Senin pagi Kaivan mendapat tugas keluar kota untuk urusan nasabah lain. Perjalanan itu dijadwalkan dua hari, bersama anggota tim yang sudah ditentukan. Aku mengetahuinya dari pembagian pekerjaan, bukan dari pesan mendadak ketika dia sudah berada di bandara. Meski begitu, dadaku tetap terasa sempit.
Aku teringat persalinan Bintang dan telepon yang tidak tersambung. Keadaan sekarang berbeda, tetapi tubuhku belum segera menerima perbedaan tersebut. Aku menatap kalender meja cukup lama sampai Hara mengetuk ujung pulpennya di samping buku.
'Ada sesuatu yang perlu kamu katakan kepadanya?'
'Aku tidak ingin melarang dia bekerja.'
'Mengatakan kamu takut tidak sama dengan melarang.'
Menjelang makan siang aku meminta waktu kepada Kaivan. Kami berdiri di dekat jendela, cukup jauh dari meja agar percakapan tidak terdengar semua orang.
'Aku tahu perjalananmu tidak berkaitan dengan yang kuingat,' kataku. 'Tapi mendengarnya tetap membuatku takut.'
'Aku sempat ingin meminta orang lain menggantikan.'
'Kenapa?'
'Karena aku juga langsung memikirkan hari ketika kamu bilang aku tidak ada.'
Kami saling memandang. Jika setiap perjalanan dibatalkan karena sebuah masa depan yang belum terjadi, pekerjaan dan hubungan kami akan perlahan dipenuhi larangan. Namun, berpura-pura tidak ada ketakutan juga tidak membuatnya pergi.
Kaivan memberitahukan jadwal yang sudah pasti dan waktu ketika mungkin sulit dihubungi karena pertemuan. Dia tidak berjanji menjawab setiap panggilan seketika. Aku mengatakan akan menghubungi Hara atau keluarga jika membutuhkan bantuan segera, bukan menguji apakah dia cukup menyayangiku melalui kecepatan membalas pesan.
'Kalau ada perubahan jadwal, kabari,' kataku.
'Pasti.'
Aku percaya pada kata itu sebatas sesuatu yang bisa diuji oleh tindakan besok. Kepercayaan tidak harus sekaligus mencakup seluruh kehidupan kami.
Selasa, Kaivan berangkat. Aku bekerja bersama Hara dan Adri, menyelesaikan dokumen nasabah yang menunggu. Pada sore hari sebuah pesan masuk bahwa pertemuan Kaivan lebih panjang dari rencana. Aku hampir mengetik kenapa selalu begitu, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Dia sedang memberi kabar, tepat seperti yang kuminta.
Sebelum pulang, ada pertanyaan dari bagian administrasi mengenai satu dokumen yang biasa ditandatangani Kaivan. Aku sempat hendak mengirim pesan lagi agar dia menyelesaikannya dari luar kota. Adri menunjukkan bahwa bagian yang diminta dapat diteruskan melalui pejabat pengganti yang sudah ditunjuk.
'Kita tidak perlu membuat semua hal berhenti sampai satu orang kembali,' katanya.
Aku mengecek prosedurnya dan mengirim berkas melalui jalur tersebut. Tidak ada keadaan darurat, hanya kebiasaan mencari orang yang paling sering menjawab. Menyadarinya membuatku sedikit malu. Aku menuntut Kaivan tidak mengendalikan semuanya, tetapi kadang aku juga menyerahkan terlalu banyak hal kepadanya karena takut memilih jalan lain.
Ketika dokumen diterima, aku mengabari bahwa urusan itu sudah selesai. Kaivan membalas dengan ucapan terima kasih singkat. Dia tidak mempertanyakan mengapa aku meminta bantuan Adri atau orang lain.
Aku mematikan komputer dengan perasaan yang lebih ringan. Dua hari ketidakhadiran tidak harus menjadi percobaan tentang seberapa besar seseorang dibutuhkan. Ada pekerjaan yang dapat dialihkan, orang lain yang dapat membantu, dan percakapan yang tetap dapat diteruskan sesudah perjalanan berakhir.
Aku membalas singkat dan pulang sesuai waktu. Di kos, aku membuka catatan persalinan yang belum disentuh beberapa hari. Kali ini aku tidak menatap daftar tanggal dahulu. Aku menuliskan apa yang kuingat mengenai percakapan sebelum sebuah tanggal diubah.
Ada kursi di depan meja dokter. Aku memegang kartu kontrol kehamilan. Kaivan belum tentu duduk di sampingku; bagian itu tidak jelas. Aku ingat menanyakan apakah kelahiran dapat berlangsung lebih awal. Bukan karena aku ingin segera kembali bekerja, melainkan karena ada sebuah hari yang sangat kutakuti.
Tanganku berhenti. Selama ini suara dalam kaset yang mengatakan aku pernah meminta terasa seperti pengakuan atas suatu tindakan. Sekarang aku mulai melihat sebuah percakapan, dan dalam percakapan itu orang lain juga mempunyai jawaban.
Dokter mengatakan keputusan tidak dibuat hanya karena aku ingin menghindari tanggal tertentu. Aku tidak mampu mengingat kalimat persisnya, tetapi aku ingat rasa kecewa sesudah mendengar penjelasan. Aku keluar dengan kartu yang masih memuat perkiraan sebelumnya.
Aku tidak langsung ditepatkan pada hari pilihanku.
Air mataku jatuh ke kertas. Bagian itu tidak membuktikan apa yang akhirnya terjadi. Tetapi ia menunjukkan bahwa permintaan dan keputusan mungkin terpisah oleh percakapan serta pemeriksaan yang selama ini kuhapus dari ingatan karena rasa bersalah terlalu kuat.
Aku ingin menelepon Kaivan, lalu melihat jadwal yang diberikannya. Dia masih dalam pertemuan. Aku menulis pesan bahwa ada ingatan baru yang ingin kuceritakan ketika dia tersedia. Setelah mengirim, aku menelepon Hara dan meminta ditemani bicara sebentar.
Hara mendengarkan tanpa mencari istilah medis untuk menjelaskan yang belum kuketahui. Dia memintaku tidak mengambil kesimpulan bahwa semuanya pasti benar atau pasti salah hanya dari satu adegan.
'Aku cuma baru ingat ada orang yang menjawab permintaanku,' kataku. 'Dan jawabannya tidak langsung iya.'
'Tulis itu dahulu.'
Kami kemudian membahas makan malam. Percakapan biasa memberi waktu kepada tubuhku untuk berhenti bereaksi seolah aku kembali berada di ruang periksa.
Kaivan menelepon beberapa jam kemudian, setelah pertemuannya selesai. Dia meminta maaf karena baru dapat menghubungi, tetapi aku mengatakan dia sudah memberi tahu jadwalnya. Aku menceritakan ingatan tentang kartu kontrol dan permintaan yang tidak langsung disetujui.
'Berarti masih ada jarak antara kamu meminta dan hari Bintang lahir,' katanya.
'Mungkin. Aku ingat keluar dari ruangan dengan perasaan kecewa.'
'Apa yang terjadi sesudahnya?'
'Aku belum tahu.'
Kami membiarkan jawaban itu tetap seperti adanya. Kaivan tidak menyarankan aku menelepon dokter kandungan yang belum pernah menangani kehamilanku pada 2017. Tidak ada gunanya meminta orang sekarang mempertanggungjawabkan tindakan medis yang baru ada dalam ingatan yang belum utuh.
Rabu, dia pulang sesuai jadwal yang diperbarui. Kami bertemu sebentar di kantor. Tidak ada pelukan dramatis karena berhasil melewati dua hari. Dia membawa oleh-oleh untuk tim, dan aku mengingatkan bahwa berkas yang dititipkan sudah selesai. Justru kesederhanaan itu membuatku merasa perjalanan tersebut tidak merampas sesuatu dariku.
Malamnya, aku menuliskan dua peristiwa pada halaman berbeda. Pertama, aku meminta kelahiran lebih awal dan mendapat penjelasan bahwa keinginan mengenai tanggal saja tidak menentukan keputusan. Kedua, hari aku menandatangani formulir sebelum Bintang lahir, ketika Kaivan belum tiba dan seseorang membantu meneleponnya.
Di antara kedua halaman masih ada ruang kosong. Untuk pertama kali, ruang itu terasa seperti urutan yang perlu dipahami, bukan tempat menyembunyikan kesalahanku.
Namun, ketika hendak menutup buku, satu suara lain muncul. Aku mengingat diriku di ruang tunggu mengatakan kepada seseorang bahwa tanggal di kartu sudah berubah.
Aku belum tahu apakah yang berubah adalah rencana dokter, perkiraan, atau sesuatu yang kutulis sendiri karena terlalu ingin percaya dapat memilih hari yang aman.