Pagi ini suhu udara di Kota Malang Jawa Timur terasa begitu dingin. Sejak pukul empat pagi dini hari kota Malang sudah di guyur oleh derasnya air hujan. Musim kemarau sudah berakhir dan tergantikan oleh musim hujan. Dengan cuaca seperti ini biasanya orang akan malas bangun dari kasurnya, dan memilih untuk bermanja manja dengan kasurya. Namun tidak dengan Risa. Sejak pagi dia sudah sibuk di dapur. Tangannya dengan cekatan memasak nasi goreng. Walaupun Risa tidak pandai memasak, namun dia sangat berusaha untuk pandai memasak demi seseorang yang sangat ia cintai.
“Buat Juan?” Risa menoleh sembari tersenyum
“Coba Mama cicipi dulu” pinta Risa. Risa mengambilkan sendok dan memberikan sendok itu kepada Winda, Mamanya. Winda menyendok nasi goreng itu lalu menyuapkan ke mulutnya. Risa menanti komentar dari Winda dengan tidak sabar.
“Bagaimana?” tanya Risa penasaran. Winda tersenyum lalu mengacungkan jempolnya.
“Tidak mengecewakan” ujar Winda. Puas mendapatkan jawaban tersebut, dengan bersemangat Risa memindahkan nasi goreng di wajan itu ke wadah kotak bekal yang sudah ia siapkan. Nasi tersebut di bentuk gambar hati, tak lupa di beri toping sosis dan telur mata sapi. Risa membayangkan bagaimana jika Juan nanti menyantab makanan yang sudah ia siapkan. Risa sudah menuangkan banyak Cinta lewat makanan ini.
“Jangan senyum senyum terus. Buruan sarapan lalu berangkat ke sekolah” perintah Winda, dan di angguki oleh Risa.
“Baik, Ma”
"Kemarin malam kamu pulang jam berapa, Sa?" tanya Winda sembari menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya.
"Jam sepuluh, Ma"
"Papa, marah nggak?"
Risa menoleh, "Enggak tuh, Papa nggak marah"
Winda menganggukkan kepalanya dua kali, "Lain kali kalau pulang jangan malam malam ya, Sa. Kalaupun, Papa nggak marah bukan berarti kamu di izinkan untuk pulang selarut itu" nasehat Winda kepada putrinya.
"Iya, Ma"
Karena pagi ini hujan turun cukup lebat. Arif Wijaya, Papa Risa menawarkan diri kepada Risa agar mau berangkat bersama dengannya. Risa tak berangkat bersama Arif saja, melainkan ia juga berangkat dengan adiknya Barra. Sesampainya di sekolah Risa mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Arif. Setelah itu Risa mengulurkan tangannya untuk Barra mencium tangannya.
“Kakak sekolahnya yang pinter ya, jangan pacaran terus” cibir Barra setelah mencium tangan Risa. Risa memanyunkan bibirnya masam. Barra memang sering kali mengejek Risa.
“Barra” teguh Arif. Mendapat teguran dari Sang Papa, Barra langsung tersenyum dan meminta maaf. Setelah itu Risa bergegas turun dari mobil. Risa berdiri di samping pos satpam. Ia lupa membawa payung, sedangkan hujan masih turun rintik rintik.
“Duh, lupa bawa payung. Kalau di terjang masuk bisa basah bajunya” gumam Risa sembari celingukan menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap ada seseorang yang ia kenal untuk di ajak nebeng. Risa menunduk melihat ujung sepatunya yang mulai basah sebab kecipratan air hujan. Beberapa detik kemudian sebuah payung berada di atas kepala Risa. Risa menoleh dan ternyata itu adalah Juan pacarnya. Juan mengode Risa dengan matanya, agar Risa mulai jalan menuju kelasnya. Dengan tersenyum senang Risa mulai berjalan beriringan dengan Juan yang tengah membawa payung untuk melindungi dirinya dan Risa dari air hujan.
Risa menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum kebahagiaannya. Meskipun Juan pendiam dan cenderung cuek, tapi Juan memiliki sisi lain ketika ia bersama Risa. Sikap manis dan penuh perhatian selalu membuat jantung Risa berdebar tidak karuan. Memiliki Juan adalah sebuah kebahagiaan bagi Risa. Karena Juan kehidupan Risa jadi lebih berwarna.
Setibanya di depan kelas, Juan menutup payungnya dan di senderkan ke dinding. Dia berbalik dan menatap Risa yang juga tengah menatapnya. Di tatap intens oleh Juan membuat Risa tersipu hingga membuat Risa salah tingkah. Mendapati Risa yang salah tingkah tentu saja membuat Juan tersenyum kecil. Risa selalu terlihat menggemaskan saat salah tingkah ketika di tatap olehnya.
“Terimakasih payungnya” ucap Risa. Dan Juan hanya menganggukkan kepalanya. Risa merogoh tasnya dan mengeluarkan bekal makannya.
“Hari ini aku memasak nasi goreng pakai telur mata sapi, di tambah dengan sosis” kata Risa, dengan menyodorkan kotak makanan yang sudah ia siapkan untuk Juan.
“Nerisa” panggil Juan dengan nada bicara yang malas.
“Ayolah di terima, kalau kamu menolak itu artinya kamu tidak menghargai aku yang sudah susah payah membuatkan masakan ini” kata Risa. Juan menghela napasnya pelan, tidak ingin mengecewakan gadisnya. Juan mengambil kotak makan itu.
“Lihat tangan” pinta Juan. Risa terdiam, ia mencoba mengingat apakah tadi tangannya terkena panci atau tidak. Dengan ragu Risa mengulurkan kedua tangannya kehadapan Juan. Juan memerhatikan tangan Risa dengan teliti.
“Balik” dengan segera Risa membalikkan tangannya.
“Apa ini?” tanya Juan dengan menunjuk bercak kemerahan di tangan Risa.
Risa tertawa kecil, "Mungkin itu kena panci penggorengan. Tapi nggak sakit kok, beneran” ucap Risa ketika melihat raut wajah Juan yang berubah masam. Juan sangat senang saat mengetahui Risa belajar memasak untuk dirinya, namun Juan juga sedih setiap melihat luka baru di tubuh Risa sebab memasakkan makanan untuk dirinya. Bagi Juan, kehadiran Risa di sisihnya itu sudah sangat berarti. Untuk membuat Juan senang itu cukup Risa tetap berada di sampingnya.
Juan membuang napas perlahan, “Lain kali—“
“Iya iya tahu, lain kali aku akan lebih hati hati. Dan ya kamu jangan terus terusan ngelarang aku buat belajar masak karena aku suka memasak” sela Risa cepat sebelum Juan kembali melontarkan kalimat yang sama setiap Risa memasakkan makanan untuk Juan.
“Ya sudah masuk gih... Aku juga akan masuk ke kelas”
Risa mengangguk dan berbalik masuk ke kelasnya. Setelah memastikan Risa duduk di bangkunya, barulah Juan beranjak dan pergi ke kelas sebelah yang merupakan kelasnya. Meskipun tidak sekelas dengan Risa, namun Juan tetap bebas menemui Risa sebab kelas mereka bersebelahan.
Seperti biasa, kelas dua belas mipa satu selalu tenang dan hening. Tak heran juga jika kelas Juan ini selalu sepi. Sebab penghuni kelasnya adalah murid murid teladan. Dari pada menghabiskan waktu untuk mengobrol, mereka lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca buku. Setelah duduk di bangkunya, Juan membuka isi kotak makanan yang Risa berikan. Juan tersenyum tipis melihat nasi goreng berbentuk hati dengan toping telur mata sapi dan sosis. Tak lupa Risa juga menghias sedikit makanan tersebut.
Dia membuatnya dengan penuh Cinta. Batin Juan.
"SELAMAT PAGIIII! GOOD MORNING EVERY BODY GUYS!"
Mata tajam Juan melirik kearah sumber suara. Setiap pagi dengan mulut bak beledek milik temannya itu selalu saja membuat keributan. Tak hanya Juan yang menatap sinis kepada Dio, namun seluruh murid di kelasnya juga tengah menatapnya dengan sinis. Dio datang dengan kedua temannya, Reza dan Raka.
"Wuish ... Santai santai, Gue datang dengan perdamaian. Kenapa mata kalian tajam tajam banget sih. Padahal Gue menyambut pagi ini dengan penuh suka cita!" lihatlah bagaimana sikap Dio. Datang dengan perdamaian apanya, karena Dio jelas sudah mengganggu ketenangan banyak orang.
"Berhenti ngoceh dan duduk, Dio!" perintah tegas dari Bagas, yang merupakan ketua kelas.Dengan tampang tengilnya Dio berjalan mendekati bangkunya. Dan sialnya, kursi Dio itu berada di depan bangku Juan.
"Anak murid sini makin hari makin nyeremin ya" kata Dio sambil menoleh ke arah Juan.
"Ngomong sama Gue?" tanya Juan dengan muka datanganya. Dio yang mendengar jawaban mentah dari Juan hanya bisa mengucapkan kata sabar dalam hatinya.
"Juan Lo dapat tantangan balapan dari Dimas" ujar Reza yang duduk di samping Juan.
"Uangnya gede, sepuluh juta. Lo mau ambil apa enggak?" tanya Raka.
Juan diam, sebenarnya dia sangat memerlukan uang itu. Tapi jika Risa tahu kalau Juan ikut balap motor lagi, Risa pasti akan menangis seperti minggu kemarin. Sangat menyakitkan saat melihat Risa menangis karena ulahnya. Namun Juan sendiri juga perlu uang untuk biaya hidupnya.
"Yeee... Dia bengong" timpal Dio, yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Juan.