Aku membawa dua halaman itu ke sesi konseling pada Kamis. Keduanya kuletakkan di meja tanpa mencoba membuat cerita yang menyambungkan. Psikolog membacanya sesuai bagian yang kuizinkan, lalu menanyakan apa yang kurasakan ketika melihat ruang kosong di antaranya.
'Biasanya saya merasa harus mengisinya dengan penjelasan yang paling buruk,' jawabku.
'Penjelasan seperti apa?'
'Bahwa saya memaksa sesuatu terjadi. Bahwa saya ingin menghindari satu hari, lalu justru membuat keadaan anak saya lebih sulit.'
Mengatakannya tidak lagi membuatku kehilangan napas seperti saat pertama mendengar kaset. Aku tetap menangis, tetapi mampu merasakan kursi dan mendengar pertanyaan berikutnya. Perubahan itu kecil, namun nyata.
Kami membicarakan cara rasa bersalah mendorongku menyusun jawaban sebelum mempunyai cukup ingatan. Tidak ada pembahasan mengenai tindakan persalinan yang seharusnya dilakukan. Itu bukan sesuatu yang dapat ditentukan dari dua halaman catatanku. Yang dapat kukerjakan sekarang adalah mengenali kapan aku sedang mengingat dan kapan aku sedang menghukum diri sendiri.
Sepulang dari sesi, aku menemui Kaivan di tempat makan dekat kantor. Dia membawa hasil pekerjaan hari itu, tetapi menyimpannya setelah aku mengatakan ingin bicara sebentar. Aku menceritakan dua adegan yang mungkin terpisah: meminta kelahiran lebih awal dan akhirnya menandatangani formulir pada hari yang lain.
'Aku tidak tahu apakah permintaanku memengaruhi keputusan akhirnya,' kataku.
'Kita belum punya jawaban itu.'
'Aku takut kamu mengira aku sedang mencari alasan agar tidak bersalah.'
Kaivan menghela napas. 'Aku justru takut aku akan memintamu memberi jawaban terlalu cepat supaya aku sendiri tidak perlu hidup dengan ketidakpastian.'
Aku menatapnya. Dalam beberapa minggu terakhir, dia mulai mampu mengatakan ketakutan yang dahulu mungkin akan keluar sebagai kemarahan. Aku tidak menganggapnya sudah berubah selamanya. Aku hanya dapat melihat apa yang dia lakukan di hadapanku sekarang.
Kami membaca kembali transkrip kerja dari kaset yang sudah pernah didengar, tanpa memutarnya malam itu. Di sana suaraku membetulkan tanggal dan mengatakan pernah meminta kelahiran lebih cepat. Tidak ada penjelasan lengkap mengenai jawaban dokter. Tidak ada bukti bahwa semua tanggal tersebut merupakan tanggal lahir yang benar-benar terjadi.
'Kita terlalu cepat memberi judul pada angka-angka ini,' gumamku.
'Karena suratnya menyebut tanggal kelahiran.'
'Iya. Tapi aku yang menulis surat itu juga mengaku bingung di dalam rekaman.'
Kaivan mengangguk. Kami tidak membuang catatan tentang lingkaran kedua. Aku hanya menambahkan pertanyaan mengenai arti setiap tanggal. Apakah perkiraan, permintaan, rencana, atau kejadian yang sudah dialami? Angka yang sama dapat terasa sangat berbeda tergantung jawaban itu.
Jumat pagi, kantor wilayah mengirim perkembangan perkara Pak Idrus. Perpindahan aset yang telah diverifikasi masuk ke tahap penanganan berikutnya, sementara kewajiban perusahaan tetap ditagih melalui jalur yang ditentukan. Kami tidak diminta kembali mendatangi lokasi seorang diri. Pekerjaan yang dahulu memenuhi hidupku dengan kepanikan mulai mempunyai batas yang lebih jelas.
Aku menyadari satu perubahan penting: menghentikan fasilitas baru tidak otomatis membuat semua masalah lenyap. Namun, kami mendapat waktu, bantuan, dan pilihan yang lebih banyak. Mungkin kesempatan kedua memang bekerja seperti itu, melalui tindakan yang memberi ruang, bukan melalui satu keputusan yang menyelamatkan semua orang sekaligus.
Sore hari, Bapak menelepon untuk bertanya kabarku. Aku menceritakan bahwa permintaan mempercepat kelahiran mungkin tidak langsung disetujui. Dia tidak mencoba menebak alasan medisnya.
'Bapak senang kamu mau membedakan apa yang terjadi dari apa yang kamu takutkan,' katanya.
'Kenapa dulu Bapak sulit melakukan itu ketika aku bercerita?'
Pertanyaan keluar lebih tajam daripada niatku. Bapak terdiam, lalu menjawab bahwa waktu itu dia terlalu ingin mendengar aku kembali baik. Setiap cerita tentang kematian atau tahun lain terasa seperti sesuatu yang harus segera dihentikan.
'Sekarang Bapak sedang mencoba mendengar sampai selesai,' katanya.
Aku menutup mata. 'Aku juga belum selesai mendengarkan diriku sendiri.'
Sabtu pagi aku menata ulang halaman-halaman ingatan di meja kos. Hara datang membawa sarapan dan duduk membaca majalah sementara aku bekerja. Dia tidak memegang catatanku kecuali ketika kuminta membantu mengurutkan kertas yang terjatuh.
Sebelum mulai, aku membuka balasan terakhir dari petugas arsip. Pencarian tambahan masih belum menemukan lembar yang hilang. Aku menyimpannya bersama dokumen lain dan berhenti menyegarkan kotak masuk. Tidak ada orang yang berutang keajaiban hanya karena aku sangat membutuhkan satu jawaban.
Hara menggeser piring sarapan menjauh dari kertas agar minyak tidak mengenainya. Gerakannya membuatku tersenyum. Beberapa waktu lalu kami akan langsung menumpuk semua catatan dan bertanya siapa yang menyembunyikan bagian berikutnya. Sekarang kami dapat duduk menghadapi berkas yang memang tidak lengkap.
'Nanti siang kita keluar sebentar,' katanya. 'Aku perlu membeli sesuatu untuk Ferdi.'
Aku mengangguk. Ada hidup Hara yang tidak berkaitan dengan pencarianku. Aku ingin tetap menjadi temannya di dalam hidup itu, bukan hanya orang yang menelepon setiap kali ketakutan.
Aku memisahkan kepulangan pertama, pagi ketika Bintang dijaga Ibu Rieka, panggilan di kantor, serta tas yang masih diperlukan di rumah sakit. Bagian tentang permintaan kelahiran tetap berada di kelompok lain. Untuk pertama kali aku tidak mencoba menjelaskan sakitnya Bintang hanya dengan kembali ke hari dia dilahirkan.
'Bagaimana rasanya melihat semua itu terpisah?' tanya Hara.
'Sedih. Tapi aku bisa melihat ada hari-hari di antaranya.'
Ada waktu ketika Bintang makan, tidur, menangis, dan membuat kami tertawa. Ada keputusan yang dibuat lebih dari satu orang. Ada perawatan yang belum kupahami urutannya. Hidup anakku tidak lagi tampak sebagai satu kesalahan panjang yang dimulai ketika aku ingin mempunyai keluarga.
Menjelang siang, ketika melipat kembali kertas, aku mengingat percakapan di dekat pintu kamar bayi. Ibu Rieka memegang tas, sementara aku bertanya apakah buku kontrol sudah dimasukkan. Kaivan menjawab akan memeriksa. Tidak ada suara marah dalam potongan itu.
Lalu gambar beralih ke panggilan dari kantor. Suara Ibu Rieka mengatakan mereka membawa Bintang kembali. Aku mendengar diriku menanyakan apakah keluhan yang kemarin muncul lagi.
Kemarin.
Aku meletakkan kertas dengan tangan gemetar. Hara menutup majalah dan menunggu tanpa mendesak.
'Ada sesuatu sehari sebelumnya,' kataku. 'Aku belum ingat apa. Tapi aku menanyakannya di telepon.'
Itu tidak membuktikan kami mengabaikan tanda atau sudah melakukan semua yang diperlukan. Namun, pertanyaan tersebut menunjukkan ada percakapan tentang keadaan Bintang sebelum panggilan yang selama ini kuanggap awal dari segalanya.
Aku mengambil halaman baru dan menulis: hari sebelum telepon. Sesudahnya aku berhenti. Aku makan siang bersama Hara, membiarkan tubuhku kembali tenang sebelum menghubungi Kaivan.
Ketika akhirnya berbicara dengannya, aku tidak mengatakan telah menemukan penyebab kehilangan. Aku hanya menyebut satu hari yang perlu kuingat tanpa tuduhan.
'Aku mau memahami apa yang kita lakukan waktu Bintang pertama kali tidak seperti biasanya,' kataku.
Kaivan lama diam, kemudian menjawab pelan, 'Kalau kamu sanggup menceritakannya, aku akan mendengarkan.'
Aku memandang halaman yang masih hampir kosong. Di bagian atas ada kata kemarin, dan untuk pertama kalinya kata itu tidak hanya menunjuk masa lalu yang menyakitkan. Ia menunjuk satu bagian kehidupan Bintang yang masih berhak kudengarkan sampai selesai.