Pesan untuk Kaivan kukirim setelah matahari terbit. Aku menyebut pakaian yang sudah dicuci, tas di bawah bangku, dan kata besok. Tidak ada kesimpulan mengenai berapa lama Bintang dirawat. Kaivan membalas bahwa dia akan membaca saat sampai kantor, lalu memintaku membawa catatan itu kepada Ratna.
Senin berlangsung dengan pekerjaan yang tidak dapat kutunda. Ada nasabah lain yang membutuhkan penjelasan mengenai fasilitas usahanya, sementara perkara Pak Idrus tetap berjalan di kantor wilayah. Aku menyelesaikan tugas satu per satu. Setiap kali ingin membuka ponsel, aku mengingatkan diri bahwa arsip rumah sakit tidak akan lebih cepat ditemukan karena layarnya terus kutatap.
Menjelang sore, balasan dari petugas akhirnya masuk. Lembar lanjutan yang kutanyakan tidak ditemukan pada pencarian tambahan. Namun, salinan yang sudah diberikan memang merupakan bagian catatan konsultasi, bukan ringkasan utuh semua wawancara. Aku mengucapkan terima kasih dan meneruskan kabar itu kepada Ratna melalui saluran yang diperbolehkan.
Konsultasi lanjutan dijadwalkan Rabu. Dua hari menunggu kulewati dengan menata urutan yang sudah mampu kutulis. Bintang lahir. Bintang berada di rumah. Pakaian dipakai dan dicuci. Ada kunjungan ke rumah sakit ketika tas berisi pakaian yang sama. Sesudah itu bagian-bagiannya masih terlepas.
Aku sengaja tidak memasukkan tanggal dari kaset ke celah yang kosong. Tanggal-tanggal itu tetap ada di halaman lain. Jika semuanya dipaksa cocok, aku hanya akan mendapatkan cerita yang rapi, belum tentu kejadian yang benar-benar kualami.
Rabu pagi aku datang bersama Hara. Kaivan memiliki jadwal kerja yang tidak bisa ditinggalkan dan mengatakan akan menelepon setelah selesai. Aku sempat kecewa, lalu menyadari dia tidak sedang meninggalkanku di rumah sakit tanpa kabar. Kami sudah membicarakannya, dan aku memilih tetap datang sesuai jadwal.
Hara membawa majalah lama dari mobil dan membukanya di ruang tunggu. Dia tidak terus-menerus bertanya apakah aku cemas. Sesekali dia memperlihatkan foto pakaian yang menurutnya terlalu mahal untuk bentuk yang begitu aneh, lalu membuat komentar yang nyaris membuatku tertawa keras.
'Ferdi tahu kamu bolos sebentar?' tanyaku.
'Aku izin kerja. Dan Ferdi tahu aku mengantar teman, bukan pergi menikah diam-diam.'
Aku tertawa, kemudian menutup mulut karena beberapa orang menoleh. Hara hanya mengangkat bahu. Di rumah sakit ini aku ternyata masih bisa tertawa. Fakta kecil itu tidak menyembuhkan apa pun, tetapi membuat ruang tunggu terasa berbeda dari tempat dalam ingatanku.
Ketika namaku dipanggil, Hara merapikan majalah dan mengatakan akan tetap di kursinya. Aku menyerahkan botol air yang tidak ingin kubawa masuk, lalu berjalan sendiri menuju pintu. Kali ini aku tidak perlu memastikan berulang kali bahwa seseorang masih berada di belakangku.
Ratna membaca salinan sebelum bertanya mengenai keluhan beberapa hari terakhir. Aku menyampaikan ingatan tentang kain dan tas, kemudian menunjuk perbedaan kalimat pada catatan lama.
'Di sini tidak tertulis tidak pernah,' kataku.
Ratna mengangguk. 'Benar. Waktu pertemuan sebelumnya saya menyampaikan yang saya ingat. Kata itu mungkin bagian dari cara saya merangkumnya sekarang. Terima kasih sudah menunjukkan catatannya.'
Aku merasakan sesuatu mengendur di dada. Pengakuan sederhana itu jauh lebih membantu daripada penjelasan panjang yang mempertahankan setiap ucapan.
'Jadi dua cerita itu bisa berasal dari dua kali datang ke rumah sakit?'
'Bisa. Catatan yang ada belum cukup menentukan. Saya juga tidak ingin menjadikan kemungkinan baru ini sebagai jawaban yang harus kamu penuhi.'
Kami melihat urutan yang kutulis. Ratna meminta aku membedakan ingatan langsung, ucapan dalam rekaman, dan hal yang disampaikan orang lain. Aku mengenali sebagian besar tanpa kesulitan. Ketika sampai pada pakaian, aku berhenti karena gambarnya kembali membuat mataku panas.
'Saya ingat bau sabunnya,' kataku. 'Saya juga ingat kesal karena tasnya berat, lalu merasa bersalah karena sempat mengeluh.'
'Mengeluh tas berat tidak memberi tahu kita alasan bayi dirawat,' ujar Ratna. 'Kita tidak perlu menambahkan penilaian pada setiap bagian yang kamu ingat.'
Aku menunduk dan menghapus kalimat aku seharusnya tidak mengeluh dari catatan kecilku. Kata-kata tersebut ternyata kutulis seolah merupakan bagian kejadian, padahal itu hukuman yang baru kujatuhkan kepada diri sendiri.
Pertemuan hari itu tidak menentukan penyebab Bintang meninggal. Ratna tetap membahas riwayat ingatan dan tindak lanjut pemeriksaanku, sementara rincian mengenai bayi hanya dapat menjadi cerita yang sedang kucoba pahami. Namun, satu pertanyaan akhirnya menjadi lebih jelas: kepulangan mana yang kumaksud ketika mengatakan aku tidak membawanya pulang?
Hara menungguku di luar. Kami makan siang sebelum kembali ke kantor. Aku menceritakan bahwa Ratna mengakui kemungkinan kata tidak pernah berasal dari ingatannya sendiri, bukan catatan yang dibaca dahulu.
'Bagaimana rasanya?' tanya Hara.
'Lega. Dan takut, karena berarti ingatan semua orang bisa bergeser.'
'Termasuk ingatan yang menyalahkanmu.'
Aku memegang sendok tanpa bergerak. Selama ini aku menggunakan ketidakpastian hanya untuk meragukan hal yang baik: apakah Kaivan pernah mencintaiku, apakah aku benar-benar merawat Bintang, apakah aku mengingat rumah kami dengan benar. Tuduhan yang menyakitkan justru kubiarkan tetap pasti.
Sore harinya Kaivan menelepon. Aku meminta bertemu sebentar di taman dekat kantor. Kami duduk dengan pakaian kerja yang sudah kusut, mendengarkan petugas menyapu daun di jalur pejalan kaki.
Aku menceritakan hasil konsultasi dan kata yang mungkin telah ditambahkan tanpa sengaja. Kaivan menarik napas panjang. Dia tidak mengatakan sekarang kami tahu semuanya.
'Ada satu bagian yang baru berani kuingat,' kataku.
Dia menoleh.
'Aku pulang membawa tas itu. Pakaiannya masih ada di dalam. Tapi ada kaus kecil yang tidak kubawa karena masih dipakai Bintang.'
Suara dari taman terasa menjauh. Aku melihat tanganku membuka lemari di rumah, lalu berhenti karena tidak tahu harus meletakkan tas di mana. Bintang tidak berada di ranjangnya. Aku datang dari rumah sakit tempat dia dirawat, bukan dari perjalanan pertama sesudah melahirkan.
Air mataku jatuh. Kaivan menunggu sampai aku mengulurkan tangan. Kali ini dia menggenggamnya, tidak terlalu erat, dan tidak mengatakan apa pun yang membuatku harus berhenti menangis.
'Aku pernah membawanya pulang,' bisikku. 'Lalu ada kepulangan lain yang tidak bersamanya.'
Kalimat itu tidak menghapus kemungkinan lingkaran waktu yang lain. Kaset dan perbedaan tanggal tetap belum terjawab. Tetapi setidaknya aku tidak perlu menghapus hari-hari Bintang di rumah hanya untuk membuat satu ucapan terdengar benar.
Kami duduk sampai petugas menyelesaikan pekerjaannya. Ketika aku sudah lebih tenang, Kaivan bertanya apakah aku ingin diantar pulang. Aku mengangguk. Tubuhku lelah dengan cara yang berbeda dari setelah mendengar rekaman; lelah karena akhirnya membiarkan satu kenangan mempunyai tempatnya sendiri.
Di perjalanan, sebuah panggilan masuk ke ponsel kerja Kaivan. Dia tidak menjawab sambil mengemudi. Bunyi dering itu membuatku teringat meja kantorku, layar yang menyala, dan nama Ibu Rieka pada hari yang lain. Aku pernah menerima kabar tentang Bintang ketika masih bekerja.
Namun, kali ini ada kata yang sebelumnya tidak kudengar dengan utuh.
Kembali.
Bintang dibawa kembali ke rumah sakit.
Aku memegang tas di pangkuan dan memandang jalan. Pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah anakku pernah pulang. Aku perlu mengingat apa yang terjadi di antara kepulangan pertama dan panggilan yang membuatku meninggalkan kantor hari itu.