Minggu pagi aku terbangun sebelum alarm. Tidak ada mimpi yang dapat kuingat, hanya perasaan bahwa sebuah percakapan berhenti tepat sebelum aku mendengar bagian terpentingnya. Aku membuat teh, lalu membaca ulang pesan Kaivan. Kunjungan rumah sakit yang lain. Kalimat itu masuk akal, tetapi masuk akal tidak selalu berarti benar.
Aku menulisnya sebagai pertanyaan di halaman terpisah. Setelah itu aku menelepon Mama untuk memastikan perjalanan pulang mereka lancar. Bapak sempat menyela dengan keluhan mengenai kursi kendaraan yang terlalu tegak. Aku mendengarkan sampai mereka tiba, lalu menutup telepon tanpa meminta pemeriksaan obat untuk kedua kalinya. Mama sudah mendampinginya. Aku boleh menyerahkan satu bagian kekhawatiran kepada orang lain.
Siang harinya Kaivan mengajak bertemu untuk mengembalikan map yang masih berada di mobilnya. Aku memilih kedai dekat kos agar bisa pulang sendiri jika lelah. Dia datang membawa map dan sebuah buku kecil miliknya, tetapi tidak meletakkan buku itu di meja.
'Catatan konseling?' tanyaku sebelum sempat menahan diri.
'Iya.'
'Maaf. Kamu tidak perlu menjelaskan.'
Kaivan tersenyum sedikit. 'Tidak apa-apa bertanya. Aku hanya belum ingin membahas isinya.'
Aku mengangguk. Rasanya aneh menghormati pintu yang sengaja belum dibuka ketika selama ini aku sibuk menuntut semua pintu dibuka. Kaivan tetap berhak mempunyai ruang yang tidak berisi diriku atau Bintang.
Kami membicarakan pesan semalam. Aku mengatakan bahwa usulnya membuatku teringat pakaian bayi yang masih berada dalam tas, tetapi aku belum tahu kapan. Kaivan terlihat hendak menanyakan sesuatu, kemudian memilih meminum air dahulu.
'Apa?' tanyaku.
'Aku takut pertanyaanku malah membuatmu menyusun gambar sesuai keinginanku.'
'Kalau pertanyaan biasa, boleh. Kalau kamu sudah punya jawaban yang ingin kudengar, bilang saja.'
Dia tertawa kecil, tanpa kegembiraan penuh. 'Aku ingin jawaban bahwa kita masih bisa memperbaiki semuanya. Jadi mungkin hari ini aku harus lebih banyak diam.'
Kejujuran tersebut membuat tenggorokanku terasa berat. Aku juga menginginkan jawaban itu. Hanya saja aku terlalu takut mengakuinya karena harapan pernah membawaku begitu dekat dengan rasa sakit.
'Kadang aku merasa kamu menunggu keputusan yang bahkan belum berani kubuat,' kataku.
'Tentang kita?'
Aku mengangguk.
Kaivan memandang halaman kedai. 'Aku masih berharap. Aku tidak mau berbohong soal itu. Tapi kalau setiap aku menemanimu kamu merasa sedang berutang jawaban, aku harus mengubah caraku menemani.'
'Aku juga harus bilang kalau mulai merasa begitu. Bukan mendadak marah ketika kamu tidak tahu sebabnya.'
Dia tersenyum sedikit. 'Sepertinya kita sedang belajar hal yang seharusnya sederhana.'
'Mungkin buat orang lain sederhana.'
Kami terdiam ketika pelayan meletakkan minuman. Aku memperhatikan embun pada gelas, lalu mengusapnya dengan ujung jari. Tidak ada kata yang cukup aman untuk menjanjikan hubungan kepada Kaivan. Namun, aku dapat mengatakan bahwa hari ini aku memilih datang karena ingin berbicara dengannya, bukan karena surat lama menyuruhku.
Kaivan mengangguk setelah mendengarnya. Dia tidak meminta penjelasan lebih jauh. Untuk beberapa saat, meja di antara kami hanya berisi dua minuman dan percakapan yang belum selesai, sesuatu yang masih mempunyai ruang untuk diteruskan lain hari.
Seorang pelayan lewat membawa tumpukan kain bersih. Bau pelembut dari kain itu memicu gambar yang jauh lebih jelas daripada ritsleting semalam. Aku melihat sebuah tas di bawah bangku rumah sakit. Di dalamnya ada pakaian Bintang yang sudah kucuci di rumah. Salah satu kain mempunyai benang terlepas di sudut, benang yang pernah kupotong karena takut melilit jarinya.
Aku segera menulis sebelum gambar hilang. Pakaian itu bukan perlengkapan baru yang kubawa menjelang persalinan. Aku mengenali bagian yang sudah dipakai, dicuci, dan dilipat kembali.
'Aku ingat mencucinya,' kataku kepada Kaivan.
Dia menunggu.
'Bukan berarti aku sudah tahu kapan tas itu dibawa. Tapi kainnya pernah dipakai Bintang di rumah.'
Aku menangis setelah mengatakannya. Kaivan menyodorkan tisu. Dia tidak mengatakan bahwa teorinya benar, dan aku bersyukur karena belum sanggup menerima suara kemenangan dalam percakapan mengenai anak kami.
Kami menghentikan pembicaraan sampai makanannya datang. Aku memaksa diri mencicipi beberapa suap, kemudian menyadari rasanya benar-benar enak. Rasa lapar yang kembali terasa tidak mengurangi keberadaan Bintang. Pikiran sederhana itu masih harus kupelajari berulang kali.
Sore, Ibu Rieka menelepon Kaivan ketika kami bersiap pulang. Dia menanyakan apakah map milik ayahnya sudah dikembalikan ke tempat semula. Kaivan menjawab, lalu memandangku saat ibunya ingin menyapa. Aku mengangguk dan menerima ponsel.
'Bagaimana setelah bertemu dokter, Gita?' tanyanya.
'Masih ada catatan yang perlu dilengkapi, Bu.'
'Kalau lelah, istirahat dulu. Kaivan juga pulang dengan wajah seperti habis berjalan jauh setiap kali kalian membahasnya.'
Kalimat itu menusuk sebelum aku sempat memikirkannya. Aku mendengar tuduhan yang tidak dia ucapkan: aku yang membuat anaknya lelah, aku yang membawa kesedihan ke rumah mereka. Tangan yang memegang ponsel menegang.
'Saya tidak memintanya terus menemani,' jawabku terlalu cepat.
Di seberang, Ibu Rieka terdiam. Kaivan melihat perubahan wajahku dan tidak langsung merebut ponsel.
'Ibu tidak mengatakan begitu,' ujar perempuan itu akhirnya. 'Ibu khawatir kepada kalian berdua.'
Aku memejamkan mata. 'Maaf. Saya mendengar kalimat Ibu dengan ingatan yang lain.'
Ibu Rieka menarik napas. Dia sudah mendengar rekaman tentang kehilangan, tetapi tidak mengetahui semua hal yang pernah dia katakan kepadaku pada 2020. Aku tidak sanggup menguraikannya di tepi jalan.
'Tidak apa-apa kalau belum bisa bicara sekarang,' katanya.
Aku mengembalikan ponsel setelah mengucapkan terima kasih. Kaivan menyelesaikan panggilan dengan singkat, lalu menunggu di dekat pagar kedai.
'Ibuku pernah menyalahkanmu?' tanyanya pelan.
Aku mengangguk. 'Katanya aku lebih mementingkan pekerjaan. Aku mendengar itu begitu sering sampai setiap kali mengingat Bintang, kantor juga ikut muncul.'
'Aku tidak akan menelepon Ibu untuk menuntut penjelasan tentang sesuatu yang belum dia ingat,' katanya. 'Tapi kalau perkataannya sekarang menyakitimu, kamu boleh bilang.'
'Aku baru saja melakukannya dengan buruk.'
'Kamu juga sudah menjelaskannya.'
Dalam perjalanan pulang, aku berjalan beberapa langkah di sampingnya sebelum kami berpisah. Tidak ada pelukan. Namun, aku merasa lebih sedikit membawa percakapan itu sendirian.
Malamnya, sambil mencuci cangkir, aku mendengar lagi suara yang selama ini bercampur dengan tuduhan Ibu Rieka. Kali ini berbeda. Suara Kaivan, jauh lebih muda daripada suara dalam pertengkaran terakhir kami, mengatakan tas dibiarkan di bawah bangku karena besok masih diperlukan.
Besok. Ada hari lain setelah kami datang ke rumah sakit.
Aku mengeringkan tangan, mengambil buku, dan menuliskan kata itu. Jika ingatan ini benar, ucapan tidak membawa Bintang pulang tidak otomatis berarti hari pertama setelah dia dilahirkan. Ada waktu yang selama ini kupadatkan menjadi satu kejadian karena aku tidak sanggup memikirkan panjangnya penantian.
Aku tidak menelepon Kaivan tengah malam. Kutulis pesan untuk dikirim pagi hari, lalu duduk sampai napasku kembali teratur.