Nama Bintang masih tampak pada halaman terbuka ketika aku bangun. Tidak ada tambahan ingatan selama tidur, hanya rasa pegal karena terlalu lama menunduk malam sebelumnya. Aku menutup buku, membiarkan pagi datang tanpa lebih dahulu memintanya mengembalikan seseorang.
Kaivan mengirim pesan setelah aku selesai sarapan. Ibunya memasak lebih banyak dan menanyakan apakah aku mau makan siang di rumah. Aku membaca undangan itu dua kali. Sejak percakapan kami Minggu lalu, ada perasaan canggung yang belum hilang. Pelukan kepada Kaivan tidak serta-merta membuat semua bagian rumah itu terasa ramah.
Aku menerima, dengan mengatakan akan pulang sebelum sore.
Sebelum berangkat, aku menanyakan apakah Kaivan sudah bercerita tentang ingatan terbaruku kepada ibunya. Dia menjawab belum. Ada kelegaan ketika membaca jawabannya, tetapi juga rasa tidak nyaman karena aku masih perlu memeriksa. Aku tidak ingin berpura-pura kepercayaan sudah pulih hanya karena beberapa percakapan terakhir berjalan baik.
'Kalau nanti Ibu bertanya, biar aku yang menjawab,' kataku lewat pesan suara.
Kaivan menyetujuinya. Dia tidak meminta daftar hal yang boleh disebutkan, tidak menjadikan makan siang sebagai pertemuan dengan aturan panjang. Aku pun menyiapkan diri untuk datang sebagai tamu yang bisa membantu mengangkat piring dan menikmati masakan. Ceritaku boleh ikut masuk ke rumah itu, tetapi tidak harus duduk di setiap kursi.
Ketika tiba, Ibu Rieka sedang memindahkan sayur dari panci. Aku membantu mengambil piring. Tidak ada kaset di meja, tidak ada kotak arsip yang sengaja dibiarkan terbuka. Kaivan datang dari teras dan menanyakan apakah aku ingin duduk dekat jendela. Aku memilih kursi yang paling mudah dicapai dari dapur.
Kami makan dengan percakapan biasa. Tentang harga cabai, tetangga yang memperbaiki pagar, dan perjalanan kerja Kaivan. Sesekali aku memperhatikan tangan Ibu Rieka ketika menyendokkan makanan. Tangan itulah yang dalam ingatanku menggendong Bintang menuju pintu, tetapi perempuan di depanku belum pernah melakukan perjalanan itu.
'Ada yang ingin kamu tanyakan?' katanya ketika menangkap tatapanku.
Aku meletakkan sendok. 'Aku mengingat kami membawanya diperiksa malam sebelum Ibu menelepon.'
Wajahnya berubah serius. Kaivan tidak meneruskan ceritaku. Dia membiarkanku memilih sendiri seberapa banyak yang ingin kusampaikan di meja makan.
'Bintang minumnya tidak seperti biasa. Aku ingat khawatir. Kai mengambil tas.'
Ibu Rieka mengangguk pelan. 'Ibu mendengar.'
Hanya itu. Tidak ada pertanyaan apakah aku yakin tidak salah. Tidak ada kalimat bahwa seorang ibu semestinya melakukan sesuatu lebih cepat. Aku melanjutkan sampai pada lampu pendaftaran, kemudian berhenti karena memang hanya sejauh itu yang kupunya.
'Mungkin kita bisa cari tahu rumah sakit mana,' kata Kaivan.
Aku menegang. 'Cari di mana?'
Dia segera mengangkat wajah. 'Maaf. Maksudku kalau nanti kamu ingat namanya. Bukan menelepon semua rumah sakit sekarang.'
Aku mengangguk, tetapi kehilangan selera makan sejenak. Terlalu mudah bagi kami mengubah setiap gambar menjadi tugas pencarian. Bintang belum lahir di tahun ini. Tidak ada petugas pendaftaran yang dapat membuka kunjungannya hanya karena aku sangat ingin melihat lembar itu.
Ibu Rieka mendorong gelas air mendekat. 'Makanannya boleh dilanjutkan nanti.'
Aku meneguk sedikit. Setelah beberapa saat, aku bisa kembali mengambil nasi. Kaivan mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan dirinya salah masuk ruang rapat saat kunjungan kerja. Aku tahu dia sedang berusaha, tetapi ceritanya cukup memalukan untuk membuat ibunya tertawa tanpa perlu berpura-pura.
Seusai makan, aku membantu mengelap meja. Di lemari dekat dapur, Ibu Rieka mencari wadah untuk membungkus lauk. Bunyi tutup plastik yang beradu membuat tanganku berhenti. Sesuatu muncul, bukan wajah, melainkan suara kertas dilipat lalu diselipkan ke samping wadah kecil di dalam tas.
Aku berdiri di dekat pintu pemeriksaan.
Kaivan memegang buku kontrol. Seorang petugas menunjuk lembar yang diletakkan di atasnya. Aku tidak dapat membaca tulisan pada lembar tersebut. Yang terdengar hanya penggalan instruksi untuk kembali apabila keadaan Bintang berubah, lalu pertanyaanku apakah malam itu dia boleh dibawa pulang.
Jawaban lengkapnya tidak datang. Namun, aku ingat duduk lagi sesudah pemeriksaan. Menunggu. Bintang sempat mau minum, dan aku memberitahukan itu kepada orang yang mendekat. Kami tidak langsung berbalik dari pintu pendaftaran.
'Gita?'
Aku berkedip. Ibu Rieka masih memegang wadah kosong. Kaivan berdiri beberapa langkah dariku, belum menyentuh.
'Aku perlu duduk,' kataku.
Dia menarik kursi. Aku menyebutkan apa yang baru muncul sambil menatap garis pada meja. Ibu Rieka mengambil kertas biasa dari laci setelah aku meminta sesuatu untuk mencatat. Tangannya tidak lagi bergerak mencari kotak lain.
'Ada petunjuk untuk kembali,' kataku. 'Aku ingat bertanya sebelum pulang.'
'Kamu ingat petunjuk lengkapnya?' tanya Kaivan.
Aku menggeleng. 'Jangan kita isi sendiri.'
'Iya.'
Kata itu terdengar bersamaan dari Kaivan dan ibunya. Aku hampir tersenyum, lalu menangis karena tiba-tiba sangat ingin melihat selembar kertas yang mungkin pernah kuselipkan dengan tergesa-gesa. Benda yang dahulu biasa saja sekarang terasa mustahil dijangkau. Seandainya aku bisa membaca satu baris saja.
Ibu Rieka duduk di kursi seberang. 'Apa kamu mau Ibu menjauh dulu?'
'Tidak. Aku cuma tidak mau Ibu menyimpulkan aku sudah benar, atau salah.'
'Ibu akan mencoba tidak melakukan keduanya.'
Aku mengangguk. Di dalam dada, kenangan tuduhannya tetap ada. Aku belum bisa menukarnya dengan perempuan yang sedang duduk tenang ini. Tetapi aku dapat membiarkan keduanya berbeda tanpa memaksa salah satunya lenyap.
Sebelum pulang, aku membantu menutup wadah lauk. Gerakan itu tidak memunculkan gambar tambahan. Aku lega sekaligus kecewa. Rupanya aku mulai berharap benda-benda bekerja seperti tombol yang dapat ditekan setiap kali membutuhkan jawaban, padahal tubuhku sudah lelah.
Di perjalanan, Kaivan menanyakan apakah aku ingin mampir membeli minum. Aku menolak, lalu mengubah jawaban beberapa menit kemudian. Dia berhenti di toko kecil tanpa menganggap perubahan pikiranku sebagai masalah. Kami duduk di mobil yang terparkir sambil menunggu hujan mereda.
'Dulu, kalau Bintang sempat lebih tenang setelah diperiksa, aku pasti ingin percaya dia akan baik,' kataku.
'Aku mungkin juga begitu.'
'Itu yang membuatku takut. Aku tidak tahu kapan harapan berubah jadi sesuatu yang tidak mau melihat.'
Kaivan memegang botolnya dengan kedua tangan. 'Kita cari bagian sesudahnya pelan-pelan. Bukan menebak bagian itu dari akhirnya.'
Aku memandang air turun di kaca. Dalam ingatan yang baru kembali, perjalanan pulang tidak dipenuhi pertengkaran. Ada lega yang rapuh. Ada bayi yang terlelap. Ada kami yang mungkin membicarakan siapa akan bangun lebih dulu bila dia menangis.
Di depan kos, aku belum segera membuka pintu. Aku mengingat satu ucapan lagi, suaraku sendiri kepada Kaivan sebelum lampu kamar dimatikan.
'Kalau besok masih begitu, kita bawa lagi.'
Aku mengulanginya sekarang. Kaivan menunduk lama setelah mendengar. Kalimat itu belum menjawab apakah pagi berikutnya berjalan sesuai rencana. Justru di sanalah pertanyaan kami berikutnya berada: apa yang berubah setelah malam berakhir, dan siapa yang mengetahuinya lebih dulu?