Aku membawa pertanyaan itu sampai ke kamar, tetapi tidak mendapatkan gambar baru sepanjang malam. Sesudah menulis kalimat yang kuingat, aku menelepon Bapak. Kami berbicara tentang pekerjaannya, tentang mahasiswa yang masih mengirim pertanyaan meskipun jam perkuliahan selesai. Suaranya terdengar kesal sekaligus senang. Aku ingin mendengar lebih lama, tetapi dia mengantuk lebih dahulu.
Senin pagi, aku tiba di kantor dengan kepala cukup jernih untuk membaca berkas. Kejernihan itu bertahan sampai Pak Sam memanggilku ke ruang rapat kecil. Kaivan sudah berada di sana bersama Adri. Di atas meja ada salinan tanggapan perusahaan Pak Idrus atas temuan pemeriksaan aset.
Namaku disebut beberapa kali.
Aku membaca paragraf yang ditandai. Mereka mengacu pada laporan kunjungan lama untuk menyatakan bahwa pihak bank mengetahui kondisi proyek sejak awal. Tanda tanganku dipakai seolah-olah membenarkan seluruh keterangan yang baru mereka sampaikan sekarang. Padahal laporan itu justru memuat batas pemeriksaan dan dokumen yang belum diberikan.
'Lampirannya tidak mereka sertakan,' kataku.
Adri mengangguk. 'Versi lengkap sudah kita punya.'
Kaivan menarik salinan itu mendekat. Rahangnya mengeras. 'Saya yang akan jawab bagian ini.'
'Aku perlu menyusun kronologinya,' kataku.
'Biar saya tangani dulu.'
Dia masih memandang kertas ketika mengatakannya. Nada itu tidak keras, tetapi tegas dengan cara yang membuat dadaku segera menutup. Aku mendengar sesuatu yang akrab: keputusan telah dibuat, dan aku cukup menunggu di luar sampai orang lain selesai menentukan apa yang terjadi padaku.
'Namaku yang dicantumkan, Pak,' jawabku.
Kaivan mengangkat wajah. Sapaan formal itu membuat ruangan mendadak lebih sunyi. Pak Sam meletakkan pena dan meminta kami kembali pada dokumen. Jawaban akan dikirim melalui jalur kantor wilayah, bukan sebagai balasan pribadi siapa pun. Orang yang membuat laporan menyusun kronologi, lalu tim memeriksa bersama.
Aku mengambil kembali salinan di depan Kaivan.
Adri menggeser kursinya agar aku dapat membuka laptop di sisi meja yang kosong. Dia menunjukkan nomor dokumen pembanding, lalu menunggu sampai aku menemukannya sendiri. Bantuan yang sederhana itu membuat tanganku berhenti gemetar. Aku tidak sedang berdiri sendirian menghadapi perusahaan tersebut. Aku juga tidak harus menghilang agar tim dapat melindungiku.
Pada halaman berikutnya ada keterangan kunjungan yang dibuat Kaivan. Aku memintanya menjelaskan satu bagian yang tidak kusaksikan langsung. Dia menjawab singkat, kemudian mencari bukti pendukungnya. Kami tetap bisa bekerja meskipun sedang tidak nyaman satu sama lain. Kesadaran itu penting bagiku. Aku tidak ingin kedekatan membuat pertanyaan dianggap serangan, atau rasa kesal membuatku sengaja menolak keterangan yang memang diperlukan.
Kami bekerja hampir dua jam. Adri menemukan surat permintaan data yang belum dijawab perusahaan ketika kunjungan berlangsung. Aku memasangkan lampiran dengan halaman bertanda tangan. Pak Sam meminta tanggal penerimaan setiap dokumen ditulis jelas, termasuk waktu berkas tertahan di mejanya. Tidak ada kalimat yang membuat kami tampak selalu benar.
Ketika rapat selesai, aku membawa laptop keluar tanpa menunggu Kaivan. Dia tidak mengejarku di depan rekan lain. Pesannya baru masuk ketika aku sedang membandingkan dua hasil pemindaian di meja sendiri.
Dia ingin bicara saat istirahat.
Aku membalas bahwa aku membutuhkan waktu makan lebih dahulu. Balasannya hanya mengatakan baik. Namun, sepanjang mengunyah, aku tetap merasakan sisa kesal yang sulit ditelan. Aku tidak mau setiap kali Kaivan berusaha melindungi, aku harus lebih dahulu memperjuangkan hak untuk berada di dalam percakapan.
Kami akhirnya bertemu di dekat tangga setelah makan siang. Pintu menuju lorong tetap terbuka. Aku berdiri agak jauh dari pegangan besi, memberinya ruang tanpa mendekat seperti saat makan bersama kemarin.
'Tadi aku mengambil alih,' katanya.
'Iya.'
'Aku melihat mereka memakai namamu. Aku marah.'
'Aku juga marah. Tapi kamu malah membuatku harus melawan kamu dulu.'
Kaivan menatap lantai. Aku membiarkan kalimatku selesai di sana. Dahulu aku mungkin segera melunakkannya, mengatakan tidak apa-apa karena maksudnya baik. Kali ini aku tidak mau mempermudah percakapan dengan menghapus bagian yang membuatku sakit.
'Aku minta maaf,' katanya. 'Kronologi tetap kamu yang buat. Aku akan periksa bagian yang menjadi tanggung jawabku.'
'Dan kalau kamu tidak setuju?'
'Aku katakan alasannya. Bukan menyuruhmu menyerahkan semuanya.'
Aku mengangguk, belum tersenyum. Permintaan maaf memberiku sesuatu untuk dilihat berikutnya, bukan kewajiban untuk langsung hangat. Kaivan tampaknya memahami itu. Kami kembali ke meja masing-masing tanpa sentuhan atau percakapan tentang masa depan.
Sore hari, dia mengirim tiga catatan pada drafku. Satu menunjukkan tanggal yang keliru kutulis, satu menanyakan dasar kalimat tentang aset, dan satu menambahkan bagiannya sendiri dalam keputusan kunjungan. Tidak ada perubahan diam-diam pada paragraf yang memakai namaku. Aku memperbaiki tanggal, lalu membalas pertanyaannya dengan lampiran.
Pekerjaan tersebut baru selesai menjelang jam pulang. Bu Ratih mengonfirmasi berkas lengkap telah diterima untuk pemeriksaan berikutnya. Tanggapan perusahaan tidak menghapus temuan yang sudah diverifikasi, tetapi kami tetap perlu menjawab setiap hal secara tertib. Aku menyimpan salinan akhir dan menutup laptop.
Kaivan menungguku dekat lift, lalu bertanya apakah aku mau diantar. Aku menolak karena ingin berjalan sebentar sebelum naik kendaraan. Dia mengangguk dan tidak menanyakan apakah aku masih marah.
'Aku masih kesal,' kataku sendiri.
'Aku tahu.'
'Tapi catatanmu tadi membantu.'
'Dua hal itu boleh sama-sama ada.'
Aku akhirnya tersenyum sedikit. 'Jangan terdengar seperti orang paling bijaksana. Tadi kamu juga menyebalkan.'
Dia tertawa pendek. 'Iya. Tadi aku menyebalkan.'
Kami keluar bersama sampai trotoar, lalu berpisah. Udara sore terasa lembap. Aku berhenti membeli roti sebelum melanjutkan perjalanan, menikmati beberapa menit ketika tidak ada orang yang membutuhkan jawaban dariku.
Di kamar, setelah berganti pakaian, aku memeriksa catatan Bintang. Tanda tanganku pada dokumen kantor mengingatkan kepada gambar lama tentang formulir persalinan. Selama ini aku selalu berhenti pada pena di tangan, seolah semua yang perlu diketahui terletak pada gerakan terakhir itu.
Malam ini ada bagian sebelum pena disodorkan.
Aku berada di tempat tidur pemeriksaan. Kaivan duduk di samping, bukan berdiri mendesakku. Seorang dokter menjelaskan sesuatu yang tidak seluruhnya dapat kuikuti dalam ingatan. Aku bertanya apakah masih bisa menunggu sampai hari yang sudah kami bicarakan sebelumnya.
Menunggu.
Bukan meminta segera. Bukan memaksa tanggal dimajukan.
Aku mencengkeram tepi meja, lalu memanggil nama Hara lewat telepon. Ketika dia menjawab, aku menceritakan kalimat tersebut tanpa membuka catatan kaset. Aku takut menyesuaikan apa yang baru kudengar dengan sesuatu yang terlalu sering kubaca.
'Berarti permintaan sebelumnya dan hari itu tidak sama?' tanyanya.
'Sepertinya begitu. Aku belum tahu kenapa.'
Setelah bicara, aku menulis dua permintaan pada dua baris. Pernah ingin lebih cepat. Pernah meminta menunggu. Aku tidak mencoret salah satunya. Seorang perempuan bisa berubah pikiran di antara dua hari, tetapi aku perlu tahu apa yang membuat diriku berubah. Di sanalah kisah kelahiran Bintang mulai terbuka lagi.