Setelah pertemuan itu di kedai kopi, beberapa minggu berlalu. Andi terkadang masih membayangkan wajah Yuli yang tersenyum hangat, atau suara Rafli yang sering menyebutkan nama Tante Yuli setiap kali mereka lewat kedai itu. Ia mencoba tidak terlalu berpikir banyak—hidupnya sudah cukup sibuk dengan usaha catering dan mengurus Rafli, apalagi bulan puasa akan segera tiba dan permintaan makanan berbuka semakin banyak.
Sore itu, Andi sedang mengantarkan pesanan nasi kapau ke sebuah kantor kecil di Jalan Sungai Batang. Setelah menyerahkan pesanan dan menerima pembayaran, ia berniat langsung pulang untuk mengurus Rafli yang sedang dirawat oleh saudara perempuannya, Bu Lina. Namun, saat hendak memasuki mobilnya, ia melihat sosok wanita yang sedang membantu seorang nenek tua menyebrang jalan. Rambut yang disanggul rapi dan baju batiknya sangat akrab—itu adalah Yuli.
Andi secara tidak sengaja tersenyum dan berjalan mendekat mereka. "Maaf Bu Yuli, bolehkah saya membantu?"
Yuli terkejut melihatnya, kemudian senyum lebar. "Pak Andi! Tentu saja boleh. Nenek ini mau pulang ke rumahnya yang ada di gang belakang sini, tapi jalanannya agak licin karena baru saja hujan."
Bersama-sama mereka membantu nenek itu sampai di rumahnya. Setelah nenek mengucapkan terima kasih dan masuk ke dalam rumah, Yuli menoleh ke arah Andi dengan tatapan hangat.
"Terima kasih ya Pak Andi, kalau tidak ada kamu mungkin saya akan kesusahan sendiri," ujarnya sambil mengusap kain sarungnya yang sedikit kotor karena menyentuh tanah yang licin.
"Sama-sama Bu, itu yang seharusnya dilakukan saja," jawab Andi. Ia melihat Yuli yang sedang mengelus-elus lututnya seolah merasa sedikit sakit. "Kaki Bu tidak apa-apa kan?"
"Sedikit saja terkilir Pak, tapi tidak masalah. Klinik saya tidak jauh dari sini, saya bisa periksa sendiri nanti," jawab Yuli dengan senyum yang sedikit terpaksa.
Tanpa berpikir panjang, Andi mengajaknya. "Kalau begitu, saya antar saja Bu ke kliniknya ya. Biar lebih cepat dan aman."
Yuli sedikit ragu, tapi akhirnya menyetujuinya. Dalam perjalanan menuju klinik, mereka mulai berbincang santai. Yuli cerita bahwa nenek yang mereka bantu adalah pasien lama di kliniknya yang sering kesusahan berjalan sendirian.
"Saya selalu coba membantu kalau melihatnya Pak, karena nenek itu sudah tidak punya keluarga lagi yang tinggal di sini," ujar Yuli dengan nada penuh perhatian. "Seperti saya juga dulu... ketika baru menjadi janda, saya merasa sangat sendirian dan tidak punya orang yang bisa saya andalkan."
Andi merasa hati nya sedikit tertekan mendengarnya. Ia sendiri paham betul bagaimana rasanya hidup sendirian setelah kehilangan pasangan. "Saya mengerti rasanya Bu Yuli. Saat istri saya meninggal karena sakit, saya merasa dunia saya runtuh. Hanya Rafli yang membuat saya tetap kuat dan ingin terus hidup."
Mata Yuli menjadi sedikit merah, tapi ia segera tersenyum. "Betul sekali Pak. Anak-anak memang menjadi kekuatan kita bukan? Siti juga selalu bilang kalau dia akan menjadi dokter untuk merawat saya kelak. Padahal dia baru tujuh tahun saja."
Saat mereka sampai di klinik, Andi menawarkan untuk menunggu Yuli sampai selesai diperiksa. "Kalau tidak ada apa-apa, saya juga bisa antar Bu pulang nanti ya. Biar tidak ada masalah lagi dengan kaki Bu."
Yuli mengangguk dengan rasa terima kasih yang dalam. Selama menunggu, Andi melihat klinik kecil yang bersih dan rapi. Beberapa pasien lain datang dan pergi, semuanya disambut dengan ramah oleh perawat lain yang bekerja di sana. Ketika Yuli keluar, wajahnya sudah terlihat lebih rileks.
"Dokter bilang hanya sedikit terkilir saja Pak, sudah diberi obat dan perban," ujarnya sambil menunjukkan kaki yang sudah dibalut rapi. "Terima kasih banyak ya Pak Andi, sudah membantu saya dari tadi."
"Sama-sama Bu. Yuk, saya antar kamu pulang aja. Kalau boleh tahu, rumah Bu ada di mana?"
Yuli tinggal di sebuah kontrakan sederhana dekat daerah Kuranji, di belakang sebuah pasar buah. Rumahnya kecil tapi sangat rapi, dengan tanaman bunga yang ditanam di depan pintu. Saat mereka sampai, Andi melihat seorang perempuan tua yang sedang menyiram tanaman.
"Ibu, ini Pak Andi. Dia yang menolong saya tadi dan mengantar saya pulang," ujar Yuli pada perempuan tua itu.
"Wah terima kasih banyak ya Pak Andi," kata perempuan tua itu dengan senyum hangat. "Saya Ibu Aminah, penyewa rumah ini yang juga jadi seperti keluarga bagi Yuli. Kamu mau masuk sebentar saja tidak Pak? Saya akan sediakan es cendol."
Tak bisa menolak keramahan mereka, Andi masuk ke dalam rumah yang penuh dengan aroma kayu dan bunga. Saat duduk di teras kecil, ia melihat foto-foto Yuli dan Siti yang ditempel di dinding—ada foto mereka sedang bermain di pantai Air Manis, ada juga foto saat Siti menerima penghargaan di sekolahnya.
"Siti memang anak yang cerdas banget Bu," ujar Andi sambil melihat salah satu foto.
"Betul sekali Pak," jawab Yuli sambil menyajikan es cendol yang dingin dan manis. "Hanya saja saya merasa kurang bisa menemani dia karena kerjaan. Itu sebabnya saya sering mengirim uang dan barang ke neneknya agar dia tidak merasa kurang kasih sayang."
Ada sedikit kesedihan dalam suara Yuli, tapi segera ia kembali tersenyum. Mereka berbincang lama tentang kehidupan masing-masing, tentang Kota Padang yang mereka cintai dengan masakan khasnya yang lezat dan orang-orangnya yang ramah. Sampai akhirnya matahari mulai merunduk dan Andi harus pulang untuk menjemput Rafli dari rumah Bu Lina.
"Sampai jumpa lagi ya Pak Andi," ujar Yuli saat mengantarnya ke pintu gerbang. "Kalau ada waktu, boleh banget mampir lagi ke sini. Saya akan masak gulai kambing yang enak untuk kamu dan Rafli."
Andi tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja Bu Yuli. Saya juga akan mengajak Rafli datang, dia pasti senang sekali bertemu denganmu lagi."
Saat mengemudi pulang, hati Andi merasa lebih ringan dari biasanya. Udara sore di Kota Padang yang bercampur aroma buah dari pasar sebelah rumah Yuli seolah mengingatkannya akan sesuatu yang ia sudah lama rasakan—rasa ingin memiliki seseorang yang bisa berbagi cerita dan hidup bersama. Rafli yang sedang tertidur di kursi belakang tiba-tiba berbisik dalam tidurnya.
"Tante Yuli..."
Andi tersenyum dan menoleh melihat wajah Rafli yang damai. Mungkin, pikirnya, pertemuan mereka bukanlah sekadar kebetulan semata. Di tengah kota yang penuh dengan cerita dan harum makanan khasnya, mungkin ada cerita baru yang akan mulai terjalin antara dirinya dan Yuli.