Seorang Gadis dengan bahagianya merentangkan ke dua tangannya sambil berlari menelusuri pinggiran pantai. Pesona pantai dengan pasir yang berwarna putih lengkap dengan air yang jernih membuat mata siapa saja berbinar akan keindahannya. Seorang gadis tersenyuman merekah. Dia tertawa renyah yang menambah pesona kecantikannya. Dia berputar putar mengikuti arah angin yang berhembus. Rambutnya yang panjang sepinggang berkibar kesana kemari. Dia sangat bagaia hari ini.
Seorang laki laki berdiri tak jauh dari Gadis itu, ia tersenyum geli menatap Gadis yang teramat ia cintai tengah menari nari dengan angin laut. Dia adalah ciptaan Tuhan paling sempurna yang pernah ia jumpai. Wanita kedua yang ia sayangi setelah Ibunya.
"JUAN!" teriaknya dengan melambaikan tangan kananya. Laki laki yang bernama lengkap Juan Narendra Parvipa itu tersenyum lebar. Tangannya ia simpan di kedua saku celananya.
"I LOVE YOU, JUAN!!!" teriaknya lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Juan tertawa memperlihatkan sederet gigi putihnya. Bahagia sekali melihat tingkah Pacarnya yang seperti itu. Kekanak kanakan tapi mampu membuat dirinya merasa sangat bahagia dengan hal hal kecil yang di lakukannya.
"Kemari" pintanya lirih, Juan menggeleng pelan tanda menolak. Namun Gadis itu kembali melambaikan tangannya agar Juan mau mendekat ke arahnya. Namun Juan tetap diam di tempat, dan hal tersebut tentu membuat raut ke kasihnya menjadi masam. Juan tersenyum tipis, dia pun berlari secepat mungkin untuk segera mendekat ke arahnya. Dengan sigap dan secepat kilat Juan menggendong Gadinya dengan tertawa riang.
"Juan!” pekiknya terkejut.
"Love you too... Nerisa Putri Wijaya" bisik Juan pelan namun terdengar sangat tulus. Risa yang di gendong Juan mendekatkan wajahnya dan mempersatukan hidungnya ke hidung Juan. Keduanya memejamkan matanya dengan sama sama menikmati moment ini. Juan yang masih menggendong Risa, di putar putarkan tubuhnya sehingga Risa berteriak. Risa merentangkan kedua tangannya menyambut hari terbahagia dalam hidupnya.
"AKU SAYANG KAMU, JUAN!!!" teriak Risa ke udara.
Setelah puas bermain main. Kini Juan dan Risa duduk di pinggir pantai dengan membuat istana pasir. Keduanya saling bahu membahu untuk membuat istana pasir milik mereka. Risa tersenyum puas melihat istana pasir yang sudah jadi itu. Di tataplah wajah Juan yang kini juga tengah tersenyum ke arahnya. Rambut Juan berkibas seiring dengan hembusan angin yang menerpanya.
"Andai kita bisa menikmati semua ini sepanjang hari, aku pasti akan sangat bahagia" ucap Risa, dengan menatap hamparan laut yang Indah di depannya.
"Dimanapun tempatnya asal bersama kamu. Aku akan tetap bahagia" sahut Juan menatap sayu pada Risa. Di railah tangan kanan Risa yang berada di dekatnya. Di genggam tangan itu.
"Jangan pernah tinggalkan aku" pinta Juan. Dengan semangat Risa menganggukkan kepalanya.
"Kita akan bersama, selamanya..."
Malamnya, Risa dan Juan duduk di trotoar pinggir jalan sambil menikmati jagung bakar dengan olesan bumbu rahasia yang sangat enak. Ke indahan kota Malang semakin terlihat Indah di malam hari. Banyak orang berkumpul untuk menikmati secangkir kopi. Banyak pula yang berdagang, dan ada juga sekumpulan orang memainkan alat musik tradisional. Suara angklung di padu dengan gamelan dan gendang membuat susunan suaranya menjadi sangat merdu di telinga. Juan dan Risa berdiri di sederet orang berkumpul untuk melihat pertunjukkan musik tradisional itu. Risa sangat senang melihat pemuda pemudi jaman sekarang yang masih mempertahankan kualitas budaya dari Indonesia sendiri.
"Ayo pulang" ajak Juan dengan menarik pelan tangan Risa. Mereka berjalan mendekati motor Juan. Setelah duduk dengan nyaman, Risa melingkarkan kedua tangannya ke perut Juan. Memeluk Juan dari belakang membuat Risa merasakan apa itu kenyamanan.
●●●
Berangkat pagi dan baru pulang di malam hari. Kerja keras sepanjang hari tidak pernah membuatnya mengeluh sama sekali. Sebab di kala ia pulang kerja, seorang Wanita paruh bayah seperti biasa akan menyambut kedatangannya dengan senyum hangat khas miliknya.
"Ibu kenapa menunggu di luar? Di sini dingin" berjongkok di hadapan Ibunya menggenggam kedua tangan Ibunya.
"Kamu lelah, Nak?" selalu itu pertanyaan pertama yang selalu Ibunya tanyakan. Namanya Neraya, seorang anak yang di besarkan di sebuah Rumah Singgah. Rumah Singgah merupakan rumah yang di tinggali oleh anak anak yang kurang beruntung sebab di usia dini mereka sudah di tinggalkan oleh orang tuanya. Baik di tinggalkan secara wafat maupun di tinggalkan karena alasan lain. Anak anak itu berkumpul dan di besarkan di Rumah Singgah.
"Bagaimana aku bisa lelah, Bu. Aku tidak boleh lelah... Tidak boleh" ucap rilih Raya dengan tersenyum paksa. Beban yang di pikul di pundaknya sangat berat. Tanggung jawab yang ia terima sejak satu tahun yang lalu benar benar tidak bisa membuatnya tidur dengan nyenyak. Tanggung jawab untuk menjadi tulang punggung di rumah Rumah Singgah. Sebenarnya ada yayasan yang seharusnya selalu menyumbangkan dananya ke Rumah Singgah setiap bulannya. Namun semenjak pemilik yayasan itu wafat, sumbangan untuk Rumah Singgah juga terputus. Bahkan di jaman sekarang sudah jarang sekali orang orang yang bersedia untuk menyumbangkan dana untuk anak anak yatim piatu di Rumah Singgah. Oleh karena itulah, Raya yang sebagai ketua dari Rumah singgah banting setir bekerja keras untuk mengumpulkan puing puing uang untuk bertahan hidup.
Usapan lembut mendarat di pipi Raya. Raya memejamkan matanya, sejenak menikmati usapan lembut di pipinya.
"Maaf, Ibu tidak pernah bisa meringankan bebanmu"
"Apa yang Ibu katakan? Ibu mungkin tidak bisa meringankan beban Raya. Tapi, Ibu bisa menyingkirkan rasa lelah Raya. Seperti saat ini, senyum tulus dan usapan di pipi. Itu semua sudah lebih dari cukup"
Setelah mengantar Ibunya ke kamar dan menidurkannya. Raya melangkah pergi untuk segera mandi dan makan malam. Di buka tulung saji di meja. Di sana hanya ada nasi dengan lauk sayur kangkung. Tanpa mengeluh Raya segera duduk dan memakannya. Setidaknya makanan itu membuatnya tidak kelaparan itu sudah jauh lebih cukup. Setelah makan dan mencuci semua piring yang ada di dapur. Seperti biasa Raya akan mengecek semua adik adiknya.
Dengan perlahan dan hati hati Raya membuka pintunya agar tak menimbulkan suara apapun. Ada sekitar 15 anak perempuan yang tidur di kamar besar ini. Mereka tidur dengan sangat pulas. Namun keringat membanjiri dahi mereka semua. Pandangan Raya menyapu seisi ruangan.
Mereka membutuhkan kipas angin untuk tidur. Kasihan jika mereka tidurnya terganggu karena kepanasan.... Aku harus mencari pekerjaan tambahan untuk mengatasi masalah ini. Batin Raya.
Tak hanya kamar dari adik perempuannya saja yang di periksa. Tapi kamar dari adik laki lakinya juga di periksa. Dan masalahnya juga sama, yaitu kipas angin. Raya benar benar harus memenuhi tanggung jawabnya untuk memenuhi semua kebutuhan anggota keluarga Rumah Singgah. Tanpa sadar air mata Raya menetes. Air mata yang sama sekali tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun. Air mata penuh tanggung jawab. Sangat keras usaha Raya untuk menghidupi semua adik adiknya. Beban di pundaknya sangat berat, hingga untuk mengeluh saja Dia tidak sanggup.
"Ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai anak paling tua!" Teguh Raya.