Hara menunggu sampai kami meninggalkan rumah Ibu Rieka sebelum bertanya apa yang ingin kulakukan dengan ingatan terakhir. Aku melihat pagar rumah itu mengecil melalui kaca samping. Kaivan masih berdiri di teras ketika mobil berbelok.
'Membiarkannya dulu,' jawabku. 'Aku tidak mau langsung menelepon siapa pun untuk membuktikan dia pernah mengubah jadwal di tahun yang belum terjadi.'
Hara mengangguk. Kami berhenti membeli makan, lalu berbicara tentang pekerjaan sampai mendekati kos. Tetapi sebelum turun, aku menanyakan satu hal yang sudah lama tertunda.
'Menurutmu aneh kalau aku ingin bicara dengan Meyra?'
'Tentang apa?'
'Tentang yang benar-benar dia lakukan di tahun ini. Dia menunjukkan foto yang membuatku mulai mencari masa rumah sakit. Aku belum pernah berterima kasih dengan tenang.'
Hara mematikan suara radio. 'Kalau begitu bilang itu. Jangan membuat dia datang untuk menjawab hal yang tidak dia ketahui.'
Aku mengiyakan. Malamnya kukirim pesan pendek. Aku menyebut foto lama dan menanyakan apakah dia bersedia bertemu setelah kerja. Meyra membalas cukup lama kemudian, menawarkan Selasa. Aku menerima tanpa menambahkan cerita tentang bayi atau tanggal kelahiran.
Senin kulewati dengan membereskan tanggapan atas dokumen perusahaan Pak Idrus. Bu Ratih meminta satu lampiran diperjelas, lalu menyatakan berkas lengkap akan dipakai dalam penanganan berikutnya. Tidak ada keputusan akhir yang dapat kami umumkan. Namun, upaya menggunakan tanda tanganku tanpa konteks tidak dibiarkan menjadi satu-satunya cerita yang tersimpan.
Kaivan membaca bagian yang menjadi tanggung jawabnya, kemudian mengembalikan draf kepadaku. Kami sempat berbeda pendapat tentang satu kalimat. Dia menjelaskan alasannya, aku menunjukkan dokumen, dan kami mengubahnya tanpa harus membuat salah seorang menang. Rasanya biasa saja. Aku baru menyadari betapa kurindukan hal yang biasa ketika menutup berkas.
Selasa sore, Meyra sudah duduk ketika aku tiba di kedai dekat kantornya. Rambutnya diikat, dan tas kerjanya diletakkan pada kursi kosong. Dia tersenyum singkat, lalu menunggu sampai aku selesai memesan.
'Kamu kelihatan lebih sehat,' katanya.
'Aku sedang berusaha.'
Aku mengucapkan terima kasih atas foto yang pernah dia tunjukkan. Kuceritakan bahwa sebagian arsip masa rumah sakit sudah ditemukan, bahwa Bapak akhirnya mau membicarakan hal yang dulu dia tutup. Aku tidak menceritakan isi rekaman yang menjadi urusan banyak orang, dan Meyra tidak meminta melihatnya.
'Aku senang kalau itu membantu,' katanya. 'Waktu itu aku juga punya alasan sendiri. Aku ingin berhenti merasa selalu ada seseorang yang ditunggu Kai.'
'Aku ingat.'
'Jadi aku bukan orang yang sepenuhnya baik tanpa kepentingan apa pun.'
Aku tersenyum tipis. 'Aku tidak datang untuk menjadikanmu begitu.'
Meyra membalas senyumku. Ada sedikit kelonggaran sesudah kalimat itu. Kami dapat mengakui bahwa pertolongannya nyata tanpa menghapus luka yang membuatnya melakukan sesuatu. Aku juga tidak perlu menjelaskan diriku sebagai perempuan yang tidak pernah cemburu.
'Aku pernah menilaimu sebelum benar-benar mengenalmu,' kataku. 'Aku minta maaf untuk itu.'
Dia menatapku cukup lama. 'Apa ini karena kamu dan Kai mulai dekat?'
Aku tidak menunduk. 'Kami sedang mencoba saling mengenal. Aku tidak datang untuk meminta izinmu. Tapi aku juga tidak mau berpura-pura tidak ada perubahan kalau kamu bertanya.'
Meyra memutar gelasnya sedikit. 'Aku masih kadang sedih. Itu tidak berarti kalian harus menunggu sampai aku tidak merasakan apa-apa.'
'Aku mengerti.'
'Dan aku tidak ingin menjadi tempat kalian memeriksa apakah hubungan kalian sudah benar.'
Kalimat itu menusuk dengan cara yang perlu. Aku mengangguk dan mengatakan tidak akan memintanya melakukan itu. Ada banyak pertanyaan mengenai masa depan yang pernah kualami, tetapi perempuan di depanku bukan ruang pemeriksaan untuk semua ketakutanku.
Kami beralih membicarakan pekerjaan. Meyra mengeluhkan berkas yang dikembalikan hanya karena satu lampiran terlewat. Aku mengerti kekesalannya tanpa perlu membawa Pak Idrus ke dalam percakapan.
Dia lalu bercerita sedang mencoba mengambil jatah cuti yang selalu ditundanya. Bukan untuk menemui siapa pun, hanya ingin beberapa hari tanpa membawa tas kerja. Aku menanyakan tempat yang ingin didatangi, dan matanya menjadi lebih hidup ketika menjawab. Aku menyadari betapa sedikitnya yang kuketahui tentang perempuan ini di luar hubungannya dengan Kaivan.
Ada makanan yang dia cari ketika lelah, kota yang ingin dilihat, dan kebiasaan menyimpan daftar belanja lalu tetap membeli barang yang berbeda. Kami tertawa karena aku melakukan hal yang sama. Percakapan itu tidak membuat kami mendadak menjadi sahabat. Namun, untuk beberapa saat dia tidak sedang menjelaskan seorang lelaki, dan aku tidak sedang menimbang setiap katanya sebagai petunjuk tentang lelaki tersebut.
Menjelang pulang, dia menerima panggilan singkat dari rekan kerja, memberikan nama orang yang bisa dihubungi, lalu menutup telepon.
Gerakannya biasa. Tidak ada rahasia pada cara dia mencari nomor yang dibutuhkan seseorang.
Kami berpisah di depan kedai. Meyra tidak memelukku, dan aku tidak mencoba memaksa keakraban yang belum kami miliki. Dia mengatakan terima kasih karena menjelaskan tujuan pertemuan sejak awal. Aku membalas dengan ucapan yang sama, kemudian berjalan ke tempat menunggu kendaraan.
Di sana, ingatan tentang perempuan yang memegang telepon kembali muncul.
Meyra berdiri dekat lorong rumah sakit. Aku memintanya membantu mencari Kaivan karena panggilanku tidak tersambung. Dia tidak memegang tanganku sambil menyuruhku menandatangani apa pun. Dia menanyakan lokasi dinas Kaivan dan apakah aku tahu nomor kantor yang sedang dikunjunginya.
Lalu dia berjalan sedikit menjauh agar dapat mendengar.
Aku mengenali kepanikan dalam dadaku sendiri ketika menunggunya kembali. Dalam gambar tersebut, aku tidak marah melihatnya memegang telepon. Aku berharap dia berhasil. Aku membutuhkan bantuan, dan perempuan yang kelak kutatap dengan begitu banyak kecurigaan sedang mencoba memberikannya.
Sesampai di kos, aku menulis adegan itu sebelum menghubungi Kaivan. Ketika kami berbicara, aku lebih dahulu mengatakan telah bertemu Meyra sesuai rencana yang belum sempat kuceritakan kepadanya. Aku menjelaskan tujuannya tanpa mengulang percakapan pribadi Meyra tentang kesedihannya.
'Aku juga mengingat caranya membantu di rumah sakit,' kataku kemudian.
Kaivan mendengarkan. Setelah selesai, aku menambahkan bahwa kenangan tersebut tidak menjawab seluruh luka tentang kedekatan mereka setelah Bintang meninggal. Aku tidak akan membuat satu tindakan baik menghapus semua hal lain yang belum kupahami.
'Tapi aku juga tidak mau memakai semua luka itu untuk menghapus pertolongannya,' kataku.
'Aku mengerti.'
Aku menatap catatan di meja. Perempuan dalam rekaman lama akhirnya mempunyai tindakan yang dapat kusebut, bukan hanya wajah untuk dicurigai. Dia membantu menghubungi seseorang. Dalam ingatan itu, dia tidak mengubah rencana persalinan.
Sebelum menutup telepon, aku teringat kalimatku sendiri di ruang konsultasi pada rangkaian yang lain. Aku pernah membawa sebuah tanggal kepada dokter. Aku pernah meminta Kaivan mengatur pekerjaan karena takut ditinggal menghadapi hari itu.
Mungkin pertanyaan dalam surat tidak sedang menyuruhku menemukan tangan orang lain yang diam-diam menggeser hidupku. Mungkin ia menyuruhku mengakui sesuatu yang lebih sulit: aku pernah mencoba menggesernya sendiri, dan aku masih perlu memahami apa yang sungguh berubah sesudah permintaan itu.