Aku tidak langsung menjawab pesan Kaivan. Kata pertama pada kalimatnya membuatku terus memikirkan sesuatu yang selama ini kulewati. Aku memang mengingat Bintang pulang. Aku mengingat rumah kami yang mendadak terasa terlalu terang, terlalu berdebu, terlalu penuh sudut yang ingin kulap sebelum seorang bayi diletakkan di dalamnya. Tetapi kapan aku mulai mengatakan dia tidak pernah pulang?
Dalam ingatan itu ada benda yang tidak pernah kubicarakan: sebuah gantungan kunci dengan satu sisi patah. Kaivan memasangkannya pada kunci rumah agar mudah ditemukan di dalam tas. Aku terus memintanya mengganti karena ujungnya tajam, tetapi dia lupa sampai aku akhirnya membungkusnya dengan pita kecil.
Aku mengingatnya bukan karena benda itu memiliki arti khusus. Justru karena kami pernah menghabiskan waktu memperdebatkan hal yang begitu remeh ketika masih mempunyai alasan untuk percaya bahwa hari esok akan menyerupai hari ini.
Aku menulis gantungan kunci di bawah judul halaman. Lalu kucatat bahwa aku tidak tahu apakah benda itu berasal dari hari pertama Bintang pulang atau hari lain. Aku boleh menyimpan kenangan tanpa memaksanya menjadi petunjuk. Sebagian hal mungkin hanya menunjukkan bahwa kami pernah hidup bersama, lelah bersama, dan lupa mengganti sesuatu yang sebenarnya mudah diganti.
Kesadaran itu membuatku sedih dengan cara yang lebih tenang. Rumah kami pernah berisi kehidupan biasa sebelum berubah menjadi tempat yang kutakuti.
Malam itu aku membuka buku ingatan dan menulis satu judul: hari pertama di rumah. Aku berhenti setelah judul selesai. Besok aku masih harus bekerja, dan kepalaku mulai terasa berat. Untuk pertama kali aku menutup buku sebelum merasa benar-benar kehabisan tenaga.
Selasa pagi, persoalan Pak Idrus kembali memenuhi ruang kerja. Kantor wilayah meminta kami menjelaskan perbedaan nilai alat pada proposal, faktur, dan perintah pemindahan. Satu alat sudah ditemukan, tetapi perusahaan penerima tidak setuju nilainya disebut sebagai pembayaran pembelian. Mereka mengatakan ada kewajiban lain di antara kedua perusahaan.
Aku dan Adri memeriksa dokumen yang memang berada dalam kewenangan kami. Aku tidak perlu mengetahui alasan setiap orang berbohong untuk menunjukkan angka yang tidak cocok. Pekerjaan itu lebih lambat daripada mengirim satu kalimat marah, tetapi hasilnya dapat digunakan oleh pemeriksa tanpa bergantung pada keyakinanku.
Menjelang siang, Pak Sam datang ke meja dan meminta tambahan penjelasan. Aku sempat menegang, mengira akan ada tekanan baru untuk memperhalus temuan. Ternyata dia hanya ingin memastikan kapan tim pertama kali menerima dokumen pemasok.
'Tuliskan termasuk jeda yang terjadi di meja saya,' katanya. 'Jangan hilangkan bagian itu karena saya pemimpin kalian.'
Aku memandangnya sesaat, lalu mengangguk. Pak Sam berjalan pergi sebelum aku sempat mengatakan apa pun. Aku teringat semua malam ketika aku dan Kaivan menanggung perkara ini seolah kesalahan hanya berada pada kami. Kini ada orang lain yang mulai mengambil bagiannya.
Sesudah laporan selesai, aku mengirim pesan kepada Kaivan. Aku ingin bercerita tentang kepulangan Bintang, tetapi tidak di ruang kantor. Dia mengusulkan duduk di tempat makan yang tenang setelah pekerjaan selesai. Aku menyetujui, lalu tetap menyelesaikan daftar tugasku sampai jam pulang.
Kami memilih meja di halaman belakang sebuah kedai. Tidak ada hujan, tidak ada bintang jatuh, hanya bunyi mesin pendingin dari bangunan sebelah. Kaivan meletakkan ponselnya menghadap ke bawah.
'Aku akan mendengarkan,' katanya.
'Kalau kamu punya pertanyaan, tanyakan. Tapi jangan membantu mengisi bagian yang kosong.'
'Baik.'
Aku mulai dari pintu rumah. Kaivan dalam ingatanku membuka pintu terlalu lebar sampai membentur penahan di dinding. Aku memarahinya karena takut suara itu membangunkan Bintang. Dia meminta maaf dengan cara berlebihan, membungkuk kepada bayi di dalam gendonganku, lalu membuatku tertawa meski tubuhku masih sakit.
'Kamu menggendongnya?' tanya Kaivan.
'Iya. Aku ingat berat kepalanya di lipatan siku. Kamu membawa tas dan menyuruhku menunggu karena lantai baru dipel.'
Aku berhenti sebentar. Ingatan itu mempunyai urutan yang dapat kuikuti. Pintu, sandal, lantai yang sedikit licin, lalu bantal yang kutaruh di sofa. Tidak seperti kilasan dari kaset, adegan ini menyimpan hal-hal kecil yang bahkan tidak penting bagi siapa pun selain kami.
'Bintang tidur?' tanyanya.
'Tidak lama. Kamu baru selesai membuatkan aku minum ketika dia menangis.'
Kaivan tersenyum. Aku menceritakan bagaimana dia kebingungan mencari kain kecil padahal kain itu tersampir di bahunya sendiri. Bagaimana aku marah karena dia ingin memotret segala sesuatu, kemudian meminta foto itu diperlihatkan saat dia berhenti mengambil gambar.
Senyumku hilang ketika menyadari foto-foto itu tidak ada di ponsel mana pun sekarang. Kaivan tidak meminta aku melanjutkan. Dia hanya menunggu sampai aku kembali mampu berbicara.
'Aku ingin sesuatu yang bisa kulihat,' kataku. 'Kadang aku takut lupa wajahnya. Sekarang malah takut wajah yang kuingat berasal dari lebih dari satu kehidupan.'
'Apa yang paling jelas?'
'Tangannya. Dan cara mulutnya bergerak sesudah minum.'
Aku mengangkat telapak tangan tanpa sadar. Kaivan melihatnya, kemudian menggeser tangannya ke tengah meja. Dia tidak meraihku. Aku yang menyentuh ujung jarinya, ringan sekali, seperti sedang mencoba mengingat ukuran tangan yang jauh lebih kecil.
Sentuhan itu berlangsung beberapa detik. Setelah menarik tangan, aku tidak merasa harus menjelaskan bahwa kami belum kembali bersama. Kaivan juga tidak memanfaatkan momen tersebut untuk menjanjikan rumah atau masa depan.
'Kamu ada di rumah beberapa hari?' tanyanya kemudian.
Aku mengangguk. Ada pagi-pagi yang kuingat. Ada pakaian dijemur, Bapak datang membawa makanan, dan Kaivan yang tertidur duduk setelah mengganti popok. Kehidupan itu tidak mungkin hanya sebuah perjalanan pulang yang kubayangkan. Bintang pernah menempati rumah, mengubah jadwal, suara, dan cara kami berjalan.
'Lalu setelah itu?' tanya Kaivan.
'Aku belum sanggup sampai sana.'
'Kita berhenti di sini.'
Pelayan mengantarkan makanan yang hampir kulupakan sudah dipesan. Kami makan sambil berbicara tentang laporan kantor. Rasanya janggal berpindah dari bayi yang telah meninggal ke harga alat berat, tetapi kehidupan memang terus meminta manusia melakukan hal yang biasa setelah sesuatu yang luar biasa menyakitkan.
Sebelum berpisah, aku menulis satu kesimpulan kecil pada buku. Aku mengingat Bintang hidup di rumah, bukan hanya dibawa melewati pintu. Kalimat itu tidak menjelaskan cerita lain yang diingat Ratna, tetapi memberiku sesuatu yang lebih kokoh untuk dibawa ke pertemuan berikutnya.
Rabu siang, petugas arsip menghubungiku. Berkas perawatan dasarnya ditemukan. Bagian catatan wawancara masih perlu dicari dalam penyimpanan lain karena dahulu konsultasi dilakukan melalui layanan yang berbeda.
'Kami belum bisa memastikan semuanya ada, Bu,' katanya.
Aku menyanggupi menunggu dan mengirim dokumen tambahan yang diminta. Sesudah telepon berakhir, aku menelepon Bapak untuk memberi kabar. Dia tidak bertanya mengenai isi permohonan, hanya memastikan aku sudah makan.
Aku hampir menutup sambungan ketika Bapak berkata pelan, 'Dulu kamu juga selalu memulai cerita dari pintu rumah. Lalu mendadak berhenti pada tas yang belum sempat dibongkar.'
Tas yang belum sempat dibongkar. Aku menuliskan kalimat itu di bawah cerita tentang kepulangan pertama, lalu membiarkan halaman berikutnya tetap kosong.