Kami membawa tiga kelompok catatan ke rumah Ibu Rieka pada Minggu siang. Hara menyetir, sementara aku memangku tas tanpa mengeluarkan isinya sepanjang perjalanan. Setelah malam yang lebih tenang, aku dapat merasakan betapa lelahnya diriku kemarin. Memisahkan ingatan ternyata tidak langsung membuatnya lebih ringan.
Kaivan membukakan pintu. Dia menanyakan apakah aku sudah makan, lalu membantu Hara membawa kantong buah ke dapur. Tidak ada sambutan seolah kami akan memecahkan sesuatu hari itu. Ibu Rieka menyiapkan ruang di meja dan meminta kami memberi tahu bila perlu berhenti.
Surat lama dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. Kami memakai salinan yang sudah ada untuk membaca, membiarkan kertas asli tetap terlindung. Aku tidak mencari lipatan tersembunyi. Tidak ada halaman baru yang menjanjikan jawaban setelah sekian banyak percakapan berputar di sekelilingnya.
Hara membaca peringatan tentang perubahan yang tidak menghapus ingatan lama.
Aku menatap dua kelompok di depan kami. Kalimat itu terdengar berbeda sekarang. Dahulu ia seperti penjelasan tentang dunia yang mustahil. Hari ini ia terasa seperti petunjuk kerja yang hampir kami abaikan ketika sebuah ingatan baru tampak lebih mudah disusun daripada yang lama.
'Kita tahu surat ini sudah ada sejak aku dirawat,' kataku. 'Tapi orang yang menulisnya tetap bisa bingung.'
'Kamu juga menulis supaya tidak langsung percaya,' jawab Hara.
Ibu Rieka meminta aku mengulangi perbedaan dua panggilan. Aku menceritakannya dengan lebih singkat daripada kemarin. Perempuan itu mendengar namanya pada salah satu rangkaian, kemudian menatap cerita tentang pengasuh pada rangkaian lain.
'Jadi ketika kamu bercerita Ibu membawa Bintang, itu belum tentu hari yang dulu pertama kamu ingat?'
'Iya, Bu. Bisa juga hari lain. Kita belum mempunyai seluruh urutannya.'
Dia mengangguk lama. 'Ibu hampir merasa diberi kesempatan membuktikan Ibu melakukan sesuatu yang benar.'
Aku menatapnya. Pengakuan itu begitu terus terang hingga aku tidak langsung tahu harus menjawab apa.
'Ibu malu mengatakannya,' lanjutnya. 'Tapi waktu kamu bilang Ibu sudah membawa dia, Ibu lega sekali. Padahal yang sedang kamu cari bukan pembelaan untuk Ibu.'
Kaivan menunduk. Hara tidak memotong dengan kalimat penghiburan. Aku membiarkan ucapan itu tinggal di meja, di antara kertas yang selama ini mudah sekali kami gunakan untuk membenarkan atau menghukum diri sendiri.
'Aku juga ingin menemukan ingatan yang membuatku tidak bersalah,' kataku. 'Mungkin itu sebabnya aku cepat sekali merangkainya.'
Tidak seorang pun berkata kami seharusnya sudah lebih kuat. Ada kesedihan yang sama di ruangan itu, tetapi tanggung jawab kami terhadap kesedihan tersebut tidak selalu sama. Aku berhak marah atas tuduhan yang pernah kuterima. Ibu Rieka berhak mengakui ketakutannya tanpa menjadikanku orang yang harus menenangkan.
Kami memutar kembali bagian rekaman di bukit. Angin terdengar lebih dahulu, lalu suara tawa Kaivan remaja. Jari Kaivan yang dewasa berhenti di atas lututnya. Aku duduk cukup dekat untuk melihat dia menelan ludah sebelum suaraku menyebut tahun 2020.
Dalam rekaman, aku mengatakan sudah meminta kembali ke April 2017, mencoba menjauh darinya, dan tetap kehilangan Bintang.
Tidak ada kata baru. Namun, kini aku mendengar urutannya dengan perhatian yang berbeda.
'Aku tidak cuma mengatakan pernah tahu masa depan,' kataku setelah pemutaran berhenti. 'Aku mengatakan sudah pernah mencoba mengubahnya.'
Hara mengangguk. 'Itu memang isi rekamannya. Bukan sesuatu yang baru muncul sesudah kita membaca surat.'
Kaivan berdiri untuk mengambil air. Ketika kembali, dia meminta waktu sebelum melanjutkan. Aku melihat wajahnya dan tiba-tiba memahami bahwa baginya setiap cerita tentang kehidupan lain juga membawa kemungkinan menjadi lelaki yang kembali menyakitiku.
'Apa kamu merasa harus membuktikan kamu versi yang paling baik?' tanyaku.
Dia tertawa tanpa senang. 'Kadang. Aku tahu itu bukan pertandingan. Tapi kadang aku mendengar tentang diriku yang lain lalu sibuk ingin berbeda, bukan benar-benar mendengarkanmu.'
'Aku tidak bisa memberimu nilai untuk hidup yang belum kamu jalani.'
'Aku tahu.'
Dia duduk kembali. Kami tidak menyelesaikan ketakutan itu dengan satu kalimat, tetapi setidaknya ia sudah disebut. Aku tidak harus menjadikan Kaivan sekarang sebagai pemenang agar boleh menikmati makan malam bersamanya.
Ibu Rieka merapikan ujung salinan yang terangkat. Matanya berhenti pada tulisan suaminya, lalu dia menarik tangan agar tidak menutupi bagian yang sedang kami baca.
'Kadang Ibu juga ingin meminta jawaban tentang ayahmu dari semua ini,' katanya kepada Kaivan.
Kaivan memandang foto di meja kecil. Aku baru menyadari bahwa sepanjang kami membicarakan cara mencegah kehilangan Bintang dan Bapak, lelaki yang menyimpan sebagian petunjuk ini sudah kehilangan kesempatan menjalani hari berikutnya. Kesedihan keluarganya tidak menjadi kurang penting hanya karena bukan aku yang membawanya sebagai teka-teki.
'Aku belum punya jawaban itu, Bu,' kataku.
'Ibu tahu. Jangan memaksakan diri membuatnya.'
Kami berhenti sebentar untuk minum. Kaivan memegang bingkai foto, mengelap bagian bawahnya dengan ujung tisu, lalu mengembalikannya. Tidak ada pembahasan lanjutan tentang kecelakaan. Tetapi pertanyaan itu akhirnya mempunyai tempat di meja, tanpa harus berpura-pura sudah terjawab.
Hara lalu menunjuk baris tentang mencari tahu perubahan tanggal sebelum memilih Kaivan. Aku membacanya, kemudian memikirkan Jumat malam. Tiba-tiba terasa seperti telah melanggar peringatan yang kutulis sendiri.
'Kami pergi makan berdua,' kataku.
Ibu Rieka tersenyum kecil, tetapi tidak menanyakan apa artinya. Kaivan tetap diam, membiarkanku menyelesaikan hal yang ingin kukatakan.
'Aku mau mengenalnya sekarang. Tapi surat ini membuatku merasa harus menunggu sampai semua pertanyaan terjawab.'
Hara memiringkan kepala. 'Apa kamu ingin begitu?'
'Tidak.'
Jawabannya keluar lebih cepat daripada perkiraanku. Aku tidak ingin hidup hanya menjadi ruang tunggu antara dua bukti. Aku juga tidak ingin menganggap rasa suka sebagai alasan mengabaikan peringatan. Ada jarak yang dapat dijalani perlahan di antara keduanya.
Aku meletakkan salinan surat di atas meja, bukan di dalam tas Kaivan. 'Ini sesuatu yang perlu kupahami. Bukan larangan yang membuat keputusan tentang diriku otomatis milik orang lain.'
Dia mengangguk. 'Termasuk bukan milikku.'
Menjelang pulang, kami membaca lagi kalimat tentang meminta Bintang lahir lebih cepat. Aku menatap kata meminta cukup lama, lalu teringat ruang konsultasi yang berbeda dari ruang persalinan. Aku masih duduk di kursi, pakaian kering, tas berada di pangkuan.
Dokter bertanya mengapa aku menginginkan hari tertentu.
Aku tidak menjawab tentang pekerjaan atau keluarga yang akan datang. Aku mengatakan takut terlambat. Ketika ditanya terlambat untuk apa, aku melihat diriku tidak sanggup menyebut seorang bayi yang belum lahir pernah mati di dalam kehidupanku.
Di luar ruangan, Kaivan bertanya apakah dia perlu mengubah jadwal dinas agar dapat menemani pemeriksaan berikutnya.
Aku mengangkat kepala dari kertas. 'Aku ingat percakapan tentang jadwal kamu.'
Kaivan menatapku, lalu menunggu.
'Mungkin kehadiranmu bukan kebetulan,' kataku. 'Mungkin dalam rangkaian yang lain aku sudah memintamu berada lebih dekat sebelum hari persalinan itu datang.'
Aku belum mendapatkan tanggal lahir yang lengkap. Tetapi sekarang ada perubahan nyata yang mungkin terjadi di antara permintaan dan hari kelahiran: percakapan yang pernah kami lewatkan, pekerjaan yang diatur ulang, dan ketakutan yang kali itu setidaknya sempat kukatakan.