akan mengalami hal yang sama. Setiap pegawai yang dipecat akan segera diganti pada hari itu juga, mereka tidak mempekerjakan orang dari desa itu. Mereka merekrut pegawai dari tempat yang jauh dan ketika tiba dirumah itu maka tidak boleh mengatakan apapun dan tidak boleh berinteraksi dengan orang diluar rumah. Selama bekerja dirumah itu maka setiap pegawai dilarang keluar rumah terkecuali urusan pekerjaan. Keadaan rumah itu begitu tertutup rapat, tak ada celah bagi orang luar untuk masuk dan mengetahui tentang rumah itu. Beberapa orang desa penasaran akan rumah itu namun tak ada yang berani masuk atau menanyakan apapun ke rumah itu. Pada akhirnya penduduk desa pun tidak terlalu memikirkan tentang rumah itu dan keluarganya.
Setelah 15 menit Arunika pun turun dan menuju ruang makan. Ia duduk di kursi ujung meja makan sementara semua makanan telah tersaji. Ia hanya sendirian di meja makan itu dan selalu begitu, tidak pernah ada seorang pun yang akan duduk dan akan bersama Arunika. Ia memakan sarapannya dan kemudian pergi kembali ke kamarnya. Selama seharian penuh ia akan berada dikamar dan tak akan keluar sebelum jam makan malam. Arunika tiba dikamarnya dan mengunci pintu, ia mengambil buku di rak lalu duduk di sebuah kursi wing back. Ia membuka buku itu dan mulai membacanya, namun ia tak bisa fokus membaca karena pikirannya terbayang, mengenai kejadian pagi tadi. Wajah Shaam terbayang dibenaknya, namun seketika ia teringat bagaimana bisa ia hampir lupa untuk kembali ke rumah dan langsung berteriak membuat Shaam kaget. Bahkan jika mengingat wajah kaget Shaam yang menanyakan apa yang terjadi padanya namun ia tak sempat menjelaskan dan hanya berkata aku harus pergi sekarang lalu ia berlari begitu saja. Saat Arunika pergi berlari Shaam berteriak dan berkata "Kuharap kita bisa bertemu lagi besok di tempat ini". Arunika tersenyum mengingat perkataan Shaam dan berkata dalam hati "Dia ingin bertemu denganku lagi, apakah dia menyukaiku? Ah, bodohnya aku, tak mungkin dia menyukaiku lagipun kami baru pertama kali bertemu. Tapi bisa saja jatuh cinta pandangan pertama atau jangan-jangan aku yang jatuh cinta padanya. Ah tidak mungkin! tidak bisa begitu, tapi dia sangat tampan dan saat kami bersalaman tangannya sangat hangat". Arunika menggenggam tangannya sendiri dan meletakkannya di d**a, ia benar-benar bahagia dan tak berhenti tersenyum saat mengingat Shaam. Arunika sangat ingin untuk bertemu dengan Shaam lagi besok.
Malam pun tiba kemudian Arunika pergi turun untuk makan malam. Ia menyantap makanannya dengan sangat lahap sembari terus tersenyum. Kemudian setelah makan malam ia langsung kembali ke kamarnya, lalu duduk diatas tempat tidurnya membayangkan bagaimana jika besok dia bertemu dengan Shaam lagi Arunika sangat bahagia dan berharap pagi untuk segera datang. Arunika pun bergegas untuk segera tidur agar dia bisa bangun dengan segar besok lalu bertemu dengan Shaam. Ia bahkan tersenyum dalam tidurnya. Malam itu terasa sangat cepat berlalu dan pagi terasa datang sangat cepat dan lebih indah dari biasanya.
Arunika pun bangun kemudian segera bersiap-siap, ia membasuh wajahnya lalu menyisir rambutnya dan berganti pakaian. Dengan perlahan ia keluar kamar dan menuju pintu rahasianya, ia pun tiba dihalaman belakang dan berlari menuju padang tempat ia biasanya menari dibawah sinar mentari pagi. Saat tiba dipadang ternyata Shaam tidak ada disana, raut wajahnya langsung berubah dan ada kekecewaan di wajahnya kemudian berkata "mungkin aku terlalu cepat datang, mungkin sebentar lagi atau mungkin dia memang tak datang". Lalu tiba-tiba terdengar suara pria yang berkata "Siapa yang ga datang emangnya? kamu lagi nunnguin siapa? Lagi nungguin aku yah?" suara itu adalah suara Shaam. Shaam muncul secara tiba-tiba entah dari mana dan Arunika benar-benar senang melihatnya ia kemudian menjawab "Hah? aku ga lagi nungguin siapa-siapa kok. Aku kesini kan karna emang setiap hari aku kesini". Shaam tertawa dan berkata "Seriusan? bener ga nyariin aku?", Arunika menjawab "Beneran loh, ngapain juga aku bohong". Wajah Arunika terasa panas lalu Shaam berkata "Yaudah iya ga bohong, aku percaya kok, tapi itu pipinya ga perlu sampe merah gitu dong" Shaam tertawa dan Arunika merasa malu kemudian menjawab "Ih, enggak yah, ini tuh karena udaranya panas banget makanya pipiku merah". Shaam berkata "Oh gitu toh, iya yah padahal masih pagi banget ini kok bisa terasa panas yah, haha. Tapi ngomong-ngomong biasanya kamu datang ga sepagi ini. Kenapa tiba-tiba datangnya cepat banget?". Arunika pun kaget dan berkata "Enggak, ga ada apa-apa sih cuma pengen cepat aja. Tapi kamu kok bisa tau aku datangnya kapan? Kamu tau darimana? atau jangan-jangan kamun selama ini..." Sham tersenyum lalu berkata "Yah, ketahuan deh hahaha. Iya selama ini aku sering nungguin kamu disini dan melihat kamu diam-diam. Tapi aku ga ada niat apa-apa kok, aku cuma suka aja ngelihat kamu disini berlarian dan menari karna kamu terlihat sangat cantik dan manis". Arunika sangat senang mendengar pujian dari Shaam lalu bertanya "Jadi sejak kapan kamu sering datang kesini? Kok aku selama ini bisa ga tau ada orang yang ngelihatin aku". Shaam menjawab "Kan aku hebat, aku bisa sembunyi dari kamu lagian aku ga mau nanti kamu terganggu karna aku, jadinya kamu ga mau datang kesini lagi dan aku gabisa melihat wajah cantikmu itu lagi", Arunika pun berkata "Enggak kok, aku pasti bakal datang kesini terus karna aku suka berarda disini. Tempat ini satu-satunya yang bisa membuat aku merasa nyaman dan bebas melakukan apapun yang aku mau". Shaam menjawab "Iyakan, apalagi sekarang kamu tau bahwa kamu bisa bertemu aku disini. Pasti kamu bakal lebih sering kesini kan?". Arunika tertawa "Kamu nih yah bener-bener percaya diri banget, ga tau sih aku mau bilang apa lagi". Shaam menyahut "Haha, gapapa dong aku percaya diri kan itu bagus", Arunika berkata "Ya udah terserah deh, mau gimana juga terserah kamu"
Mereka pun duduk sambil bersandar dibawah pohon dan berbincang-bincang. Tanpa terasa ternyata sudah waktunya bagi Arunika untuk kembali kerumah. Mereka pun sepakat untuk kembali bertemu di padang itu lagi besok pada pagi hari. Kemudian Arunika pun kembali ke rumah dan bersiap-siap kembali ke tempat tidurnya. Ia benar-benar bahagia pagi itu.