Minggu siang aku tiba dengan membawa buah. Ibu Rieka menerima kantong itu sambil mengomel karena aku seharusnya datang tanpa repot membeli apa-apa. Nada bicaranya biasa, tetapi tubuhku tetap menegang. Aku memaksa diri melihat ruang tamu yang ada di hadapan, bukan ruang yang masih sering muncul dalam ingatan pertengkaran.
Kaivan mengambilkan kursi dan duduk sedikit menjauh. Tidak ada kotak peninggalan ayahnya di meja. Foto-foto sudah diletakkan dalam amplop, dan ibunya mengatakan aku boleh melihatnya setelah makan. Untuk sesaat aku merasa seperti tamu yang datang pada hari Minggu biasa.
Kami makan dengan percakapan tentang Bapak. Ibu Rieka menanyakan perkembangan kontrolnya, lalu bercerita mengenai temannya yang juga sulit diajak mengurangi pekerjaan. Aku menjawab seperlunya. Kaivan menyela ketika ibunya hendak menambah nasi ke piringnya, dan keduanya berdebat singkat tentang porsi makan. Aku sempat tersenyum sebelum rasa sedih datang.
Inilah hal yang kurindukan dari kehidupan yang berantakan itu. Bukan hanya Kaivan, tetapi meja makan, suara orang menyuruh tambah makanan, dan perasaan pernah menjadi bagian dari sebuah keluarga.
Setelah piring dipindahkan, aku mengambil kertas kecil dari tas. Jemariku meremasnya sampai Ibu Rieka berhenti membicarakan foto.
'Ada yang ingin kamu katakan, Gita?'
Aku mengangguk. Kaivan tidak mendekat atau menjawab untukku.
'Waktu Ibu menelepon beberapa hari lalu, saya bereaksi terlalu keras. Saya ingin menjelaskan kenapa.'
Ibu Rieka meletakkan gelas. Aku mendengar detak jam di dinding, sama seperti ketika kami membuka kotak pertama. Bedanya, yang hendak dibuka sekarang tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam amplop.
'Dalam kehidupan yang saya ingat, Ibu pernah mengatakan saya lebih memilih pekerjaan daripada Bintang. Kalimat itu sering sekali terulang di kepala saya.'
Wajah perempuan itu berubah. 'Ibu mengatakan begitu?'
'Itu yang saya ingat. Saya tidak meminta Ibu mengakui sesuatu yang belum Ibu jalani. Tapi saya perlu Ibu tahu kenapa pertanyaan biasa tentang pekerjaan kadang membuat saya ketakutan.'
Ibu Rieka menunduk. Untuk beberapa saat aku yakin dia akan mengatakan aku salah mengingat. Aku sudah menyiapkan tubuh untuk menerima bantahan, dan kesiapan itu sendiri membuatku lelah.
'Ibu tidak punya ingatan untuk menjelaskan hari itu,' katanya akhirnya. 'Tapi Ibu tahu Ibu sering bicara seolah tahu apa yang paling baik untuk semua orang.'
Aku tidak menjawab. Kaivan juga tetap diam.
'Ketika suami Ibu meninggal, Ibu menyuruh Kaivan berhenti menangis karena dia harus membantu mengurus banyak hal,' lanjutnya. 'Ibu pikir membuatnya sibuk akan membantu. Sekarang Ibu tidak tahu berapa banyak yang akhirnya dia simpan sendirian.'
Kaivan menatap meja. Aku baru menyadari jari-jarinya terus mengusap garis kecil pada permukaan kayu.
'Aku memang membantu, Bu,' katanya. 'Tapi waktu itu aku juga ingin ada orang yang membolehkan aku tidak tahu harus melakukan apa.'
Ibu Rieka mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Percakapan itu tidak berkaitan dengan perjalanan waktu. Itu sesuatu yang benar-benar pernah mereka jalani dan belum selesai dibicarakan. Aku tidak perlu berada di pusatnya agar memahami mengapa keheningan begitu akrab dalam keluarga ini.
'Saya mulai ingat bahwa Ibu menjaga Bintang saat saya bekerja,' kataku setelah suasana sedikit tenang. 'Saya juga ingat Ibu menelepon agar saya datang ke rumah sakit.'
'Apakah Ibu terlambat membawanya?'
Pertanyaan itu begitu cepat keluar sampai aku melihat ketakutan yang sama seperti ketakutanku sendiri. Ibu Rieka sudah mencari kesalahan yang mungkin dilakukan bahkan sebelum mengetahui kejadiannya.
'Saya belum tahu urutannya dengan lengkap,' jawabku. 'Saya tidak datang untuk mencari orang yang bisa disalahkan dari satu potongan.'
Perempuan itu menutup wajah. Aku membiarkannya menangis tanpa mengambil kesempatan untuk meminta permintaan maaf yang lebih besar. Kaivan memberinya tisu, lalu bertanya apakah percakapan perlu dihentikan. Ibunya meminta beberapa menit.
Kami minum teh ketika semuanya kembali dapat berbicara. Ibu Rieka mengatakan dia akan lebih berhati-hati menanyakan hal pribadi. Aku mengatakan akan mencoba memberi tahu jika suatu kalimat memicu ingatan, bukan langsung menganggap dia sengaja menyakitiku.
Kesepakatan itu tidak menghapus tahun 2020. Namun, aku keluar dari meja makan tanpa mendapat luka baru, dan hari itu hal tersebut sudah terasa berarti.
Foto-foto baru dibuka setelah kami lebih tenang. Sebagian besar adalah kelas rumah sakit, kegiatan sekolah Kaivan, dan halaman rumah yang belum direnovasi. Tidak ada petunjuk baru yang tersembunyi di belakangnya. Aku senang menemukan kenyataan tersebut. Orang-orang dalam foto berhak pernah bahagia tanpa setiap senyumnya harus berubah menjadi kunci misteri.
Pada satu gambar aku duduk di tepi bangku dengan wajah masam, sementara Kaivan remaja memperlihatkan buku. Ibu Rieka mengatakan foto itu diambil setelah kami bertengkar soal tugas sekolah. Aku meminta salinannya, lalu tertawa kecil melihat betapa jelas kekesalanku bahkan dalam foto yang warnanya sudah pudar.
'Dia mengira bisa menyontek karena aku tidak masuk sekolah biasa,' kataku, lalu terdiam karena tidak tahu apakah kalimat itu ingatan atau dugaan.
Kaivan tertawa. 'Aku memang pernah mencoba. Kamu memberi jawaban salah sampai aku ketahuan tidak membaca soalnya.'
Ibu Rieka ikut tertawa dan menunjukkan foto lain. Kaivan membawa tumpukan buku yang hampir menutupi wajahnya, sedangkan aku terlihat menunjuk sesuatu di luar bingkai. Tidak ada yang tahu apa yang kutunjuk. Kami tidak berusaha menyelesaikannya.
Aku menyukai ketidaktahuan kecil itu. Selama ini bagian yang kosong selalu terasa mengancam, seperti seseorang sengaja menyembunyikan pisau di baliknya. Di dalam foto tersebut, yang tidak diketahui mungkin hanya letak kursi atau arah cahaya matahari.
Ibu Rieka mengambil kantong kertas untuk salinan foto yang kupilih. Dia tidak menyelipkan gambar kami berdua dengan maksud tertentu, tidak meminta aku berjanji menjaga anaknya. Dia hanya menanyakan apakah aku ingin ukuran yang lebih besar. Aku menjawab cukup, lalu membantunya memasukkan foto lain ke dalam amplop sesuai urutan yang dia inginkan.
Kami mengerjakan sesuatu bersama tanpa membicarakan siapa yang lebih berhak mengenal Kaivan.
Kaivan mengantarku ke pagar menjelang sore. Kami tidak membahas siapa yang menang dalam percakapan tadi. Dia hanya bertanya apakah aku baik-baik saja untuk pulang.
'Lelah,' jawabku. 'Tapi tidak menyesal datang.'
'Aku juga.'
Aku memandangnya beberapa saat, kemudian meminta boleh memeluknya. Kaivan mengangguk. Pelukan itu tidak seperti pelukan dalam ingatan pernikahan kami. Ada kehati-hatian, dua orang yang masih belajar berapa dekat mereka dapat berdiri tanpa menjadikan kedekatan sebagai janji.
Ketika melepaskan tangan, aku tetap bisa pergi. Kaivan tetap membiarkanku pulang. Tidak ada kalimat mengenai kehidupan berikutnya.
Di kos, aku menyimpan foto pada laci yang berbeda dari dokumen pemeriksaan. Malam itu aku ingin membiarkan satu kenangan hanya menjadi kenangan. Sebelum tidur, aku menulis bahwa Ibu Rieka mendengarkan dan Kaivan akhirnya mengatakan sesuatu tentang dukanya sendiri.
Untuk pertama kali, nama mereka tidak berada di halaman yang sama dengan daftar orang yang kutakuti.