Hara tiba membawa bubur dan meminta aku makan sebelum membuka halaman berikutnya. Aku tidak membantah. Sejak pagi aku hanya minum, terlalu sibuk memandangi satu nama di layar ponsel yang sudah tidak mungkin bisa kuhubungi di tahun ini. Nomor pengasuh itu tidak tersimpan dalam ponselku sekarang. Yang tersimpan hanya ingatanku tentang suaranya.
'Ceritakan dari bagian yang paling kamu yakin,' kata Hara setelah wadah makanan kami tutup.
Aku duduk berhadapan dengannya. Buku di antara kami kubiarkan tertutup dahulu. Aku tidak ingin membaca cerita yang disusun belakangan lalu menyebutnya sebagai hal pertama yang kuingat.
'Bintang berumur empat bulan,' kataku.
Hara mengangguk. Tidak membantu menyelesaikan kalimat, tidak memberikan angka lain.
'Cuti melahirkanku tiga bulan. Aku kembali bekerja. Kami memakai pengasuh dari yayasan.'
Aku dapat melihat pagi-pagi biasa dalam kehidupan itu. Pakaian kerja yang terasa berbeda pada tubuh sesudah melahirkan, tas tambahan yang kubawa, rasa ingin cepat pulang yang datang bahkan sebelum sampai kantor. Aku tetap berangkat karena pekerjaanku juga bagian dari hidup, dan saat itu aku percaya anakku berada dalam pengasuhan yang sudah kami persiapkan.
Pada siang yang tidak pernah dapat kulupakan, ponselku berdering.
Perempuan di seberang mengatakan Bintang tidak bernapas.
Aku merapatkan kedua tangan. Hara tidak menyentuhku sebelum aku sendiri meraih pergelangannya. Ada suara dari lorong kos, langkah orang menuju kamar mandi, tetapi dalam kepala aku kembali mendengar kata-kata yang tidak pernah menjadi lebih ringan meskipun sudah diulang berkali-kali.
'Bukan keluhan kemarin,' kataku. 'Di ingatan itu, aku tidak menanyakan keluhan kemarin. Aku bertanya apa yang terjadi.'
'Kamu mau berhenti sebentar?'
Aku menggeleng, kemudian meminta air. Hara menyerahkannya dan menunggu sampai gelas kembali kuletakkan.
'Dokter menjelaskan SIDS. Sudden Infant Death Syndrome. Aku ingat istilah itu karena sesudahnya aku berulang kali berusaha menjelaskannya kepada diriku sendiri. Kai mendengarnya juga.'
Mengucapkan nama yang diberikan dokter dalam kehidupan tersebut tidak membuatku mengetahui semua hal tentang kematian Bintang. Tetapi itu adalah bagian dari cerita awal. Bukan sesuatu yang baru kusimpulkan dari bayi yang sulit minum atau suara Ibu Rieka dalam kilasan terakhir.
Hara meremas tanganku sedikit.
'Sesudah dia meninggal, aku masih harus memompa ASI,' kataku. 'Aku ingat berdiri di depan wastafel dan merasa tubuhku belum tahu bahwa dia sudah tidak ada.'
Suara itu mengecil sebelum kalimat selesai. Tidak ada angka atau petunjuk rahasia di dalam kenangan tersebut. Ada kegiatan yang harus tetap kulakukan ketika aku hampir tidak sanggup berdiri. Ada pakaian yang kubuka lalu kupakai kembali, dan rumah yang terasa terlalu sunyi sesudahnya.
Aku juga mengingat pengunduran diriku dari pekerjaan. Keputusan itu datang sesudah kehilangan, ketika aku masih berharap kami dapat memperbaiki rumah tangga dan mempunyai anak lagi. Harapan tersebut tidak berhasil mendekatkan dua orang yang mulai saling menjauh. Rangkaian itu tetap utuh, betapapun menyakitkan. Aku tidak boleh mengubahnya menjadi cerita tentang masa cuti yang belum selesai hanya karena bayi dalam gambar baru tampak lebih kecil.
'Aku ingat kamu pernah bilang kematiannya mendadak,' katanya. 'Aku tidak bisa memastikan semua kalimat yang kamu ucapkan dulu. Tapi kamu tidak pernah bercerita bahwa Ibu Rieka yang menelepon tentang dia kembali dirawat.'
Aku menatapnya. Mendengar sahabatku mengatakan itu membuat sesuatu di dadaku runtuh perlahan. Selama ini aku begitu ingin menemukan urutan yang dapat dipahami, sampai hampir membiarkan cerita yang baru muncul mengambil tempat cerita yang sudah kubawa sejak awal.
'Aku tidak mengarang rasa kehilangan itu, Ra.'
'Aku tidak bilang kamu mengarang.'
'Aku tahu. Aku sedang bilang kepada diriku sendiri.'
Hara mendekatkan kursinya. Kami duduk tanpa bicara sampai aku dapat melepaskan tangannya. Lalu kubuka buku pada halaman yang memuat panggilan Ibu Rieka. Ada pemeriksaan malam, keadaan yang sempat lebih baik, dan pesan untuk segera membawa Bintang bila berubah. Semua itu masih kuingat. Tidak satu pun lenyap hanya karena cerita tentang pengasuh akhirnya kuucapkan lagi.
'Bisa jadi perawatan itu terjadi sebelumnya,' kata Hara hati-hati. 'Bukan hari dia meninggal.'
'Bisa. Selama ini kita memang belum tahu apakah panggilan Ibu pada hari kematian.'
'Jadi jangan kita putuskan hanya dari dua telepon.'
Aku mengangguk. Kemungkinan itu tetap ada. Tetapi sekarang ada perbedaan lain yang harus diletakkan di sampingnya: Kaivan hadir sebelum tanda tangan, sedangkan dalam ingatan awal dia masih dalam perjalanan. Aku menceritakan kedua adegan tanpa mencoba menyambung celah di antaranya.
Kami membuat tiga tempat di meja. Cerita yang kubawa ketika terbangun di tahun ini. Ingatan yang muncul sesudah arsip dan kalung ditemukan. Potongan yang belum dapat kutempatkan. Hara mengambil penjepit kertas agar lembar-lembar tersebut tidak kembali bercampur ketika aku memindahkannya.
Tidak ada urutan lingkaran pertama atau kedua pada judulnya. Kami belum tahu penomoran itu dimulai dari kehidupan yang mana.
Saat memisahkan halaman, aku menemukan catatan tentang tanggal perkiraan lahir dan tanggal kelahiran yang sejak awal kukenal. Jarak beberapa minggu itu tetap sama seperti ketika pernah kusebut kepada Kaivan. Aku menatap dua angka tersebut cukup lama hingga gambar lain muncul, kali ini bukan ruang pemeriksaan.
Ada kartu kelahiran di dalam map.
Aku berdiri dekat meja kamar, mengangkat kartu itu untuk ditunjukkan kepada seseorang. Kaivan menjawab dari belakangku. Aku mengatakan tanggal pada kartu tidak sama dengan yang kuingat, lalu menangis sebelum dapat menjelaskan mengapa sebuah angka membuatku begitu takut.
'Aku pernah melakukan perbandingan ini sebelumnya,' bisikku.
Hara meletakkan penjepit. 'Apa yang kamu lihat?'
Kuceritakan kartu itu. Aku belum sanggup menyebut semua tulisan di atasnya, tetapi rasa terkejutnya begitu khas: bukan kecewa karena melahirkan sebelum perkiraan, melainkan mengenali bahwa hari lahir anakku telah berbeda dari suatu hari yang sudah pernah kujalani.
'Itu cocok dengan surat,' kata Hara.
'Atau aku melihatnya karena terlalu sering membaca surat.'
Dia mengangguk. Kami menambahkan gambar tersebut pada kelompok yang belum pasti, tidak memberinya kedudukan lebih tinggi hanya karena ia terasa menjelaskan semuanya.
Menjelang sore, Kaivan menelepon. Aku meminta Hara tetap duduk ketika menceritakan perbedaan dua panggilan kepadanya. Suaraku patah sewaktu mengulang istilah dari dokter, tetapi aku menyelesaikannya. Kaivan tidak bertanya mana yang ingin kupercaya. Dia menanyakan apakah besok kami boleh membaca peringatan dalam surat bersama lagi.
'Boleh,' kataku. 'Tapi aku ingin kita membawa cerita awal juga. Jangan hanya membawa potongan yang paling baru.'
Sesudah telepon ditutup, Hara membantuku membereskan meja. Di antara lembar-lembar itu ada empat bulan kehidupan yang tidak boleh hilang: tangis, tidur, pakaian kecil, dan seorang anak yang sudah kucintai sebelum semua teka-teki ini kembali.
Aku menyelipkan cerita tersebut paling depan. Bukan karena bagian lain pasti salah. Aku hanya tidak akan membiarkan anakku berubah menjadi seseorang yang berbeda setiap kali sebuah petunjuk baru datang.