'Aku yang meminta,' kataku sebelum Kaivan sempat mengucapkan selamat malam.
Dia diam, menunggu kalimat berikutnya. Aku memegang ponsel sambil menatap dua lembar tentang persalinan. Salah satunya memuat kedatanganku dengan ketakutan yang sejak awal kukenal. Yang lain memuat permintaan seorang perempuan yang tampaknya sudah tahu ada sesuatu untuk ditakuti.
'Dalam rangkaian yang lain, aku membawa tanggal itu kepada dokter. Aku meminta kamu mengatur pekerjaan. Aku mencoba mengubah sesuatu sebelum terjadi.'
'Tapi kamu juga ingat dokter tidak langsung menyetujui permintaanmu.'
'Iya. Aku tidak sedang bilang aku menentukan keputusan medis sendirian. Aku sedang mengakui bahwa aku pernah datang dengan keinginan menghindari hari yang sudah kuingat.'
Kalimat itu terasa berbeda dari pengakuan bersalah. Menyebut apa yang kuminta tidak berarti mengetahui semua akibatnya. Aku tidak lagi harus memilih antara menganggap diriku tidak pernah melakukan apa pun dan menganggap seluruh hidup anakku berakhir karena tanganku.
Kaivan menanyakan apakah ada gambar lain. Aku menggeleng sebelum ingat dia tidak dapat melihat, lalu menjawab belum. Kami mengakhiri percakapan setelah menyepakati akan membaca bagian itu bersama ketika aku sudah lebih tenang.
Rabu pagi aku bekerja seperti biasa. Ada nasabah yang mengeluhkan antrean, laporan yang harus dikoreksi, dan makan siang yang terlambat karena aku lupa melihat jam. Bukan hari yang istimewa. Justru karena itu aku dapat melewatinya tanpa terus menunggu ingatan baru datang.
Bapak menelepon menjelang sore, mengabarkan jadwal kontrol berikutnya. Aku menuliskannya dan bertanya siapa yang akan menemani. Dia menyebut rencana yang sudah dibicarakan bersama keluarga. Aku tidak menawarkan membatalkan semuanya untuk datang, tetapi memastikan akan menerima kabar setelah pemeriksaan.
'Kamu terdengar capek,' katanya.
'Memang capek, Pak. Tapi aku sudah makan.'
Dia tertawa pelan. Aku menyimpan suara itu beberapa saat setelah panggilan selesai. Ada masa ketika suara Bapak hanya bisa kuharap muncul dalam mimpi. Sekarang aku masih boleh mendengarnya mengeluhkan jam tunggu tanpa harus menjadikannya tanda bahwa semua orang pasti selamat.
Hara datang ke kos sesudah pulang kerja. Kami sudah berjanji makan bersama malam itu, tetapi dia tidak membawa map atau kertas. Aku menghangatkan lauk sementara dia menceritakan masalah kecil di kantornya. Kami sempat berdebat mengenai pesanan makanan tambahan, lalu akhirnya membeli terlalu banyak.
Setelah makan, aku menceritakan pertemuan dengan Meyra. Hara mendengar tanpa bertanya apakah sekarang aku sudah tidak cemburu. Dia tahu perasaan tidak tunduk pada kesimpulan secepat berkas yang selesai ditandatangani.
'Aku senang kamu datang dengan tujuan yang jelas,' katanya.
'Aku juga. Rasanya dia boleh menjadi dirinya sendiri.'
Kami membereskan meja. Ketika Hara mencuci tangan, aku memindahkan buku yang hampir terkena air. Di bawahnya ada salinan surat dengan kalimat tentang setiap lingkaran yang sedikit berbeda. Aku tidak membukanya. Aku justru menatap telapak tanganku sendiri, dan mendadak teringat berat yang pernah hilang dari kedua lengan.
Aku berada di sebuah lorong rumah sakit.
Bukan di meja pendaftaran pada malam pemeriksaan. Bukan saat menerima panggilan pengasuh. Tas bayi tergeletak terbuka di dekat kaki, dan Ibu Rieka duduk di sebelah dengan kain kecil pada pangkuannya. Kaivan berdiri membelakangiku, satu tangan menutupi wajah.
Aku telah menunggu di rumah sakit itu lebih lama daripada perjalanan siang yang kuingat sejak awal. Ada pakaian yang dipakai lalu diganti. Ada gelas yang isinya sudah dingin. Ada percakapan dengan petugas yang tidak lagi bisa kuikuti karena aku terus menghitung usia Bintang dalam kepala.
Belum empat bulan.
Aku terhuyung, lalu memegang meja. Hara segera mendekat, tetapi aku lebih dahulu mengatakan namanya dan tempat kami berada. Dia menarik kursi. Aku duduk, mendengar air keran berhenti mengalir.
'Aku melihat akhir yang lain,' kataku.
Hara berlutut sebentar agar wajahnya sejajar. 'Kamu mau berhenti?'
'Aku mau kamu tetap di sini.'
Dia duduk di sebelahku. Gambar itu tidak berubah menjadi penjelasan tentang penyakit atau keputusan yang salah. Ia hanya mengembalikan bagian yang selama ini kutahan: dalam rangkaian dengan perawatan ulang, aku juga akhirnya membawa pulang barang-barang tanpa anakku.
Tangisku pecah. Selama beberapa menit tidak ada kata yang dapat kuucapkan. Aku tidak sedang kehilangan rasa sayang kepada Bintang yang berumur empat bulan. Aku sedang merasakan bahwa ada kesedihan lain yang datang menempatinya, dengan wajah anak yang sama dan hari-hari yang tidak sepenuhnya sama.
Sesudah bisa bernapas lebih teratur, aku menceritakan usia yang baru kuhitung dalam gambar. Hara mencatat dengan kata-kataku sendiri, lalu meletakkan pena. Dia tidak menuliskan penyebab kematian yang belum kudengar.
'Aku sudah mencoba mengubahnya,' bisikku. 'Itu yang dikatakan suaraku di bukit.'
Ingatan berikutnya datang tanpa suara rumah sakit. Aku berada di luar, malam hari, dengan kalung bintang di telapak tangan. Wajahku terasa lengket karena air mata. Aku tidak dapat membaca tahun pada apa pun di sekitarku, tetapi aku mengenali isi pikiranku dengan kejelasan yang membuat perutku mual.
Aku merasa telah kembali sekali dan tetap gagal.
Kali itu aku tidak meminta agar tidak menikah. Aku tidak menyebut April 2017. Aku meminta sesuatu yang lebih jauh karena mengira jarak yang lebih jauh akan memberiku lebih banyak cara untuk mencegah kehilangan.
'Kembalikan aku ke masa sebelum Kaivan mengenalku.'
Kalimat itu keluar dari mulutku di kamar kos. Hara menatapku, pucat. Aku segera menggenggam tangannya dan mengatakan bahwa aku sedang mengulang ingatan, bukan ingin menghilang dari tempat ini.
Lalu aku melihat tangan yang lebih kecil di atas selimut rumah sakit. Tidak ada cincin. Tidak ada perut yang baru melahirkan. Ada tubuh remaja yang terasa asing dan suara seseorang memanggil namaku dengan cara Bapak memanggil anaknya yang masih sekolah.
Tahun 2009.
Aku membungkuk sambil menutup wajah. Jika potongan itu benar, gadis dalam rekaman bukan sekadar mengetahui sesuatu yang akan datang. Dia membawa duka seorang ibu yang sudah pernah mencoba kembali, lalu meminta mundur lebih jauh lagi.
Hara menanyakan apakah aku masih melihat ruangan itu. Aku menggeleng. Yang ada sekarang kembali kamar kos, piring yang belum selesai dibereskan, dan sahabatku dengan lengan baju terlipat sebelah. Aku menyebut semuanya keras-keras sampai dapat mengangkat kepala tanpa merasa akan jatuh.
'Aku tidak mau mencoba mengulang permintaan itu,' kataku.
'Aku dengar. Kamu sedang menceritakan sesuatu yang kamu ingat.'
Aku mengangguk. Kalung tetap berada di tempat penyimpanannya. Kami tidak mengeluarkannya untuk memaksa gambar berikutnya datang. Sudah cukup banyak yang terbuka malam itu, dan aku ingin tetap berada di sini ketika mencoba memahami apa artinya.
Hara mengambil ponsel setelah aku meminta menghubungi Kaivan. Ketika suaranya terdengar, aku mengangkat wajah, memandang buku-buku yang selama ini kami kira hanya menyimpan ramalan.
'Aku mulai ingat kenapa aku ada di tahun 2009 dengan cerita tentang Bintang,' kataku. 'Aku pernah meminta kembali ke masa sebelum mengenalmu.'
Kaivan tidak menjawab. Di dalam keheningan itu, pertanyaan baru akhirnya terlihat jelas: sesudah menulis semua peringatan tersebut, bagaimana aku bisa melupakannya dan kembali berdiri di hadapannya pada 2017 dengan ingatan tentang kehilangan yang lain?