Kalimat Bapak mengenai tas tidak langsung berubah menjadi gambar di kepalaku. Aku menunggu beberapa saat, lalu merasa kesal karena ingatan tidak mau datang ketika diminta. Biasanya justru sebaliknya. Saat berada di lift atau sedang menghitung angka, sebuah suara dari masa depan dapat muncul dan membuatku lupa di mana aku berdiri.
Kamis sore aku menyampaikan kekesalan itu dalam sesi konseling. Aku merasa seperti mengulur waktu, padahal mungkin sesuatu yang penting sudah menunggu di balik bagian yang kosong.
'Apa yang Anda takutkan terjadi kalau hari ini belum ingat?' tanya psikolog.
Aku membutuhkan waktu untuk menjawab. 'Saya takut kesempatan ini habis sebelum saya tahu cara menyelamatkan Bintang.'
'Ada batas waktu yang sudah Anda ketahui?'
'Tidak. Hanya perasaan.'
Mengakuinya membuatku malu sekaligus lega. Banyak keputusan yang tampak mendesak ternyata berasal dari ketakutan yang tidak mempunyai tanggal. Aku terus merasa harus berlari, padahal aku belum tahu sedang mengejar apa.
Sepulang dari klinik, aku tidak membuka buku. Aku membeli makan dan mencuci piring, lalu menonton acara televisi yang tidak benar-benar kuikuti. Sekitar pukul sembilan, Kaivan mengirim pesan menanyakan apakah aku ingin mendengar kabar mengenai arsip dari Bapak. Aku mengiyakan.
Ternyata Bapak baru saja menghubunginya untuk menanyakan apakah ia masih menyimpan surat konsultasi lama. Kaivan menjawab bahwa semua yang dimilikinya sudah diberikan kepadaku. Dia menceritakan percakapan itu agar aku tidak merasa mereka kembali mengatur sesuatu tanpa sepengetahuanku.
'Terima kasih sudah bilang,' balasku.
Aku hampir menelepon Bapak dalam keadaan marah, lalu berhenti. Mencari lembar rujukan tidak sama dengan memutuskan isi pemeriksaanku. Aku mengirim pesan untuk meminta agar pencarian dokumen berikutnya dibicarakan dalam grup kecil yang sudah kami sepakati. Bapak menyanggupi tanpa memperpanjang pertengkaran yang bahkan belum terjadi.
Jumat siang, rumah sakit lama memberi kabar bahwa beberapa lembar catatan konsultasi ditemukan. Aku diminta memeriksa kembali identitas dan menyatakan siapa yang boleh mengambil salinannya. Aku memberikan izin kepada Bapak. Pesan yang kukirim sesudah formulir selesai hanya berisi permintaan agar amplop dibawa dalam keadaan tertutup.
Bapak membalas dengan foto tangannya yang memegang tanda terima. Tidak ada foto isi kertas. Aku lama memandang gambar itu. Kepercayaan ternyata tidak selalu terasa hangat; kadang ia terasa seperti kegelisahan yang sengaja tidak segera diakhiri dengan mengambil alih.
Sabtu, Bapak datang bersama Mama untuk pemeriksaan yang sudah dijadwalkan di kota sekaligus membawakan amplopku. Mereka memilih menunggu di tempat menginap setelah pemeriksaan selesai. Aku menemui mereka sore hari dengan makanan dan pakaian bersih yang sempat kutitipkan untuk dicuci.
Bapak meletakkan amplop di meja sebelum memelukku. Segelnya masih utuh.
Mama menyuruh kami makan dahulu. Aku sempat menolak karena ingin segera melihat isi amplop, tetapi Bapak sudah menarik kursi dan membuka kotak makanan. Dia tampak lebih kurus daripada ketika terakhir kutemui, meski warna wajahnya tidak sepucat dalam ingatan tentang ruang perawatan pada 2020.
'Jangan diperhatikan terus,' katanya saat menangkap tatapanku. 'Bapak jadi merasa seperti tugas praktikum.'
Aku tersenyum dan mengambilkan air. Kami membahas pemeriksaan hari itu, obat yang masih harus diminum, dan rencana pulang. Tidak ada kepastian besar yang bisa dibawa pulang dari kontrol, tetapi ada jadwal berikutnya dan beberapa keluhan yang telah disampaikan kepada dokter.
Saat makan selesai, Bapak menawarkan membantu merapikan meja. Aku membiarkannya membawa piring yang ringan. Dia tidak harus duduk tanpa melakukan apa pun hanya karena aku takut kehilangan dirinya. Melihatnya berjalan ke tempat cuci membuatku menyadari bahwa merawat seseorang juga berarti membiarkannya tetap menjadi dirinya sendiri.
'Bapak tidak membukanya,' katanya.
'Aku lihat.'
'Rasanya ternyata tidak enak menunggu sesuatu yang menyangkut anak sendiri.'
Aku memeluknya lebih erat. Untuk sekali ini aku tidak ingin menjawab dengan kalimat yang menunjukkan dia pantas merasakan hal tersebut. Aku hanya berterima kasih, lalu duduk di sampingnya.
Kami membuka amplop bersama setelah aku meminta Mama tetap tinggal. Isinya jauh lebih sedikit daripada yang kubayangkan. Ada ringkasan perawatan, salinan surat konsultasi, dan beberapa halaman catatan singkat. Tidak ada penjelasan lengkap tentang siapa aku ketika waktu berulang. Tulisan para petugas berisi potongan pengamatan, pertanyaan, serta ucapan yang dicatat seperlunya.
Aku menemukan namaku, usia saat dirawat, dan kalimat mengenai cerita tentang seorang bayi. Pada satu lembar tertulis bahwa aku menyebut membawa bayi pulang. Pada lembar lain terdapat ucapan tidak membawa bayi pulang, lalu catatan bahwa urutan peristiwa belum dapat dipastikan.
Kata tidak pernah tidak ada di sana.
'Ratna mengatakannya sebagai ingatan, bukan membaca lembar ini,' gumamku.
Bapak mendekatkan kertas. 'Mungkin beliau merangkumnya begitu setelah sekian lama.'
Aku mengangguk. Perbedaan kecil itu tidak membuat Ratna berbohong. Namun, selama beberapa hari aku sudah membayangkan sebuah kehidupan tempat Bintang tidak pernah melewati pintu rumah. Barangkali ada kata yang hilang di antara tidak membawa pulang dan tidak pernah membawa pulang.
Di bawah catatan terdapat rujukan kepada kelanjutan wawancara, tetapi lembar yang disebut tidak termasuk salinan yang kami terima. Aku menuliskan pertanyaan untuk petugas, bukan langsung menganggap halaman itu sengaja disembunyikan. Arsip yang tersisa memang tidak lengkap. Kekecewaan tetap ada, tetapi kali ini tidak otomatis mempunyai wajah untuk kusalahkan.
'Apa Bapak ingat aku bicara tentang tas?' tanyaku.
'Bapak ingat kamu meminta agar tas tidak dibongkar. Tapi Bapak tidak tahu tas yang mana.'
Mama mengambil cangkir kosong dari meja. 'Waktu Aries kecil, tas perlengkapannya kadang tetap penuh berhari-hari setelah kami pulang. Aku terlalu lelah membongkarnya. Benda semacam itu bisa muncul di banyak hari, Git.'
Aku menatap tas di kakiku. Benar. Selama ini aku memperlakukan setiap benda seperti alamat yang hanya mempunyai satu tujuan. Padahal tas yang sama dapat kubawa ketika melahirkan, saat kontrol, atau pada hari lain yang belum berani kuingat.
Kami menyimpan salinan setelah memberi penanda pada bagian yang ingin kutanyakan kepada Ratna. Bapak mengusulkan agar aku tidak pulang ke kos sendirian malam itu. Aku memilih tinggal sampai makan malam selesai, kemudian meminta Hara menjemput sesuai rencana. Bapak menerima pilihan tersebut.
Di dalam mobil, aku menceritakan perbedaan kalimat pada arsip. Hara mendengarkan tanpa buru-buru membuat teori.
'Jadi kita belum tahu dua cerita itu benar-benar dua kehidupan?' tanyanya.
'Belum. Tapi catatan tentang mengganti tanggal tetap ada. Aku tidak bisa membuang semuanya hanya karena satu kalimat berbeda.'
'Kita juga tidak perlu menyelesaikan semuanya dengan satu jawaban.'
Malam itu aku memotret dua baris pada salinan dan mengirimkannya kepada Kaivan. Aku menjelaskan bahwa akan kubawa ke konsultasi lanjutan. Dia membalas dengan pertanyaan yang tidak terpikir olehku saat membaca.
'Kalau Bintang sudah pernah pulang, ucapan tidak membawanya pulang itu mungkin berasal dari kunjungan rumah sakit yang lain?'
Aku membaca pesan tersebut sambil memegang tas di pangkuan. Ada bunyi ritsleting dalam ingatanku, lalu suara seseorang berkata pakaian bayi tidak perlu dikeluarkan dahulu.
Aku belum melihat wajahnya. Tetapi kali ini aku tidak merasa harus memaksanya muncul sebelum tidur.