Perempuan dengan selimut bayi itu sudah menghilang di tikungan ketika aku akhirnya berdiri. Kaivan ikut bangkit, tetapi aku mengangkat tangan agar dia menunggu. Ada sesuatu yang ingin kupastikan sebelum kami pulang, sesuatu yang tidak membutuhkan suara dari kaset atau tulisan seseorang yang sudah meninggal.
'Aku ingin melihat papan petunjuk,' kataku.
'Yang mana?'
'Ruang perawatan anak. Aku cuma ingin tahu letaknya.'
Kaivan memandang lorong, lalu kembali kepadaku. 'Kita masih bisa melakukannya lain hari.'
'Aku tahu.'
Dia tidak menghalangi. Kami berjalan sampai persimpangan koridor dan berhenti di bawah papan yang menunjukkan beberapa arah. Poliklinik anak berada di lantai berbeda. Aku mengingat sebuah pintu kaca, tetapi pintu yang terlihat sekarang terbuat dari kayu. Untuk sesaat aku merasa dikhianati bangunan yang bahkan belum mencapai tahun dalam ingatanku.
'Mungkin nanti direnovasi,' gumamku.
'Mungkin.'
Jawaban Kaivan tidak memberiku sesuatu untuk dipercaya atau dibantah. Aku menyukai itu sekaligus membencinya. Sebagian diriku masih ingin dia menunjuk satu arah dan berkata bahwa di sanalah semuanya terjadi. Bahwa aku tidak perlu lagi meragukan diri sendiri.
Aku menurunkan pandangan. Di dekat lift ada kursi roda kosong. Seorang petugas melipat selimut di atasnya, kemudian mendorongnya menuju ruang penyimpanan. Gerakan biasa itu membuatku teringat sesuatu yang kecil: aku pernah keluar dari rumah sakit sambil memegang kantong pakaian bayi, bukan menggendong Bintang.
Aku segera mengambil buku dan menuliskannya. Tidak ada tanggal yang dapat kupasang. Tidak ada kepastian apakah itu setelah persalinan atau pada hari lain.
'Mau kutuliskan?' tanya Kaivan ketika melihat tanganku gemetar.
'Biar aku. Aku takut nanti yang kuingat justru kata-katamu.'
Dia mengangguk. Kami berdiri di tepi lorong agar tidak menghalangi orang lewat. Setelah satu kalimat selesai, aku menutup buku dan meminta pulang. Tidak ada yang perlu kami cari di balik pintu perawatan hari itu. Pasien di sana memiliki hidup sendiri, dan dukaku tidak memberiku alasan memasuki hidup mereka.
Kami menunggu lift bersama seorang bapak yang membawa termos. Dia memberi jalan ketika pintu terbuka, kemudian berdiri di sudut sambil memeriksa jam. Aku ingin bertanya siapa yang sedang dia tunggu, tetapi menahan diri. Selama beberapa minggu terakhir setiap orang di rumah sakit terasa seperti bagian dari ceritaku. Padahal lelaki itu mungkin hanya ingin mengantarkan air hangat lalu pulang tidur.
Kaivan menekan tombol lantai dasar. Aku memperhatikan pantulan kami pada pintu logam. Dua orang dengan map dan wajah lelah, tidak berbeda dari pengunjung lain.
'Kamu menyesal menemaniku?' tanyaku tiba-tiba.
'Tidak. Tapi aku juga lelah.'
Jawaban itu membuatku terdiam sebelum mengangguk. Aku menghargai dia tidak mengubah kelelahan menjadi pengorbanan yang harus kubayar. Ketika pintu terbuka, aku menawarkan agar kami makan dahulu sebelum mengurus hal lain. Kaivan menerima tanpa bertanya apakah aku sedang merasa bersalah. Untuk hari itu, makan bersama mungkin bantuan paling masuk akal yang dapat kuberikan kepadanya.
Di lantai dasar, kami singgah ke bagian informasi untuk menanyakan permintaan catatan lama. Petugas menjelaskan bahwa rumah sakit tempat aku dirawat dahulu harus dihubungi secara terpisah. Nomor rekam medis lama akan membantu pencarian. Aku perlu mengirim permohonan menggunakan identitasku dan menyebut bagian yang diperlukan untuk konsultasi lanjutan.
Kaivan memegang map sementara aku menulis nomor layanan. Ketika petugas bertanya siapa yang akan mengambil jika salinan tersedia, dia menoleh kepadaku dan menunggu jawabanku.
'Saya sendiri, atau keluarga dengan izin saya,' kataku.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi membuat dadaku terasa lebih lapang. Dulu semua orang berbicara mengenai kesehatanku seolah aku tidak berada di ruangan. Sekarang namaku tidak hanya muncul pada sampul berkas; aku juga menentukan kepada siapa berkas itu boleh diberikan.
Kami makan di warung seberang rumah sakit. Aku memesan sup karena tenggorokanku masih sulit menelan. Kaivan memilih makanan yang sama, lalu memisahkan cabai dari piring kecil tanpa bertanya. Aku ingat tangannya melakukan hal itu di meja makan kami, ketika Bintang tidur dan kami berusaha makan sebelum dia kembali menangis.
'Jangan menatapku begitu,' ujarnya pelan.
Aku tersentak. 'Maaf.'
'Bukan karena aku keberatan. Aku hanya tidak tahu kamu sedang melihat aku yang sekarang atau seseorang dari ingatanmu.'
Aku meletakkan sendok. Selama ini aku terus menuntut Kaivan tidak memperlakukanku sebagai gadis remaja yang pernah dia sayangi. Rupanya aku juga sering tidak benar-benar melihat lelaki yang duduk di hadapanku.
'Tadi aku ingat meja makan kita,' jawabku.
'Ada hal buruk?'
'Tidak. Itu yang membuatku sedih.'
Kaivan menatap mangkuknya cukup lama. 'Kalau begitu kamu boleh cerita. Tapi sebutkan dulu kalau itu ingatan. Kadang aku merasa sedang mengikuti ujian dengan jawaban yang hanya kamu tahu.'
Aku ingin menyangkal, lalu menyadari dia tidak sedang menuduh. Dia sedang menunjukkan bagian hubungan kami yang selama ini tidak kulihat. Aku mengangguk dan mengatakan akan mencoba. Kami melanjutkan makan, lebih pelan daripada sebelumnya.
Sesudah Kaivan mengantarku ke kos, aku menelepon Bapak. Kuceritakan hasil konsultasi dan prosedur permintaan arsip. Bapak menawarkan mengurus semuanya karena lebih dekat dengan rumah sakit lama.
'Aku akan mengirim permohonannya dahulu,' kataku. 'Bapak boleh membantu mengambil kalau petugas mengizinkan. Tapi tolong jangan membukanya sebelum kita sepakat.'
Ada jeda di seberang. 'Kamu masih tidak percaya kepada Bapak?'
Pertanyaan itu membuatku menekan pangkal hidung. 'Aku sedang belajar percaya lagi. Aku butuh Bapak membantu dengan cara yang kuminta.'
Bapak menarik napas panjang, lalu menyanggupi. Aku tidak merasa menang setelah telepon ditutup. Rasanya lebih mirip meletakkan benda rapuh di tangan seseorang dan membiarkannya membuktikan bahwa kali ini dia akan berhati-hati.
Minggu kulewati bersama Hara di kos. Kami tidak membuka kaset. Dia membantuku mencocokkan nomor perawatan pada surat lama, kemudian menemaniku membeli map baru. Sore harinya kami memasak mi dengan terlalu banyak sayur karena Hara salah memperkirakan ukuran panci. Aku tertawa ketika kuah meluap. Tawa itu datang tanpa izin dari rasa bersalahku, dan untuk beberapa detik aku tidak berusaha menghentikannya.
Senin pagi, permintaan catatan terkirim melalui saluran yang diberikan petugas. Aku menuliskan tujuannya sebagai kelanjutan pemeriksaan riwayat kesehatanku. Tidak ada kata komet atau kehidupan lain. Yang kubutuhkan adalah apa yang tercatat ketika aku dirawat, bukan agar petugas mempercayai hal yang bahkan belum mampu kupahami.
Balasan diterima menjelang siang. Pencarian memerlukan beberapa hari, dan sebagian dokumen mungkin sudah tidak tersedia. Aku membaca kalimat tersebut dua kali sebelum menyimpan ponsel.
Di meja sebelah, Hara bertanya apakah aku kecewa.
'Iya. Tapi mereka tidak berjanji yang tidak bisa diberikan.'
Saat pulang, Kaivan mengirim pesan menanyakan apakah aku sudah makan. Aku membalas sudah, lalu menambahkan sesuatu yang lebih penting.
'Yang tadi siang kubayangkan adalah Bintang pulang pertama kali. Aku ingat ada kantong pakaian pada hari lain. Aku belum tahu hari apa.'
Kaivan membalas beberapa menit kemudian.
'Berarti kita mulai dari hari yang benar-benar kamu ingat. Kepulangan pertama.'