Ibu Rieka berdiri di ambang kamar dalam ingatan itu. Dia mengenakan pakaian rumah dan membawa kain kecil di bahu. Wajahnya tidak seperti ketika memarahiku sesudah kehilangan Bintang. Dia terlihat mengantuk, sedikit kesal karena Kaivan belum menemukan kunci mobil, tetapi tangannya sudah terulur ketika aku menoleh.
Aku tidak mencoba memanggil adegan itu lebih jauh di meja kerja. Kutulis apa yang terlihat, lalu kembali mengerjakan berkas. Sepanjang hari gambar tersebut datang beberapa kali, tidak lengkap tetapi tidak berubah menjadi ancaman seperti kilasan lain. Aku melihat seseorang yang akan menjaga anakku, bukan seseorang yang sejak awal menungguku melakukan kesalahan.
Sore harinya aku meminta Kaivan bertemu setelah pekerjaan selesai. Kami memilih duduk di lobi, tempat orang masih berlalu-lalang. Aku tidak ingin setiap percakapan tentang Bintang harus terjadi dalam ruangan tertutup yang membuatku sulit keluar.
'Ibumu membantu menjaga Bintang saat aku kembali bekerja,' kataku.
Kaivan mengangguk pelan. 'Itu terdengar seperti sesuatu yang akan dia lakukan. Tapi aku tidak punya ingatannya.'
'Aku tahu. Aku sedang bercerita, bukan meminta kamu membenarkan.'
Dia menyandarkan punggung dan menunggu. Aku mulai dari kamar pada pagi itu. Bintang berada di ranjang kecil, sementara aku berganti pakaian dengan terus menoleh kepadanya. Ada perasaan bersalah yang bahkan sudah muncul sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Aku ingin pergi bekerja dan ingin tetap duduk di sampingnya. Kedua keinginan itu membuatku merasa tidak layak memiliki salah satunya.
Kaivan dalam ingatan berjalan masuk mencari kunci. Aku mengomel karena benda itu selalu hilang ketika kami terburu-buru. Dia akhirnya menemukannya di samping tas bayi, tepat di tempat yang dia pilih sendiri malam sebelumnya. Ibu Rieka tertawa pendek, lalu menyuruh kami pergi sebelum terlambat.
Sebelum menyerahkan Bintang, aku sempat kembali ke kamar untuk mengambil pakaian ganti tambahan. Kaivan mengingatkan bahwa aku sudah menyiapkan beberapa, tetapi aku tetap menambahkan satu karena takut ada yang kurang. Aku mengingat lipatan baju yang terlalu rapi, seperti ingin membuktikan bahwa pekerjaan kecil itu dapat menutup semua kegelisahanku.
'Aku pasti merepotkan sekali,' gumamku.
Kaivan tidak ikut tertawa. 'Kamu terdengar sedang cemas.'
Aku mengangguk. Dalam ingatan itu aku bukan ibu yang begitu yakin sehingga meninggalkan rumah tanpa menoleh. Aku berkali-kali memeriksa hal yang sama, kemudian merasa malu karena Ibu Rieka lebih berpengalaman dan mungkin menganggapku berlebihan.
Aku juga ingat memasang alarm pada ponsel agar dapat menghubungi rumah saat jeda kerja. Bukan untuk mengawasi setiap gerakan ibunya, melainkan karena mendengar kabar Bintang akan membuatku lebih tenang. Bagian itu belum pernah muncul ketika aku menyebut hari tersebut sebagai hari aku memilih kantor.
'Aku berusaha menyiapkan semuanya,' kataku akhirnya. 'Tapi aku tidak tahu apakah usahaku cukup.'
Kaivan tidak menjawab cukup atau tidak. Dia membiarkan pertanyaan itu menunggu pengetahuan yang belum kami miliki.
'Aku menitipkan beberapa hal,' kataku. 'Pakaian ganti, nomor telepon, dan waktu ketika biasanya Bintang terbangun. Aku tidak pergi tanpa bicara.'
Kaivan menatap jari-jarinya. 'Apa aku mendengar?'
'Kamu ada di sana. Aku belum ingat kamu menjawab apa.'
Aku berhenti ketika rasa sesak mulai naik. Kaivan tidak menyuruhku meneruskan demi mengetahui apakah dirinya melakukan sesuatu yang salah. Dia hanya bertanya apakah aku ingin berhenti. Aku meminta beberapa menit, lalu memperhatikan petugas kebersihan yang sedang merapikan kursi.
Pagi itu bukan bukti bahwa tidak ada tanda yang terlewat. Aku masih tidak mengetahui kondisi Bintang dengan cukup jelas untuk menjelaskan mengapa dia dibawa kembali ke rumah sakit. Namun, ada pembagian pengasuhan. Ada percakapan, ada orang dewasa lain, dan ada rencana agar aku dapat dihubungi. Selama ini semua itu lenyap di bawah satu kalimat: aku meninggalkan anakku untuk bekerja.
'Aku mengira kalau seorang ibu pergi ke kantor, dia harus memastikan tidak ada hal buruk yang mungkin terjadi,' kataku.
'Bagaimana mungkin siapa pun memastikan itu?'
'Aku tahu pertanyaannya tidak masuk akal. Tapi perasaannya tetap ada.'
Kaivan mengangguk. 'Aku juga sering merasa kalau aku menjaga sesuatu cukup keras, aku bisa mencegah kehilangannya. Lalu saat gagal, aku mencari hal yang bisa dikendalikan.'
Aku memandangnya. Dia tidak sedang menjelaskan masa depan yang tidak diingatnya. Dia berbicara tentang dirinya sekarang, dan itu membuatku lebih mampu mendengarkan.
Kami berpisah setelah lobi mulai sepi. Di jalan pulang aku memikirkan Ibu Rieka yang bersedia menjaga Bintang. Apakah pada hari itu dia juga merasa gagal? Apakah tuduhannya kepadaku lahir dari ketakutan yang tidak pernah sanggup dia sebutkan? Pertanyaan itu tidak membenarkan kata-katanya, tetapi membuatku berhenti menganggap kemarahannya sebagai laporan yang pasti benar.
Jumat aku membahas ingatan tersebut dalam konseling. Psikolog memintaku memisahkan apa yang terjadi dari tuntutan yang kuletakkan pada diriku. Aku menulis bahwa aku bekerja, Bintang dijaga keluarga, lalu ada panggilan agar aku datang ke rumah sakit. Di bawahnya aku menuliskan pikiran bahwa seandainya aku tidak berangkat, semuanya pasti berbeda.
'Apakah Anda mengetahui apa yang akan terjadi jika tidak berangkat?' tanyanya.
'Tidak.'
'Apa yang membuat kalimat itu terasa pasti?'
Aku menangis sebelum menjawab. Karena seseorang pernah mengatakannya dengan marah. Karena Kaivan tidak membantah ketika aku berharap dia membela. Karena aku sendiri membutuhkan alasan, dan menyalahkan diriku terasa lebih dapat dipahami daripada menerima bahwa aku tidak mengetahui seluruh kejadian.
Kami tidak menghapus pertanyaan mengenai hal yang mungkin terlewat. Aku hanya berhenti menuliskannya sebagai vonis. Rasanya tidak seperti dimaafkan; lebih seperti dibolehkan belajar apa yang terjadi tanpa lebih dahulu menetapkan hukuman.
Sabtu pagi, Ibu Rieka mengirim pesan melalui Kaivan bahwa beberapa foto masa kelas rumah sakit sudah dirapikan. Dia menawarkan agar aku mengambil salinan jika ingin. Aku hampir menolak karena masih terlalu mudah mendengar tuduhan dalam suaranya. Kemudian aku menyadari penghindaran itu juga sedang membuat perempuan yang sekarang bertanggung jawab atas kata-kata dari kehidupan lain.
Aku bersedia datang pada Minggu siang, tetapi meminta pertemuan singkat. Tidak untuk mendengar kaset atau membuka kotak. Aku ingin melihat foto dan berbicara biasa sebisaku. Kaivan meneruskan permintaan itu dan menjawab bahwa ibunya setuju.
Sore sebelum pertemuan, aku menyiapkan satu kalimat di dalam buku: saya ingin membicarakan mengapa beberapa ucapan Ibu membuat saya takut. Kertas itu kulipat dan kusimpan di tas, bukan sebagai naskah yang wajib dibacakan, melainkan agar aku tidak kembali menyamarkan ketakutan menjadi kemarahan.
Kaivan menelepon menjelang malam. Dia bertanya apakah aku tetap ingin datang. Ketika aku menjawab iya, dia tidak mengatakan semuanya pasti baik-baik saja.
'Kalau percakapan terasa terlalu berat, kita bisa berhenti,' katanya.
'Aku tidak ingin kamu menjadi hakim di antara aku dan ibumu.'
'Aku juga tidak mau begitu.'
Setelah panggilan berakhir, aku memikirkan kembali pagi ketika aku berangkat bekerja. Ibu Rieka menggendong Bintang dan memintaku berhati-hati di jalan. Perempuan itu pernah menyayanginya. Aku tidak perlu menghapus kasih sayang tersebut untuk mengakui bahwa kata-katanya kemudian menyakitiku.