Tak disangka, tangan pria itu ternyata hanya membetulkan tanda pengenal yang terpasang di d**a Grace.
Michael Haryanto membaca tulisan kecil di atasnya satu per satu.
"Serenity Wedding & Events. Kepala Perencana Pernikahan. Grace Kurniawan."
Saat membaca kata-kata terakhir itu, ekspresi marah Michael yang sempat sedikit mereda langsung berubah menjadi jauh lebih mengerikan.
Di balik tatapannya, pusaran amarah yang kelam sedang bergolak.
Semua kebingungan dan keraguan yang selama ini menghantui Michael, akhirnya menemukan jawaban pada saat itu juga.
Ternyata benar.
Saat terlalu peduli pada sesuatu, seseorang bisa kehilangan ketenangan.
Saat dikuasai amarah, akal sehat pun bisa lenyap.
Selama bertahun-tahun, Michael tidak pernah mampu memahami ataupun mengungkap kebenaran.
Namun, seluruh teka-teki itu akhirnya terpecahkan dalam sekejap.
Jadi, Giselle adalah Grace Kurniawan.
Tidak heran.
Perempuan itu menggunakan identitas palsu "Giselle" untuk mendekatinya, menjebaknya, dan memaksanya membatalkan pertunangan mereka.
Tujuan Grace adalah dia tidak perlu menikah dengan Michael menggunakan identitas aslinya sebagai Grace Kurniawan.
Dikuasai amarah, Michael langsung merobek tanda pengenal Grace dari pakaian dan menggenggamnya erat.
Peniti di balik tanda pengenal itu menusuk telapak tangannya sehingga robek.
Darah menetes sedikit demi sedikit.
Namun, Michael seolah sama sekali tidak merasakan sakit.
Grace mendongak.
Ekspresi pria itu membuatnya bergidik ketakutan.
Di tengah kebuntuan, seorang asisten berlari menghampiri sambil membawa sebuah cincin.
Dia mengembalikan cincin itu kepada Grace.
Saat upacara pernikahan baru saja dimulai, pendamping pria yang ceroboh tanpa sengaja menghilangkan cincin.
Meskipun cincin itu bukan berlian asli, melainkan hanya replika untuk keperluan upacara, semua orang sempat panik.
Untungnya, Grace langsung melepas cincin yang dipakainya dan meminjamkan cincin miliknya untuk menggantikan cincin tersebut.
"Nona Grace, untung ada cincin Anda yang menyelamatkan situasi! Cepat dipakai lagi. Ini pasti hadiah dari Pak Daniel, ya?"
Asisten itu berbicara terus terang tanpa menyadari suasana di sekitarnya sudah berubah menjadi tegang.
Grace hanya bisa mengulurkan tangan dan menerima kembali cincinnya.
Padahal, cincin itu adalah hadiah yang dibelinya sendiri menggunakan bonus akhir tahun saat genap satu tahun bekerja di Serenity Wedding & Events.
"Pak Daniel?"
Michael mengulang dua kata itu dengan nada penuh makna.
Kalau tatapan mata bisa membunuh, Grace yakin dirinya sudah mati ribuan kali.
Selama ini, dia tidak pernah menganggap dirinya perempuan yang penakut.
Namun, berada di bawah tatapan Michael membuat seluruh tubuhnya gemetar tanpa terkendali.
Melihat Grace sangat ketakutan, salah seorang rekan kerjanya yang cukup akrab dengannya akhirnya memberanikan diri berkata, "Pak, kalau Anda datang untuk menghadiri pesta pernikahan, silakan masuk ke aula dan duduk di tempat yang sudah disediakan."
"Kalau tidak, kami akan memanggil petugas keamanan hotel."
Michael mengangguk pelan.
"Tidak perlu. Hari ini aku sudah mendapatkan sesuatu yang sangat memuaskan."
Setelah berkata demikian, dia membuka genggamannya.
Tanda pengenal yang sudah penyok itu jatuh ke lantai dan mengeluarkan bunyi yang nyaring.
"Sampai jumpa lagi, Nona Grace."
"Kita pasti akan bertemu lagi."
Michael mengucapkannya sambil menggertakkan gigi.
Kemudian, dia pergi bersama asistennya.
Suasana di sekitar meja penerima tamu pun kembali tenang.
Punggung Grace sudah basah oleh keringat dingin.
"Nona Grace, mari saya antar ke kamar untuk beristirahat."
Asisten itu segera menopang tubuh Grace dan membawanya menuju lift.
Setelah sampai di kamar, Grace berdiri di depan cermin.
Di lehernya tampak jelas bekas cekikan berwarna merah.
Pria itu benar-benar ingin membunuhnya!
Grace sama sekali tidak meragukannya.
Namun, yang membuatnya semakin bingung adalah pria itu terus memanggilnya "Giselle".
Apakah Michael memang gila atau benar-benar salah mengenali orang?
Grace sama sekali tidak mengerti.
Dia mandi dengan air hangat, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Beberapa hari bekerja tanpa henti telah membuat tubuhnya sangat kelelahan.
Dia langsung tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal.
Tak disangka, bahkan di dalam mimpi pun Grace tidak bisa hidup tenang karena pria bernama Michael Haryanto muncul di dalam mimpinya.
Pria itu memaksa Grace untuk b******a dengannya.
"Tidak! Aku tidak mengenalmu! Aku juga bukan Giselle! Pergi! Pergi!"
Grace terus mundur.
Namun, kedua kakinya seolah berakar di tanah.
Dia sama sekali tidak bisa bergerak.
Dadanya terasa sesak.
Napasnya semakin sulit.
Seolah ada batu besar yang menindih dadanya.
"Tidak ...."
Grace menjerit sekali lagi dan tiba-tiba terbangun.
Butuh beberapa detik baginya untuk menenangkan diri.
Saat menunduk, dia baru menyadari bahwa salah satu lengannya menekan tepat di atas d**a.
Tidak heran dia bermimpi buruk.
Sinar matahari menembus samar-samar dari balik tirai tebal.
Grace meraba ponselnya.
Ketika melihat waktu, ternyata hari sudah menunjukkan pukul sembilan lewat pagi.
Setelah mandi dan bersiap-siap, dia membereskan barang bawaannya dengan cepat.
Hari ini, dia berencana kembali ke Kota Sentosa.
Beberapa rekan kerjanya masih harus tinggal untuk menyelesaikan urusan pasca acara.
Namun, Grace tidak perlu lagi berada di sana sehingga dia bisa pulang lebih dulu.
Tak disangka, begitu sampai di gerbang keberangkatan bandara, langkahnya dihentikan oleh seseorang.
"Maaf, Nona. Ada masalah dengan tiket pesawat Anda sehingga untuk sementara waktu Anda belum bisa naik pesawat. Silakan ikut dengan saya."
Seorang petugas layanan darat berseragam berkata dengan sopan kepada Grace.
Grace kebingungan.
"Bagaimana mungkin?"
Petugas itu hanya tersenyum tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Karena tidak punya pilihan lain, Grace menarik koper dan mengikutinya.
Mereka melewati area pemeriksaan keamanan dan berjalan semakin mendekati lobi bandara.
"Masih jauh?"
Grace bertanya dengan bingung dan cemas.
Tepat ketika dia masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi, pandangannya tertuju kepada dua orang pria yang berdiri tidak jauh di depan.
Mereka adalah Michael Haryanto dan asistennya.
"Pak Michael, orangnya sudah saya bawa." kata pria yang berjalan di depan Grace.
Michael mengangguk pelan lalu mengibaskan tangan, memberi isyarat agar pria itu pergi.
"Urusan kita belum selesai, tapi kamu sudah berencana kabur?"
Dia melangkah lebar menghampiri Grace.
Dalam sekejap, sebelah tangannya melingkari pinggang Grace dengan erat. Dia menatapnya dengan ekspresi dingin dan sorot mata mengerikan.
Lengan kekar itu mengunci tubuh Grace dengan kuat.
Grace meronta beberapa kali, tetapi sama sekali tidak berhasil melepaskan diri.
Di mata orang lain, mereka hanya tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
Sementara itu, asisten Michael diam-diam mengambil koper dari tangan Grace.
"Lepaskan saya!"
Begitu menyadari semua ini adalah ulah Michael, Grace langsung marah.
Dengan suara tertahan dia berkata, "Apa Anda tidak mengerti bahasa Indonesia? Saya tidak mengenal Anda! Anda membatasi kebebasan saya. Ini tindakan melanggar hukum!"
Dua kata terakhir itu benar-benar menyulut emosi Michael.
Dia langsung mencengkeram bahu Grace, lalu menyeretnya keluar dari lobi bandara dalam keadaan setengah dipaksa, setengah diseret.
Sebuah limusin hitam sudah menunggu di depan pintu dengan pintu terbuka.
Tenaga Michael sangat besar.
Dia langsung mendorong Grace masuk ke dalam mobil.
Setelah itu, dia ikut masuk dan duduk di sampingnya.
Sepanjang proses tersebut, Michael terus menekan tubuh Grace dengan satu tangan, memastikan perempuan itu tetap berada dalam kendalinya.
"Lepaskan saya! Tolong! Tolong!"
Grace menjerit sekuat tenaga.
Michael mulai merasa kesal.
Karena tidak sempat membungkam mulut Grace dengan tangannya, dia langsung membungkukkan badan dan membekap bibir Grace dengan bibirnya sendiri.
"Hmmp!"
Grace bukan perempuan yang hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruk dari orang lain.
Begitu menyadari apa yang hendak dilakukan Michael, dia langsung membuka mulut dan menggigit bibir pria itu sekuat tenaga.
Rasa nyeri langsung menjalar dari bibirnya.
Pupil mata Michael yang hitam pekat mendadak menyusut, bagaikan seekor binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
"Giselle, kamu masih memakai cara yang sama?"
Dia terkekeh sinis.
Namun, senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya.
Suara Michael malah terdengar sedingin es.
Dia mengangkat sebelah tangannya, lalu menghantam tengkuk Grace dengan telapak tangannya.
Mata Grace langsung membelalak.
Detik berikutnya, kedua matanya terpejam dan tubuhnya terkulai lemas.
Michael segera menangkap tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya.
Meski sudah lama tidak bertemu, tetapi indra Michael masih mengingat dengan jelas.
Hasrat yang selama bertahun-tahun tidak pernah muncul kembali menyapu seluruh tubuh Michael hanya dalam waktu singkat.
"Kali ini kamu tidak akan bisa kabur lagi, Pembohong Kecil."
Michael menyeringai pelan, laksana seekor binatang buas yang akhirnya berhasil menangkap mangsanya.