Lima tahun kemudian.
Menjelang dimulainya sebuah pesta pernikahan, Grace Kurniawan yang sedang sibuk menerima telepon dari Daniel Rahardjo.
"Grace, bagaimana? Sudah kamu pikirkan?"
Sambil memegang ponsel dengan satu tangan, Grace memijat pelipisnya dan mengembuskan napas panjang tanpa suara.
Pekan lalu, Daniel melamar Grace.
Sedangkan, reaksinya adalah melarikan diri.
Meski sudah saling mengenal selama bertahun-tahun, Grace selalu merasa dirinya belum bisa menerima pria itu.
Entah mengapa, jauh di lubuk hatinya seolah ada suara yang terus mengingatkan bahwa belahan jiwanya adalah orang lain.
"Kita bicarakan nanti saja. Upacara pernikahannya sebentar lagi dimulai dan aku harus melakukan pemeriksaan terakhir!"
Grace buru-buru mengakhiri panggilan dengan alasan pekerjaan.
Dia menoleh dan memandangi sekeliling.
Deretan pilar Romawi berukir yang menjulang tinggi dihiasi rangkaian mawar impor yang sedang bermekaran. Perpaduan warna emas dan merah membuat seluruh panggung tampak berkilauan, menghadirkan nuansa klasik yang mewah di seluruh area.
"Bagus sekali."
Senyum puas terukir di bibir Grace.
Sebagai kepala perencana pernikahan di Serenity Wedding & Events, setiap kali menyaksikan kebahagiaan sepasang pengantin dengan mata kepalanya sendiri, dia selalu merasa ikut bahagia dan puas.
Meskipun rasa sakit akibat kehilangan ingatan masih sering menyiksanya, sekeras apa pun Grace berusaha mengingat, semua tetap sia-sia.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Bukankah hidupmu sekarang sudah baik?”
Daniel sudah berulang kali mengatakan hal itu kepadanya.
Lama-kelamaan, Grace pun menerima kenyataan tersebut.
Begitu upacara pernikahan resmi dimulai, dia diam-diam meninggalkan aula untuk menghirup udara segar.
Di meja hidangan penutup yang berada di depan pintu aula, tersaji kue fondan tujuh tingkat, cokelat, biskuit isi, puding, profiterole, macarons, donat dan masih banyak lagi.
Lengkap dengan rangkaian bunga dan tempat lilin berwarna-warni yang memancarkan aroma manis.
Inilah pesta pernikahan yang menjadi impian hampir setiap wanita.
Grace mengambil segelas sampanye rasa ceri dan baru saja hendak menyesapnya.
"Maaf, Pak. Upacara pernikahannya sudah dimulai. Apa Anda membawa undangan?"
Suara seorang rekan kerja Grace tiba-tiba terdengar dari meja penerima tamu.
"Kalau begitu saya tidak akan masuk. Tolong serahkan tas ini kepada mempelai pria."
Suara pria yang rendah dan merdu terdengar jelas.
Mendengarnya saja membuat bulu kuduk Grace meremang.
Sejak dulu, dia memang punya kelemahan terhadap pria yang memiliki suara bagus.
Tanpa sadar, Grace membawa gelas sampanye di tangan dan berjalan ke arah pria tersebut.
Pria yang sedang berbicara itu bertubuh tinggi.
Setelan jas buatan tangan yang pas di badan semakin menonjolkan posturnya yang tegap.
Di sampingnya, seorang asisten sedang mengeluarkan setumpuk uang kertas baru berwarna merah muda dari dalam tas kerja.
Grace memperkirakan jumlahnya sekilas, sekitar enam ratus juta.
Dia sampai berdecak pelan.
Pantas saja orang-orang mengatakan bahwa ibu kota dipenuhi orang kaya.
Hari ini, dia benar-benar menyaksikannya sendiri.
Selama bekerja di Serenity Wedding & Events, ini adalah pertama kalinya Grace terbang ke ibu kota untuk menangani sebuah proyek.
Tidak bisa disalahkan.
Klien kali ini benar-benar kaya raya.
Bahkan, Grace mendapat tiket pesawat kelas satu, ditambah berbagai tunjangan lainnya.
Selama lima tahun terakhir, Grace selalu tinggal dan bekerja di Kota Sentosa, yang berjarak ribuan kilometer dari ibu kota.
"Baik, Pak. Mohon tanda tangannya di sini."
Rekan kerja Grace segera menyerahkan buku tamu beserta sebuah pena dengan sikap hormat.
Pria itu menerimanya, membubuhkan tanda tangan dengan beberapa goresan cepat, lalu mengembalikannya.
"Michael Haryanto ...."
Rekan kerja Grace membaca nama itu perlahan untuk memastikan.
"Benar. Nama saya Michael Haryanto."
Pria itu menjawab dengan suara berat.
Begitu nama itu masuk ke telinganya, Grace langsung merasakan perasaan yang sulit dijelaskan.
Dia yakin dirinya tidak mengenal pria itu.
Akan tetapi, kenapa nama itu terdengar begitu familier?
Alis Grace sedikit berkerut.
Dia berdiri terpaku di tempat.
Pada saat itulah Michael berbalik hendak pergi.
Begitu menoleh, dia juga melihat Grace yang mengenakan setelan kerja hitam.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Rasa anyir memenuhi tenggorokannya, tetapi dia memaksanya untuk menelan kembali.
Setelah menenangkan diri, Michael segera melangkah cepat ke arah Grace.
Tanpa alasan yang jelas, Grace tiba-tiba merasakan hawa permusuhan yang sangat kuat.
Naluri untuk melindungi diri membuatnya refleks berbalik dan hendak pergi tanpa berpikir panjang.
"Kenapa kamu ada di sini?"
Suara penuh amarah terdengar dari arah belakang.
Detik berikutnya, sebuah tangan besar mencengkeram lengan Grace dengan kuat.
Tarikan itu begitu keras sehingga tubuh Grace hampir terlempar ke belakang.
Dia tidak meragukan sedikit pun bahwa dirinya akan segera jatuh dan mencium lantai marmer yang licin.
Sampanye di tangan Grace tumpah dan membasahi jas pria itu.
"Pak, tolong lepaskan saya!"
Grace berusaha menegakkan tubuhnya sambil berseru panik ketika menyadari pria itu masih mencengkeram lengannya erat-erat.
"Kamu memanggilku apa?"
Michael tertawa dingin.
"Giselle?"
Sudut bibirnya memang terangkat, tetapi sorot matanya dipenuhi hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Begitu menyadari bahwa pria itu salah mengenali orang, Grace diam-diam mengembuskan napas lega.
Dia segera menjelaskan, "Nama saya bukan Giselle. Saya juga tidak mengenal Anda."
"Saya seorang perencana pernikahan. Pasangan yang sedang melangsungkan pernikahan di dalam adalah klien perusahaan kami. Saya dan rekan-rekan saya datang dari Kota Sentosa."
Grace merasa pria ini adalah teman mempelai, jadi dia sebaiknya tidak mencari masalah.
Oleh karena itu, dia menjelaskan dengan nada yang sopan.
"Kamu pikir aku masih akan percaya padamu?"
Wajah pria itu tiba-tiba mendekat, memenuhi pandangan Grace. Embusan napasnya yang hangat menerpa wajah perempuan itu.
Grace membelalakkan mata.
Dia sampai tidak mampu berkata apa-apa.
Michael mengamati ekspresi wajahnya.
Setelah beberapa saat, dia berkata dengan dingin, "Beberapa tahun tidak bertemu, kemampuanmu berbohong ternyata semakin hebat."
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, sebelah tangannya langsung mencengkeram leher Grace dengan keras.
Pupil mata Grace mengecil, sementara wajahnya seketika memerah.
Rasa sesak akibat kekurangan oksigen menjalar ke seluruh tubuhnya. Grace buru-buru menggunakan kedua tangannya untuk berusaha melepaskan cengkeraman Michael, mati-matian mencari kesempatan untuk bernapas.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Bahkan, kedua rekan kerjanya yang berdiri tidak jauh dari sana pun tidak sempat bereaksi.
Setelah mereka menjerit dan berusaha berlari untuk menyelamatkan Grace, Michael tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Grace menjauh.
"Dulu, kamu memotret foto-foto memalukanku dan hampir menghancurkan hidupku. Apa kamu pernah berpikir akan ada hari seperti ini?"
Dia bertanya dengan senyum yang tidak mencapai matanya.
Tubuh Grace terhuyung beberapa langkah.
Untungnya, kedua rekan kerjanya sigap menopang tubuhnya dari kanan dan kiri.
Sambil memegangi lehernya yang sudah memerah akibat dicekik, Grace terengah-engah. Dia masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya.
Mengenai apa yang baru saja dikatakan pria itu, Grace hampir tidak mendengarnya sama sekali.
Dia berkata dengan suara serak, "Anda keterlaluan! Saya sudah bilang, Anda benar-benar salah orang!"
Michael menyipitkan matanya tanpa mengatakan apa pun.
Tubuhnya sangat tinggi.
Meskipun Grace mengenakan sepatu hak sedang setinggi lima sentimeter, tinggi badannya masih terpaut cukup jauh dari pria itu.
Setiap kali Michael menatapnya, Grace selalu merasa pria itu sedang memandangnya dari atas dengan penuh tekanan.
Jelas sekali, Michael sama sekali tidak mempercayainya.
Grace dapat melihatnya dengan jelas.
Detik berikutnya, dia melihat Michael kembali mengulurkan tangan kirinya ke arah dirinya.
Dan kali ini, sasaran pria itu adalah d**a Grace.
“Ah!” Grace langsung menjerit ketakutan.