Jumat kami menyelesaikan pekerjaan yang harus ditinggalkan selama perjalanan. Aku menyerahkan status berkas kepada rekan yang ditunjuk Pak Sam, sementara Kaivan memastikan urusan tim tidak bergantung pada ponselnya seorang. Izin Senin disetujui setelah penyerahan tugas jelas. Kami tidak membawa masalah Pak Idrus ke dalam tas untuk dibicarakan sepanjang jalan.
Risa mengabarkan bahwa Bu Laila dapat menemui kami Minggu pagi di bagian kegiatan yang tidak digunakan pasien. Aku menyimpan waktu pertemuannya. Sesudah itu aku pulang, menyiapkan pakaian, dan tidur lebih awal meskipun masih beberapa kali memeriksa isi tas.
Sabtu, kendaraan jemputan datang sebelum langit terang. Kaivan sudah duduk di dalam bersama pengemudi. Dia mengambil tasku dan meletakkannya di tempat yang mudah kuraih, lalu memberiku roti. Aku belum lapar, tetapi memakannya setelah jalan keluar kota mulai lengang.
Perjalanan memerlukan beberapa kali berhenti. Kami minum kopi yang terlalu manis di sebuah rumah makan, berjalan sebentar agar kaki tidak kaku, lalu melanjutkan perjalanan sambil lebih banyak diam. Tidak setiap keheningan harus diisi pembicaraan tentang rumah sakit. Kadang Kaivan menunjukkan sesuatu di pinggir jalan, dan aku menjawab seadanya karena mengantuk.
Menjelang sore, rumah Bapak muncul di ujung jalan yang kukenal. Dia menunggu di teras, tidak membawa map. Aku turun lebih dahulu dan memeluknya. Kaivan berdiri beberapa langkah di belakang sampai Bapak mengulurkan tangan.
'Masuk dulu. Makanannya masih hangat,' kata Bapak.
Aku hampir menangis hanya karena kalimat itu. Rumah ini pernah kutinggalkan dengan keyakinan tidak ada lagi seseorang yang akan menungguku pulang. Sekarang Bapak mengomel karena kami terlalu lama berdiri di depan pintu, dan aku menurut dengan senang.
Kami baru membuka berkas setelah makan dan beristirahat. Kaivan sudah menitipkan tasnya di penginapan, lalu kembali dengan pakaian yang lebih nyaman. Bapak membawa map perawatan yang pernah kami baca, kotak surat, dan album keluarga yang biasanya tersimpan dekat rak buku.
'Album ini bukan jawaban tentang waktu,' katanya ketika melihatku menatapnya. 'Tapi kamu bilang ingin tahu hari-hari setelah pulang.'
Aku membuka halaman pertama yang ditandainya. Ada foto di meja makan, rambutku lebih pendek, wajah masih kurus. Aku tidak tersenyum ke kamera. Pada halaman berikutnya, aku duduk di depan buku pelajaran dengan piring camilan yang hampir kosong.
'Kamu marah waktu Bapak memotret,' katanya.
Aku ingat. Bukan fotonya, melainkan kekesalanku karena Bapak mengatakan wajahku terlalu serius untuk seorang anak yang sedang mengerjakan soal. Ingatan itu tidak membawa rumah sakit atau bayi. Ia hanya mengembalikan sore biasa ketika aku ingin tugas cepat selesai.
Kaivan melihat foto tersebut tanpa meraih album. Ada kehidupan yang tidak dia ikuti sesudah diminta pergi. Aku membayangkan betapa anehnya melihat bukti bahwa seseorang terus tumbuh sementara dirinya hanya menyimpan satu wajah di ambang jendela.
'Kamu pernah ingin menanyakan kabarku lagi?' tanyaku.
'Pernah. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya tanpa melanggar yang kamu minta.'
Bapak menunduk. Aku tidak memintanya kembali mengucapkan maaf. Aku justru membalik satu halaman dan menunjukkan fotoku di depan kampus, dengan tas yang tampak terlalu besar. Kaivan tersenyum ketika melihat tali tas itu hampir lepas dari bahu.
'Aku senang kamu bisa sampai ke sana,' katanya.
Kalimat itu membuatku terdiam. Dia tidak mengatakan aku seharusnya mencarinya atau menunjukkan kebahagiaan tersebut kepadanya. Dia boleh sedih karena tidak berada di sana, tetapi tidak menjadikan kesedihan itu alasan agar aku menyesali tahun-tahun yang berhasil kujalani.
Aku menggeser album supaya dia dapat melihat lebih jelas. Bapak menambahkan cerita tentang hari foto diambil, tentang hujan dan sepatu yang kotor sebelum acara dimulai. Kali ini aku tidak menyela. Kaivan mendengarkan bagian hidupku yang biasa, dan aku membiarkannya mengenalku melalui sesuatu yang tidak berakhir dengan pintu rumah sakit tertutup.
Bapak kemudian membuka catatan perawatan. Riwayat demam, kejang, dan gangguan ingatan memang sudah tertulis di sana. Tidak ada istilah tentang seseorang sengaja menghapus masa lalu. Tidak ada bukti yang mendukung ketakutanku bahwa semua orang pernah menyusun rencana agar aku menjadi perempuan yang lain.
'Ada hal yang membaik pelan-pelan,' kata Bapak. 'Ada hal yang tidak kamu tanyakan lagi. Bapak menganggap tidak bertanya berarti tidak perlu dijawab.'
'Padahal aku tidak tahu ada pertanyaan yang bisa diajukan.'
'Iya.'
Dia tidak menambahkan alasan sesudahnya. Aku menutup album, lalu mengambil surat yang meminta Kaivan pergi. Tanggalnya tetap seperti yang sudah kami lihat. Tiga hari setelah aku sadar di ruang intensif. Aku menelusuri tepi kertas tanpa menyentuh bagian tulisan.
'Bapak melihatku menulisnya sesudah aku melihat Kai di taman?'
'Iya. Kamu ketakutan. Bapak bertanya apa yang harus dilakukan, lalu kamu meminta kertas.'
Kaivan menatap kedua tangannya. Aku mengangkat wajah kepadanya, memastikan dia masih ingin mendengar. Dia mengangguk, tetapi tidak tersenyum.
'Aku menulis supaya kamu tidak boleh menemuiku,' kataku. 'Aku tidak menulis supaya semua orang menghapus keberadaanmu dari hidupku selamanya.'
Bapak menarik napas. 'Bapak membuat permintaan pada hari itu menjadi aturan untuk tahun-tahun berikutnya.'
Aku mengangguk. Mendengar pengakuan itu tidak membuat delapan tahun terbuka kembali, tetapi setidaknya keputusan tersebut akhirnya mempunyai nama. Itu bukan semata akibat sakit. Ada pilihan orang dewasa yang ikut menentukan apa yang dapat kutanyakan sesudah pulih.
Ketika Kaivan menggeser kursi, bayangannya jatuh pada jendela. Aku menoleh, dan untuk sesaat melihat taman rumah sakit dari lantai atas. Dia lebih muda, berdiri dengan sesuatu di tangan, menunggu mendongak ketika aku muncul.
Aku mengenalinya.
Bukan hanya mengenali anak laki-laki yang membawakan soal fisika. Aku juga melihat wajah yang lebih dewasa, mulut yang mengucapkan tuduhan sesudah Bintang meninggal, serta punggung yang menjauh ketika aku menangis. Wajah-wajah itu bertumpuk sampai tubuhku tidak tahu kepada siapa rasa takut harus diarahkan.
'Aku takut kamu akan mencintaiku lagi,' kataku.
Kaivan menatapku. Bapak tidak bergerak.
'Waktu di jendela. Aku bukan hanya tidak mengenalimu. Ada saat aku justru terlalu banyak mengenali kamu.'
Aku menangis, tetapi tetap dapat melihat ruang tamu. Gadis yang menulis surat itu tidak mempunyai penjelasan yang rapi tentang kehidupan berulang. Dia hanya merasa pertemuan akan menyeret dua orang kembali menuju anak yang kelak mereka tangisi.
'Aku mengira kalau kamu pergi, semua itu tidak harus dimulai,' kataku.
Kaivan menutup mata sebentar. Ketika membukanya, dia bertanya apakah aku masih menginginkan hal yang sama sekarang.
Aku memandangnya sampai jelas melihat lelaki di ruang tamu, bukan bayangan di taman rumah sakit. 'Tidak. Tapi aku tidak mau berbohong tentang kenapa dulu aku memintanya.'
Dia mengangguk pelan. Kami berhenti membaca setelah itu. Bapak tampak lelah, dan aku membantunya menyimpan map. Malam belum memberikan jawaban untuk seluruh ingatan yang hilang. Namun, satu permintaan yang selama ini terdengar kejam akhirnya mempunyai seorang gadis ketakutan di belakangnya, bukan sekadar selembar kertas yang menyuruh Kaivan pergi.