Hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Risa masih berkutat dengan laptopnya. Setelah membaca isi dari tugas yang kerjakan, barulah Risa menutup laptopnya. Ia menoleh ke arah Mia, dia sedang tertidur di atas ranjangnya. Risa tersenyum tipis melihatnya.
"Dia pasti lelah" gumam Risa. Risa bangkit dan mengemasi buku buku serta membuang bungkus cemilan yang tadinya ia makan dengan Mia. Setelah selesai mengemasi semuanya, Risa mengambil handphone yang tergeletak di atas nakasnya dan duduk di tepi kasur.
"Juan" gumam Risa saat melihat ada pesan dari Juan.
Jangan kecapean, cepat makan lalu istirahat♥
"Selalu saja begitu" gumam Risa dengan tersenyum.
Iya Mr. Bawel! Aku akan makan dan segera istirahat. Kamu juga jangan lupa makan ya, kalau enggak besok aku akan bawakan bekal makanan ke sekolah.
Klik. Risa mengirim pesannya itu ke Juan. Senang sekali dia menggoda Juan dengan kata kata ingin membawakan bekal makanan. Juan pasti akan sangat kesal membaca itu.
Tok. Tok. Tok.
Sebuah ketukan di pintu membuat Risa meletakkan kembali handphone nya ke nakas. Pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan Winda di balik pintu.
"Risa, ayo makan malam sudah siap. Bangunkan Mia dan segeralah turun untuk makan malam bersama"
"Baik, Ma"
Setelah itu Winda keluar tak lupa dengan menutup pintunya.
"Mia bangun Mia... Ayo kita makan malam dulu. Mia" Risa meberusaha membangun kan Mia dengan mengguncang pelan tubuhnya. Mia menggeliatkan tubuhnya karena terganggu oleh guncangan Risa.
"Apa?" tanya Mia dengan suara seraknya.
"Bangun, Mia. Ayo kita makan malam, Mama sudah siapkan makan malam di bawah." jelas Risa.
Setelah Mia bangun dari tidurnya ia bergegas memasuki kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Setelah itu Mia mengusap wajahnya dengan tissue kering yang berada di kaca rias milik Risa. Pandangan Mia menatap ke meja belajar Risa yang sudah tertata rapi.
"Sa, kok buku bukunya udah di beresin? Tugas kita kan belum selesai" heran Mia. Risa menoleh sambil meletakkan handphone nya ke nakas.
"Sudah selesai kok, tadi sisahnya aku kerjakan sendiri. Abis kamu ketiduran"
"Astaga! Maaf ya, Sa. Aku tadi capai banget sampai sampai ketiduran" sesal Mia tulus.
"Nggak apa apa kok, kamu gak perlu merasa bersalah gitu. Mending sekarang kita keluar yuk, Keluargaku pasti udah menunggu kita di meja makan" ajak Risa dan Mia mengangguk.
Dan benar saja, saat tiba di lantai dasar keluar Risa sudah berkumpul. Risa dan Mia duduk beriringan. Makan malam berlangsung dengan nikmat dengan di selingi beberapa obrolan ringan.
Stelah makan malam berakhir Mia segera mengambil tas sekolahnya di kamar Risa. Risa sangat memaksa Mia untuk menginap saja di rumahnya. Namun Mia bersikeras memilih pulang dengan alasan takut merepotkan keluarga Risa. Dengan terpaksa Risa mengantar Mia sampai depan gerbang rumahnya saat Sopir Mia sudah menjemput.
"Dah, Risa. Makasih untuk hari ini" ujar Mia di dalam mobil sambil melambaikan tangan kanannya. Risa juga melambaikan tangan kanannya sebagai tanda perpisahan. Setelah mobil Mia terpacu pergi barula Risa memasuki rumahnya.
"Kopi buat siapa, Ma?" tanya Risa yang menghampiri Winda di dapur.
"Buat Papa sama Om Husen"
Risa mangut mangut, "Risa, aja, Ma yang mengantar minumnya ke, Papa dan, Om Husen" ujar Risa mengajukan diri untuk membantu pekerjaan Winda.
"Nggak usah nanti kamu capai. Biar Bibi saja yang mengantar" tolak Winda, yang lalu menyuruh pembantunya untuk mengantar dua cangkir kopi lengkap dengan camilan ringan itu ke ruang kerja Arif.
Setelah puas mengobrol dengan Winda di teras belakang. Risa pamit kepada Winda untuk pergi ke kamarnya karena kedua matanya sudah merasa sangat mengantuk dan ingin sekali segera berjumpa dengan kasur kesayangannya. Namun saat menoleh ke arah kamar Barra, Risa melihat pulpen yang kemarin ia pinjamkan kini tergeletak di depan pintu kamar Barra.
"Anak itu selalu saja tidak pernah menyimpan barangnya ke tempat yang seharusnya" gumam Risa yang sebal. Dengan langkah berat Risa mendekati kamar Barra dan mengambil pulpen itu.
"Aku tidak menyangkah kamu sangat egois, Rif!"
Risa tertegun mendengar bentakan itu, Risa tahu pemilik suara itu. Suara Husen terdengar sangat marah. Risa dapat mendengar suara Husen sebab kamar Barra bersebelahan dengan ruang kerja Arif.
"Karena Cinta kamu bisa buta dalam segala hal!" lagi, Risa tertegun mendengarnya.
"Yah! Aku memang egois, aku sudah buta karena rasa cintaku ke Winda. Aku sudah jahat, dan aku tahu itu!" kini suara Arif yang terdengar. Risa segera berdiri, dan mendekatkan dirinya ke pintu ruang kerja Arif. Risa penasaran apa yang terjadi sehingga mereka berdua bertengkar. Karena sejauh yang Risa tahu mereka berteman baik, bahkan sudah seperti saudara.
"Meskipun aku sudah membuangnya, tapi aku nggak lepas tanggung jawab, Sen. Aku masih menafkahi anak itu setiap bulannya dan kamu tahu itu... Sudahlah, Sen. Jangan di perpanjang masalah ini. Kamu juga sudah berjanji kepadaku untuk tutup mulut kan? Jadi stop bahas masalah ini!" perkataan Arif terdengar berat, seakan dia sedang menahan amarahnya yang sedang memuncak.
"Mungkin aku memang sudah berjanji kepadamu untuk tidak membongkar semua ini. Tapi mengertilah keadaanya. Anaknya, Winda itu sedang ke susahan di sana, Rif. Tidakkah kamu merasa kasihan kepadanya?!"
Anak Winda?. Batin Risa.
Risa semakin mendekatkan telinganya kepada pintu. Risa semakin penasaran dengan pertengkaran yang terjadi.
"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan Raya dari Winda, Rif. Sampai kapan?! Raya juga memiliki hak yang sama seperti anak anakmu yang lainnya! Tidakkah kamu merasa bersalah setiap melihat Risa?? Aku punya perasaan, Rif. Tidak seperti kamu yang tidak memiliki perasaan. Sebagai seorang teman aku wajib mengingatkan kamu jika kamu berjalan di jalan yang salah. Raya itu saudara kembar Risa, tapi karena kamu. Karena keegoisan kamu mereka terpisah. Dan Raya yang malang itu harus banting tulang mencari nafkah untuk seluruh anggota Panti Asuhan itu!" seru Husen menggebu.
"Hah!" Risa yang terkejut segera membungkam mulutnya. Matanya melebar, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Saudara kembar? Raya?. Batin Risa.
"Tutup mulutmu, Sen! Kalau ada yang mendengar gimana!" Arif berusaha mengingatkan Husen. Namun sayangnya Risa sudah mendengar kebenaran itu. Risa tidak menyangka Jika Arif telah melakukan hal yang buruk terhadap keluarganya sendiri. Risa menitihkan air matanya, dia terkejut dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Risa segera kembali ke kamarnya, ia tidak mau jika Arif sampai mengetahui jika dirinya sudah mendengar pembicaraannya dengan Husen.
"Raya ... Kembaranku?" gumam Risa masih tak percaya, entah seperti apa keadaan Raya di luar sana Risa sama sekali tidak tahu. Risa shock, dia tidak menyangka jika dia memiliki saudara kembar. Dia juga tidak menyangka jika Arif telah membuang saudara kembarnya. Apa dosa kembarannya itu sampai Arif membuangnya.
"Aku harus beri tahu Mama atau tidak? Tapi kalau aku beritahu Mama, keadaanya pasti akan sangat kacau"
Risa menjalan cepat mengambilnya handphone nya, ia ingin menghubungi Juan dan menceritakan semuanya. Karena Risa sangat membutuhkan nasehat Juan saat ini.
"Tidak tidak tidak! Aku tidak boleh beritahu Juan. Ini masalah keluarga, Juan tidak boleh terlibat di dalamnya. Tapi, aku harus apa??" panik Risa yang hanya bisa menangis.
"Aku harus mencari informasi tentang Raya seorang diri. Bagaimanapun aku harus bisa mengetahui dimana Raya berada. Dia saudara kembarku, aku harus bisa menemukannya dan membongkar kejahatan Papa di depan seluruh keluarga besar Wijaya" gumam Risa sungguh sungguh. Risa mengusap kedua pipinya yang basah. Tak di sangka seorang Arif wijaya yang di kenal dengan keramah tambahannya, dengan tega telah memisahkan seorang ibu dan anaknya.