Kaivan tidak segera menjawab setelah aku mengatakan mencintai Bintang. Aku mendengar napasnya, lalu sesuatu diletakkan di meja. Ketika suaranya kembali, ada getar yang tidak dia sembunyikan.
'Aku ingin bisa mengenalnya selain lewat hari-hari yang menyakitkan ini.'
Aku memandang jendela. Selama beberapa saat aku tidak tahu harus mengatakan apa. Lalu kuingat suara cegukan kecil sesudah menyusu, jari yang menggenggam ujung bajuku, dan wajah Kaivan yang begitu serius ketika belajar melipat kain.
'Kamu pernah memasangkan bajunya terbalik,' kataku.
'Aku?'
'Kancingnya di belakang. Kamu bilang model baju bayi memang membingungkan.'
Kaivan tertawa, kemudian diam lagi. Aku ikut tersenyum sambil menangis. Untuk beberapa menit kami membicarakan Bintang tanpa menjadikan setiap kenangan sebagai petunjuk. Aku tidak mencatat lelucon Kaivan. Aku ingin menyimpannya sebagai sesuatu yang pernah membuat kami bahagia, bukan bahan pemeriksaan berikutnya.
Rabu kulewati dengan pekerjaan yang kemarin tertunda. Aku mengirim jawaban untuk catatan Bu Ratih, makan siang bersama Adri dan dua rekan lain, lalu pulang tepat waktu. Kaivan punya rapat tambahan. Dia memberi tahu tanpa merasa harus meminta izin, dan aku menerima kabar itu tanpa menghitung kemungkinan bahwa dia sedang menjauh.
Malamnya Bapak menelepon. Aku menceritakan ingatan tentang memberi pesan kepada Ibu Rieka sebelum bekerja. Bapak mendengar lama, lalu mengatakan ingin menyampaikan sesuatu tentang masa perawatanku dahulu, kalau aku bersedia.
'Tentang apa, Pak?'
'Tentang keputusan yang Bapak ambil waktu kamu sakit.'
Aku duduk lebih tegak. Dia menjelaskan betapa takutnya ketika harus menyetujui pemeriksaan dan perawatan yang tidak sepenuhnya dia pahami. Dia bertanya berulang kali kepada dokter. Sesudah menandatangani, rasa takut itu tidak hilang. Bertahun-tahun dia menutupi ketakutan tersebut dengan bersikap seolah selalu tahu yang terbaik bagiku.
'Itu tidak membenarkan Bapak menyembunyikan cerita,' katanya. 'Bapak cuma baru bisa mengaku kalau waktu itu Bapak juga bingung.'
'Apa Bapak menyesali semuanya?'
'Tidak semuanya. Ada keputusan yang Bapak pahami alasannya sampai sekarang. Ada cara memperlakukanmu yang seharusnya tidak Bapak pilih.'
Aku menunduk. Selama ini aku sering meminta satu jawaban untuk seluruh masa lalu: baik atau buruk, benar atau salah, harus diulang atau dihapus. Bapak sedang memisahkannya tanpa meminta aku melupakan sakit hati. Aku dapat mendengar perbedaan itu.
Kamis, aku membawa cerita tentang Bintang ke sesi konseling yang sudah dijadwalkan. Kali ini aku lebih banyak membicarakan kemarahan daripada rasa bersalah. Aku marah kepada ucapan yang terus hidup di kepalaku, kepada diriku yang mempercayainya, dan kepada kehilangan yang tidak menyediakan kesempatan menjawab.
Sepulangnya, Kaivan mengirim pesan. Dia mengajak makan Jumat malam, lalu menambahkan bahwa dia ingin mengajakku pergi sebagai seseorang yang menyukaiku. Bukan pertemuan untuk membuka buku ingatan.
Aku membaca pesan itu sambil berdiri di depan pintu kos.
Dahulu aku mungkin akan langsung mencari tanda bahaya atau tanda takdir. Malam itu aku justru memikirkan apakah aku ingin duduk berhadapan dengannya ketika tidak ada kaset di antara kami. Jawabannya datang pelan, tetapi cukup jelas untuk kutulis.
Aku mau.
Jumat berlangsung dengan kegugupan yang hampir lucu. Aku dua kali melihat pantulan wajah pada layar laptop yang gelap. Hara mengirim pertanyaan tentang pakaian, lalu menertawakan jawabanku yang mengatakan hanya makan biasa. Aku akhirnya mengaku bahwa memang bukan makan biasa.
Kami bertemu sesudah pulang kerja. Aku sempat kembali ke kos untuk mengganti pakaian, sedangkan Kaivan menjemput sesuai waktu yang disepakati. Dia mengenakan kemeja sederhana dengan lengan digulung. Saat melihatku, senyumnya terlambat muncul karena dia lebih dahulu terdiam.
'Kenapa?'
'Aku sedang berusaha tidak mengatakan sesuatu yang terdengar berlebihan.'
'Bagus. Teruskan usahanya.'
Dia tertawa, dan kegugupanku sedikit mengendur.
Tempat makan yang dipilihnya tidak mewah. Kami duduk dekat halaman kecil dengan lampu menggantung. Aku memesan makanan sendiri, lalu menukar sedikit lauk dengannya ketika ternyata pesanannya lebih menarik. Tidak ada pertanyaan mengenai arti tanggal di dalam rekaman sepanjang kami makan.
Ponselnya sempat bergetar. Dia melihat layar, mengatakan ada pesan pekerjaan yang perlu dijawab singkat, lalu melakukannya di depanku. Aku menunggu sambil minum. Setelah selesai, dia meletakkan ponsel dan kembali pada percakapan kami. Tidak ada rasa puas karena berhasil mengawasinya. Yang kurasakan justru lega karena lima menit itu tidak berkembang menjadi pertengkaran yang sudah kuhafal akhirnya.
Aku sendiri kemudian membalas pesan Hara, memberitahukan bahwa makanan kami sudah datang. Kaivan menunggu dengan sabar yang sama. Malam ini kami tidak perlu berpura-pura tidak memiliki kehidupan lain agar dapat saling memperhatikan.
Kami membicarakan musik, makanan yang tidak disukainya, dan kebiasaanku membaca bagian akhir sebuah cerita ketika sudah terlalu cemas. Kaivan memandangku dengan ekspresi geli ketika mendengar pengakuan terakhir itu.
'Kalau akhirnya sedih?'
'Aku marah, lalu tetap membaca dari awal.'
'Jadi tetap mau tahu bagaimana mereka sampai ke sana?'
Aku menahan senyum. 'Kadang. Kalau tokohnya tidak terlalu menyebalkan.'
Dia mengangkat kedua tangan sedikit. 'Aku akan ingat itu.'
Sesudah makan, kami berjalan di sepanjang halaman. Kaivan berhenti untuk membiarkan sepasang orang lewat, lalu mengulurkan tangannya. Aku memandangnya sebentar sebelum menyambut. Telapak tangannya hangat. Aku mengenali perasaan ingin mendekat, dan kali ini tidak langsung menghukumnya karena pernah berakhir buruk.
'Aku belum bisa menjanjikan hubungan yang kamu harapkan,' kataku.
'Aku ingin mencoba mengenalmu sekarang. Bukan meminta janji menikah malam ini.'
'Bukan supaya Bintang lahir?'
Kaivan menatapku lebih lama. 'Aku tidak mau kamu merasa harus memilihku demi mengembalikan dia.'
Mataku panas. Aku mencintai Bintang dengan seluruh bagian diriku yang masih terluka, tetapi anakku tidak boleh menjadi kewajiban yang memaksaku menyerahkan hidup. Mendengar Kaivan mengatakan itu tidak mengurangi cintaku kepada siapa pun.
Aku mendekat dan menyandarkan kepala sebentar pada bahunya. Tangannya menutup genggamanku lebih erat, lalu mengendur ketika aku kembali berdiri tegak. Kami pulang tanpa membuat janji tentang seluruh tahun yang belum terjadi.
Di kamar, aku melepas anting dan menyimpan tas. Buku ingatan masih tertutup di meja. Aku hampir mematikan lampu ketika percakapan dengan Bapak tentang tanda tangan kembali terlintas, disusul gambar ruang pemeriksaan yang pernah muncul Senin malam.
Kali ini aku mendengar pertanyaanku sesudah meminta menunggu.
'Apa risikonya kalau ditunda?'
Kaivan memegang tanganku. Dokter kembali menjelaskan hasil pemeriksaan, menunjuk sesuatu di lembar depan, lalu mengatakan keadaan saat itu berbeda dari ketika rencana dibuat. Aku belum dapat menangkap penjelasan lengkapnya. Namun, aku mengingat diriku meminta penjelasan ulang sebelum meraih pena.
Aku duduk perlahan. Permintaan memilih tanggal dan keputusan hari persalinan ternyata mempunyai percakapan di antaranya. Ada keadaan yang berubah. Ada pertanyaan yang pernah kuajukan. Aku belum tahu apakah tanggal pada kaset mengikuti urutan yang sama.
Di halaman baru, kutulis kalimat dokter yang masih terdengar. Setelah itu aku menghubungi Kaivan, bukan untuk membatalkan kebahagiaan malam kami, melainkan karena ada bagian lain yang kini sanggup kuceritakan.
'Aku mulai ingat kenapa rencana itu tidak bisa tetap sama,' kataku ketika dia menjawab. 'Bukan alasannya secara lengkap. Tapi kita pernah meminta dokter menjelaskannya.'