'Apa yang kamu dengar?' tanya Kaivan.
Aku menempelkan ponsel lebih rapat ke telinga. Di meja, anting yang baru kulepas terletak di samping buku ingatan. Aku masih mengenakan pakaian untuk makan malam tadi. Ada bagian diriku yang ingin mempertahankan sisa hangat di halaman restoran, tetapi suara dokter terus datang, membawa ruangan lain yang tidak bisa kututup hanya dengan mematikan lampu.
'Keadaannya berbeda dari waktu rencana dibuat,' jawabku. 'Dokternya mengatakan itu sambil menunjukkan hasil pemeriksaan.'
Aku memejamkan mata sebentar. Ada kain yang terasa lembap, pertanyaan tentang sejak kapan air merembes, dan tanganku yang menekan bagian bawah perut. Aku tidak melihat wajah dokter dengan jelas. Yang kulihat justru Kaivan, duduk di samping ranjang sambil masih mengenakan kemeja kerja.
Dia bertanya apakah dokter bisa menjelaskan sekali lagi.
Permintaan itu bukan bantahan. Dia mendekatkan kursinya agar dapat mendengar, lalu memandangku ketika penjelasan kembali diberikan. Aku menangis karena hari yang kubayangkan masih jauh ternyata mungkin tidak dapat ditunggu. Kami membicarakan hasil pemeriksaan saat itu, bukan mencari tanggal yang terlihat indah pada kalender.
'Aku ingat ketuban,' kataku. 'Ada pertanyaan tentang cairan yang keluar. Tapi aku belum ingat seluruh hasil pemeriksaannya.'
'Kamu mau aku tetap di telepon?'
'Iya. Jangan tanya dulu.'
Kaivan diam. Aku meletakkan kedua kaki di lantai dan menatap sandal di bawah meja. Ingatan itu tidak datang sebagai penjelasan yang lengkap. Ia datang bersama rasa malu karena pakaianku basah, ketakutan mendengar kata risiko, serta keinginan kekanak-kanakan agar seseorang mengatakan aku boleh pulang dan kembali pada hari yang sudah dipersiapkan.
Aku pernah ingin mempercepat. Di ranjang itu, aku justru ingin menunggu.
Gambar bergeser sedikit. Aku melihat pulpen di tanganku dan Kaivan membuka halaman formulir agar tidak terlipat. Dokter tidak menyodorkannya sebagai hadiah untuk permintaanku memilih hari. Ada percakapan yang panjang sebelum itu. Aku menanyakan apa yang akan dilakukan untuk bayi setelah lahir, kemudian meminta mereka mengulang bagian yang tidak kupahami.
Tanganku berhenti bergerak di atas buku.
'Kai.'
'Aku di sini.'
'Di gambar ini kamu juga di sini.'
Dia tidak langsung menjawab. Aku menatap tulisan lama tentang persalinan yang kusimpan beberapa halaman sebelumnya. Kalimat-kalimatnya kubuat sebelum kenangan malam ini datang. Di sana, Kaivan belum tiba. Aku berada di rumah sakit dan teleponku tidak tersambung. Meyra membantu menghubunginya.
Tetapi tangan yang baru saja kurasakan menggenggamku bukan tangan Meyra.
'Aku pernah bilang kamu masih dinas ketika aku menandatangani,' kataku.
'Iya. Aku ingat kamu menceritakannya.'
'Sekarang aku melihat kamu duduk di sampingku sebelum aku mengambil pena.'
Keheningan di seberang menjadi begitu panjang sampai aku mendengar suara kendaraan melewati rumahnya. Aku hampir menawarkan penjelasan. Mungkin dua formulir. Mungkin ruangan lain. Mungkin dia datang di antara dua percakapan dan aku mencampurkannya. Semua itu mungkin, tetapi aku tidak ingin memilih satu hanya supaya bisa segera tidur.
'Dalam cerita pertama aku marah karena kamu belum tiba,' kataku. 'Aku masih ingat rasanya menunggu telepon tersambung. Bukan cuma ingat pernah menuliskannya.'
'Dan dalam gambar yang sekarang?'
'Aku takut, tapi aku tahu kamu di sampingku. Aku bahkan kesal karena tanganmu dingin sekali.'
Kaivan mengembuskan napas. Kedua perasaan itu sama-sama mempunyai tempat di dalam tubuhku. Salah satunya tidak terdengar seperti cerita orang lain yang pernah kubaca. Aku dapat mengingat kesepian menatap pintu dan kekesalan kecil ketika sebuah tangan menggenggam terlalu erat. Justru hal-hal biasa itu membuatku sulit memilih mana yang harus dibuang.
Aku menarik lembar kosong dan menulis keberadaan Kaivan sebelum membahas apa pun tentang tanggal. Untuk sekali ini, pertanyaannya bukan siapa yang membuat keputusan paling tepat. Pertanyaannya jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih mengganggu: siapa yang benar-benar berada di ruangan bersamaku ketika keputusan itu dibuat?
'Kita jangan membetulkan yang lama dulu,' kata Kaivan akhirnya.
'Aku tahu. Tapi aku takut selama ini sudah melakukannya.'
Aku membuka halaman tentang kepulangan Bintang. Semakin banyak yang kuingat beberapa minggu terakhir, semakin mudah aku menganggapnya sebagai isi dari bagian yang kosong. Aku tidak selalu berhenti untuk bertanya apakah setiap potongan memang berasal dari kehidupan yang sama.
Ada surat yang sudah memperingatkanku tentang itu. Aku telah membacanya, lalu menghabiskan begitu banyak tenaga untuk takut hingga lupa memakainya ketika sungguh diperlukan.
'Apa kamu sendirian sekarang?' tanya Kaivan.
'Di kamar. Aku masih bisa bicara.'
'Aku tidak menanyakan supaya bisa datang tanpa diminta.'
Aku mengembuskan napas, sedikit lebih longgar. 'Aku tahu.'
Kami sepakat tidak memutar kaset malam itu. Aku menuliskan kehadiran Kaivan pada lembar baru, terpisah dari cerita ketika Meyra menghubunginya. Sesudahnya aku mengirim pesan kepada Hara, meminta waktu besok untuk membaca catatan awal bersama. Aku menjelaskan tidak sedang membutuhkan pertolongan segera. Aku hanya tidak ingin menghadapi perbandingan itu sendirian.
Kaivan masih menunggu di telepon ketika pesan selesai kukirim.
'Aku tadi bahagia,' kataku tiba-tiba.
'Saat makan?'
'Iya. Aku tidak mau kamu mengira percakapan ini membatalkan semuanya.'
Dia menghela napas pelan. 'Aku juga bahagia, Git. Kita boleh punya malam yang lebih dari satu macam.'
Aku tersenyum sambil mengusap mata. Sesudah kami mengakhiri panggilan, aku mandi dan mengganti pakaian. Pakaian yang kukenakan tadi tidak kumasukkan sembarangan ke keranjang. Kugantung baik-baik, seolah tindakan kecil itu dapat mengakui bahwa malam tersebut memang pernah berlangsung, lengkap dengan makan, tawa, dan tanganku yang memilih tangannya.
Tidurku terputus beberapa kali, tetapi tidak ada gambar baru. Ketika bangun menjelang pagi, aku hampir meraih buku sebelum minum. Aku menghentikan tangan sendiri dan membuka jendela. Udara kamar masih dingin. Di luar, seseorang sedang menyapu halaman, mengumpulkan daun yang sama sekali tidak peduli pada tahun dalam kepalaku.
Hara membalas setelah matahari naik. Dia bisa datang menjelang siang dan bertanya apakah perlu membawa apa pun. Aku memintanya membawa ingatannya tentang cerita yang pernah kusampaikan ketika baru kembali ke tahun ini, bukan dugaan mengenai cerita yang seharusnya terjadi.
Balasannya singkat: dia akan mencoba, tetapi tidak menjanjikan hafal semuanya.
Aku menyukai jawaban itu. Aku membutuhkan sahabat, bukan orang yang dipaksa menjadi arsip sempurna.
Sambil menunggu, kubuka halaman paling awal dalam buku kerjaku. Di tepinya ada nama Bintang yang kutulis dengan tekanan pena terlalu kuat. Aku menatapnya sampai teringat satu hal yang selama ini tidak pernah benar-benar hilang, hanya tertutup pencarian yang semakin ramai.
Panggilan pada hari kematiannya bukan datang dari Ibu Rieka.
Ada suara perempuan lain, lebih muda, begitu panik hingga beberapa kata tidak selesai diucapkan. Perempuan dari yayasan yang kami percayai untuk menjaga Bintang setelah cuti melahirkanku berakhir.
Aku berhenti membalik halaman. Kali ini perbedaannya tidak terletak pada posisi kursi atau waktu Kaivan tiba. Ada dua suara yang mengabarkan dua keadaan berbeda. Aku harus mendengarkan keduanya tanpa membuat salah satunya menggantikan yang lain.