'Sebelum aku mengenalmu,' ulang Kaivan.
Suaranya terdengar kecil melalui pengeras ponsel. Hara meletakkan benda itu di meja agar aku tidak perlu terus memegangnya. Aku masih duduk dengan kedua kaki rapat, seolah menggerakkan tubuh terlalu cepat dapat membuat ruangan rumah sakit tadi kembali menggantikan kamar kos.
'Aku tidak sedang meminta itu sekarang,' kataku.
'Aku dengar. Kamu sedang menceritakan ingatan.'
Aku mengangguk, lalu mengusap wajah. Kaivan menarik napas di seberang. Dia tidak meminta aku mengulangi kalimat tersebut untuk memastikan bunyinya. Malam ini kami sudah terlalu banyak mendengar permintaan yang lahir dari keputusasaan.
'Kalau kamu sudah tiba di 2009,' katanya perlahan, 'apa kamu ingat kembali lagi ke 2017?'
Aku membuka mulut, kemudian menutupnya.
Ada kamar tidur di rumah Bapak. Ada buku pelajaran yang menumpuk, ujian yang kukerjakan dengan tangan berkeringat, pendaftaran kuliah, dan kamar sewaan pertama yang cat dindingnya membuatku kesal. Ada wawancara pekerjaan. Aku ingat membeli sepatu yang akhirnya melukai tumit pada hari pertama bekerja.
Delapan tahun itu tidak kosong.
Aku ingat pernah menangis karena formulir pendaftaran kuliahku hampir terlambat dikirim. Bapak mengantarku sambil mengomel karena aku terlalu lama memeriksa setiap isian. Sesudah urusannya selesai, kami makan di warung yang kursinya pincang. Aku kesal pada kuah yang tumpah, lalu malu karena memarahinya untuk sesuatu yang bukan salahnya.
Kenangan itu tidak penting bagi siapa pun yang sedang mencari cara waktu berulang. Namun, ia penting bagiku sekarang. Di antara dua tahun yang terus kami lingkari, ada keputusan kecil, permintaan maaf, teman-teman yang kukenal, dan hari-hari ketika aku tidak memikirkan Kaivan sama sekali.
'Ada hidupku yang bukan hanya sebelum atau sesudah kamu,' kataku kepada lelaki di seberang telepon.
'Tentu ada, Git.'
Jawabannya lembut. Aku baru menyadari betapa sering aku menjadikan pertemuan kami sebagai batas untuk seluruh diriku, sampai pendidikan, pekerjaan, dan persahabatan terasa sekadar jarak yang harus dilewati menuju kehilangan berikutnya. Aku tidak ingin lagi melihat tahun-tahun tersebut dengan cara itu.
'Aku menjalani tahun-tahun sesudah sakit,' jawabku. 'Aku ingat lulus. Aku ingat kuliah. Aku bukan bangun langsung dari ranjang rumah sakit ke kamar kos ini.'
Hara menatapku, lalu menunduk pada buku. Dia tidak buru-buru menuliskan kesimpulan. Pertanyaan Kaivan telah menunjukkan sesuatu yang terlalu sederhana sampai selama ini luput kami lihat. Aku sibuk mencari lompatan berikutnya, padahal sebagian perjalanan memang kulewati dengan hidup setiap hari.
'Yang hilang bagian sebelum dan selama sakit,' lanjutku. 'Dan cerita tentang Bintang yang sekarang mulai datang lagi.'
'Berarti kita perlu tahu apa yang terjadi saat bagian itu menjauh,' kata Hara.
Aku memandang tanganku. Dalam kilasan terakhir, tangan itu lebih kecil. Sesudahnya ia tetap tumbuh, memegang buku kuliah, membawa berkas kerja, dan menandatangani kontrak kos. Aku tidak hilang sepanjang delapan tahun. Ada seorang Sagita yang bangun setiap pagi tanpa mengetahui seluruh hal yang pernah dibawanya pulang.
Kesadaran itu tidak menjelaskan mengapa April 2017 membangunkanku dengan duka tahun 2020. Namun, ia menghentikanku menambahkan satu perjalanan yang belum pernah kuingat hanya karena ingin gambar lingkaran terlihat rapi.
'Aku ingin bertemu Bapak,' kataku.
Kaivan bertanya apakah aku ingin berangkat segera. Aku melihat jam, lalu menggeleng. Perjalanan darat terlalu jauh untuk ditempuh malam ini, dan besok aku masih harus bekerja. Aku ingin datang karena siap mendengar, bukan karena takut jawabannya akan menghilang sebelum pagi.
'Akhir pekan,' jawabku. 'Aku akan tanya jadwalnya dulu.'
'Kalau kamu mengizinkan, aku ingin ikut.'
Hara melirikku sekilas. Aku tidak langsung menjawab. Ada masa ketika keinginan Kaivan ikut pulang membuatku merasa seluruh hidupku sedang dikepung. Sekarang aku mencoba menilai permintaan yang benar-benar diucapkannya, bukan semua percakapan lama yang terdengar mirip.
'Ada yang ingin kamu tanyakan juga?' tanyaku.
'Tentang ayahku. Aku belum tahu pertanyaannya dengan baik. Tapi setelah kamu bilang pernah kembali ke tahun itu, aku terus memikirkannya.'
Dadaku mengencang. Aku teringat foto yang diusapnya di rumah Ibu Rieka, serta jeda yang muncul setiap kali suara ayahnya terdengar dalam rekaman. Ada seorang anak laki-laki yang kehilangan ayah tidak lama setelah gadis yang disukainya meminta dia pergi.
'Aku belum punya jawaban tentang kecelakaannya,' kataku.
'Aku tahu. Aku tetap ingin ikut, kalau bukan berarti kamu harus menjawabnya di perjalanan.'
Aku menyetujui. Kami sepakat membicarakan penginapan dan kendaraan besok, sesudah aku menghubungi Bapak. Kaivan tidak menawarkan menyetir sepanjang malam. Aku berterima kasih untuk keputusan kecil itu, meskipun tidak mengatakannya keras-keras.
Setelah panggilan selesai, Hara membantuku merapikan meja. Dia menawarkan menginap karena hari sudah larut. Aku menerima, lalu mengambil bantal tambahan. Kami menggeser barang agar dia dapat berbaring nyaman, melakukan pekerjaan biasa dengan tubuh yang sudah sangat lelah.
'Kamu takut kalau ternyata semua ini bukan seperti yang kita susun?' tanyaku setelah lampu utama dimatikan.
'Takut,' jawab Hara. 'Tapi aku lebih takut kita memaksa sesuatu cocok lalu kamu menyalahkan diri sendiri karena hasilnya tidak sesuai.'
Aku memandang cahaya tipis dari bawah pintu. Di sampingku, Hara menguap dan menarik selimut. Aku merasa bersalah karena telah menahannya sampai malam, tetapi dia lebih dahulu menyuruhku tidur sebelum aku sempat meminta maaf lagi.
Kamis pagi, kami berangkat ke kantor masing-masing setelah membeli sarapan. Aku menelepon Bapak saat istirahat. Dia mendengar rencanaku sampai selesai, lalu menanyakan apakah ada berkas tertentu yang ingin kubaca bersama.
'Yang sudah ada saja, Pak. Surat dan catatan pemulihan. Jangan mencari sesuatu yang baru hanya karena aku datang.'
'Baik. Kaivan ikut?'
'Kalau Bapak tidak keberatan.'
Ada jeda, pendek tetapi terasa. Kemudian Bapak menjawab bahwa Kaivan boleh datang. Dia tidak menanyakan apakah kami sudah berpacaran. Aku lega karena kali ini sebuah perjalanan tidak harus menjadi pengumuman tentang seluruh masa depan.
Risa membalas pesanku sore hari. Aku menanyakan kemungkinan melihat kembali ruang kegiatan kelas lama, bukan memasuki bangsal. Dia mengatakan akan mengecek dengan Bu Laila apakah ada waktu pada Minggu dan siapa yang perlu memberi izin. Aku membalas bahwa aku akan menunggu jawaban, lalu menyimpan ponsel.
Malamnya, aku dan Kaivan memesan kendaraan untuk berangkat Sabtu pagi. Dia memilih penginapan terpisah dari rumah Bapak dan mengirimkan rinciannya. Kami membicarakan waktu istirahat, makanan, serta kemungkinan pulang Senin setelah mengambil izin kerja.
Saat hendak menutup percakapan, Kaivan bertanya apa yang paling ingin kutemukan.
Aku melihat salinan surat yang meminta dia pergi. 'Alasanku sendiri,' jawabku. 'Bukan alasan yang paling membuat kita nyaman.'
Kaivan mengangguk di layar. Aku belum tahu bagaimana rasanya mendengar jawaban itu bersamanya. Tetapi untuk pertama kali, kami akan kembali ke tempat yang sama tanpa menyembunyikan bahwa masing-masing membawa pertanyaan yang mungkin menyakitkan orang lain.