Grace Kurniawan tersentak hebat sehingga tubuhnya hampir memantul dari ranjang empuk itu.
Kenapa pria ini masih bisa bicara?
Grace sengaja meminta sebuah obat rahasia dari sahabatnya, lalu mengoleskannya ke bibir sebelum datang ke sini agar Michael Haryanto tanpa sadar menelan obat itu melalui ciuman tadi.
Tujuannya adalah agar pria itu tertidur selama sekitar dua puluh menit.
Dengan memanfaatkan waktu tersebut, Grace bisa mengambil cukup banyak foto, lalu kabur tanpa meninggalkan jejak.
Siapa sangka, lima menit belum berlalu, tetapi Michael sudah terbangun?!
"Bicaralah, Giselle?"
Dia bahkan masih mengingat nama yang tadi disebutkan Grace!
Wajah Grace langsung memucat. Dia dengan gugup berkata terbata-bata, "Itu ... sa-saya bukan ... sebenarnya saya ...."
Dia mati-matian berusaha mencari alasan agar bisa lolos.
Sayangnya, Michael sama sekali tidak memberinya kesempatan. Pria itu langsung menerjang ke arahnya!
"Lepaskan aku!" Grace langsung menjerit.
Ini sama sekali bukan bagian dari rencananya!
Semuanya melenceng jauh!
"Pembohong kecil, sekarang kamu jual mahal. Bukankah ini yang kamu inginkan sejak awal?" kata Michael sambil menyipitkan mata.
Kali ini, dia benar-benar menemukan harta karun.
"Bukan! Lepaskan aku! Dasar b******n!"
Selama sembilan belas tahun hidupnya, Grace belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Dia menendang dan meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri.
"Kamu yang membuatku pingsan dan mencoba melepas pakaianku. Jadi, siapa sebenarnya yang b******n?"
Michael balik bertanya.
Sementara itu, mata Grace sudah dipenuhi air mata karena ketakutan. Wajahnya tampak begitu menyedihkan.
"Aku salah, sebenarnya aku ...."
Grace menggigit bibir.
Dia sudah memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.
Dia adalah tunangan Michael di atas kertas, gadis yang selama ini sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Kalau Grace mengatakannya sekarang, Michael pasti tidak akan berani menyentuhnya lagi.
Namun, tepat saat Grace hendak membuka mulut … semuanya sudah terlambat.
Pandangannya mendadak berubah menjadi gelap. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya hampir pingsan. Dia tanpa sadar menggigit bibir sehingga wajah mungilnya meringis kesakitan.
Michael tampak terkejut.
"Giselle?"
Di saat seperti ini, dia masih ingat nama samaran Grace.
Menyadari apa yang telah terjadi, Grace langsung menangis tersedu-sedu.
Michael dilanda perasaan yang campur aduk.
Dia marah karena ada orang yang tega menyuruh gadis polos seperti Grace melakukan hal semacam ini.
Namun, di sisi lain, dia tahu Grace benar-benar kesakitan saat melihat ekspresi Perempuan itu.
Setelah terdiam beberapa detik, Michael tidak lagi ragu.
Dia tetap melanjutkan apa yang telah dimulainya.
Grace terus terisak pelan sehingga pikirannya kosong, seluruh tubuhnya terasa nyeri, lalu perlahan kehilangan kesadaran.
***
Entah berapa lama berlalu. Grace terbangun karena suara gemericik air.
Baru bergerak sedikit saja, tubuhnya terasa seperti baru saja digilas sesuatu. Lemas dan tak bertenaga.
Dengan susah payah dia duduk, lalu menyingkap selimut.
Wajahnya seketika semakin pucat.
Grace bahkan tidak sanggup menangis.
Dia memang berhasil mendapatkan foto-foto tersebut, tetapi dia juga mengorbankan dirinya sendiri!
Padahal, sejak awal dia menyusun semua rencana ini karena tidak ingin menikah dengan Michael Haryanto.
Siapa sangka, bukannya berhasil lolos, dia malah kehilangan lebih banyak daripada yang didapatkan.
Saat Grace masih tenggelam dalam pikirannya, Michael keluar dari kamar mandi.
Pria itu membawa handuk dan mengusap rambutnya yang masih basah.
"Sudah bangun?"
Sekarang, akal sehatnya telah kembali. Michael berubah menjadi pria dingin seperti biasanya.
Dia sedang memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyelesaikan insiden ini.
"Kembalilah dan sampaikan kepada atasanmu. Aku tidak akan mengubah keputusan. Suruh dia berhenti memakai cara murahan seperti ini untuk menjebakku. Mengenai kamu ...."
Jelas sekali, sampai detik ini Michael masih mengira Grace adalah orang yang dikirim oleh Cipta Land.
Grace sama sekali tidak mendengarkan perkataan pria itu.
Dia hanya menatap kosong ke arah seprai, memikirkan apa langkah selanjutnya.
"Aku bisa memberimu sejumlah uang. Saat ini, tidak ada perempuan di sisiku. Kalau kamu bersedia, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan."
Begitu kalimat itu terucap, Michael sendiri ikut tertegun.
Awalnya, dia hanya ingin mengusir Grace.
Namun, dia malah berubah pikiran di detik terakhir.
"Apa kamu dengar apa yang kukatakan?"
Karena Grace terus membisu, Michael tidak bisa menahan diri untuk bertanya lagi.
Bahkan, jauh di dalam hatinya, dia berharap Grace langsung menerima tawaran tersebut dan menjadi perempuan di sisinya.
"Aku mau minum obat. Kamu tahu obat apa."
Setelah lama terdiam, akhirnya Grace angkat bicara.
Dia mendongak, menatap Michael dengan sorot mata yang keras kepala.
Tanpa berpikir panjang, Michael langsung mengangguk.
"Tunggu sebentar. Aku suruh asistenku membelinya."
"Kamu yang pergi!"
Grace berteriak tajam.
Nada suaranya dipenuhi amarah dan tuduhan karena pria itu telah memaksanya.
Michael sedikit tertegun.
Namun, pada akhirnya dia tetap mengangguk.
"Baik. Tunggu di sini."
Dia ingat bahwa di Heritage Mansion memang tersedia apotek.
Tidak lama kemudian, Michael mengenakan pakaian dan berjalan menuju pintu.
"Apa lagi yang kamu butuhkan selain itu?"
Dia bertanya sekali lagi dengan sabar.
Grace tidak menjawab.
Dia hanya memungut pakaian yang berserakan di lantai lalu mengenakannya.
Begitu Michael keluar dari kamar, Grace langsung mengambil ponselnya.
Setelah memastikan semua foto yang tadi diambil masih tersimpan, dia mengembuskan napas lega.
"Syukurlah ...."
Tentu saja dia tidak bodoh sehingga tetap tinggal dan menunggu Michael kembali.
Setelah memastikan semua barangnya terbawa dan tidak meninggalkan jejak apa pun, Grace melarikan diri dari Heritage Mansion secepat mungkin.
Begitu masuk ke mobil, dia membenamkan kepalanya ke setir dengan penuh penderitaan.
Kenapa rencananya menjadi seperti ini?
Dia sangat marah sehingga rasanya ingin membunuh seseorang.
Dengan amarah yang membara, Grace menyalakan mesin mobil dan melaju menuju bandara.
Dia menginjak pedal gas hingga mentok. Mobil melesat membelah malam, sementara embusan angin yang menerpa wajahnya malah menambah rasa perih.
Di tengah gelapnya malam, mobil sport berwarna perak miliknya tampak sangat mencolok.
Kurang dari lima kilometer menuju bandara, Grace melaju terlalu kencang saat memasuki sebuah tikungan dan kehilangan kendali atas mobilnya.
Mobil itu meluncur ke samping dan menghantam pembatas jalan.
Brak!
Benturan keras membuat kantung udara mengembang seketika.
Sebelum kehilangan kesadaran, pikiran terakhir Grace adalah kali ini dia benar-benar tidak perlu menikah karena dia mungkin akan mati.
Hampir pada saat yang bersamaan, sebuah mobil datang dari arah berlawanan.
Pengemudinya tampak menyadari baru saja terjadi kecelakaan sehingga segera memperlambat laju kendaraan.
"Tunggu, cepat turun dan periksa."
Pria muda yang duduk di kursi belakang memberi perintah kepada sopirnya.
Begitu mobil berhenti, dia turun dan berjalan menuju lokasi kecelakaan.
"Pak Daniel, korbannya seorang perempuan. Dia sudah tidak sadarkan diri."
Sopir itu segera melapor setelah melihat ke dalam mobil.
Pria muda itu tentu sudah melihatnya.
Melalui jendela mobil yang telah pecah, pandangannya tertuju pada sebuah map dokumen di kursi penumpang depan.
Karena penasaran, dia mengulurkan tangan dan mengambilnya.
Begitu melihat isi map tersebut, raut wajah Daniel Rahardjo langsung berubah.
Dia tanpa sadar memandang perempuan yang tak sadarkan diri di kursi pengemudi.
Kenapa Perempuan ini mengumpulkan begitu banyak informasi tentang Michael Haryanto?
Siapa sebenarnya perempuan ini?
Dan kenapa dia berada di sini?
Serangkaian pertanyaan bermunculan di benaknya.
Setelah berpikir sejenak, Daniel akhirnya berkata, "Urus mobil ini dan semua rekaman CCTV. Bersihkan semuanya. Jangan sampai ada yang mengetahui kejadian ini."
Usai memberi perintah, dia menyimpan map berisi dokumen itu, lalu menarik pintu mobil yang sudah penyok dan mengangkat Grace yang wajahnya berlumuran darah ke dalam pelukannya.
Menarik sekali. Dia datang ke ibu kota untuk urusan bisnis, tetapi malah menemukan seorang perempuan!