Lampu lampu kota Malang menyala terang ketika menjelang malam hari. Semakin malam Kota ini bukannya semakin sepi justru akan semakin ramai. Banyak pemuda pemudi yang nongkrong di pinggir jalan hanya untuk sekedar ngopi atau hanya untuk berkumpul dengan teman temannya. Suara bising dari jalan raya tidak membuat mereka merasa terganggu sedikitpun. Mereka semua asyik dengan dunianya.
Malam ini Juan dan teman temannya sedang berkumpul di salah satu tempat angkringan yang biasa menjadi tempat berkumpulnya mereka.
"Gimana balapannya kemarin, menang?" tanya Reza kepada Juan.
"Heh! Kamu kok masih nanya aja sih. Ya jelas dia menang lah" celetuk Dio dengan sewot, "Orang dia itu Raja Balap" timpal Dio membanggakan Juan.
"Balapan?" Sinta menatap heran pada teman temannya, "Kamu ikut balapan lagi, Juan? Bukannya Risa ngelarang keras kamu buat ikut balapan ya?"
Juan melempar tatapan tajam kepada Reza dan Dio. Karena persoalan balapan ini adalah rahasia mereka saja. Tapi sekarang justru terbongkar di hadapan Sinta.
"Ups! Sepertinya ini rahasia kalian" ujar Sinta setelah mengetahui tatapan tajam yang di pancarkan Juan. Namun dalam hati Sinta bersorak sorak, karena dengan begini Sinta bisa memiliki alasan untuk kembali melukai perasaan Risa.
"Mulut, Lo tuh emberrr banget!" kesal Raka melempar kulit kacang yang kosong ke arah Dio.
"Eh, aku cuma jawab pertanyaan dia kali. Mana tahu kalau persoalan ini rahasia" elak Dio, "Lagian Lo ya, Za. Kalau mau bertanya mikir mikir dulu kenapa, ini kan rahasia"
Reza yang mendapat makian dari Dio hanya bisa garuk garuk belakang lehernya yang tak gatal. Dia sendiri juga tidak tahu jika hal ini juga di rahasiakan dari Sinta. Karena dia pikir hal ini hanya di rahasiakan dari Risa saja.
"Udahlah Juan. Kamu nggak perlu marah gitu sama mereka. Aku nggak bakal beri tahu Risa kok, lagi semua rahasia kamu juga pasti bakalan aman sama aku. Kita berteman berapa lama sih Juan, kenapa kamu masih aja sembunyiin banyak hal dari aku" keluh Sinta memulai drama baru. Juan sudah hafal sikap Sinta dengan baik, maka dari itu Juan menyembunyikan banyak hal dari Sinta. Mulut ember Sinta pasti akan membocorkan hal ini ke teman teman ceweknya.
"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Sinta menatap Juan.
"Jangan bocorkan rahasia ini" ucap Juan dengan nada dingin.
●●●
"Amplop apa itu, Ray?" tanya Ema, ibu Raya. Raya yang mendengar suara Ema langsung menoleh.
"Eh, Ibu... Kenapa nggak panggil Raya" ujar Raya seraya berdiri lalu membantu Ema mendorong kursi roda yang di gunakan Ema.
"Ibu bisa mendorong kursi ini sendiri, Nak" ujar Ema. Ema merasa sadar diri jika selama ini dia tak pernah bisa membantu putrinya. Yang Ema berikan kepada Raya hanyalah kesialan saja. Kedua kakinya yang mengalami lumpuh itu sangat menyulitkan hidup Raya.
Raya mengitari kursi roda Ema lalu duduk di kursi yang berada tepat depan Ema.
"Ibu, sebenarnya siapa orang baik hati yang selalu mengirimkan uang ini setiap bulan ya?" kata Raya yang kembali menatap amplop bewarna coklat itu. Setiap bulan Raya memang selalu mendapatkan kiriman uang dari orang misterius. Hanya Bu Fatma lah yang tahu tentang ini semua, namun sayangnya Bu Fatma telah meninggal satu tahun yang lalu.
"Ibu juga tidak tahu siapa orang itu. Dulu Ibu pernah bertanya kepada Bu Fatma, tapi Beliau hanya membalas dengan senyum tipis"
"Mungkinkah aku ini anak yang sengaja di buang di tempat ini? Mungkinkah aku bukan anak yatim piatu?" tanya Raya dengan berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya. "Kenapa kejelasan akan asal usulku sangat di rahasiakan. Tidak seperti anak anak lainnya"
"Kalaupun benar jika kamu bukanlah anak yatim piatu, dan anak yang sengaja di buang. Apa yang akan kamu lakukan, apa kamu akan mencari kedua orang tuamu?" tanya Ema rilih. Raya menatap Ema sedu. Dia bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Ema, meraih kedua tangan Ema. Perlahan matanya mulai berkaca kaca. Mendadak hatinya sangat sakit sekali.
"Aku akan mencari mereka, Ibu. Aku akan mempertanyakan akan alasan apa mereka membuangku. Apa aku ini anak yang tidak sengaja di buat? Hingga mereka membuangku kesini. Mereka pikir aku aib, mereka pikir--" buru buru Ema menutup mulut Raya. Ema menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah berjatuhan. Sakit sekali melihat putrinya kembali merasakan derita ini.
"Setidak pantas itukah aku sampai mereka membuangku, Ibu?" tanya Raya sedih. Hal yang paling sensitif di Rumah Singgah adalah persoalan orang tua dan kasih sayang. Kebanyakan semua anak di sini menangis karena dua faktor tersebut. Maka dari itu, sekuat dan setegar apapun sesosok Raya. Dia pasti akan lemah juga jika mencakup hal tersebut. Mungkin bagi banyak orang kasih sayang orang tua itu tidak ada artinya. Tapi bagi anak yang tumbuh di Rumah Singgah... Kasih sayang adalah hal yang segala galanya.
"Tidak Nak, tidak. Kamu adalah mutiara... Mereka bodoh jika membuang kamu ke sini. Kamu tidak ada nilainya, tidak ada duanya. Mereka tidak beruntung karena telah membuangmu. Ibu... Ibulah orang yang beruntung karena telah mendapatkan seorang anak sebaik kamu" ujar Ema setulus hati sembari mengusap pipi Raya, "I-ibu... Ibu ada di sini untuk kamu. Meski Ibu bukanlah Ibu kandung kamu, tapi Ibu sudah menganggap kamu seperti anak kandung Ibu sendiri."
Raya memeluk Ema, menumpahkan isak tangisnya kepada Ema. Hatinya sakit jika ia memikirkan soal orang tua. Sampai sebesar ini Raya tidak tahu menahu soal siapa jati dirinya. Berpikir jika ia adalah anak hasil zina membuat hatinya terasa di cabik cabik dengan pisau. Seorang bayi yang tak berdosa telah di besarkan di Rumah Singgah, bayi yang di sebut sebagai aib keluarga akan di buang Rumah Singgah. Ada banyak sekali luka pada bangunan Rumah ini. Rumah yang menjadi saksi bisu akan kesedihan banyak anak.
"Kalaupun orang tua kamu masih hidup, Ibu doakan kalian akan segera di pertemukan." kata Ema memandang nanar ke arah depan.
Orang tuaku sama sekali tidak memiliki hak atas aku, Ibu... Mereka kehilangan hak menjadi orang tuaku semenjak mereka membuangku ke tempat ini. Batin Raya.
Hati Raya yang telah lama membeku dan semakin hari akan semakin membeku. Selama ini yang Raya pikirkan hanyalah kebahagiaan dan kesejahteraan adik adiknya dan Ibunya. Dia lupa akan keadaannya sendiri. Tanggung jawab untuk menjadi tulang punggung di Rumah Singgah membuatnya tak bisa egois dengan memikirkan dirinya sendiri. Masa depan dari adik adiknya jauh lebih penting dari pada dirinya. Sejak Bu Fatma meninggal, Raya terpaksa putus dari sekolah. Dia banting setir dengan mencari pekerjaan serabutan. Setiap hari dia harua berkerja, tidak ada hari libur baginya. Semua hari itu sama, hari untuk bekerja. Raya bahkan tidak boleh sakit, dia harus menjadi yang paling kokoh untuk bisa menjadi penumpang bagi adik adiknya