Arunika bangun dari tidurnya dan segera bersiap-siap. Ia mandi kemudian berpakaian, menyisir rambutnya dan menggunakan sedikit bedak dan pemerah bibir. Setelah siap ia mengintip dari celah pintunya memastikan tidak ada orang, kemudian ia pergi keluar menuju pintu belakang dan berlari menuju padang. Ia tiba pada waktu yang sama seperti biasanya yaitu pukul 5.30. Setiap paginya saat ia tiba disana pasti Shaam telah menunggunya, namun hari itu saat Arunika tiba di tempat itu Shaam tidak ada disana. Ia agak sedikit kecewa, namun ia meyakinkan dirinya lagipula selama ini Shaam lah yang selalu menunggunya. Mungkin Shaam datang terlambat hari ini, lagipula tak ada salahnya bagi Arunika jika ia yang menunggu Shaam hari ini.
Kemudian Arunika duduk dibawah pohon sembari menunggu Shaam. Pada 15 menit pertama Arunika mash sangat bersemangat untuk menunggu Shaam, kemudian waktu berlalu hingga 30 menit pun Shaam tak kunjung muncul dihadapannya. Waktu semakin berjalan dan Shaam masih belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Hingga pukul 6.15 pun Shaam tak kunjung datang, akhirnya Arunika mulai berpikir mungkin saja Shaam kelelahan karena mereka pergi seharian kemarin, atau mungkin dia sedang sakit. Ketika pukul 6.30 dengan berat hati Arunika harus kembali ke rumah karena pelayan akan datang untuk membangunkannya. Kemudian Arunika bergegas pergi ke rumahnya, saat dirumah ia langsung berpura-pura tidur. Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan membangunkannya, lalu Arunika langsung pergi ke meja makan dan menyantap sarapannya dengan sangat cepat lalu ia langsung kembali ke kamarnya. Arunika memberi pesan kepada pelayan bahwa ia akan berada dikamar sepanjang hari dan jangan ada seorang pun yang mengetuk pintunya ataupun masuk ke kamar untuk menemuinya, jika ia tak keluar kamar hingga larut malam maka artinya ia sedang tidak menginginkan makan malam, maka jangan datang untuk memanggilnya makan malam.
Setelah menyampaikan hal tersebut kepada pelayannya, Arunika langsung pergi ke padang dan berharap bahwa Shaam ada disana. Ia berlari dengan sangat kencang lalu kakinya tersandung dan Arunika pun terjatuh. Sementara kakinya terasa sangat sakit, Arunika memaksa tubuhnya untuk berdiri dan tetap berjalan meskipun tertatih. Akhirnya Arunika tiba dipadang dan menemukan bahwa tidak ada seorang pun disana. Arunika tertunduk lemas, ia bersandar dipohon dan duduk dengan memeluk kedua lututnya. Kepalanya tertunduk lemas, ia benar-benar sedih dan kecewa. Kemudian ia mendengar langkah kaki yang bergerak kearahnya, semangatnya mulai kembali dalam hatinya berkata ia tahu bahwa Shaam pasti akan datang dan Shaam tak mungkin mengingkari janjinya kepada Arunika.
Ia mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria sedang berdiri di depannya, "Mengapa kau sangat lama Shaam?" ujar Arunika. Lalu pria itu berkata, "Maaf nona, aku bukan Shaam". Arunika pun memperhatikan dengan lebih jelas, benar saja bahwa itu memang bukan Shaam dan jelas bahwa Arunika tak mengenal pria itu. Pria itu berkata "Nona Arunika, maaf telah membuat anda terkejut. Tapi saya datang atas perintah tuan Shaam untuk menyampaikan bahwa Tuan Shaam tidak dapat serta ia mengirim surat ini untuk anda", pria itu memberikan surat kepada Arunika dari Shaam lalu ia pamit pergi. Arunika kemudian membuka surat itu, dan Mulai membacanya.
Kepada Arunika,
Aru, maaf aku tak bisa datang menemuimu hari ini sesuai janjiku.
Ada banyak hal yang terjadi dan tak dapat kujelaskan,
ini semua terlalu sulit kita saat ini.
Maafkan aku karena mungkin semuanya tidak akan sama lagi Aru
Lupakan saja semua hal yang telah kujanjikan padamu
Aku hanyalah pria jahat yang tak berdaya untuk menolongmu
Aku pergi ke tempat asalku dan kembali menjadi diriku yang seharusnya
Maaf telah membuatmu bingung
Terimakasih untuk semua masa indah selama ini Arunika
Aku menyayangimu Arunika dan akan selalu begitu
Salam hangat, Shaam
Arunika terdiam, seolah petir menyabar hatinya di pagi hari. Air matanya mulai menetes, ia menangis tersedu-sedu. Bagaimana bisa hal ini terjadi padanya, ia hanya berharap untuk bertemu dengan Shaam lalu pergi bersenang-senang. Lalu apa semua ini? apakah Shaam mempermainkannya? Apakah semua ini lelucon? atau mungkin memang selama ini semua hal yang mereka lakukan bersama memang tak pernah berarti bagi Shaam. Arunika menangis sembari mengingat setiap hal yang telah dilaluinya bersama Shaam, jika Shaam ada disana maka ia tak akan membiarkan Arunika terjatuh, jika Shaam ada maka Arunika tak akan merasa kesepian. Arunika kembali sendiri, namun kali ini rasanya berbeda ia tak terbiasa dengan keadaan ini. Ia tak bisa kembali menjadi seperti semula karena sebelum Shaam datang berbeda dengan setelah Shaam pergi.
Arunika hanya menangis dan kembali ke rumah, ia masuk kedalam kamarnya dan menutup tirai jendela. Ia naik keatas tempat tidurnya dan berbaring, sementara air matanya tak berhenti mengalir. Mengapa semudah ini Shaam meninggalkannya, apakah ia melakukan kesalahan sehingga Shaam tidak mau lagi menemuinya. Shaam telah melekat dihati Arunika, ia tak dapat melupakannya bahkan sedetik pun tak bisa. Dalam hatinya ia berkata, jika memang Shaam menyayanginya maka seharusnya Shaam tidak akan meninggalkan Arunika. Tak bisa kah jelaskan apa yang terjadi, mereka bisa melaluinya bersama tapi mengapa Shaam memutuskan untuk pergi.
Arunika mengurung dirinya seharian, ia tak keluar untuk makan malam. Keesokan paginya, Arunika kembali datang ke padang itu dipagi hari dan berharap bahwa mungkin saja Shaam akan datang. Ia akan menunggu dari pukul 5.30 hingga 6.30, jika Shaam tak kunjung muncul maka Arunika akan kembali ke rumah lalu setelah sarapan ia akan kembali lagi ke padang untuk menunggu Shaam. Padang yang biasanya tempat yang membuatnya sangat bahagia, tapi sekarang Arunika hanya akan menangis dengan wajah murung di tempat itu. Setiap hari, Arunika tak pernah berhenti datang dan menunggu jika saja Shaam datang. Arunika tak ingin mempercayai kenyataan bahwa Shaam telah meninggalkannya. Arunika akan menunggu hingga malam lalu kebali ke rumah.
Selama seminggu, Arunika tetap datang dan menunggu Shaam setiap hari. Tak ada sehari pun Arunika tak datang ke padang, ia tak lagi menari ataupun berlarian, tak ada lagi tawa ataupun senyum diwajahnya. Matanya tak lagi cerah, sendu, itulah yang terpancar dimatanya. Wajah penuh kesedihan seperti manusia yang hilang harapan. Arunika hanya datang kemudian duduk dan menunduk, lalu ia akan tertidur sejenak kemudian terbangun setelah itu ia hanya akan diam sambil termenung. Sesulit itulah rasanya ketika ia kembali ditinggalkan sendiri, tak bisakah jika seseorang saja datang untuk menemaninya? Haruskah semua orang meninggalkannya? Ia kesepian dan juga butuh seorang teman. Lalu mengapa Shaam sebagai satu-satunya orang yang dekat dengannya pun harus meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas. Terlalu banyak pertanyaan dalam hatinya dan entah kapan semua itu akan terjawab.