Hara menelepon kembali setelah aku selesai mencatat. Dia tidak menanyakan tanggal mana yang benar. Dia bertanya apakah aku sudah makan roti yang kubeli. Pertanyaan itu membuatku menoleh ke kantong di dekat tas, lalu mengaku baru memakan separuh.
'Habiskan dulu. Aku juga lagi makan,' katanya.
Kami mengunyah sambil membicarakan hadiah Ferdi yang ternyata langsung dipakai. Hara bersungut karena dompet lama tetap disimpan dengan alasan masih punya kenangan. Aku tertawa mendengar dia menirukan suara Ferdi. Sesudah percakapan selesai, aku dapat tidur tanpa memutar rekaman.
Selasa pagi, Kaivan menanyakan kabarku di kantor. Aku menceritakan ingatan tentang permintaan menunggu, tetapi tidak di depan meja rekan kerja. Kami berbicara singkat ketika membeli sarapan. Dia mendengarkan dengan alis berkerut, lalu bertanya apakah aku ingin menyimpan pembahasan lebih panjang untuk waktu lain.
'Nanti saja,' jawabku. 'Hari ini aku mau menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.'
Kami kembali membawa dua bungkus makanan. Aku menghabiskan pagi meneliti berkas nasabah lain yang tidak berkaitan dengan Pak Idrus. Ada satu perhitungan yang harus kuulang karena salah memasukkan angka. Aku memperbaikinya tanpa merasa seluruh kemampuanku ikut gugur karena satu kesalahan.
Menjelang siang, ponselku berdering saat aku sedang berdiri mengambil hasil cetakan. Nama Ibu Rieka muncul di layar. Aku membeku sebentar. Kertas yang baru kuambil tertekuk di bawah jari, dan ruangan terasa menjauh meskipun mataku masih melihat meja printer.
Kujawab panggilan itu.
'Gita, wadah makan kemarin tidak usah buru-buru dikembalikan,' katanya. 'Ibu baru ingat kamu mungkin membawanya ke kantor.'
Aku mengembuskan napas terlalu keras.
'Gita? Kamu sibuk?'
'Tidak, Bu. Kaget sedikit.'
Dia menunggu. Aku menyentuh tepi meja dan menyebut dalam hati tempatku berdiri. Tahun ini. Kantor ini. Ibu Rieka sedang membicarakan wadah lauk, bukan anakku. Setelah suaraku cukup tenang, aku menjawab bahwa wadahnya sudah kucuci dan akan kukembalikan ketika bertemu.
Tetapi sesudah panggilan berakhir, suara dari waktu lain masih tertinggal.
'Sekarang lebih lemas, Git.'
Aku duduk. Di dalam ingatan, aku tidak menanyakan kenapa Ibu menelepon atau menyuruhnya menunggu sampai pekerjaanku selesai. Aku menanyakan apakah Bintang masih mau minum. Ada jawaban yang patah, bunyi kendaraan, kemudian kalimat bahwa mereka sudah membawanya kembali.
Pagi sebelum itu, Bintang sempat minum lebih baik.
Gambar tersebut datang bersama telapak tanganku pada punggung kecilnya. Aku sudah berpakaian kerja, duduk di tepi tempat tidur, menunggu dia selesai. Ibu Rieka berdiri dekat lemari. Kami membicarakan malam sebelumnya dan lembar yang disimpan bersama buku kontrol.
'Kalau berubah lagi, bawa dia dulu, Bu. Nggak usah tunggu aku pulang.'
Aku mendengar kalimatku sendiri sampai akhir.
Tanganku bergetar begitu kuat sampai aku meletakkan ponsel di meja agar tidak jatuh. Aku memberi tahu rekan di sebelah bahwa perlu keluar sebentar. Di lorong, aku menelepon Hara, tetapi dia tidak mengangkat. Aku tidak terus menekan namanya. Aku mengambil air dan duduk, lalu mengirim pesan bahwa aku sedang menenangkan diri dan akan menghubunginya nanti.
Kaivan menemukanku setelah beberapa menit. Dia berhenti ketika melihat gelas di tanganku, lalu bertanya apakah aku ingin ditemani. Aku mengangguk. Kali ini aku tidak menunggu sampai semua gambar tersusun rapi sebelum berbicara.
'Aku memberi tahu Ibu agar tidak menungguku,' kataku. 'Dan waktu dia menelepon, mereka sudah berangkat.'
Kaivan menunduk, menggosok wajahnya sebentar. 'Kamu mau menuliskannya?'
'Sebentar lagi. Aku ingin mengatakannya dulu.'
Lalu kuceritakan pagi itu, sedikit perubahan yang sempat membuatku lega, dan suara kendaraan dalam telepon. Aku tidak tahu berapa lama jarak antara kondisi Bintang memburuk dan keberangkatan mereka. Tidak ada jam yang cukup jelas. Tetapi aku tidak lagi melihat perempuan yang sengaja meminta bayi sakit menunggu sampai urusan kantornya selesai.
'Selama ini aku percaya tuduhan itu karena aku memang pergi bekerja,' kataku. 'Seolah berangkat saja sudah menjelaskan semuanya.'
'Aku sedih kamu menanggungnya seperti itu.'
Kalimat Kaivan sederhana. Dia tidak mengatakan bahwa sekarang kami sudah menemukan orang lain yang patut disalahkan. Aku meletakkan gelas di kursi kosong, lalu menangis dengan wajah menghadap dinding. Dia tetap duduk di samping tanpa berusaha menyembunyikanku.
Setelah lebih tenang, aku meminta izin kepada Pak Sam untuk mengambil sisa waktu istirahat lebih panjang. Pekerjaan yang mendesak kuserahkan dengan keterangan jelas. Kaivan tidak menjawabkan pertanyaan untukku. Dia kembali bekerja setelah memastikan aku punya tempat duduk dan air.
Hara menelepon ketika aku sudah dapat makan sedikit. Dia baru selesai mengurus pekerjaannya dan langsung menanyakan keadaanku. Aku mengatakan sudah lebih tenang, lalu menceritakan kenangan pagi bersama Bintang. Di seberang, Hara sesekali mengulang bagian yang kurang jelas karena sambungan tersendat. Tidak ada desakan agar cerita itu segera sampai pada kesimpulan.
'Maaf tadi aku nggak bisa angkat,' katanya sesudah aku berhenti.
'Kamu tidak harus selalu bisa, Ra. Aku berhasil menunggu.'
Mengatakannya membuatku menyadari sesuatu yang baru kulakukan. Aku tidak sendirian meskipun satu orang tidak dapat menjawab saat itu juga. Ada rekan yang tahu aku keluar, ada kursi tempat aku bisa duduk, ada Kaivan yang datang tanpa mengambil semua keputusan. Hara menarik napas lega ketika mendengarnya.
Kami menyepakati akan berbicara lagi malam nanti jika aku masih membutuhkan. Sesudah telepon berakhir, aku melipat pembungkus makanan dan membuangnya. Tanganku sudah tidak gemetar. Aku kembali ke meja untuk menyelesaikan bagian pekerjaan yang sanggup kukerjakan, bukan untuk membuktikan bahwa tidak terjadi apa-apa. Hari itu memang berat. Aku tidak perlu menyembunyikannya agar tetap dianggap mampu.
Sore itu aku menelepon Ibu Rieka sebelum pulang. Aku mengatakan panggilannya tadi memicu ingatan, lalu menjelaskan bahwa ia tidak melakukan kesalahan dengan meneleponku. Perempuan itu mendengarkan sampai selesai, kemudian meminta maaf karena hampir berkata akan berhenti menghubungiku di jam kerja.
'Tidak perlu begitu, Bu,' kataku. 'Aku cuma perlu tahu yang sedang kita bicarakan sekarang.'
'Tentang wadah,' jawabnya pelan.
'Iya. Tentang wadah.'
Kami tertawa kecil, canggung dan basah. Setelah itu aku menceritakan kalimat yang kuingat tentang membawa Bintang tanpa menungguku. Ibu Rieka lama diam. Ketika berbicara lagi, suaranya serak.
'Ibu ingin bisa menjawab apa yang terjadi setelahnya.'
'Aku tahu. Tapi Ibu tidak perlu membuat jawaban agar aku tidak sedih.'
Di kamar malam itu, aku menulis urutan yang baru. Keluhan pada sore hari. Pemeriksaan malam. Sempat lebih baik pada pagi. Perubahan berikutnya ketika aku di kantor. Ada banyak ruang kosong, tetapi sekarang masing-masing tidak langsung kuisi dengan kata terlambat.
Aku menelepon Kaivan setelah makan. Ketika dia bertanya bagaimana perasaanku, aku mengatakan lega dan marah bersamaan. Lega karena mengingat pernah berusaha. Marah karena bertahun-tahun kehilangan seolah membuktikan aku tidak pernah mencintai anakku dengan benar.
'Kamu mencintainya,' kata Kaivan.
Aku memegang ujung halaman. Untuk pertama kali aku tidak menunggu dia mengatakannya dua kali.
'Iya,' jawabku. 'Aku mencintainya. Bahkan sebelum aku tahu bagaimana menjelaskan semua yang terjadi.'