'Kai, berhenti sebentar.'
Kaivan menoleh sekilas, lalu kembali memperhatikan jalan. Dia tidak menginjak rem mendadak. Mobil dibawanya sampai ke area parkir sebuah minimarket sebelum mesin dimatikan. Ponsel kerjanya sudah berhenti berdering, tetapi bunyinya masih terasa berada di dalam kepalaku.
'Kamu mual?'
'Aku ingat telepon itu.'
Tanganku menekan tas di pangkuan. Di luar kaca, seorang pegawai sedang mengganti kantong tempat sampah. Aku memandangi gerakannya agar tetap mengetahui di mana tubuhku berada sementara pikiranku mulai mendatangkan ruangan lain.
Mejaku. Sebuah layar komputer. Dokumen terbuka dan gelas air yang hampir tersenggol ketika aku berdiri. Nama Ibu Rieka muncul pada ponsel. Aku mengangkat sebelum panggilan berakhir. Selama ini yang tertinggal dari hari itu hanya kenyataan bahwa aku berada di kantor, seolah lokasi itu sudah cukup untuk menjelaskan semua kesalahanku.
'Ibumu mengatakan Bintang dibawa kembali ke rumah sakit,' kataku. 'Aku mendengar kata kembali dengan jelas.'
Kaivan mengangguk. 'Lalu apa yang kamu lakukan?'
'Aku berdiri.'
Jawaban sesederhana itu membuat air mataku jatuh. Aku berdiri. Aku tidak menyelesaikan rapat atau sengaja menunggu hingga pekerjaan habis. Setidaknya dalam potongan yang mulai terbuka ini, tubuhku langsung bergerak ketika mendengar nama anakku.
Aku mengambil buku, tetapi Kaivan menahan ujungnya agar tidak jatuh. Dia tidak mengambil alih pena. Kami duduk dalam mobil yang mulai hangat sampai aku menulis tiga hal: panggilan kujawab, aku berdiri, gelas hampir jatuh.
'Ada suara lain?' tanyanya.
'Ibumu bilang mereka sudah bersama dokter. Aku diminta datang.'
'Apakah dia menyebut aku?'
Aku mencoba mengingat dan segera menggeleng. Wajah Kaivan terlihat tegang, tetapi dia tidak mengulangi pertanyaan. Tidak semua kekosongan harus diisi pada percobaan pertama.
Aku meletakkan buku di paha dan memejamkan mata sebentar. Ada suara kursi bergeser. Seseorang mengambil kertas dari tanganku. Aku tidak ingat siapa, hanya kalimat bahwa urusan itu dapat dikerjakan kemudian. Aku berjalan ke lift dengan jari yang salah menekan tombol beberapa kali.
'Aku pergi dari kantor,' bisikku.
Kaivan memandangku lama. 'Kamu selama ini mengingat apa?'
'Aku mengingat tuduhan bahwa aku lebih memilih bekerja. Lama-lama aku cuma melihat mejaku setiap kali memikirkan hari itu.'
Dia menunduk. Aku tahu dia sedang memikirkan ibunya, juga dirinya sendiri yang pernah ikut menyalahkanku. Tetapi lelaki di sampingku tidak memiliki kalimat pembelaan dari masa depan. Dia hanya dapat mendengarkan bagian yang baru berani kubuka.
Kaivan bertanya apakah aku mau air. Aku mengangguk. Dia turun membeli dua botol dan sekotak tisu, lalu kembali tanpa menelepon siapa pun. Aku sempat takut dia akan menghubungi Ibu Rieka untuk menanyakan panggilan yang belum pernah dibuat perempuan itu. Ketika pintu mobil tertutup, aku mengakui ketakutan tersebut.
Di antara botol yang dibelinya ada roti kecil. Kaivan meletakkannya di dekat rem tangan dan baru kemudian menyadari salah mengambil rasa. Dia menatap bungkusnya, lalu menertawakan diri sendiri dengan suara pendek.
'Aku pikir tadi yang biasa kamu beli.'
'Aku bisa makan yang itu juga.'
'Kamu tidak perlu menghabiskannya karena aku salah.'
Aku mengambil roti dan membuka sedikit bungkusnya. Hal remeh itu membuat suasana mobil terasa tidak terlalu sesak. Kaivan tidak selalu mengetahui kebiasaanku. Bahkan setelah mengenalku sejak remaja, dia tetap bisa mengambil makanan yang keliru.
'Aku juga sering lupa kamu tidak suka bagian pinggir yang keras,' kataku tanpa sadar.
Dia menoleh. 'Itu ingatan?'
'Iya. Maaf, aku belum bilang.'
'Tidak apa-apa. Yang itu masih benar sampai sekarang.'
Aku tersenyum sedikit dan membagi roti menjadi dua. Di antara ketakutan dan pertanyaan yang belum terjawab, kami masih dapat membicarakan sesuatu tanpa menjadikannya ujian. Aku memakan bagianku perlahan, mendengarkan bunyi bungkus plastik dan kendaraan yang masuk ke parkir. Kepalaku mulai terasa lebih dekat dengan malam yang sedang kami jalani.
'Aku tidak akan meminta Ibu mengingat hari yang belum dia jalani,' katanya.
'Aku tahu. Aku cuma perlu mendengarnya.'
Kami minum dalam diam. Dari pengeras suara minimarket terdengar lagu yang pernah kudengar ketika masih kuliah. Dunia di luar mobil tidak ikut berhenti meski sebuah bagian hidupku baru bergeser. Seseorang membayar parkir, seorang anak meminta es krim, dan pegawai yang tadi mengganti kantong sampah kembali masuk ke toko.
Ponsel Kaivan menyala lagi, kali ini pesan singkat dari kantor. Dia memperlihatkan nama pengirim, lalu mengatakan perlu memberi jawaban mengenai dokumen untuk esok pagi. Aku mengangguk. Dia mengetik beberapa baris, menyimpan ponsel, dan bertanya apakah aku ingin melanjutkan perjalanan.
Tindakan kecil itu membuatku teringat betapa sering aku menganggap urusan kerja sebagai saingan. Padahal yang menyakitkan bukan selalu pekerjaan itu sendiri, melainkan tidak mengetahui kapan orang yang kubutuhkan akan kembali memperhatikanku.
'Kamu boleh menyelesaikan kalau masih ada yang perlu dijawab,' kataku.
'Sudah cukup untuk malam ini.'
Aku tidak meminta bukti. Dia menyalakan mesin setelah aku menyatakan siap, lalu mengantarku sampai depan kos. Sebelum turun, aku memandang wajahnya yang diterangi lampu halaman.
'Aku tidak sedang mengatakan bahwa aku pasti melakukan semuanya dengan benar hari itu.'
'Aku mengerti.'
'Aku hanya baru ingat bahwa aku menjawab telepon dan pergi.'
Kaivan mengangguk. 'Itu sudah sesuatu yang perlu kamu ketahui.'
Di kamar, aku menambahkan urutan yang baru muncul pada halaman terpisah. Aku tidak menempelkan tanggal dari kaset di atasnya. Aku juga tidak menelepon Ibu Rieka. Rasa ingin meminta penjelasan tetap ada, tetapi aku tahu perempuan dalam telepon tahun ini belum tentu mempunyai jawaban untuk rasa sakitku.
Hara menelepon sebelum tidur. Aku menceritakan ingatan baru itu dan mendengar napasnya berubah di seberang.
'Kamu langsung pergi,' katanya pelan.
'Dalam potongan yang kuingat, iya.'
'Aku tidak akan menambahkan apa pun. Aku cuma senang kamu mulai melihat lebih dari meja kantor.'
Aku menangis lagi setelah mendengarnya. Bukan karena semua kesalahan mendadak terhapus, melainkan karena satu gambaran yang terus menghukumku ternyata tidak memuat seluruh kejadian. Aku pernah berada di kantor. Aku juga pernah meninggalkan kantor ketika anakku membutuhkan aku. Dua hal itu dapat benar sekaligus.
Kamis pagi aku kembali duduk di meja yang sama dalam tahun 2017. Hara menyodorkan sarapan, kemudian memanggilku karena aku terlalu lama menatap layar komputer yang belum menyala.
'Kamu di sini, Git.'
Aku mengangguk dan membuka pekerjaan. Di antara pesan nasabah ada pengingat rapat mengenai aset Pak Idrus. Aku membacanya tanpa menganggapnya perintah untuk mengabaikan hidupku sendiri. Hari ini aku dapat bekerja, meminta bantuan, dan pulang ketika waktunya tiba.
Menjelang siang, ketika menarik tas dari bawah meja, sebuah ingatan lain muncul. Sebelum berangkat pada pagi telepon itu datang, aku pernah meletakkan pipi dekat wajah Bintang dan berbisik bahwa Ibu akan pulang.
Aku belum ingat apa yang terjadi setelah janji itu. Tetapi aku ingat siapa yang berdiri di ambang kamar, bersedia menjaganya sampai aku kembali.