'Aku masih di sini,' kata Kaivan ketika aku terlalu lama diam.
Kutelusuri tulisan di bagian atas halaman dengan ujung jari. Hari sebelum telepon. Di luar kamar, Hara sedang mencuci dua piring bekas makan siang kami. Bunyi air membantuku tetap mengenali tempatku duduk, meskipun dalam kepala mulai terdengar bunyi lain. Gesekan kain. Derit kursi. Tangis yang tidak selesai menjadi tangis.
'Aku ingat sedang menyusui,' kataku.
Kaivan tidak menyela. Aku memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi karena kegelapan membuat gambar itu terlalu dekat. Ada Bintang di lenganku. Pipinya menyentuh kulitku, hangat dan lembut. Aku menunggu gerakan kecil yang biasanya membuatku tahu dia sedang minum, tetapi kali itu dia melepaskan mulut lebih cepat.
Aku membetulkan posisinya. Mengajaknya bicara. Menawarkan lagi.
'Ayo, Sayang. Sedikit lagi.'
Ucapan itu terdengar begitu jelas sampai aku menyadari telah mengatakannya keras di kamar kos. Hara muncul di ambang pintu dengan tangan masih basah. Aku mengangguk kepadanya, memberi tahu bahwa aku melihatnya, lalu mengusap air mata yang jatuh ke halaman.
'Dia berhenti lebih cepat dari biasanya,' kataku kepada Kaivan. 'Aku memperhatikan itu.'
Di dalam ingatan, tidak ada jam yang dapat kubaca. Hanya lampu kamar yang menyala meskipun langit di balik tirai belum sepenuhnya gelap. Aku masih memakai pakaian rumah. Kain kecil di bahuku sudah basah ketika Bintang menggeliat dan mengeluarkan suara tidak nyaman.
Lalu aku memanggil Kaivan.
Bukan dengan nada marah. Bukan setelah pertengkaran. Aku memanggil suamiku karena ada sesuatu yang membuatku khawatir, dan dalam potongan yang muncul itu dia datang dari arah pintu sambil mengeringkan tangan.
'Kamu ada,' bisikku.
Kaivan menarik napas di seberang. 'Di ingatanmu?'
'Iya. Kamu mendekat, lalu bertanya sudah sejak kapan.'
Aku berhenti. Ada godaan untuk meneruskan kalimatnya sendiri, menciptakan suami yang segera memahami dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Namun, wajah yang kuingat justru sama bingungnya denganku. Dia membungkuk, mengamati Bintang, kemudian memandang wajahku seolah aku mempunyai jawaban yang tidak dia miliki.
Kami berdua baru belajar menjadi orang tua.
Ada noda kecil di bagian depan kausnya. Aku mengenali noda itu sebelum mengenali warna pakaiannya. Bintang pernah mengotori kaus tersebut ketika Kaivan terlalu cepat mengangkatnya untuk diperlihatkan kepadaku. Kami sempat saling menyalahkan sambil tertawa, kemudian Kaivan menyerahkan anak kami dengan wajah menyerah. Gambar yang hangat itu muncul berdampingan dengan kekhawatiran malam berikutnya.
'Dia suka melihat kamu berjalan mondar-mandir,' kataku, hampir berbisik. 'Kadang aku kesal karena aku yang menggendong, tapi yang diperhatikan kamu.'
Kaivan tidak tertawa. Ketika menjawab, suaranya terdengar serak. Dia meminta aku menceritakan hal-hal kecil seperti itu juga, kalau aku sanggup. Aku mengangguk meskipun dia tidak melihatnya. Ada seorang ayah di seberang telepon yang baru mengenal anaknya melalui mulutku.
Kesadaran itu membuat dadaku sakit dengan cara yang berbeda. Dalam ingatan tentang kehilangan, aku selalu melihat dua orang dewasa yang seharusnya tahu segalanya. Sekarang aku melihat sepasang tangan yang saling menunggu, sama takutnya menjatuhkan sesuatu yang begitu berharga.
'Apa yang terjadi setelah itu?' tanya Kaivan.
'Belum kelihatan.'
'Kita bisa berhenti dulu.'
Aku mengiyakan. Kami mengakhiri telepon dengan janji sederhana untuk berbicara lagi malam nanti. Tidak ada permintaan agar dia segera datang. Hara duduk di sebelahku setelah aku meletakkan ponsel, lalu menyerahkan tisu tanpa membaca catatan.
'Kamu tadi bilang dia berhenti minum,' katanya pelan. 'Mau aku tuliskan persis begitu?'
Aku mengangguk. Tanganku terlalu gemetar untuk menjaga tulisan tetap terbaca. Hara menulis satu kalimat dan menambahkan bahwa aku mengingatnya siang itu. Dia tidak menulis nama penyakit. Aku juga tidak punya nama untuk keadaan Bintang, hanya perubahan yang dikenali seorang ibu karena setiap hari menggendong anaknya.
Kami tetap keluar membeli hadiah untuk Ferdi seperti rencana semula. Aku sempat merasa bersalah ketika berdiri di depan rak dompet, seolah meninggalkan Bintang di dalam halaman yang belum selesai. Hara tidak membujukku melupakan apa pun. Dia hanya meminta pendapatku tentang warna cokelat tua dan hitam.
'Ferdi bakal bilang dompet lamanya masih bagus,' katanya.
'Padahal?'
'Uangnya pernah jatuh lewat bagian bawah.'
Aku tertawa, pendek dan tidak terduga. Sesudahnya aku menutup mulut. Hara memandangku sebentar, lalu kembali membalik label harga. Dia tidak membuat tawaku menjadi peristiwa besar. Aku bersyukur karena tidak harus menjelaskan bagaimana kesedihan dan kelucuan bisa berada dalam satu tubuh.
Di kasir, seorang ayah mengeluarkan uang sambil menahan anaknya yang mengantuk. Kepala kecil itu jatuh ke bahunya. Aku memalingkan wajah, tetapi tidak meninggalkan antrean. Hari itu aku sanggup berada dekat kehidupan orang lain tanpa harus meminta mereka menyembunyikannya dariku.
Menjelang sore, Hara pulang. Aku mandi, mengganti pakaian, lalu makan sebelum membuka buku lagi. Ingatan tadi tidak bertambah saat kupaksa memandang tulisan. Ia justru datang ketika aku menggantung handuk di belakang pintu.
Kaivan membawa tas bayi.
Dia menanyakan letak buku kontrol, dan aku menunjuk laci sambil tetap menggendong Bintang. Kali ini aku mengenali bahwa adegan itu berbeda dari pagi ketika Ibu Rieka membantu menjaga. Lampu ruang tamu menyala. Di meja ada dua piring makan yang belum sempat dibereskan.
Kami hendak keluar malam itu.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan menelepon Kaivan sesuai janji. Setelah dia mengangkat, aku menceritakan tas dan dua piring tersebut. Suaraku terdengar lebih cepat daripada yang kuinginkan.
'Sepertinya kita membawanya diperiksa sebelum telepon Ibu,' kataku.
'Kamu ingat tempatnya?'
'Belum. Aku ingat kamu mengambil kunci mobil.'
Dia terdiam. Aku mendengar kursi bergeser, kemudian suaranya kembali, lebih dekat ke ponsel.
'Aku ingin sekali bilang berarti kita sudah melakukan semuanya,' katanya. 'Tapi aku tahu aku belum bisa bilang begitu.'
'Aku juga ingin mendengarnya.'
Kejujuran itu membuat kami sama-sama diam. Di luar, penghuni kos lain tertawa menyambut makanan yang baru diantar. Aku mendengarkan suara mereka sampai napasku tidak lagi terburu-buru.
'Tapi ada yang sudah berubah,' kataku akhirnya. 'Aku ingat pernah melihat sesuatu dan mengatakan aku khawatir. Selama ini aku merasa bahkan tidak melakukan itu.'
'Apa kamu percaya pada dirimu yang mengatakan itu?'
Aku menatap telapak tangan sendiri. 'Aku mau mencoba mendengarkannya.'
Sesudah telepon ditutup, aku menambahkan adegan tas pada halaman terpisah. Aku tidak menggabungkannya dengan kematian Bintang. Malam itu belum memberikan jawaban sejauh itu. Ia baru mengembalikan satu perjalanan yang mungkin pernah kami tempuh bersama.
Ketika hendak tidur, aku melihat gambar terakhir: lampu putih di atas meja pendaftaran, Bintang terlelap di gendonganku, dan Kaivan berdiri sambil menyebut nama lengkap anak kami. Bukan aku seorang diri. Bukan bayi yang dibiarkan menunggu sampai seseorang menyadari keberadaannya.
Aku menangis lagi, kali ini tanpa menutup buku dengan kasar. Di halaman itu kutulis nama Bintang Aaron Mahendra sampai selesai. Ada orang yang membawanya datang malam itu. Aku ingin mengingat apa yang mereka dengar sebelum membawanya pulang.